Kecelakaan

...Aku memang ingin terlepas dari belenggu itu tapi bukan cara seperti ini yang kuinginkan....

...~Humaira Khema Shireen...

...🌴🌴🌴...

Pagi-pagi sekali semua penghuni rumah Humaira sudah bangun. Hari ini, Shadiva akan mengantarkan Rein lomba berenang. Ibu dua anak itu tentu merasa begitu bersemangat. 

Tanpa diketahui olehnya. Terdapat seorang anak yang menatap semua yang dilakukan oleh Shadiva dengan pandangan sendu. Matanya berkaca-kaca membayangkan jika dirinya yang ada di posisi Rein.

Disayang, mendapatkan pelukan setiap hari, diperhatikan dan juga sangat diutamakan. Dia juga ingin merasakan itu. Humaira ingin merasakan bagaimana menjadi sosok Rein satu hari saja. 

"Humai, ayo bantu Ibu memasukkan makanan ini ke dalam bekal," kata Shadiva yang membuat Humai lekas menghapus air matanya.

Meratapi sepanjang malam, setiap hari atau satu tahun pun. Semua tak akan pernah berubah. Bertahun-tahun dia menunggu perubahan mamanya. Berusaha belajar dengan rajin. Namun, kepintarannya selama sekolah, peringkat yang ia raih tak pernah ada artinya di mata ibunya.

"Kurang banyak nasinya, Mai. Rein sangat suka oseng-oseng kentang. Jadi dia pasti makannya banyak," kata Shadiva saat Humaira memasukkan nasi ke dalam kotak bekal.

"Iya, Bu," sahut Humai dengan berusaha tersenyum. 

Dia tak pernah berharap lebih. Berada di dekat ibunya seperti ini saja sudah membahagiakan hatinya. Tak mendengar setiap kalimat menyakitkan dari bibir ibunya adalah anugerah terindah yang sangat Humai tunggu. 

"Apa Ibu akan menunggu Rein?" tanya Humaira dengan pelan.

"Tentu saja. Ibu sudah tak sabar melihat adikmu berlomba. Ibu yakin Rein akan menang. Dia adalah putra ibu yang berbakat." 

Sakit!

Humaira menganggukkan kepalanya. Mendengar ibunya mengucapkan putra ibu saja membuatnya iri. Selama ini Humai tak pernah mendengar ibunya menyebutnya putri ibu. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. 

"Lalu apa Ibu akan langsung pulang?" 

"Ibu akan mengajak adikmu jalan-jalan sebentar. Setelah itu Ibu dan Rein akan pulang." 

Apa Ibu tak mau mengajakku? Aku sebagai kakaknya saja juga ingin ikut melihat Rein berlomba, lirihnya dalam hati tanpa bisa mengucapkan secara langsung. 

Tak lama, Rein muncul dengan pakaian olahraga. Wajah adiknya ini 11 12 dengan ayahnya yang membuat Humai selalu bahagia ketika memandang Rein. 

Ketika dia rindu sosok ayahnya yang sudah meninggal. Maka cukup dengan menatap wajah adiknya, rasa rindu itu seakan terobati. 

"Apa Kakak tak mau ikut?" tanya Rein memegang tangan Humaira.

Sebenarnya hubungan kakak adik itu sangat dekat. Bahkan Rein selalu ingin ada di dekat Humaira. Namun, waktu yang dibuat Humai untuk belajar, kuliah dan bekerja membuatnya memiliki jarak dengan Rein.

Dia tak bisa terus berada di samping adiknya meski jiwanya sangat ingin. Humai sangat menyayangi Rein begitupun sebaliknya. 

"Kakakmu harus belajar di rumah, Sayang. Dia tak akan ikut!" Itu bukan suara Humaira.

Melainkan Shadiva yang langsung menjawab. 

"Ayo kita berangkat, Sayang!" 

Rein tak menjawab. Tatapannya mengandung kesedihan saat matanya bersitatap dengan mata kakaknya. Seakan remaja itu ingin kakaknya ikut melihatnya berlomba.

"Cepat pakai sepatumu, Rein!" kata Shadiva setelah menutup semua kotak bekalnya.

"Kakak gak mau ikut?" tanya Rein lagi saat ibu mereka masuk ke dalam kamarnya. "Rein ingin Kak Humai liat Rein lomba dan menang." 

Humaira berusaha tersenyum. Dia menangkup wajah Rein dan menghapus air mata adiknya yang menetes. Dia juga merasa sedih. Namun, Humai tak boleh menangis di depan adiknya itu. 

Dia yakin jika dirinya menangis. Maka Rein akan ikut menangis. Humai hanya takut adiknya tak fokus dalam lomba karena melihatnya sedih.

"Meski Kakak tak ikut, tapi doa terbaik menyertaimu, Rein," kata Humai dengan memberikan senyuman yang terbaik. "Kakak yakin kamu bisa. Kamu bisa membawa piala besar itu untuk kakak dan ibu." 

Rein mengangguk dengan yakin. Dia memegang kedua tangan kakaknya dengan sorot mata penuh sayang.

"Aku berjanji akan membawa piala itu untuk, Kakak. Aku juga berharap semoga apa yang Rein lakukan bisa membuat ibu tak memandang Kakak sebelah mata lagi." 

Jantung Humaira mencelos. Dia tak menyangka jika adiknya memikirkan nasib dirinya juga. Selama ini, Humai berusaha menutupi semuanya dari sang adik. Dia tak mau Rein melihat bagaimana sikap ibunya yang seperti itu kepadanya.

"Aku tau semuanya, Kak. Maaf jika selama ini Rein diam. Rein hanya ingin membuktikan pada Ibu, bahwa tak selamanya Kakak buruk di matanya," ujar Rein yang membuat Humaira lekas menarik adiknya ke dalam pelukan.

Tak ada pembicaraan apapun. Namun, Humaira meneteskan air matanya merasa haru pada sosok Rein. Dia juga tahu bagaimana perjuangan adiknya itu untuk menjadi sosok bintang kelas. Belajar, belajar dan belajarlah yang terus Rein lakukan. 

"Sudah. Ayo, Sayang. Kita berangkat!" kata Shadiva saat dia baru saja keluar dari kamar.

Pelukan itu terlepas. Rein dan Humaira saling menghapus air matanya dan keduanya berusaha tersenyum. 

"Semoga Allah memudahkan jalan untukmu, Sayang."

"Aamiin." 

Mereka segera berjalan ke depan. Tak lupa Humaira mencium punggung tangan ibunya dengan lembut.

"Hati-hati ya, Bu. Jangan ngebut," kata Humaira pada ibunya.

Shadiva masih diam. Namun, tangannya perlahan mengusap kepala Humai yang membuat gadis itu mematung.

"Maaf kalau sikap Ibu selama ini menyakiti kamu, 'yah? Tapi jujur ibu hanya ingin kamu dihargai banyak orang di luar sana, Nak," kata Shadiva pelan sambil menatap putrinya itu. "Diluar sana, yang cantik wajahnya akan selalu di depan. Ibu hanya ingin kamu tak terkucilkan dan dihargai banyak orang." 

Setelah mengatakan itu, Shadiva lekas memasuki kendaraan roda empat. Humaira berusaha tersenyum dan melambaikan tangannya. Namun, entah kenapa perasaannya menjadi kosong.

Seakam ia tak rela jika ibu dan adiknya pergi ke lomba tersebut.

"Kakak, aku berangkat yah!" kata Rein sedikit berteriak.

"Iya, hati-hati." 

Akhirnya mobil itu mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah. Humaira tak juga melangkahkan kakinya masuk seakan dia ingin menatap mobil ibunya sampai tak terlihat dari matanya.

Mereka memang hidup di ekonomi rendah setelah kepergian ayah Humaira. Peninggalan berharga dari beliau hanya mobil jadul dan rumah yang lumayan nyaman ini. 

Akhirnya Humaira lekas masuk ke dalam rumah. Dia ingin mengerjakan pekerjaan rumah yaitu mengepel, mencuci piring dan alat masak yang belum dibersihkan oleh ibunya.  

Hampir 15 menit, Humaira mencuci piring dan alat memasak. Akhirnya pekerjaan itu selesai juga. Namun, tak lama suara panggilan telepon miliknya membuat Humai lekas berjalan untuk meraih benda pipih itu. 

"Ibu?" gumamnya pelan dan lekas mengangkat teleponnya.

"Halo. Assalamualaikum, Bu?" ucapnya dengan cepat.

"Halo. Apa ini sanak saudara dari pemilik telepon ini?" tanya suara seorang laki-laki yang membuat jantung Humai berdegup kencang.

"Ya, Pak. Ini siapa? Saya putrinya," kata Humaira dengan pelan.

"Saya dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan berat dan salah satu korbannya meninggal di tempat." 

~Bersambung

Intinya alur cerita ini udah aku matengin yah. Gak bakal ada perubahan apapun sampai tamat. Jadi kalau gak sesuai keinginan kalian, harus banyak bersabar.

Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

Terpopuler

Comments

Rita Wati

Rita Wati

yaaa...siapa yg meninggal.....

2023-07-17

0

Pia Palinrungi

Pia Palinrungi

aduh yg meninggal siapa thor, mdh2 humaira tabah

2023-03-31

0

andi hastutty

andi hastutty

kasian juga ibunya ternyata dia cuman mau anaknya di hargai dengan fisik yg bagus

2023-02-07

0

lihat semua
Episodes
1 Pembullyan
2 Si Buruk Rupa!
3 Siapa Rachel?
4 Ditolak Jadi Mantu
5 Kecelakaan
6 Kehilangan
7 Kondisi Rein dan Pemakaman
8 Tabungan Menipis
9 Undangan Ulang Tahun
10 Disulap Bak Seorang Putri
11 Dipermalukan
12 Diculik?
13 Kamar Apartemen
14 Dijebak
15 Dipergoki
16 Bertanggung Jawab
17 Mau Menikah atau Tidak?
18 Perdebatan Ibu dan Anak
19 Kondisi Rein
20 Syakir VS Rachel
21 Rachel Menggoda
22 Identitas Humaira
23 Berita Panas Kampus
24 Dikeluarkan!
25 Siapa Sefira Sebenarnya?
26 Sikap Lain Syakir
27 Banyak Kesamaan?
28 Pendarahan
29 Terbongkar?
30 Sefira Bertindak
31 Putus?
32 Disidang!
33 Rancana Rachel
34 Bertemu Lagi?
35 Diusir?
36 Ancaman Syakir
37 Menikah
38 Syakir Berulah?
39 Anak Haram?
40 Tidur Di Lantai?
41 Digugurkan?
42 Hukuman Syakir
43 Drama Rachel
44 Perang Dunia Kedua?
45 Terbongkar
46 Pindah Rumah
47 Istri atau Pembantu?
48 Hasutan Rachel
49 Tamparan!
50 Rumah Sakit
51 Disfungsi Ereksi?
52 Panggilan Bara?
53 Tak Dianggap!
54 Gadis Pembawa Sial
55 Kecurigaan Almeera
56 Syakir VS Almeera
57 Nasehat Almeera
58 Kabar Rein
59 Tak Dinafkahi!
60 Wanita Munafik
61 Kepulangan Almeera
62 Kedatangan Rachel
63 Humai Melawan
64 Humai Mengancam?
65 Ketahuan?
66 Puncak Amarah Sefira
67 Sefira VS Rachel
68 Diusir!
69 Jenis Kelamin
70 Surat dan Foto USG
71 Saham 10%
72 Kabar Rein
73 Berbohong
74 Curiga
75 Rachel Super Gila
76 Foto Tak Seno***
77 Karma?
78 Meledak!
79 Go Indonesia
80 Kondisi Sefira & Humai
81 Hati Syakir Bergetar
82 Ketahuan Selingkuh
83 Syakir VS Rein
84 Awal Mula Kehancuran Syakir
85 Pamit Untuk Pergi
86 Selamat Tinggal Malang
87 Merasa Kehilangan
88 Welcome To Jakarta
89 Terbayang Sosok Humai
90 Tak Mau Bercerai?
91 Hubungan Rachel dan Humaira?
92 Saudara Kandung?
93 Rahasia Masa Lalu
94 Rumah Sakit Jiwa
95 Surat Perceraian
96 Syakir Menolak Tanda Tangan
97 Humaira Jatuh Telungkup!
98 Ketahuan Selingkuh
99 Pengkhianat
100 Baby Boy
101 Siapa Adam
102 Syakir Meninggal?
103 Fotokopian Syakir
104 Rasya Jay Achala
105 Resmi Bercerai?
106 Foto USG
107 Akhir Dari Segala Duka
108 Pekerja Restaurant
109 Calon Desainer Berbakat
110 Pak Dosen?
111 Jay & Jeno
112 Menikahlah Lagi!
113 LDR
114 Diantar Pak Jeno
115 Pertemuan Ayah dan Anak
116 Kecurigaan Syakir
117 Sakit Mental
118 Bertemu?
119 Hal Tak Terduga
120 Berpapasan
121 Harapan Humaira
122 Pertemuan Tak Terduga
123 Memastikan!
124 Pagelaran Busana
125 Bertemu Sekian Purnama
126 Keributan
127 Menguntit
128 Permintaan Ayah Humai
129 Harapan Sebagai Seorang Ayah
130 Syakir VS Jeno
131 Syakir VS Jeno 2
132 Bersaing Mendapatkan Humai!
133 Jadwal Bagi Tugas
134 Dia Ayah Kandung, Jay!
135 Kenapa Berpisah?
136 Panggilan Ayah Pertama Kalinya
137 Rayuan Jay dan Syakir
138 Suapan Pertama Kali
139 Permintaan Kecil Jay
140 Ajakan Jeno!
141 Awal Mula Perasaan Jeno
142 Jeno Diterima atau Ditolak?
143 Tantangan Baru Syakir
144 Syakir Jay Momen
145 Jay Minta Bantuan Jeno
146 Kabar Keluarga Syakir
147 Pertemuan Ibu dan Anak
148 Maafin Syakir, Ma!
149 Ante Ambil JJ, yah?
150 Saling Memaafkan
151 Kasih Ibu Sepanjang Masa
152 Tidur Seranjang?
153 Godaan Di Pagi Hari
154 Sefira VS Jeno
155 Sefira VS Jeno 2
156 Hati Seorang Ibu
157 Terbayang Wajah Sefira
158 Kehebohan Sebelum Kencan
159 Jatuh Cinta Kedua
160 Ngebucin Makin Brutal!
161 Syakir Makin Brutal
162 Pertemuan Kedua Sefira Jeno
163 Salah Tingkah
164 Restu Syakir?
165 Sefira Lawan Jeno
166 Pelukan Mendadak (Sefira-Jeno)
167 Kecupan Indah Dari Humai
168 Tentang Perasaan Sefira
169 Terbongkar Tentang Syakir
170 Saling Menerima
171 Nasib Rachel dan Adam
172 Tingkah Cassanova Syakir
173 Mulai Terungkap
174 Kekecewaan Humaira
175 Pergilah ke Malang!
176 Kedatangan Si Bucin Akut
177 Berpisah Untuk Pertama Kali
178 Rachel Mengamuk
179 Keputusan Papa Hermansyah
180 Kode Minta Dihalalin
181 Kecupan Berakhir Lamaran
182 Waktu 2 Minggu Untuk Halal?
183 Kembali Bertemu Dosen Killer
184 Panggilan Sayang
185 Restu Papa
186 Restu Orang Tua Syakir
187 Lampu Hijau OTW KUA
188 Kabar Bahagia
189 Jeno ikutan ngegas!
190 Bucin OTW Jadian
191 Kejutan Dari Jeno
192 Jawaban Jeno
193 Ikut Mengunjungi Rachel
194 Pelukan Saudara Angkat
195 Apa Rachel Bisa Sembuh?
196 Bertemu Keluarga Jeno
197 Ditolak?
198 Double Restu
199 Kejutan Syakir
200 Gagal LDR!
201 Memasak Bersama
202 Menyambut di Bandara
203 Persiapan Lamaran
204 Tanggal Pernikahan
205 Kebucinan Apa Ini?
206 Almeera dan Bara
207 Kabar Mengejutkan Untuk Humai
208 Bucinnya Bara dan Syakir
209 Trio Bucin Berkumpul
210 Rumah Lama Humaira
211 Cincin Pernikahan
212 Dekorasi dan Fitting Baju
213 Pernikahan Kedua
214 Kebahagiaan Tak Terhingga
215 Kado Dari Reyn
216 Jay, Merusak Momen
217 Kejujuran Jeno
218 Reaksi Sefira
219 Sisi Lain Syakir
220 Makan Malam Bersama
221 Menentukan Tanggal Pernikahan JenFira
222 Godaan Berat
223 Serangan Syakir
224 Ninu Ninu Ninu
225 Indahnya Malam Kedua
226 Berikan Cucu Yang Banyak!
227 Pijatan Lembut
228 Saksi Bisu Kamar Mandi
229 Godaan Banci Centil
230 Cemburunya Jeno
231 Perhatian Jay pada Syakir
232 Tingkah Humai dan Sefira
233 Pertemuan Dengan Rachel
234 Berdamai
235 Diusir?
236 Happy Wedding JenFir
237 Kegugupan Sefira
238 Persiapan Bulan Madu
239 Negeri Gingseng
240 Malam Yang Dinanti
241 Tendangan Goal
242 Tanda Merah
243 Pertemuan Dengan Reyn
244 Perhatian Reyn
245 Membawa Rachel Pulang
246 Mimpi menjadi Nyata
247 Di Balik Selimut
248 Sikap Hangat Jeno
249 Isyarat?
250 Perjuangan Reyn dan Humai Dimulai
251 YJ Collection
252 Titik Awal Impian Humai
253 Hari Pertama Bekerja
254 Guntur Syakir Bucin Alhusyn
255 Cemburu Buta
256 Hukuman Ninuninu
257 Rencana Syakir
258 Pawang Humai Siaga Satu
259 Ulah Jay
260 Om Ye Jun, Belum Nikah?
261 Jangan Ambil Ibuku!
262 Humai Sakit?
263 Muntah
264 Baru Sadar?
265 Show Time
266 Hadiah Terindah
267 Mood Ibu Hamil
268 Kebahagiaan
269 Ngidam Pertama
270 Dikerjain?
271 Rachel VS Syakir
272 Ibu Hamil Lagi?
273 LDR
274 Hari Pertama LDR
275 Insting Ibu Hamil
276 Rencana Licik!
277 Si Otak Omes Datang!
278 Ngidam Khusus Jeno
279 Impian Reyn dan Momen Epict Humai
280 Maisya Jen Arashel
281 Reyn Story?
282 Our Life is a Beautiful Future
283 New Novel Kisah Zelia
284 NEW NOVEL KISAH BIA
285 NOVEL ABANG ABRA RILIS!
286 Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
287 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 287 Episodes

1
Pembullyan
2
Si Buruk Rupa!
3
Siapa Rachel?
4
Ditolak Jadi Mantu
5
Kecelakaan
6
Kehilangan
7
Kondisi Rein dan Pemakaman
8
Tabungan Menipis
9
Undangan Ulang Tahun
10
Disulap Bak Seorang Putri
11
Dipermalukan
12
Diculik?
13
Kamar Apartemen
14
Dijebak
15
Dipergoki
16
Bertanggung Jawab
17
Mau Menikah atau Tidak?
18
Perdebatan Ibu dan Anak
19
Kondisi Rein
20
Syakir VS Rachel
21
Rachel Menggoda
22
Identitas Humaira
23
Berita Panas Kampus
24
Dikeluarkan!
25
Siapa Sefira Sebenarnya?
26
Sikap Lain Syakir
27
Banyak Kesamaan?
28
Pendarahan
29
Terbongkar?
30
Sefira Bertindak
31
Putus?
32
Disidang!
33
Rancana Rachel
34
Bertemu Lagi?
35
Diusir?
36
Ancaman Syakir
37
Menikah
38
Syakir Berulah?
39
Anak Haram?
40
Tidur Di Lantai?
41
Digugurkan?
42
Hukuman Syakir
43
Drama Rachel
44
Perang Dunia Kedua?
45
Terbongkar
46
Pindah Rumah
47
Istri atau Pembantu?
48
Hasutan Rachel
49
Tamparan!
50
Rumah Sakit
51
Disfungsi Ereksi?
52
Panggilan Bara?
53
Tak Dianggap!
54
Gadis Pembawa Sial
55
Kecurigaan Almeera
56
Syakir VS Almeera
57
Nasehat Almeera
58
Kabar Rein
59
Tak Dinafkahi!
60
Wanita Munafik
61
Kepulangan Almeera
62
Kedatangan Rachel
63
Humai Melawan
64
Humai Mengancam?
65
Ketahuan?
66
Puncak Amarah Sefira
67
Sefira VS Rachel
68
Diusir!
69
Jenis Kelamin
70
Surat dan Foto USG
71
Saham 10%
72
Kabar Rein
73
Berbohong
74
Curiga
75
Rachel Super Gila
76
Foto Tak Seno***
77
Karma?
78
Meledak!
79
Go Indonesia
80
Kondisi Sefira & Humai
81
Hati Syakir Bergetar
82
Ketahuan Selingkuh
83
Syakir VS Rein
84
Awal Mula Kehancuran Syakir
85
Pamit Untuk Pergi
86
Selamat Tinggal Malang
87
Merasa Kehilangan
88
Welcome To Jakarta
89
Terbayang Sosok Humai
90
Tak Mau Bercerai?
91
Hubungan Rachel dan Humaira?
92
Saudara Kandung?
93
Rahasia Masa Lalu
94
Rumah Sakit Jiwa
95
Surat Perceraian
96
Syakir Menolak Tanda Tangan
97
Humaira Jatuh Telungkup!
98
Ketahuan Selingkuh
99
Pengkhianat
100
Baby Boy
101
Siapa Adam
102
Syakir Meninggal?
103
Fotokopian Syakir
104
Rasya Jay Achala
105
Resmi Bercerai?
106
Foto USG
107
Akhir Dari Segala Duka
108
Pekerja Restaurant
109
Calon Desainer Berbakat
110
Pak Dosen?
111
Jay & Jeno
112
Menikahlah Lagi!
113
LDR
114
Diantar Pak Jeno
115
Pertemuan Ayah dan Anak
116
Kecurigaan Syakir
117
Sakit Mental
118
Bertemu?
119
Hal Tak Terduga
120
Berpapasan
121
Harapan Humaira
122
Pertemuan Tak Terduga
123
Memastikan!
124
Pagelaran Busana
125
Bertemu Sekian Purnama
126
Keributan
127
Menguntit
128
Permintaan Ayah Humai
129
Harapan Sebagai Seorang Ayah
130
Syakir VS Jeno
131
Syakir VS Jeno 2
132
Bersaing Mendapatkan Humai!
133
Jadwal Bagi Tugas
134
Dia Ayah Kandung, Jay!
135
Kenapa Berpisah?
136
Panggilan Ayah Pertama Kalinya
137
Rayuan Jay dan Syakir
138
Suapan Pertama Kali
139
Permintaan Kecil Jay
140
Ajakan Jeno!
141
Awal Mula Perasaan Jeno
142
Jeno Diterima atau Ditolak?
143
Tantangan Baru Syakir
144
Syakir Jay Momen
145
Jay Minta Bantuan Jeno
146
Kabar Keluarga Syakir
147
Pertemuan Ibu dan Anak
148
Maafin Syakir, Ma!
149
Ante Ambil JJ, yah?
150
Saling Memaafkan
151
Kasih Ibu Sepanjang Masa
152
Tidur Seranjang?
153
Godaan Di Pagi Hari
154
Sefira VS Jeno
155
Sefira VS Jeno 2
156
Hati Seorang Ibu
157
Terbayang Wajah Sefira
158
Kehebohan Sebelum Kencan
159
Jatuh Cinta Kedua
160
Ngebucin Makin Brutal!
161
Syakir Makin Brutal
162
Pertemuan Kedua Sefira Jeno
163
Salah Tingkah
164
Restu Syakir?
165
Sefira Lawan Jeno
166
Pelukan Mendadak (Sefira-Jeno)
167
Kecupan Indah Dari Humai
168
Tentang Perasaan Sefira
169
Terbongkar Tentang Syakir
170
Saling Menerima
171
Nasib Rachel dan Adam
172
Tingkah Cassanova Syakir
173
Mulai Terungkap
174
Kekecewaan Humaira
175
Pergilah ke Malang!
176
Kedatangan Si Bucin Akut
177
Berpisah Untuk Pertama Kali
178
Rachel Mengamuk
179
Keputusan Papa Hermansyah
180
Kode Minta Dihalalin
181
Kecupan Berakhir Lamaran
182
Waktu 2 Minggu Untuk Halal?
183
Kembali Bertemu Dosen Killer
184
Panggilan Sayang
185
Restu Papa
186
Restu Orang Tua Syakir
187
Lampu Hijau OTW KUA
188
Kabar Bahagia
189
Jeno ikutan ngegas!
190
Bucin OTW Jadian
191
Kejutan Dari Jeno
192
Jawaban Jeno
193
Ikut Mengunjungi Rachel
194
Pelukan Saudara Angkat
195
Apa Rachel Bisa Sembuh?
196
Bertemu Keluarga Jeno
197
Ditolak?
198
Double Restu
199
Kejutan Syakir
200
Gagal LDR!
201
Memasak Bersama
202
Menyambut di Bandara
203
Persiapan Lamaran
204
Tanggal Pernikahan
205
Kebucinan Apa Ini?
206
Almeera dan Bara
207
Kabar Mengejutkan Untuk Humai
208
Bucinnya Bara dan Syakir
209
Trio Bucin Berkumpul
210
Rumah Lama Humaira
211
Cincin Pernikahan
212
Dekorasi dan Fitting Baju
213
Pernikahan Kedua
214
Kebahagiaan Tak Terhingga
215
Kado Dari Reyn
216
Jay, Merusak Momen
217
Kejujuran Jeno
218
Reaksi Sefira
219
Sisi Lain Syakir
220
Makan Malam Bersama
221
Menentukan Tanggal Pernikahan JenFira
222
Godaan Berat
223
Serangan Syakir
224
Ninu Ninu Ninu
225
Indahnya Malam Kedua
226
Berikan Cucu Yang Banyak!
227
Pijatan Lembut
228
Saksi Bisu Kamar Mandi
229
Godaan Banci Centil
230
Cemburunya Jeno
231
Perhatian Jay pada Syakir
232
Tingkah Humai dan Sefira
233
Pertemuan Dengan Rachel
234
Berdamai
235
Diusir?
236
Happy Wedding JenFir
237
Kegugupan Sefira
238
Persiapan Bulan Madu
239
Negeri Gingseng
240
Malam Yang Dinanti
241
Tendangan Goal
242
Tanda Merah
243
Pertemuan Dengan Reyn
244
Perhatian Reyn
245
Membawa Rachel Pulang
246
Mimpi menjadi Nyata
247
Di Balik Selimut
248
Sikap Hangat Jeno
249
Isyarat?
250
Perjuangan Reyn dan Humai Dimulai
251
YJ Collection
252
Titik Awal Impian Humai
253
Hari Pertama Bekerja
254
Guntur Syakir Bucin Alhusyn
255
Cemburu Buta
256
Hukuman Ninuninu
257
Rencana Syakir
258
Pawang Humai Siaga Satu
259
Ulah Jay
260
Om Ye Jun, Belum Nikah?
261
Jangan Ambil Ibuku!
262
Humai Sakit?
263
Muntah
264
Baru Sadar?
265
Show Time
266
Hadiah Terindah
267
Mood Ibu Hamil
268
Kebahagiaan
269
Ngidam Pertama
270
Dikerjain?
271
Rachel VS Syakir
272
Ibu Hamil Lagi?
273
LDR
274
Hari Pertama LDR
275
Insting Ibu Hamil
276
Rencana Licik!
277
Si Otak Omes Datang!
278
Ngidam Khusus Jeno
279
Impian Reyn dan Momen Epict Humai
280
Maisya Jen Arashel
281
Reyn Story?
282
Our Life is a Beautiful Future
283
New Novel Kisah Zelia
284
NEW NOVEL KISAH BIA
285
NOVEL ABANG ABRA RILIS!
286
Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
287
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!