Aleta yang melihat semuanya jadi ketakutan dan histeris, dia berteriak keras sambil menangis dan menarik-narik kemeja Faris karena Aleta tidak pernah melihat manusia senekat Faris sebelumnya.
"Mengapa kamu selalu lakukan hal seperti ituuu,,,? Mengapaa,,? Mengapaaaa,,,? Aleta berteriak dengan kerasnya sambil menangis.
"Terus mau kamu aku harus gimana,,? Apa aku harus membiarkan dia membunuhmu,,? Tanya Faris sambil menatap Aleta dengan tatapan dinginnya.
Aleta yang mendengar pertanyaan Faris tambah menangis sambil menatap Vina yang sudah berlumuran darah dan tidak bernyawa, sedangkan Faris hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, Faris sangat merasa bingung dengan hati Aleta yang begitu bersih tanpa ada rasa dendam walaupun untuk orang yang ingin melenyapkan nyawanya.
"Fariiis,, mengapa kamu begitu jahat,,? Apa tidak ada cara lain selain membunuh haaa,,? Tanya Aleta dengan nada tinggi tapi Faris tidak memperdulikannya sama sekali, Faris malah menarik tangannya dan melangkah meninggalkan ruangan itu tanpa melirik Vina yang sudah tidak bernyawa di atas lantai.
Di saat Faris menariknya Aleta berusaha untuk melawan, dia ingin Faris menolong Vina untuk membawanya ke rumah sakit tapi Faris malah menariknya dengan paksa.
"Kita mau kemana,,? Bagaimana dengan Vina,,? Kita harus membawanya ke rumah sakit Fariiis,,! Kata Aleta sambil berusaha melepaskan tangan Faris dari pergelangan tangannya.
"Dia sudah mati,,! Ayo kita pulang,,! Kata Faris sambil menarik paksa Aleta.
Sampainya di luar Faris langsung menyuruh anak buahnya untuk membereskan mayat Vina, dan setelah itu dia langsung pergi sambil menarik Aleta yang masih terus menangis. Aleta tidak menyangkah Faris adalah laki-laki yang sangat nekat dan tidak punya hati.
Sambil melangkah Aleta terus melirik Faris yang tidak memperdulikannya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, setelah berulang kali melihat kelakuan Faris membuat Aleta jadi ragu untuk menikah dengannya, karena dia takut kalau Faris akan melakukan hal yang sama untuknya.
Sampainya di bawah Faris langsung membukakan pintu mobil dan menyuruh Aleta yang masih saja menangis untuk masuk, setelah itu dia langsung berjalan memutar dan masuk kemudian duduk di bagian kemudi.
Tanpa menunggu lama Faris langsung melajukan mobilnya dan Aleta yang duduk di sampingnya masih terus menangis tanpa bersuara, Aleta tidak bisa berhenti menangis lantaran dia memikirkan Vina yang sudah kehilangan nyawanya karena perbuatan Faris yang begitu kejam.
Almira dan Melda yang duduk di bagian belakang hanya menatap Faris dan Aleta dengan tatapan bingung sejak tadi, tapi kedua adik Faris itu tidak pernah berani untuk mencampuri urusan Faris karena mereka sudah sangat kenal dengan sifat saudara laki-laki mereka itu.
Dalam perjalanan Aleta tidak henti-hentinya menangis walaupun Faris sudah menyuruhnya untuk berhenti, akhirnya Faris memutuskan untuk membawa Aleta ke apartemennya karena dia tidak ingin membuat mama dan papanya marah kalau melihat keadaan Aleta seperti itu.
Aleta yang masih terus menangis tidak menyadari kalau mereka bukan menuju ke arah rumah Faris, sedangkan Melda dan Almira yang sudah menyadarinya tidak berani untuk bertanya apa-apa.
Sambil mengemudi Faris mengirim pesan kepada supirnya untuk menjemput Almira dan Melda di depan apartemennya, karena dia berencana untuk menginap di apartemen mewahnya itu bersama Aleta sampai Aleta sudah bisa tenang baru kembali ke rumah.
Tidak mamakan waktu lama mereka sudah tiba di depan gedung Apartemen Faris, dan di sana sudah ada supir Faris yang menunggu mereka, Aleta yang melamun sejak tadi tiba-tiba terkejut setelah menyadari kalau di depan mereka itu bukan rumah Faris tapi apartemennya.
Dengan tergesa-gesa Aleta yang masih berada di dalam mobil menatap ke sana ke mari dengan tatapan bingungnya, sedangkan Faris Almira dan Melda yang sudah turun dari mobil sedang melangkah ke arah mobil yang satunya.
Dengan buru-buru Aleta langsung keluar dari mobil dan melangkah mengikuti Faris Almira dan Melda, tapi Aleta terlambat karena baru beberapa langkah dia melangkah, mobil yang di kendarai supir pribadi Faris itu sudah melaju membawa Melda dan Almira.
"Meeel,, Meldaaa,,! Miraaa,, Almiraa,,! Teriak Aleta sambil menatap mobil yang membawa Almira dan Melda itu.
Aleta sangat bingung karena Melda dan Almira pindah ke mobil lain, dia terus teriaki nama Melda dan Almira sampai mobil yang membawa mereka hilang dari pandangannya. Setelah mobil sudah tidak terlihat, Aleta dengan nafas yang sangat memburu langsung menatap Faris yang berdiri tidak jauh darinya dan bertanya.
"Apa maksud semua ini,,? Tanya Aleta kepada Faris yang juga sedang menatapnya.
Tanpa menjawab, Faris langsung menarik tangan Aleta dan melangkah masuk kedalam gedung apartemen yang sangat mewah itu. Aleta ingin sekali melawan, tapi karena sudah ada beberapa orang di situ membuatnya terpaksa harus menurut.
Itulah sifat Aleta, dia tidak pernah mau menjadi tontonan orang banyak, jadi walaupun dia sangat kesal tapi dia tetap berusaha untuk menahan dirinya.
Faris menggenggam erat pergelangan Aleta sambil melangkah memasuki apartemennya.
Sampainya di dalam apartemen mewah itu Aleta langsung menarik tangannya dari genggaman Faris sambil berkata.
"Apa maksud kamu dengan semua ini,,? Tanya Aleta dengan nada yang kesal dan tatapan yang tajam ke arah Faris.
"Aku ingin kita menginap di sini malam ini biar kamu bisa menenangkan fikiranmu. Jawab Faris sambil menatap Aleta dengan tatapan dinginnya.
"Aku mau pulang sekarang,,! Untuk apa juga harus menginap di sini,,? Kata Aleta sambil membuang muka dari Faris.
"Selain menenangkan diri, aku ingin membahas pernikahan kita yang akan di langsungkan minggu depan. Kata Faris yang membuat Aleta langsung terkejut dan berbalik menatap Faris.
"Apaaaa,,? Bukannya kita akan menikah tiga minggu lagi,,? Tanya Aleta dengan kagetnya.
"Aku yang mau minggu depan,,! Aku ngga mau menunggu terlalu lama karena aku masih punya banyak urusan penting yang harus di selesaikan. Kata Faris yang membuat Aleta langsung kesal dan melangkah pergi keluar.
Faris laki-laki yang tidak pernah mengerti wanita malah cuek dengan Aleta yang sudah melangkah keluar dari apartemennya, dia tidak menahan apalagi mengejarnya tapi dia malah melangkah ke arah tempat tidur dan membaringkan dirinya di sana.
Aleta sangat kecewa dengan Faris yang menganggap urusannya lebih penting dari pernikahan mereka, karena setau dia pernikahan adalah hal yang sanagat penting bagi semua orang, tapi di sisi lain dia pun sadar mengapa pernikahan mereka di anggap tidak penting bagi Faris, Aleta sadar Faris seperti itu karena dia tidak mencintainya sama sekali.
Karena sangat kecewa dan sedih, Aleta memilih untuk duduk di taman yang tidak jauh dari apartemennya Faris, Aleta duduk sendirian di sana sampai mata hari tenggelam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
perasaan tokoh utama cewek dari bab 1 kerjaannya nangis mulu deh😜🤣
2023-05-25
1
Aska
Faris dingin seperti es balok 😆
2023-01-27
0
Damaris Payung
seramnya masalah langsung diselesaikan dgn pistol...seremnya
2022-12-01
0