Faris memarkirkan motornya dan langsung menatap dengan teliti setiap sudut gedung yang sudah tua itu. Selain terlihat tua gedung itu juga sudah tidak terurus karena itu memang gedung kosong yang sudah lama tidak di gunakan.
Di saat Faris sedang menatap setiap sudut gedung itu tiba-tiba dia mendengar ada suara di lantai atas yang terdengar seperti suara teriakan seorang laki-laki. Tanpa menunggu lama Faris langsung bergegas menuju lantai atas untuk mencaritahu suara yang dia dengar itu.
Faris yang sudah terbiasa dengan situasi-situasi menantang seperti itu melangkah tanpa ada rasa takut, dia melangkah dengan tampang yang tidak bisa di artikan, wajah dan matanya sudah sangat merah seperti drakula yang sedang mengejar mangsanya.
Sampainya di lantai atas Faris yang sedang melangkah langsung bersembunyi di balik dinding, karena dia kembali mendengar suara seperti orang yang sedang mengobrol yang terdengar begitu jelas.
"Bagusnya kita ngapain dengan wanita cantik ini,,? Tanya seorang laki-laki.
"Kita cicipi saja dia,,! Rugi bangat kalau di biarin begitu saja. Jawab dari suara laki-laki yang lain.
"Jangan berani macam-macam sama aku brengseeek,,! Suara Aleta yang sedikit keras dan sangat jelas di telinga Faris.
"Memangnya kenapa kalau aku macam-macam sama kamu,,? Tidak akan ada yang menolongmu sayang. Kata kedua laki-laki itu yang membuat Faris semakin geram.
Faris mengepalkan tangannya sambil menatap ke arah pintu tempat suara Aleta dan para anak buah Vina berasal, nafasnya memburu tidak terkendali, tangan dan seluruh tubuhnya gemetar saking emosinya, begitulah Faris kalau sudah marah dan kalau sudah seperti itu dia sudah tidak bisa untuk di kendalikan lagi.
"Jangaaaan,,! Jangaaan lakukan ituuuu,,,! Toloooong, Fariiiis tolong akuuuu,,! Teriak Aleta yang membuat Faris yang sudah seperti monster langsung bergerak.
""Praaaak,,! Suara tendangan pintu.
Faris dengan emosinya langsung menendang pintu dan membuat kedua anak buah Vina yang sedang mencoba melepaskan pakaian Aleta dengan sangat memaksa langsung kaget, begitupun dengan Aleta yang sedang menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa, Aleta langsung terkejut dan menatap ke arah pintu dengan keadaan dan tatapan yang begitu menyedihkan.
Faris yang sudah berdiri di depan pintu menatap Aleta sambil mengepalkan kedua tangannya, dia sudah tidak bisa untuk berfikir jernih setelah melihat keadaan Aleta yang berantakan seperti itu.
Faris dan Aleta saling menatap tanpa bersuara, hanya air mata yang mengalir dari mata Aleta menunjukan kalau dia sangat membutuhkan bantuan Faris, tapi tiba-tiba mata Aleta langsung terbuka lebar dan dia berteriak dengan kerasnya, di saat melihat salah satu anak buah Vina sudah memegang pisau dan hendak menyerang Faris yang masih tetap menatapnya.
"Fariiiis awaaaas,,! Teriak Aleta.
Tanpa menatap ataupun melirik laki-laki yang mau menyerangnya itu, Faris dengan gerakan cepatnya langsung meraih tangan yang terdapat pisau dan segera mematahkannya dengan hanya sekali gerakan.
"Aaaaah. Teriak laki-laki itu sambil tersandar ke dinding karena merasa sangat kesakitan.
Karena melihat temannya sudah tidak berdaya, anak buah Vina yang satunya langsung menyerang Faris dengan sabit yang ada di tangannya, tapi dengan cepat Faris segera meraih tangannya dan langsung merampas sabitnya.
Setelah berhasil merampas sabit itu, tanpa berfikir panjang Faris dengan emosi yang sudah membabi buta segera melenyapkan nyawa laki-laki itu dengan benggunakan sabit yang ada di tangannya.
Faris melakukan semuanya dengan begitu sadis, dan Aleta yang melihatnya tidak bisa berkata apa-apa, nafas Aleta memburu, jantungnya berdetak sangat cepat dan matanya terbelalak sambil kedua tangannya menutupi mulutnya saking kagetnya dia.
Aleta yang begitu terkejut dengan apa yang dia lihat langsung berteriak sambil meraih kaki Faris, Aleta memohon ampun karena dia melihat Faris sudah mengangkat sabit di tangannya kepada laki-laki yang tangannya di patahkan tadi.
"Jangan Fariiiiis,,! Aku mohon jangaaaan,,! Tolong hentikan,,! Aleta memeluk kaki Faris dengan eratnya sambil menangis dan memohon agar Faris hentikan semua aksi gilanya itu.
Melihat Aleta yang sudah bersimpuh di kakinya membuat Faris langsung luluh, sedangkan laki-laki yang sudah terduduk lemas di depan Faris dengan tampang ketakutan juga ikut memohon ampun sambil bersujut di kaki Faris.
"Ampun Tuan, tolong ampuni aku,,! Aku hanya menjalankan tugas karena aku di bayar. Kata laki-laki itu dengan suara yang bergetar karena ketakutan.
Faris tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan membunuhnya sambil mengangkat Aleta yang masih tetap memeluk kakinya dengan begitu erat.
Setelah Aleta sudah berdiri di hadapannya, Faris langsung menarik tangan Aleta dan melangkah pergi, tapi sebelum melangkah keluar dari ruangan itu Faris kembali menatap laki-laki itu sambil berkata.
"Ini ponsel kamu yang aku temukan di vilaku,,! Dan kasih tahu sama bos kamu kalau aku Faris Permana telah menghabisi temanmu,,! Dan sebentar lagi gilirannya. Kata Faris dengan suara yang begitu tegas sambil melemparkan ponsel di tangannya kepada laki-laki itu.
Setelah itu Faris kembali menarik tangan Aleta dan melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu, bersama mayat temannya yang tergeletak di atas lantai dengan berlumuran darah. Aleta yang masih terpukul dengan apa yang Faris lakukan hanya terdiam sambil menatap Faris yang sedang menarik tangannya dengan tatapan penuh ketakutan.
Faris yang menyadari tatapan Aleta terhadapnya tidak menatap ataupun melirik Aleta sama sekali, dia terus melangkah sambil menggenggam erat tangan Aleta. Faris tidak menatap Aleta karena dia tahu kalau Aleta sangat terpukul dan ketakutan dengan apa yang di lihatnya tadi.
Sampainya di bawah Faris segera melepaskan tangan Aleta kemudian dia melepaskan jaket yang dia pakai dan memberinya kepada Aleta, dan setelah itu dia langsung menaiki motornya sambil berkata.
"Pakai jaket itu dan cepat naik,,! Kata Faris tanpa menatap Aleta yang sedang berdiri di samping motor besarnya itu.
Tanpa menjawab apa-apa Aleta langsung memakai jaket yang di berikan Faris kemudian naik ke atas motor. Setelah Aleta sudah duduk di belakanngnya tidak menunggu lama Faris langsung melajukan motornya menuju jalan raya.
Dalam perjalanan Aleta sangat ketakutan karena Faris melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia ingin sekali melingkarkan kedua tangannya di perut Faris tapi dia takut kalau Faris akan marah, tapi tiba-tiba dia langsung terkejut dan bingung karena Faris seperti tahu apa yang ada dalam fikirannya.
Faris yang sedang fokus mengendarai motornya segera melepaskan kedua tangannya dari setir motor, kemudian dia meraih kedua tangan Aleta dan melingkarkan di perut sispeknya yang membuat Aleta jadi kaget.
"Peluk aku,,! Kalau tidak bisa-bisa kamu akan jatuh. Kata Faris yang membuat Aleta langsung mempererat pelukannya.
Aleta memeluk Faris dari belakang sambil memejamkan matanya, dia begitu menikmati aroma tubuh Faris yang membuatnya begitu tersiksa di saat-saat kehamilannya. Di saat hamil anaknya Faris Aleta sangan menginginkan dan merindukan bau tubuh itu, tapi di saat itu keinginannya tidak bisa terpenuhi karena Faris tidak ada di sampingnya dan itu membuatnya sangar tersiksa.
Sampai-sampai dia sering minta di peluk Reza agar dia bisa mencium aroma saudara laki-lakinya itu, karena dia berfikir mungkin dengan cara itu keinginannya bisa sedikit terpenuhi, tapi tetap tidak bisa karena aroma Faris sangat berbeda dengan yang lain menurut penciumannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Marsje Namangge
kasian Aleta sampai ketakutan
2023-05-31
0
Yanti
😭😭😭😭😭😭aku gak bisa berkata-kata,, 😭😭😭😭
2023-04-06
0
Aska
untung Faris tepat waktu nolongin Aleta
2023-01-23
0