...༻✿༺...
Salju masih menyelimuti kota New York. Matahari bersinar cerah, selepas hujan salju yang lebat. Cecil mengajak Bella ke mall untuk menghilangkan penat. Seperti para perempuan pada umumnya, Bella juga suka berbelanja. Meskipun begitu, dia selalu tahu batas saat melakukannya. Jadi Bella bukanlah seorang shopaholic.
Tidak untuk Cecil. Walau dia terkesan agak culun, tetapi dirinya sangat gemar belanja. Biasanya Cecil banyak menghabiskan waktu di toko make up dan baju.
"Kepribadian Lucky benar-benar mengerikan! Kau kenapa bersedia jadi dokternya? Menurutku pilihanmu untuk menjadi dokter Mr. Mayers, itu sama saja dengan bunuh diri." Cecil memberitahu sembari memilah-milih lipstik yang ada di rak.
"Bisakah kau bicara pelan-pelan? Kau tahu kalau Ben merahasiakan penyakitnya," bisik Bella. Dia menutupi mulut dengan salah satu tangannya.
"Ayolah, Bella. Mall ini sekarang sedang sepi. Separuh pelanggannya di ambil oleh bazar yang diselenggarakan oleh Foodton." Cecil melambaikan tangannya ke depan wajah. Lalu kembali sibuk untuk memilih produk make up yang lain.
Bella menghela nafas berat. Kala satu jam berlalu, barulah dia dan Cecil meninggalkan mall. Selanjutnya, Cecil mengajak Bella untuk berkunjung ke bazar Foodton.
Ada banyak sekali pengunjung yang ada di bazar. Produk Foodton memang selalu populer semenjak puluhan tahun. Ben sendiri merupakan CEO yang terbilang baru. Dia sudah menyandang posisi CEO sekitar lima tahun lamanya.
Bella dan Cecil berhenti di depan stand yang menyajikan spageti rasa terbaru Foodton. Spageti tersebut menyajikan rasa kari khas India. Disajikan di dalam sebuah wadah berbentuk kubus ukuran sedang.
Slurp!
Bella menghisap spageti dengan mulutnya. Mata gadis itu langsung memejam rapat. Tekstur spageti yang kenyal, serta rasa asam dan pedas, membuat lidah Bella termanjakan.
Tanpa sepengetahuan Bella, orang-orang di sekitar sedang sibuk menatapnya. Sosok Bella yang cantik tentu sangat menggoda. Apalagi ketika noda kari belepotan di bibir merah mudanya. Belum lagi kala gadis itu memainkan lidah untuk mengelap area bibirnya.
Dalam sekejap, stand spageti langsung dipenuhi oleh banyak pesanan. Bella kaget saat banyak orang di sekelilingnya tiba-tiba saling berjejal.
Cecil yang melihat, segera membawa Bella keluar dari kerumunan. Keduanya lanjut menghabiskan waktu dengan meminum milkshake rasa stroberi. Mereka duduk di dekat panggung besar yang tampak di isi oleh grup band indie.
Beberapa saat kemudian, mobil-mobil mewah berdatangan. Salah satu orang yang mengemudi mobil tersebut adalah Ben. Dia akan melakukan pengesahan produk baru di panggung.
Panitia acara bergegas menyiapkan properti untuk acara pengesahan. Terdapat puluhan bungkus makanan kemasan terbaru yang dipamerkan. Semua pengunjung mulai berdatangan untuk menonton. Termasuk Bella dan Cecil sendiri.
Ben tampak melenggang menaiki panggung. Di ikuti oleh karyawan, tamu penting, serta rekan bisnisnya. Seperti biasa, Ben tidak pernah merekahkan senyuman diwajahnya. Dia selalu memasang ekspresi datar.
"Dia sangat tidak ramah. Bagaimana bisa orang sepertinya bisa menjadi CEO? Ben pasti menyuap semua karyawan dan rekan bisnisnya dengan uang..." bisik Cecil seraya memasang tatapan sinis.
"Ya, aku juga sama herannya denganmu." Bella ikut berkomentar.
Belum sempat acara di mulai, sesuatu yang menghebohkan terjadi. Ada seorang lelaki yang hendak melompat dari atap gedung. Lokasi gedung itu sendiri berada tepat di depan panggung tempat Ben berada. Jadi bukan hanya Ben yang dapat menyaksikan lelaki tersebut, tetapi juga semua orang.
Satu per satu orang mulai diserang perasaan cemas. Sebagian besar dari mereka justru sibuk merekam dengan ponsel. Hanya segelintir orang saja yang mencoba memberikan bantuan. Itu pun hanya berupa bantuan untuk menghubungi 911.
Ben mematung di tempat. Pandangannya tertuju ke arah sosok lelaki yang berdiri di atap gedung. Dia merasa mengenali lelaki tersebut.
"Bukankah dia Oliver? Dia Oliver bukan?"
"Ya, aku rasa begitu. Dia masih mengenakan pakaian yang sama!"
"Apa dia sedang stress?"
"Ini pasti gara-gara dia baru saja kena pecat oleh Mr. Mayers!"
Ben dapat mendengar karyawannya saling berbisik di belakang. Walaupun begitu, dia hanya terdiam. Berharap Oliver tidak nekat melompat dari atap gedung.
Sementara orang sibuk merekam, Bella malah berlari memasuki gedung dimana Oliver berada. Dia tentu tidak sendiri. Ada Cecil yang berusaha mengikuti dari belakang.
Bella memasuki lift dengan tergesak-gesak. Ia ingin menghampiri Oliver sebelum terlambat. Untuk seorang psikiater sepertinya, Bella tidak akan tinggal diam saat melihat kejadian seperti sekarang.
Ting!
Lift berdenting ketika Bella sudah tiba di lantai tujuan. Pintu perlahan terbuka, Bella langsung berlari selaju mungkin. Rambut panjangnya berkibar seiring dengan pergerakan.
Cecil yang berlari di belakang, sangat kewalahan mengejar Bella. Bagaimana tidak? Bella berlari begitu cepat bak hanya membawa selembar kertas di tubuhnya.
"Berhenti!" pekik Bella. Dia sudah sampai di atap. Untung saja Oliver belum melompat ke bawah.
"Pergilah! Aku pastikan tidak ada seorang pun yang bisa mencegahku sekarang!" sahut Oliver bertekad. Dia menatap Bella dengan pelototan penuh kebencian. Semburat wajahnya tampak sembab. Sepertinya Oliver sudah meratap cukup lama.
"Tenanglah... kumohon..." Bella melangkah pelan ke arah Oliver berada. Dia tahu, orang yang dihadapinya merupakan penderita depresi mayor. Bella harus ekstra hati-hati untuk menghadapinya.
"Jangan mendekat! Kalau kau mendekat, maka aku akan langsung melompat dari sini!" tegas Oliver yang merasa frustasi.
"Oke, baiklah..." ujar Bella sambil mengangkat kedua tangan ke depan wajah.
Cecil baru saja datang. Dia memilih berdiri dan diam di belakang Bella. Gadis itu tahu betul bagaimana seriusnya keadaan sekarang. Jadi dia tidak akan mengganggu, dan membiarkan Bella melakukan keahliannya.
Bella membisu sejenak. Mengamati Oliver yang terlihat mulai berlinang air mata.
"Aku tidak punya siapapun. Keluarga, pacar, teman, pekerjaan... semuanya sudah hilang. Aku sudah mengecewakan banyak orang. Aku tidak berguna! Untuk apa orang sepertiku hidup..." gumam Oliver di tengah-tengah isakan tangisnya.
"Jangan berkata begitu. Kehadiran semua orang di dunia ini bermakna. Kau hanya belum mengetahuinya. Aku yakin di luar sana, ada orang yang sangat membutuhkan dan menyayangimu," tutur Bella. Diam-diam dia melangkah kian mendekat. Kebetulan Oliver terus terpaku menatap ke depan.
"Siapa, hah?! Buktikan kepadaku!" tanya Oliver dengan suara lantang.
"Coba beritahu aku nama dan pekerjaanmu," balas Bella. Lama kelamaan posisinya semakin menggapai Oliver.
"Aku Oliver, aku baru saja dipecat dari pekerjaan karena mengusulkan ide berbeda dari yang lain..." ungkap Oliver lirih.
"I'm so sorry, Oliver... aku tahu kau sangat kecewa. Tapi, harusnya buktikan dulu bahwa ide yang kau miliki memang sangat berharga. Buatlah orang yang memecatmu itu bertekuk lutut!" ujar Bella. Mencoba memberikan motivasi.
"Jangan berbohong! Kau tidak tahu apapun tentang diriku!!" pekik Oliver. Dia akhirnya memilih melompat. Oliver sempat melayangkan satu kaki ke udara. Akan tetapi, Bella dengan cepat menarik pinggangnya. Alhasil Oliver terjatuh dari pagar pembatas.
"Aaarkkhhh!!!" Oliver berteriak histeris. Dia kesal niat bunuh dirinya di usik oleh Bella. Oliver berdiri, dan berusaha menaiki pagar pembatas lagi.
Bella tidak membiarkan. Ia memeluk Oliver dari belakang dan memecahkan tangis. Kini Oliver tidak menangis sendirian. Ada Bella yang menemani.
"Kumohon tinggallah, dan cintai dirimu sendiri..." kata Bella seraya meluruhkan tangisan. Dia terbawa suasana. Bella seolah merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Oliver.
"Aku tahu bagaimana rasanya, Oliver. Aku tahu bagaimana rasanya hidup ini tidak berharga. Aku tahu ada beberapa hal yang membuat kita kecewa. Tetapi... semua itu tidak sepadan dengan nyawamu..." Bella memejamkan rapat matanya.
Mendengar perkataan Bella, Oliver akhirnya menyerah. Dia duduk bersimpuh dan menangis tersedu-sedu.
Regu penyelamat baru saja tiba untuk memberikan bantuan. Namun langkah mereka harus terhenti, ketika Oliver sudah membatalkan niat bunuh dirinya.
"Kalian terlambat!" pungkas Cecil, kepada tim regu penyelamat. Dia tersenyum bangga ketika menyaksikan keberhasilan Bella untuk yang kesekian kalinya.
..._____...
Catatan Kaki :
Shopaholic : Orang yang kecanduan berbelanja.
Depresi mayor : Suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kualitas hidup sehari-hari. Kemungkinan penyebabnya termasuk ketegangan yang bersumber dari kombinasi kondisi biologis, psikologis, dan sosial.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Rania Wardani
👍👍👍bel 🥰🥰
2022-06-03
3
zeaulayya
Kasian oliver ,mana si es balok itu biasa ajah lagi ,emang dasar manusia jadian” nih si ben cong🤭😂
2022-04-14
2
Wina Yuliani
d jamin meskipun oliver jd bunuh diri pasti c ben bakal tetap diam gk ada ekspresi kayk manekin d mall .....
good job bella kapn dan d manapun jiwa sosial mu the best 👍👍👍👍
2022-04-13
2