...༻✿༺...
Selain pintar, Bella juga dikenal memiliki wajah yang rupawan. Berhidung mancung, serta mempunyai kulit putih bersih bak porselen. Tidak heran dia selalu populer. Baik saat di sekolah maupun di kampus. Banyak sekali pria yang mencoba mendapatkan hati Bella. Namun gadis itu memilih setia kepada satu orang. Yaitu Justin kekasihnya.
Bella baru selesai menyiapkan sajian makan malam. Dia hanya perlu mengajak David untuk bergabung. Untungnya David bersedia ikut.
"Apa Ayah mau aku tambahkan saos lagi?" tawar Bella. Ia senang bisa melihat ayahnya makan dengan lahap.
David lekas menggeleng dan mengucapkan kata no dengan mulut. Suaranya terdengar agak serak akibat terlalu menikmati makanan yang tersaji.
Setelah menghabiskan makanan, David mengelap sudut bibirnya. Kemudian menatap ke arah Bella. Matanya menyipit karena berusaha menggali ingatan.
"Kau Bella bukan?" David memastikan.
"Iya, Ayah. Ini aku," sahut Bella sembari tersenyum. Kini dia mendapatkan sambutan dari David. Bella akhirnya bisa mengurus ayahnya dengan baik.
Siklus ingatan David memang tidak bisa ditebak. Dia kadang mampu mengingat dengan cepat. Tetapi tidak jarang Bella dibuat kewalahan oleh David. Gadis itu bahkan pernah tidur di luar karena David tidak memperbolehkan masuk.
Ponsel Bella mendadak berdering. Panggilan dari Cecil segera dia terima. Cecil memberitahukan bahwa ada pasien yang membutuhkan bantuan.
"Apa kau sudah memeriksa asal-usul pasiennya? Aku tidak mau menerima pasien dengan asal," ujar Bella seraya keluar dari kamar David.
"Aku tahu. Sudah berapa kali kau mengatakan hal itu," sahut Cecil dari seberang telepon. "Pasiennya bernama Emerald Winstone. Dia merupakan pengusaha kaya raya terkenal. Emerald ingin secepatnya melakukan konsultasi denganmu," terangnya melanjutkan.
"Baiklah, aku akan kembali ke bar. Aku ingin melihat data-data tentang Emerald lebih dulu. Apa kau sudah menanyakan riwayat terapi Emerald?" balas Bella. Ia segera mengenakan jaket. Berlari keluar rumah. Kemudian mengendarai mobil. Bella menggunakan earphone agar bisa terus bicara dengan Cecil.
"Iya, Emerald pernah melakukan proses terapi di rumah sakit Health Miracle. Dia sempat ditangani oleh dokter... Corine Michaela White." Cecil memberitahu. Bella yakin gadis itu berusaha keras membaca dengan kacamata tebalnya.
"Ah, Corine. Tentu saja." Bella memutar bola mata malas. Kemudian mengakhiri panggilan telepon. Di waktu yang tak terduga, mesin mobilnya mendadak berhenti.
Bella otomatis kesal. Dia hanya bisa mengumpat sambil mencoba menyalakan mobil beberapa kali. Nihil, mobilnya tetap tidak bisa menyala.
"Sial!" Bella terpaksa turun dari mobil. Dia memanggil tukang bengkel. Kemudian memutuskan berjalan kaki. Lagi pula jarak Bella sekarang tidak begitu jauh dari lokasi tujuan.
Bella melenggang lewat jalan pintas. Dia harus melalui gang sepi. Bella berderap di bawah cuaca yang sedang gerimis.
Dari kejauhan, Bella dapat menyaksikan sosok yang dia kenal. Yaitu seorang lelaki berandalan bernama Erick. Bella yakin, Erick pasti berniat mengganggunya lagi.
Erick sudah lama tertarik dengan Bella. Namun sayang, ketertarikannya itu terkesan seperti obsesi. Sebab Erick memperlakukan Bella layaknya menghadapi perempuan bidal. Sudah beberapa kali Erick melakukan percobaan pelecehan. Namun dia tidak pernah berhasil mendapatkan keinginannya. Semua orang tahu, Bella memiliki keahlian bela diri yang cukup lihai.
Bella menoleh ke belakang sambil mendengus kasar. Dia merasa terlalu jauh berjalan jika kembali memutar haluan. Lagi pula Bella sama sekali tidak takut dengan lelaki seperti Erick. Jujur saja, dia selalu menang.
Bella lantas berjalan dengan tenang. Sampai akhirnya dia tiba ke posisi Erick. Ketika dia hendak lewat, Erick dengan cepat menghalangi jalan.
"Aku yakin kau tidak lupa denganku bukan?" Erick mencolek dagu Bella secara tiba-tiba.
Bella sontak meringis. Dia mengusap-usap dagunya beberapa kali. Seolah membersihkan kotoran dari sana.
"Enyahlah!" titah Bella. Dia mencoba mencari celah untuk lewat. Tetapi dua teman Erick tiba-tiba muncul. Menyebabkan mata Bella langsung terbelalak.
Kini Bella meneguk salivanya sendiri. Dia perlahan melangkah mundur. Bella harusnya memikirkan kemungkinan Erick tidak sendiri. Kenapa dirinya sama sekali tidak memikirkan itu sejak tadi?
"Pegangi dia! Setelah aku, kalian bisa dapat giliran kalian!" ujar Erick yang sudah siap membuka resleting celana.
Sebelum Erick menyerang, Bella berinsiatif melarikan diri. Tetapi dia tidak berhasil, karena salah satu teman Erick menendang betis Bella sekuat tenaga. Bella otomatis jatuh tersungkur di tanah. Sekarang dua teman Erick yang bernama Roby dan Gale sukses membelenggu Bella.
"Haha! Kali ini aku yang menang, Darling." Erick menampakkan gigi-giginya yang berwarna kekuningan. Bella benar-benar jijik kala melihatnya. Gadis itu tidak berhenti menggerakkan dua kakinya secara bergantian. Bella tidak sudi lelaki seperti Erick menyentuhnya.
Erick tidak tahan dengan pergerakan Bella. Ia menindih kedua kaki Bella dengan lutut. Apa yang dilakukannya tersebut sukses membuat Bella mengerang kesakitan.
Bella berupaya keras menggunakan keahlian bela dirinya. Tetapi semua itu tidak berguna, karena yang dia hadapi adalah tiga lelaki dewasa.
"Cuh!" Bella meludahkan saliva ke wajah Erick. Menyebabkan lelaki tersebut reflek berdiri. Saat itulah Bella mengambil kesempatan untuk menendang kuat alat vital Erick.
"Aaaarghhh!" Erick memekik kesakitan. Dua tangannya reflek memegangi harta paling berharga ditubuhnya.
Akibat serangan tak terduga. Gale memberikan tamparan keras tiga kali ke wajah Bella. Apa yang dilakukannya sukses memberikan luka kecil di sudut bibir Bella.
Dari arah depan, tampak cahaya lampu motor yang kian mendekat. Bella memicingkan mata. Dia tidak hanya melihat satu motor, namun ada banyak. Motor-motor tersebut kian mendekat.
"Lucky..." gumam Erick sambil menoleh ke arah sekumpulan geng motor berada. Dia terlihat ketakutan, lalu segera mengajak Gale dan Roby melarikan diri.
Sementara Bella reflek menutupi matanya dari cahaya yang menyilaukan. Para geng motor satu per satu melewati Bella. Mereka sama sekali tidak peduli. Sepertinya mereka hanya kebetulan lewat.
Bella perlahan berdiri. Dia memperhatikan puluhan motor yang melewatinya. Bella tidak bisa melihat wajah-wajah orang yang mengendarai motor. Karena mereka semua menggunakan helm.
Hanya satu orang yang menarik perhatian Bella. Yaitu satu-satunya pengendara motor yang membuka kaca helmnya. Pria itu memiliki mata biru yang indah. Sampai mengharuskan Bella terpaku sejenak. Bella sempat saling bertukar pandang dengan pria bermata biru tersebut. Meskipun tidak memberi efek apapun, tetapi tatapan si pria bermotor tadi cukup berkesan.
Wush!
Sekarang Bella kembali sendiri. Sebelum bertemu dengan Erick dan kawan-kawan, Bella berlari menyusuri gang.
Bella mengusap kasar wajahnya. Dia mencoba menenangkan diri dengan cara memeluk tubuhnya sendiri. Apalagi tangannya agak sedikit gemetar karena serangan tadi.
Sesampainya di tempat tujuan, Bella beristirahat sebentar. Brian dan Cecil tampak menyambut dengan ekspresi panik.
"Bella, apa yang terjadi kepadamu?" tanya Cecil cemas.
"Katakan, siapa yang sudah membuatmu begini?" Brian ikut menimpali. Namun Bella justru telah tertidur pulas di atas sofa. Alhasil Brian dan Cecil memilih kembali bekerja.
Hari yang berat terlewat. Bella baru terbangun dari tidur. Dia segera mandi, kemudian menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Bella membaca mengenai riwayat penyakit yang diderita pasien barunya. Yaitu Emerald Winston. Sebelum melakukan pertemuan, Bella menganalisis gejala-gejala Emerald terlebih dahulu.
"Bagaimana?" tanya Cecil penasaran.
"Siapkan jadwal pertemuanku dengannya!" perintah Bella. Cecil mengangguk dan segera melakukan tugasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Aisy Hilyah
kasian juga bella
2022-04-19
2
Wina Yuliani
waw,,,, dokter bar bar👍👍👍👍👍
2022-04-12
2
zeaulayya
Thor visualnya boleeehh donk🤭 biar jiwa berhaluku semakin di depan😂
2022-04-02
6