...Terkadang kita tak bisa membedakan mana yang sebenarnya cinta dan mana yang hanya nafsu semata....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Hari ini Kota Malang terasa begitu panas. Matahari begitu terik menyinari dan membuat siapapun yang berada di luar merasa kepanasan. Begitupun dengan seorang perempuan yang sejak tadi bergelayut manja di lengan kekasihnya.
Bibirnya tak berhenti menggerutu saat kakinya baru saja menginjak bangunan tinggi dan besar tersebut. Keadaan pusat perbelanjaan itu lumayan ramai. Hal itu tentu membuat perempuan tersebut semakin cemberut.
"Udaranya sangat panas, Sayang," rengek Rachel dengan manja.
Syakir yang berjalan di sampingnya hanya bisa mengusap kepala kekasihnya dengan pelan.
"Hanya sebentar. Sebentar lagi kulitmu akan merasa dingin," balas Syakir menenangkan.
Akhirnya mereka telah sampai di salah satu store yang menjual barang branded. Mata Rachel tentu berbinar cerah seakan menemukan harta karun. Deretan tas yang bernilai fantastis tertata rapi dan membuat jiwa Rachel meronta.
Kaki wanita seksi itu berjalan dengan sendirinya. Matanya mengedar mencari sesuatu yang sejak tadi sudah ia dambakan. Namun, sepertinya barang yang ia cari tak ditemukan.
"Model terbarunya belum datang?" tanya Rachel pada seorang pelayan yang sejak tadi menemaninya.
"Belum, Nona," sahut pelayan itu dengan ramah. "Tapi kami memiliki barang lain yang tak kalah terbaru."
Pelayan itu mulai pamit mengambilkan barang yang ia maksud. Rachel dengan gaya centilnya berjalan menuju Syakir yang menunggu dirinya dengan duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
"Sudah dapat?" kata Syakir penuh perhatian.
Bibir Rachel cemberut. Kepalanya menggeleng dengan lesu.
"Belum datang," ujarnya menjelaskan. "Tapi tadi pelayan bilang, ada barang terbaru lain."
"Kita lihat saja sebentar lagi, Sayang. Jangan cemberut seperti itu," bujuk Syakir meletakkan ponselnya di saku celana.
"Aku pengen banget tas itu, Sayang," rengek Rachel dengan suaranya yang begitu manja.
"Iya. Nanti jika tak cocok. Kita pesan saja tas itu," balas Syakir yang dibalas anggukan kepala.
Tak lama pelayan itu membawa dua tas branded yang tak asing di mata Rachel. Gadis itu mengerutkan keningnya tapi dengan wajah yang tak pernah menunduk.
"Jangan bilang kalau tas terbaru menurutmu itu ini?" kata Rachel menunjuk dua tas itu.
"Iya, Nona. Kami…"
"Itu model bulan kemarin dan aku sudah memilikinya!" seru Rachel dengan wajah angkuh. "Jika kau tak tau model terbaru, jangan mengatakan apapun!"
Nada suara Rachel terdengar menyindir. Hal itu membuat Syakir turun tangan. Pria itu memang sangat mengerti sikap kekasihnya yang keras kepala. Apa yang wanita itu inginkan. Harus ada di depannya.
"Sudah, Sayang. Kamu tak perlu memarahinya," kata Syakir melerai.
"Tapi aku merasa direndahkan. Apa dia ingin bilang bahwa aku tak mampu membeli tas keluaran terbaru!" serunya dengan sinis.
"Bukan, Nona. Sungguh saya tak bermaksud seperti itu!" kata pelayan itu dengan tubuh gemetar ketakutan.
Bagaimanapun pelayan di sana sangat mengenal betul siapa pria yang bersama Rachel. Seorang pebisnis dan pengusaha ternama di Kota Malang dan Surabaya yang memiliki perusahaan besar.
"Tutup mulut busukmu itu!" seru Rachel dengan wajah marahnya.
"Sayang, sudah!" kata Syakir menangkup wajah Rachel. "Dia tak bersalah. Dia tak tahu bahwa kamu sudah memiliki tas itu."
"Tapi…"
Syakir mencium dahi Rachel. Dia menggelengkan kepalanya dengan sorot mata tajam. Jika sudah mode begini. Maka apa yang Syakir katakan adalah perintah. Hal itu tentu berhasil membuat Rachel diam dengan wajah yang masih memerah.
Tak lama, pemilik store keluar karena mendengar keributan yang baru saja terjadi. Syakir tentu menjelaskan semuanya dan mengatakan agar pria paruh baya di depannya ini tak memecat pelayan tadi.
"Sekali lagi kami minta maaf, Tuan Syakir," kata pemilik store itu dengan sopan.
"Kami juga minta maaf. Ini hanya salah paham sedikit. Jadi semua pasti baik-baik saja," balas Syakir tak kalah ramah. "Ah iya. Apa saya bisa memesan tas yang diinginkan kekasihku?"
"Bisa, Tuan."
Syakir menoleh. Dia menatap kekasihnya yang sejak tadi diam. Rachel selalu begitu ketika kemarahannya tak mampu meledak. Dia akan diam untuk menetralkan emosinya.
"Katakan tas apa yang kamu mau, Sayang," bujuk Syakir dengan lembut.
Rachel menoleh. Dia menatap Syakir yang juga sedang menatapnya.
"Belilah tas yang kamu mau."
"Berapapun?" tanya Rachel dengan wajahnya yang masih menahan amarah.
"Ya."
Tak lama senyuman Rachel mengembang. Tanpa malu dia mengecup bibir Syakir lalu segera menunjukkan tas bernilai fantastis itu pada pemilik storenya.
"Aku mau ini, ini dan ini," kata Rachel menunjuk 3 buah gambar di katalog.
"Apa ada lagi, Sayang?" tanya Syakir mengusap kepala kekasihnya.
Rachel menggeleng. Dia menatap Syakir dengan tatapan penuh maksud. Kemudian dengan pelan, gadis itu merapatkan bibirnya di telinga Syakir dan setengah berbisik.
"Ada."
"Katakan!" kata Syakir dengan tubuhnya yang meremang.
"Aku ingin dilempar di ranjangmu lagi, Cintaku!" Setelah mengatakan itu, Rachel meniup telinga Syakir dan membuat pria itu menegang.
Untung saja, pelayan dan pemilik yang ada disana sedang sibuk mencatat dan tak melihat tingkah sepasang kaki itu.
"Pergilah ke apartemenku nanti malam. Aku akan merobek pakaianmu!"
...🌴🌴🌴...
Setelah mengantar kekasihnya pulang. Syakir kembali ke perusahaan. Dia segera mengendarai mobilnya dengan cepat saat menyadari jika sejak tadi nada panggilan khusus Adam dengannya terdengar.
Ia yakin pasti sesuatu terjadi di perusahaan hingga Adam meneleponnya berulang kali. Dengan pelan, pria itu memberikan kuncinya pada satpam kantor. Lalu Syakir segera memasuki bangunan tinggi dengan wajah angkuhnya.
Siapapun sudah tahu bahwa Syakir adalah pria dingin dan cuek. Bahkan para karyawan yang ada di sana tak berani berbuat hal curang karena hukuman Syakir tak main-main.
"Ada apa kau menghubungiku sejak tadi?" tanya Syakir saat dia baru saja keluar dari dalam lift.
"Maaf, Tuan. Di dalam ada Tuan dan Nyonya besar."
Wajah Syakir menegang. Dia menelan ludahnya paksa saat mendengar kedua orang tuanya ada di ruangannya. Pria itu menarik nafasnya begitu dalam untuk bertemu dengan papa dan mamanya.
Dengan langkah pelan, Syakir membuka pintu ruangannya. Kakinya melambat saat sosok ibunya lekas beranjak berdiri saat dia baru saja masuk ke ruangannya.
"Wah lihatlah, Pa! Anak bodohmu ini baru saja membelikan tas mahal untuk kekasihnya lagi," sindir Ayna, ibu kandung Syakir.
"Mama," sapa Syakir pada ibunya. "Aku hanya ingin memberikan dia hadiah kecil."
"Kecil menurutmu?" kata Ayna dengan geleng-geleng kepala. "Berikan kertas itu, Pa! Biar anak bodohmu ini melihat bahwa dia ini dimanfaatkan."
Haidar, ayah Syakir menyerahkan struk pengeluaran atm harian milik Syakir pada putranya.
"Apa hadiah kecil menghabiskan milyaran, Nak? Katakan pada Mama! Apa itu hadiah kecil?"
Ayna sebenarnya sangat menyayangi putranya. Namun, jujur dia tak menyukai kekasih putranya itu.
"Buka matamu, Syakir! Kamu hanya dimanfaatkan oleh wanita boros itu, Nak. Kamu hanya dijadikan ladang uang untuk kebutuhannya!"
"Tapi, Ma. Bagaimanapun Rachel adalah calon istri Syakir. Aku akan melamarnya untuk menjadi istriku!"
"Istri?" tanya Ayna tak habis pikir. "Mama tak memberikan restu, Syakir!"
"Tapi, Ma…"
"Sekali tidak tetap tidak. Mama tak mau memiliki menantu yang hanya memanfaatkan kekayaanmu saja!"
~Bersambung
Hiyaa belum dilamar aja udah ditolak dulu sama Mama Ayna, hahaha. Dahlah Kir, buka matamu, Sayang. Kamu itu lagi bodohnya, haha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
mantapp mamah rachel tdk cocok jd mantu
2023-03-31
0
andi hastutty
saya setuju ma mama Syakir jangan kasi restu
2023-02-07
0
Raffa Iskandar
syakir terlalu bucin jadi d manpaatin deh
2023-01-26
0