...༻✿༺...
Sebuah apertemen mewah. Di sanalah biasanya Bella beraksi menjadi Red Rose. Cecil dan Brian juga ikut menemaninya. Bella sekarang tengah menunggu kedatangan pasien yang bernama Emerald.
"Bella, bukankah seharusnya kau memakai pakaian rapi? Jujur, aku lelah melihatmu yang terus tidak peduli dengan penampilan. Kau itu cantik. Kau akan tampak luar biasa jika berdandan. Pasienmu pasti juga akan merasa nyaman," cetus Brian yang sedang duduk santai di sofa. Menyebabkan Bella menatap malas ke arahnya.
Bella memang cantik. Namun semenjak menjadi orang di balik nama Red Rose, dia sudah malas berdandan. Bella sekarang mengutamakan pasiennya. Dia hanya tampil apa adanya dengan celana jeans dan jaket hodie. Agar terlihat rapi, biasanya Bella menggelung rambut panjangnya ke atas.
"Sebelum kau mengkritik orang, kau lebih baik bercermin dahulu," balas Bella. Dia menilik penampilan Brian dari ujung kaki hingga kepala. Pria itu memiliki penampilan yang lebih acak-acakan dari Bella.
Brian Patrow. Dia adalah pria berbadan jangkung. Bertubuh atletis, tatoan dan berkulit kecokelatan. Dia selalu menggerai rambutnya yang panjang sebahu. Mengenakan celana jeans sobek serta kaos lusuh yang mungkin tidak dicuci tiga hari lebih.
"Aku hanya ingin kau tampak berwibawa di depan pasienmu. Pengobatan yang kau berikan pasti akan memberikan kesan kuat," terang Brian. Dia menaikkan kedua kaki ke atas meja. Saat itulah Cecil menendang betisnya. Sebab Brian mengganggu kegiatan bersih-bersih Cecil.
"Brian, kau tahu nama negara yang kita tinggali ini bukan?" tukas Bella seraya memasang gaya berkacak pinggang.
"Amerika?" Brian mengangkat salah satu alisnya. Berusaha memahami maksud Bella.
"Benar! Ini Amerika. Harusnya kau mengerti maksudku," balas Bella tak acuh. Ucapannya berhasil membungkam mulut Brian. Ya, siapa yang bisa membantah. Amerika memang negara liberal. Bebas dalam segala hal. Baik berpendapat, bercinta apalagi dalam hal berpakaian.
...***...
Setelah sekian menit berlalu. Emerald akhirnya datang di waktu yang tepat. Dia sengaja datang sendiri atas saran dari Bella. Toh Emerald juga berupaya menyembunyikan kecemasan yang dideritanya dari siapapun.
Emerald Winston. Seorang istri dari pengusaha sukses di bidang bangunan. Emerald terlihat mengenakan pakaian rapi. Dia berusia 38 tahun. Tetapi sebagian rambutnya tampak sudah memutih. Dari sana Bella dapat menyimpulkan, Emerald pasti mengalami stress yang berat.
Emerald dipersilahkan duduk di sofa. Dia duduk berhadapan dengan Bella. Cecil yang bertugas membuatkan minuman, segera menyerahkan secangkir teh untuk Emerald.
"Aku sudah sering mendengar tentangmu. Aku sangat senang bisa menemuimu sekarang." Emerald membuka pembicaraan dengan Bella. Dia tentu hanya mengenal Bella sebagai Red Rose.
"Terima kasih sudah memilihku. Aku sangat menghargainya. Padahal dari yang aku tahu, kau sudah bertemu dengan dokter lain sebelumnya," tanggap Bella.
"Iya, Dokter Corine. Dia hanya meresepkan obat untukku dan itu sama sekali tidak membantu," ungkap Emerald.
"Mungkin kita bisa langsung saja. Kau bisa ceritakan mengenai masalahmu. Buatlah dirimu merasa nyaman, Nona Winston. Jika kau membutuhkan apa-apa, silahkan beritahu aku..." Bella menuturkan dengan ramah. Hingga Emerald menganggukkan kepala.
"Oke... thank you very much..." Emerald mendadak memecahkan tangis. Padahal dia belum sama sekali bercerita. Kedua tangannya sudah gemetaran.
"Aku..." Emerald tersendat sejenak. Dia menggigit kukunya dengan gelisah. Emerald menatap Bella dengan ragu.
"Ya, kau bisa katakan kepadaku..." ujar Bella lembut.
"Aku takut kau akan merespon masalahku seperti dokter yang aku temui sebelumnya," ungkap Emerald.
"Kau tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba." Bella memasang raut wajah meneduhkan. Ia berusaha meyakinkan Emerald.
"Baiklah..." Emerald memilih mempercayai Bella. Dia sesekali menghapus air matanya yang berjatuhan.
"Ini sebenarnya tentang masalah keluarga. Aku sangat menyayangi kedua anakku. Karena itulah aku bertahan dengan suamiku sampai sekarang." Emerald mulai bercerita.
"Kenapa dengan suamimu?" tanya Bella penuh empati.
"Dia berselingkuh, dan tidak hanya dengan satu wanita. Tapi... aku sebenarnya tidak masalah dengan itu..." ucap Emerald. Membuat Bella otomatis heran. Bagaimana bisa seorang istri merasa baik-baik saja jika suaminya berselingkuh? Meskipun begitu, Bella lebih memilih mendengar kelanjutan cerita Emerald.
"Masalahnya adalah... dia seringkali memukuliku saat marah. Dari mulai menampar, menendang, bahkan pernah sampai mencekik leherku. Aku merahasiakan semua ini sendirian, karena aku tidak ingin anak-anakku tahu. Mereka adalah segalanya bagiku..." Emerald meneruskan dengan deraian air mata. Dia mengingat dua wajah anaknya dalam bayangan.
"Ya Tuhan... hal seperti ini harusnya kau laporkan kepada polisi." Bella merasa prihatin dengan hal yang menimpa Emerald.
"Aku tidak bisa. Aku sendirian... maksudku, aku tidak punya siapapun lagi selain suami dan anak-anak. Semua orang tahu kami adalah keluarga harmonis. Setidaknya begitulah yang terlihat." Emerald menerima tisu yang disodorkan oleh Bella.
Emerald terus menangis. Sampai dia tidak mampu lagi melanjutkan cerita. Bella lantas berupaya menenangkan dengan cara berpindah duduk ke sebelah Emerald.
"Semuanya akan baik-baik saja." Bella membawa Emerald masuk ke dalam pelukan.
"Aku ingin menceraikan suamiku, tapi aku tidak bisa... aku takut semuanya malah tambah kacau." Emerald masih belum berhenti menangis.
"Apa yang kamu takutkan, Emerald? Beritahu aku?" Bella bertanya baik-baik. Akibat terbawa suasana, dia juga ikut-ikutan menangis. Namun Bella berusaha keras agar tidak berlebihan.
"Aku khawatir kedua anakku tidak akan bahagia lagi. Aku takut dia akan dirundung di sekolah dan banyak hal lagi yang aku takutkan!" Emerald melepas pelukan Bella. Lalu menutupi wajahnya dengan dua tangan.
"Apa mereka tahu tentang perselingkuhan suamimu?" tanya Bella yang langsung dijawab dengan gelengan kepala dari Emerald.
"Sudah kubilang aku merahasiakannya seorang diri," imbuh Emerald seraya menundukkan kepala.
"Tapi jika kau terus bertahan maka penderitaan itu akan terus menghantuimu. Kau harus memikirkan tentang kesehatan mentalmu, Emerald." Bella memegangi lengan Emerald dengan lembut.
"Aku tahu. Makanya aku datang kepadamu. Berharap kau bisa memberikan solusi untuk masalahku."
Bella menganguk. Suasana hening menyelimuti dalam sesaat. Hingga akhirnya Bella bangkit dari sofa. Dia berjalan ke depan jendela. Berpikir sejenak, kemudian berbalik kembali menatap Emerald.
"Izinkan aku bicara dengan suamimu," pungkas Bella. Ucapannya sukses membuat tangisan Emerald perlahan mereda.
"Tapi suamiku sangat membenci psikiater. Dia tidak akan bersedia," jawab Emerald khawatir.
"Benarkah?" Bella memiringkan kepala. Ia lagi-lagi berpikir. Hingga terlintaslah sebuah ide brilian dalam benaknya.
Bella mengembangkan senyuman dan berkata, "Serahkan kepadaku. Aku berjanji akan bicara dengan suamimu. Yang bisa kau lakukan saat pulang nanti adalah... ajak kedua anakmu untuk berlibur."
"Apa kau yakin tidak memerlukan bantuanku? Mu-mungkin aku bisa membujuknya." Emerald berbicara dengan tergagap. Ketika mengingat tentang suaminya, dia selalu saja merasa cemas.
"Percayalah kepadaku. Kau harus menenangkan pikiranmu, Emerald. Itulah yang terpenting. Aku yakin kau akan tenang saat menikmati waktu bersama kedua anakmu." Bella bertutur kata lembut.
Emerald akhirnya mengangguk. Dia memutuskan mempercayai Bella. Selanjutnya, Emerald diperbolehkan untuk pulang. Sebelum pergi, Bella tentu saja memberikan resep obat untuk Emerald.
"Minumlah saat semuanya tak terkendali. Terutama saat kau merasa cemas dan gemetaran. Kau mengalami gangguan kecemasan, Emerald. Makanya aku menyarankanmu untuk berlibur bersama orang yang kau cintai," ujar Bella dengan senyuman yang menenangkan.
"Terima kasih, Dokter Red. Terima kasih banyak." Emerald saling bersalaman dengan Bella.
"Aku akan mengabarimu jika sudah selesai bicara dengan suamimu," sahut Bella. Pembicaraannya dan Emerald berakhir.
..._____...
Catatan Kaki :
Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan) : Gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan khawatir, cemas, atau takut yang cukup kuat untuk mengganggu aktivitas sehari-hari. Contoh gangguan kecemasan yaitu serangan panik, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan stres pascatrauma.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
ira rodi
iya bella seharusnya kamu sadar dengan perubahan justin...mgkn krn kamu trll cuek sama penampilan...mmg btl sih kalo cinta pasti terima apa adanya...tapi gak bgtu jg kali....
2024-05-20
1
Kadek Pinkponk
ceritanya bagus. plus dapat pengetauan
good job thor
2022-08-08
0
Anonymous
bgs thor...jd byk tau.
2022-07-15
0