...Kehilangan terbesar dalam hidupku setelah kematian ayah adalah kepergian wanita yang melahirkanku di dunia....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Suara hp terjatuh tak membuat Humaira peduli. Air mata gadis itu mengalir dengan sendirinya saat ucapan pria dari telepon terngiang-ngiang di kepalanya. Bayangan wajah ibu dan adiknya memutar di pikirannya dan membuat kepala Humai menggeleng.
"Nggak mungkin. Ibu dan Rein pasti selamat," ujarnya meyakinkan diri.
Humaira berusaha bersikap positif. Dia mengabaikan kabar yang ia dengar dari telepon. Dengan langkah pasti, gadis itu segera mengambil ponselnya yang jatuh dan segera pergi ke rumah sakit.
Entah bagaimana kacaunya perasaan Humai saat ini. Rasa hancur, takut ditinggalkan dan juga sedih bercampur menjadi satu. Dia hanya memiliki ibu dan adiknya di dunia ini.
Humai tak mau hidup sendiri. Dirinya tak siap menghadapi kejamnya dunia sendirian. Walau bagaimanapun sikap Shadiva kepadanya. Humai masih bersyukur ada mereka di dekatnya.
"Kumohon jangan ambil mereka, Ya Allah. Aku menyayangi keduanya tanpa bisa memilih."
Humai tak peduli jika beberapa pasang mata menatapnya penuh tanya. Gadis itu memang saat ini berada di atas ojek online yang ia sewa. Perempuan itu hanya ingin segera sampai di rumah sakit dan memakai sepeda motor adalah jalan satu-satunya.
Jalan yang biasa ia gunakan terasa cepat kini seakan melambat. Rasanya ingin sekali dia berlari dengan kencang agar segera sampai. Namun, apa daya. Semua itu tak bisa ia lakukan sendirian mengingat jalanan yang mulai padat karena banyaknya orang berangkat bekerja dan sekolah.
Akhirnya setelah hampir tiga puluh menit mereka menerobos jalanan Malang yang macet. Humai bisa sampai di salah satu rumah sakit yang ada di kota. Dia segera berlari memasuki gedung besar itu setelah membayar ongkos ojek online.
"Korban kecelakaan di tol, Mbak. Ada di ruang apa?" tanya Humai tanpa peduli penampilannya saat ini.
Wajah kusut, kusam dan pakaian sederhana menempel di tubuhnya. Semua itu bukan hal yang menjadi tujuan Humai. Namun, segera bertemu dengan dua orang yang sangat ia cintai adalah harapannya.
"Korban ada di ruang pemeriksaan."
Tanpa menunda, Humai segera berlari kesana. Tubuhnya gemetaran saat ada tiga orang polisi berdiri di sana. Dia merasa kakinya berat untuk mendekat. Humai takut menerima kenyataan.
Kenyataan dimana dia akan kehilangan salah satu di antara mereka berdua.
"Keluarga korban?" tanya salah satu polisi saat Humai baru saja sampai disana.
Kepala gadia itu mengangguk lemah.
"Ya. Saya putri dari korban," kata Humai setelah menarik nafasnya begitu dalam.
"Mari ikut kami!" ajak dua orang polisi yang berjalan lebih dulu.
Kepala Humai di penuhi banyak tanya. Dia menatap ruang rawat yang mulai jauh karena langkah kakinya mengikuti para polisi yang ada di depannya. Jantungnya terus berdegup kencang saat dia menatap denah jalan yang menunjukkan nama ruangan keramat di rumah sakit.
"Kenapa kita kesini, Pak?" tanya Humai dengan suara seraknya.
Ingin rasanya Humai berlari. Ingin rasanya dia tak ikut kesini.
"Mari masuk!"
Perlahan pintu ruangan itu terbuka. Tubuh Humai mulai lemah saat melihat beberapa orang yang terbaring di atas ranjang dengan diselimuti kain putih menutupi tubuhnya.
Kalian pasti tahu dimana Humai saat ini. Ruangan yang selalu dipenuhi akan kesedihan karena perpisahan yang begitu kekal.
"Sabar yah," kata salah satu polisi yang umurnya mungkin seusia almarhum ayah Humai. "Dengan berat hati saya harus menyampaikan bahwa ibu Anda meninggal dunia."
Tubuh Humai mematung. Tatapan matanya tertuju pada kain putih di depannya. Telinganya masih menangkap perkataan apa yang didengar olehnya.
Ketakutan yang ia hindari ternyata menjadi kenyataan. Harapan dan doa yang ia panjatkan ternyata tak membuat sosok ibunya kembali.
Bukan ini jalan yang Humai mau. Bukan kebebasan seperti ini yang gadis itu inginkan. Dia hanya ingin ibunya merubah sikapnya agar ia terbebas dari rasa sakit.
Bukan terbebas macam ini yang ia harapkan.
"Nggak mungkin, 'kan, Pak? Ibuku pasti selamat, 'kan?"
Harapan hanyalah harapan. Saat selimut putih itu dibuka, wajah yang sangat ia sayangi sudah pucat pasi terbaring di sana.
Humai mendekat. Dia memeluk ibunya yang tak lagi bernyawa. Tubuh yang sangat ingin ia rasakan pelukannya kini mampu ia peluk. Wajah yang sangat ingin ia ciumi kini mampu dia sayang dengan bebas.
Kulit yang sangat ingin dia harapkan memegang tubuhnya, mengusap kepalanya dan mencium dahinya kini semakin tak bisa ia wujudkan. Semua itu hanya tinggal kenangan bagi Humai di hidupnya.
Tuhan benar-benar mengambil ibunya disaat terendahnya. Hidupnya benar-benar di titik rendah. Di titik kehancuran mental dan kekuatannya melebur menjadi satu.
"Kenapa ibu ninggalin Humai sendirian? Kenapa Ibu tega pergi dari hidup Humai, Bu!" kata Humai dengan menciumi wajah ibunya. "Humai benar-benar takut, Bu. Humai takut sendirian. Apa yang akan Humai lakukan jika Ibu pergi?"
Dua polisi yang berada disana sampai ikut sedih. Mereka bahkan sampai memalingkan wajahnya karena tak sanggup dengan keadaan Humai.
"Dulu Humai ingin bebas dari, Ibu. Tapi bukan kebebasan seperti ini yang Humai mau, Bu," ujarnya dengan menangis. "Humai mau ibu sadar dan sayang sama Humai. Humai mau ibu bangga dengan prestasi Humai. Humai mau ibu selalu ada dan melindungi Humai dari banyaknya orang jahat di luar sana, Bu."
Humai benar-benar menumpahkan segala keluh yang dia rasakan. Apa yang ingin ia katakan dulu pada ibunya, kini ia tumpahkan. Gadis itu benar-benar tak memperdulikan dua polisi yang ada disana.
"Apa yang akan Humai katakan pada Rein, Bu. Apa yang harus Humai jelaskan pada Rein kalau Ibu pergi?"
Humaira sudah mulai menenangkan dirinya. Dia hanya memeluk tubuh ibunya dengan mengusap air matanya yang tak mau berhenti. Dia ingin merasakan pelukan seorang ibu untuk yang terakhir kalinya.
Karena setelah ini, tak ada lagi pelukan ini yang mampu ia rasakan. Tak ada lagi ocehan ibunya yang akan ia dengar. Tak ada lagi larangan yang biasa ia dengar setelah ini.
"Doakan Humai sanggup, Bu. Doakan Humai dari atas sana," bisik Humai dengan perasaan yang mulai ia pahami.
Dia mulai menerima. Jika kematian, jodoh dan rejeki semuanya sudah diatur. Manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan tetap pengendali segalanya.
Dengan perasaan sakit, hancur dan sedih. Humai menangkup kedua wajah ibunya. Ditatapnya wajah yang selalu menasehati dirinya dengan kata-kata yang mungkin penghancur mentalnya. Namun, meski seperti itu, Humai tetap sayang pada ibunya.
Perlahan Humai memejamkan matanya. Dia mencium dahi ibunya dengan lembut. Segala doa dia panjatkan dengan baik dan dia berusaha menerima takdir.
"Pulanglah dengan damai dan tenang, Bu. Humai sudah memaafkan semuanya dan berusaha ikhlas akan kepergian, Ibu."
~Bersambung
Ini namanya bikin nangis diri sendiri. Ngetik sambil usap-usap mata, hiks.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Alwie Yahya
aduuh bawangnya banyak....😭
2024-08-09
1
Rita Wati
ini air mata sdh dilarang jangan turun....tetep aja turun....😭😭
2023-07-17
0
Pia Palinrungi
thor part ini banjir air mata, mdh2 humaira kuat demi adenya rein,.semangat dn kiar humai demi masa depanmu sm ade kamu
2023-03-31
0