...Aku memang ingin terlepas dari belenggu itu tapi bukan cara seperti ini yang kuinginkan....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Pagi-pagi sekali semua penghuni rumah Humaira sudah bangun. Hari ini, Shadiva akan mengantarkan Rein lomba berenang. Ibu dua anak itu tentu merasa begitu bersemangat.
Tanpa diketahui olehnya. Terdapat seorang anak yang menatap semua yang dilakukan oleh Shadiva dengan pandangan sendu. Matanya berkaca-kaca membayangkan jika dirinya yang ada di posisi Rein.
Disayang, mendapatkan pelukan setiap hari, diperhatikan dan juga sangat diutamakan. Dia juga ingin merasakan itu. Humaira ingin merasakan bagaimana menjadi sosok Rein satu hari saja.
"Humai, ayo bantu Ibu memasukkan makanan ini ke dalam bekal," kata Shadiva yang membuat Humai lekas menghapus air matanya.
Meratapi sepanjang malam, setiap hari atau satu tahun pun. Semua tak akan pernah berubah. Bertahun-tahun dia menunggu perubahan mamanya. Berusaha belajar dengan rajin. Namun, kepintarannya selama sekolah, peringkat yang ia raih tak pernah ada artinya di mata ibunya.
"Kurang banyak nasinya, Mai. Rein sangat suka oseng-oseng kentang. Jadi dia pasti makannya banyak," kata Shadiva saat Humaira memasukkan nasi ke dalam kotak bekal.
"Iya, Bu," sahut Humai dengan berusaha tersenyum.
Dia tak pernah berharap lebih. Berada di dekat ibunya seperti ini saja sudah membahagiakan hatinya. Tak mendengar setiap kalimat menyakitkan dari bibir ibunya adalah anugerah terindah yang sangat Humai tunggu.
"Apa Ibu akan menunggu Rein?" tanya Humaira dengan pelan.
"Tentu saja. Ibu sudah tak sabar melihat adikmu berlomba. Ibu yakin Rein akan menang. Dia adalah putra ibu yang berbakat."
Sakit!
Humaira menganggukkan kepalanya. Mendengar ibunya mengucapkan putra ibu saja membuatnya iri. Selama ini Humai tak pernah mendengar ibunya menyebutnya putri ibu. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang.
"Lalu apa Ibu akan langsung pulang?"
"Ibu akan mengajak adikmu jalan-jalan sebentar. Setelah itu Ibu dan Rein akan pulang."
Apa Ibu tak mau mengajakku? Aku sebagai kakaknya saja juga ingin ikut melihat Rein berlomba, lirihnya dalam hati tanpa bisa mengucapkan secara langsung.
Tak lama, Rein muncul dengan pakaian olahraga. Wajah adiknya ini 11 12 dengan ayahnya yang membuat Humai selalu bahagia ketika memandang Rein.
Ketika dia rindu sosok ayahnya yang sudah meninggal. Maka cukup dengan menatap wajah adiknya, rasa rindu itu seakan terobati.
"Apa Kakak tak mau ikut?" tanya Rein memegang tangan Humaira.
Sebenarnya hubungan kakak adik itu sangat dekat. Bahkan Rein selalu ingin ada di dekat Humaira. Namun, waktu yang dibuat Humai untuk belajar, kuliah dan bekerja membuatnya memiliki jarak dengan Rein.
Dia tak bisa terus berada di samping adiknya meski jiwanya sangat ingin. Humai sangat menyayangi Rein begitupun sebaliknya.
"Kakakmu harus belajar di rumah, Sayang. Dia tak akan ikut!" Itu bukan suara Humaira.
Melainkan Shadiva yang langsung menjawab.
"Ayo kita berangkat, Sayang!"
Rein tak menjawab. Tatapannya mengandung kesedihan saat matanya bersitatap dengan mata kakaknya. Seakan remaja itu ingin kakaknya ikut melihatnya berlomba.
"Cepat pakai sepatumu, Rein!" kata Shadiva setelah menutup semua kotak bekalnya.
"Kakak gak mau ikut?" tanya Rein lagi saat ibu mereka masuk ke dalam kamarnya. "Rein ingin Kak Humai liat Rein lomba dan menang."
Humaira berusaha tersenyum. Dia menangkup wajah Rein dan menghapus air mata adiknya yang menetes. Dia juga merasa sedih. Namun, Humai tak boleh menangis di depan adiknya itu.
Dia yakin jika dirinya menangis. Maka Rein akan ikut menangis. Humai hanya takut adiknya tak fokus dalam lomba karena melihatnya sedih.
"Meski Kakak tak ikut, tapi doa terbaik menyertaimu, Rein," kata Humai dengan memberikan senyuman yang terbaik. "Kakak yakin kamu bisa. Kamu bisa membawa piala besar itu untuk kakak dan ibu."
Rein mengangguk dengan yakin. Dia memegang kedua tangan kakaknya dengan sorot mata penuh sayang.
"Aku berjanji akan membawa piala itu untuk, Kakak. Aku juga berharap semoga apa yang Rein lakukan bisa membuat ibu tak memandang Kakak sebelah mata lagi."
Jantung Humaira mencelos. Dia tak menyangka jika adiknya memikirkan nasib dirinya juga. Selama ini, Humai berusaha menutupi semuanya dari sang adik. Dia tak mau Rein melihat bagaimana sikap ibunya yang seperti itu kepadanya.
"Aku tau semuanya, Kak. Maaf jika selama ini Rein diam. Rein hanya ingin membuktikan pada Ibu, bahwa tak selamanya Kakak buruk di matanya," ujar Rein yang membuat Humaira lekas menarik adiknya ke dalam pelukan.
Tak ada pembicaraan apapun. Namun, Humaira meneteskan air matanya merasa haru pada sosok Rein. Dia juga tahu bagaimana perjuangan adiknya itu untuk menjadi sosok bintang kelas. Belajar, belajar dan belajarlah yang terus Rein lakukan.
"Sudah. Ayo, Sayang. Kita berangkat!" kata Shadiva saat dia baru saja keluar dari kamar.
Pelukan itu terlepas. Rein dan Humaira saling menghapus air matanya dan keduanya berusaha tersenyum.
"Semoga Allah memudahkan jalan untukmu, Sayang."
"Aamiin."
Mereka segera berjalan ke depan. Tak lupa Humaira mencium punggung tangan ibunya dengan lembut.
"Hati-hati ya, Bu. Jangan ngebut," kata Humaira pada ibunya.
Shadiva masih diam. Namun, tangannya perlahan mengusap kepala Humai yang membuat gadis itu mematung.
"Maaf kalau sikap Ibu selama ini menyakiti kamu, 'yah? Tapi jujur ibu hanya ingin kamu dihargai banyak orang di luar sana, Nak," kata Shadiva pelan sambil menatap putrinya itu. "Diluar sana, yang cantik wajahnya akan selalu di depan. Ibu hanya ingin kamu tak terkucilkan dan dihargai banyak orang."
Setelah mengatakan itu, Shadiva lekas memasuki kendaraan roda empat. Humaira berusaha tersenyum dan melambaikan tangannya. Namun, entah kenapa perasaannya menjadi kosong.
Seakam ia tak rela jika ibu dan adiknya pergi ke lomba tersebut.
"Kakak, aku berangkat yah!" kata Rein sedikit berteriak.
"Iya, hati-hati."
Akhirnya mobil itu mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah. Humaira tak juga melangkahkan kakinya masuk seakan dia ingin menatap mobil ibunya sampai tak terlihat dari matanya.
Mereka memang hidup di ekonomi rendah setelah kepergian ayah Humaira. Peninggalan berharga dari beliau hanya mobil jadul dan rumah yang lumayan nyaman ini.
Akhirnya Humaira lekas masuk ke dalam rumah. Dia ingin mengerjakan pekerjaan rumah yaitu mengepel, mencuci piring dan alat masak yang belum dibersihkan oleh ibunya.
Hampir 15 menit, Humaira mencuci piring dan alat memasak. Akhirnya pekerjaan itu selesai juga. Namun, tak lama suara panggilan telepon miliknya membuat Humai lekas berjalan untuk meraih benda pipih itu.
"Ibu?" gumamnya pelan dan lekas mengangkat teleponnya.
"Halo. Assalamualaikum, Bu?" ucapnya dengan cepat.
"Halo. Apa ini sanak saudara dari pemilik telepon ini?" tanya suara seorang laki-laki yang membuat jantung Humai berdegup kencang.
"Ya, Pak. Ini siapa? Saya putrinya," kata Humaira dengan pelan.
"Saya dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan berat dan salah satu korbannya meninggal di tempat."
~Bersambung
Intinya alur cerita ini udah aku matengin yah. Gak bakal ada perubahan apapun sampai tamat. Jadi kalau gak sesuai keinginan kalian, harus banyak bersabar.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Rita Wati
yaaa...siapa yg meninggal.....
2023-07-17
0
Pia Palinrungi
aduh yg meninggal siapa thor, mdh2 humaira tabah
2023-03-31
0
andi hastutty
kasian juga ibunya ternyata dia cuman mau anaknya di hargai dengan fisik yg bagus
2023-02-07
0