...Sosok yang seharusnya menjadi rumah bagiku ternyata pemicu utama hancurnya mentalku selama ini....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya Humaira hari ini kuliah dalam keadaan yang lumayan kacau. Rambutnya basah karena ia harus mencuci rambutnya yang terkena air dan isian bakso di kamar mandi. Kemudian untuk pakaian, Humaira sering membawa baju ganti di loker miliknya karena takut kehujanan.
Untung semua itu bisa dia atasi dengan baik dan membuatnya selamat dari kejadian seperti ini. Namun, tetap saja. Mental seseorang tak ada yang tahu. Dibalik kata baik-baik saja yang selalu dia lontarkan. Ada perasaan hati yang sudah hancur tak bersisa.
Ada perasaan takut, sakit, tak percaya diri menumpuk menjadi satu. Semua itu merupakan efek dari hasil pembullyan dan doktrin dari ibu kandungnya sendiri. Namun, sebaik mungkin Humaira selalu bersikap seakan semuanya baik-baik saja.
"Apa kamu langsung pulang?" tanya Sefira saat keduanya selesai dengan jadwal kuliah hari ini.
Humaira mengangguk. Dia menatap jam tangan jadul yang melekat di pergelangan tangannya.
"Hari ini cafe sedang tutup. Jadi aku libur bekerja," ujarnya memberitahu.
Selain menjadi seorang mahasiswa. Humaira merupakan salah satu pekerja cafe. Dia bekerja untuk menambah uang saku dan beberapa kebutuhan yang harus ia beli sendiri.
Humaira selalu berusaha menjadi sosok yang mandiri. Dia bahkan tak tega ketika melihat ibunya harus bekerja sendiri semenjak sosok ayahnya meninggal.
Dia sebaik mungkin tak mau merepotkan sosok ibunya. Bagaimanapun sikap Shadiva kepadanya. Humaira tetap menyayangi ibunya.
"Aku pulang dulu ya, Mai. Kamu hati-hati di jalan," kata Sefira saat mobil jemputannya datang. "Kamu beneran gak mau aku anterin?"
Kepala Humaira menggeleng. "Aku masih mau ke toko buku, Fir."
"Yaudah. Ayo aku anterin," kata Sefira memaksa.
"Nggak usah. Udah sana pulang duluan. Aku bakalan naik ojek online," balas Humaira menutup pintu mobil sahabatnya.
Wajah Sefira cemberut. Selama pertemanan mereka. Humaira tak pernah mau naik mobilnya. Bahkan meski hujan sekalipun. Gadis itu lebih memilih menunggu daripada mau diantar oleh Sefira.
"Yaudah. Aku pulang yah. Sampai rumah, kamu kabarin aku. Bye bye!"
"Bye!"
Sepeninggal mobil Sefira. Humaira lekas melangkahkan kakinya. Dia menatap ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang jalan. Hari ini dirinya ingin berjalan kaki. Entah kenapa Humai seakan tak ingin segera sampai rumah.
Tempat yang seharusnya menjadi rumahnya bernaung dengan nyaman. Bangunan yang seharusnya menjadi tempat berkeluh kesah ternyata tak lebih ubahnya sebagai sebuah bangunan bak neraka.
Apa yang ia lakukan selalu salah. Apa yang dia inginkan tak pernah terpenuhi. Semuanya harus dipandu dan diperintah. Dirinya tertekan tapi tak bisa berteriak. Dia ingin melawan tapi hatinya sangat menyayangi ibunya.
"Bolehkah aku menyusul ayah saja?" gumamnya saat langkah kakinya berhenti di depan sebuah toko yang menjual boneka.
Bibirnya melengkung ke atas. Ingatan bagaimana ayahnya yang selalu memberikannya sebuah boneka ketika dia sedih atau habis dimarahi ibunya kini mulai terbayang.
Hanya sosok ayahnya yang selalu adil di antara dia dan adiknya. Hanya sosok ayahnya yang selalu membela Humai ketika ibunya tak memperlakukannya seperti memperlakukan Rein.
"Jujur aku tersiksa disini, Ayah. Aku tak memiliki sandaran," ucapnya dengan menunduk.
Perlahan Humai hapus air matanya yang mengalir. Dia menarik nafasnya begitu dalam untuk menetralkan jantungnya yang terus berdebar kencang. Emosinya masih tak beraturan setiap mengingat sosok ayahnya.
"Aku merindukanmu, Ayah," lanjutnya sambil berusaha tersenyum.
Humaira lekas melanjutkan langkah kakinya. Dia benar-benar menikmati setiap perjalanan yang ia lalui. Walau jauh, dirinya merasa bahagia. Sampai tak lama, bangunan rumahnya mulai terlihat.
Humaira semakin mempercepat langkahnya tatkala melihat sosok ibunya yang sedang menyapu halaman rumah.
"Assala…"
"Kemana maskermu, Mai? Kenapa kamu gak pakai?" tanya Shadiva menyela salam anaknya.
Ibu dua anak itu lekas meletakkan sapu yang ia pegang. Dia berjalan mendekati sosok Humai yang mematung di tempatnya.
"Kamu kenapa gak pakai masker sih?" kata Shadiva dengan nada kesal. "Siang- siang begini debunya banyak, Humai. Kotor juga. Kalau kamu gak pakek masker, wajahmu bakalan banyak debu dan jerawat kamu gak bakal sembuh."
Humairah memejamkan matanya. Lagi-lagi hal ini yang selalu dibahas ibunya itu. Namun, kepalanya tetap menunduk tak berani menatap wajah ibunya.
"Maaf, Bu," ujarnya dengan suara serak.
"Maaf saja terus tapi gak kamu lakuin!" kata wanita paruh baya itu dengan menghela nafas berat. "Udah sana ke kamar. Cuci muka lalu pakai masker wajah."
"Baik, Bu."
Humaira lekas melangkahkan kakinya masuk. Lagi-lagi air matanya kembali turun. Dirinya benar-benar seorang diri di rumah ini. Saat dia ingin bercerita tentang kejadian di kampusnya tapi selalu tak jadi dia ceritakan.
Sepertinya Tuhan menakdirkan aku untuk menyimpan semua luka ini sendiri. Menyembuhkannya seorang diri tanpa bantuan orang lain, gumam Humai dalam hati saat dia menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang pria tampan tengah duduk tenang di kursinya dengan mata menatap layar laptop yang menyala. Tubuhnya yang tegap dengan balutan kemeja semakin menambah karisma dari seorang pria tampan dan workaholic ini.
Seharian ini ia tak beranjak dari kursi kebesarannya. Pekerjaannya yang banyak membuatnya harus betah berada di dalam ruang kerjanya. Hingga tak lama, suara pintu yang terbuka diikuti hadirnya sosok tangan kanannya membuat perhatian pria itu teralih.
"Maaf, Tuan Syakir. Saya mengganggu waktu Anda. Di luar ada…"
"Sayang," rengek seorang perempuan yang masuk dengan seenaknya. "Sekretarismu ini menghalangiku masuk!"
Wajah perempuan itu terlihat begitu kesal. Bibirnya cemberut dengan menatap tangan kanan kekasihnya. Syakir yang melihat kedatangan kekasihnya langsung menarik pinggangnya mendekat.
"Kau boleh pergi, Adam!" kata Syakir pada sekretarisnya.
"Siap, Tuan. Permisi."
Sepeninggal Adam. Perempuan yang mukanya masih cemberut lekas mendudukkan dirinya di atas pangkuan sang kekasih. Dia melingkarkan tangannya di leher Syakir dengan manja.
"Jangan cemberut terus, Rachel Maureen Jovita. Rasanya aku ingin melahap bibir seksimu itu, Sayang," bisik Syakir dengan nada sensual.
"Aku kesal pada sekretarismu itu. Dia selalu menghalangiku untuk bertemu denganmu, Sayang," adu Rachel dengan manja.
Syakir menghela nafas pelan. "Dia hanya menjalankan perintah dari Mama dan Papa. Kamu tau sendiri, 'kan? Bagaimana aku bisa terdampar di kota dingin ini?"
Rachel mengangguk. Dia menarik leher Syakir lalu memberikan kecupan disana.
"Jangan memancingku, Sayang. Aku tak akan tahan jika kamu…"
"Jangan macam-macam. Aku sedang berhalangan," bisik Rachel lalu menjulurkan lidahnya dan menjilat leher Syakir.
"Sayang!" seru Syakir menggeram.
Rachel terkekeh. Dia menjauhkan wajahnya dari leher Syakir lalu memberikan kecupan lembut di bibirnya.
"I love you, Sayang."
Syakir tersenyum. Dia sangat tahu jika kekasihnya dalam mode begini pasti ada sesuatu yang dia inginkan.
"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Syakir penuh perhatian.
Mata Rachel bersinar begitu cerah. "Kamu sangat peka, Baby."
"Tentu saja," balas Syakir pada kekasihnya. "Mau apa, hmm?"
"Ada koleksi tas baru mewah, Sayang. Aku ingin itu," rengek Rachel dengan manja. "Boleh?"
"Tentu saja. Untukmu apa yang tak boleh," jawab Syakir yang sudah bucin akut. "Ayo kita membelinya!"
~Bersambung
Nah akhirnya tau, 'kan, siapa Rachel? Hahaha kaburr.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Sunarmi Narmi
Humai aja yg kebangetan di sini...coro jowone ndablek..kata maaf tpi kesalahan dia ulang trus ya lama" ibu jg gedek dn gunduk jg...😄😄😄😄
2023-09-30
0
Sunarmi Narmi
sbnarnya maksud ibumu baik..Humai...jdi gemes liat kmu di bully tiap hari tpi mentalmu bukan tmbahnkuat..air mata yg kmu jatuhi..hallo moveon dong...aku jg ortu jg pernah bilang sprti itu..bukan mau bandingin..cuma kdang anak yg sensi..😄😄
2023-09-30
0
andi hastutty
ibunya yah pengen ta ketok kepalanya. dan Syakir mau ajha di porotin dan Rahel dia yg seharusnya di jukukin sampah karena terlalu luar dengan laki2
2023-02-07
0