...༻✿༺...
"Bella!" panggilan dari Cecil menyadarkan Bella dari lamunan. Dia segera menatap Cecil dengan penuh tanya.
"Apa kau mendengarkan pembicaraan kami?" tanya Cecil yang langsung dijawab oleh Bella dengan gelengan kepala.
"Apa kita sekarang akan beraksi menemui Alfred? Aku sudah tidak sabar. Gara-gara Ben, aku menjadi bersemangat untuk memberi pelajaran kepada Alfred." Brian berujar sambil melakukan pemanasan.
"Brian, kau tahu kita tidak akan menyakiti siapa-siapa. Jadi simpan tenagamu itu!" tegur Cecil. Akan tetapi Brian sama sekali tidak menggubris.
Bella hanya menggeleng maklum. Dia dan yang lain segera bersiap-siap menemui Alfred. Kali ini Bella akan meminta bantuan dari wanita PSK bernama Luna.
Luna merupakan mantan pasien Bella. Dia salah satu orang yang tidak mampu membayar Bella dengan uang. Makanya tidak heran, Luna mau melakukan jasa apapun untuk membantu.
Bella mempunyai koneksi yang kuat terhadap beberapa pasiennya. Tidak jarang pasien-pasiennya yang telah sembuh membantu Bella tanpa pamrih.
Jika rencana awal tidak berjalan baik, maka Bella dan kawan-kawan akan menjalankan rencana ekstrem. Mereka harus melakukan cara paksa agar Alfred mau diajak bicara.
Meskipun disebut rencana ekstrem, dalam rencana Bella tidak pernah ada yang namanya menyakiti dan disakiti. Bella hanya ingin memberi kesadaran terhadap orang yang telah melakukan kesalahan.
Brian terlihat mengikat rambutnya ke atas. Dia berdandan lebih rapi dari biasanya. Brian kebetulan menyukai sosok Luna. Ia akan lebih dulu pergi ke hotel agar bisa membantu Luna menjerat Alfred.
"Lihat, Bella! Ada yang berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan," komentar Cecil seraya mengamati apa yang dilakukan oleh Brian.
"Enyahlah, Cecil!" hardik Brian. Dia tak peduli.
Bella dan Cecil akan bertemu dengan Brian di hotel. Perlu menunggu setengah jam untuk menunggu Luna dan Brian beraksi.
Pertama-tama, mungkin Luna berupaya melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada Alfred. Setelah sukses membuat lengah, maka Luna akan memanggil Brian. Saat itulah Brian mengikat tangan dan kaki Alfred dengan tali.
'Sasaran kita sudah terikat. Datanglah ke kamar nomor 302.' Begitulah pesan yang dikirim oleh Brian melalui ponsel. Bella dan Cecil bergegas mendatangi posisi Brian. Sebelum pergi, Bella tidak lupa untuk menghubungi Emerald.
Sesampainya di kamar nomor 302, penglihatan Bella langsung disambut dengan keadaan Alfred yang terikat. Lelaki itu terlihat melayangkan pelototan kepada Bella. Dia tentu mengenali wajah Bella.
"Buka penutup mulutnya, Brian. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu," saran Luna.
Brian membuka seutas kain yang menyumpal mulut Alfred. Bella sontak mendapat serangan umpatan bertubi-tubi dari lelaki itu.
"Sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini, bit*ch! Setelah ini aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancam Alfred dalam keadaan mata yang menyalang. Namun Bella berusaha menghadapi dengan tenang.
"Alfred, aku melakukan ini karena kau tidak bisa diajak bicara baik-baik. Jadi, kita langsung ke intinya saja, oke?" pungkas Bella.
"Omong kosong!" timpal Alfred kesal.
Tidak lama kemudian, Emerald datang. Cecil dan Brian bahkan terkejut akan kedatangannya. Mereka mengira Emerald sedang berlibur.
"Oh my god..." Emerald kaget sambil membekap mulutnya. Ia berhenti tepat di hadapan Alfred. Dia merasa miris dengan keadaan Alfred yang hanya mengenakan celana pendek.
"Ternyata kau dalang dibalik semua ini?! Apa yang sudah kulakukan kepadamu belum membuatmu lelah? Hah?!" timpal Alfred kepada Emerald.
Emerald tampak mematung. Cairan bening meleleh dari sudut matanya. Dia membentuk bogem di kedua tangan.
Bella merasa cemas. Dia segera menghampiri Emerald dan menanyakan keadaan wanita tersebut.
"Kau yakin bisa melakukan ini?" tanya Bella lembut. Emerald lantas menjawab dengan anggukan kepala.
"Kau bisa pergi, Dokter Red. Aku akan menyelesaikan masalahku mulai dari sini," ujar Emerald. Dia berusaha keras menahan tangis.
Bella menatap Emerald dengan keragu-raguan. Dia mengkhawatirkan Emerald. Bella takut Alfred akan membuat Emerald tertekan.
"Apa perlu aku menemani--"
"Aku tidak apa-apa. Aku berjanji. Jika terjadi apa-apa, aku pasti menghubungimu, Dokter." Emerald sengaja memotong ucapan Bella. Dia yakin bahwasanya dirinya memang mampu menyelesaikan masalah sendiri. Toh urusan sekarang adalah masalah rumah tangganya. Pilihan terbaik mungkin adalah menyarankan Bella dan yang lain untuk pergi.
"Lagi pula suamiku sedang dalam posisi terikat. Dia tidak akan bisa menyakitiku," tutur Emerald. Dia merekahkan senyuman demi menenangkan Bella.
"Baiklah kalau begitu..." Bella akhirnya memilih mempercayai Emerald. Dia, Cecil, Brian dan Luna melangkah keluar dari kamar.
"Aku pikir Emerald berlibur?" Cecil menatap Bella dengan sudut matanya. Dia menyaksikan Bella masih belum beranjak dari depan pintu kamar Emerald berada.
"Ini atas permintaan Emerld sendiri. Dia mengajukan diri untuk ikut. Tetapi setelah dipikir-pikir, sepertinya keputusan Emerald cukup tepat," jawab Bella. Atensinya dan Cecil sama-sama tertuju ke arah Brian. Lelaki itu tampak mengajak Luna pergi.
"Dia bahkan tidak berpamitan," sinis Cecil sembari melipat tangannya di depan dada.
"Tidak apa-apa. Biarkan Brian bersenang-senang." Bella membawa Cecil masuk ke dalam rangkulan. Keduanya memutuskan menunggu sampai Emerald keluar dari kamar.
...***...
Tidak terasa, Emerald akhirnya keluar dari kamar. Wajahnya sembab. Dia terlihat tergesak-gesak hendak pergi.
Bella yang terduduk di lantai bersama Cecil, segera berdiri. Ia berlari dan menanyakan bagaimana hasil pembicaraan Emerald dan sang suami.
"Bagaimana? Apa Alfred--"
Grab!
Bella membisu saat Emerald memberikannya sebuah pelukan. Emerald memecahkan semua tangisnya dalam dekapan Bella. Dia beberapa kali mengucapkan terima kasih.
Sementara itu Alfred. Dia baru keluar dari kamar. Wajahnya cemberut. Tanpa sepatah kata pun, Alfred melingus pergi begitu saja.
Perlahan Emerald melepaskan pelukan dan berucap, "Aku merasa sangat lega. Aku rasa, aku bisa hidup tenang mulai sekarang. Setelah tadi berbicara panjang lebar dengan Alfred, aku merasa yakin terhadap keputusanku. Aku memutuskan akan menceraikan Alfred."
"Itu keputusan yang sangat berani, Emerald. Aku bangga kepadamu. Tetapi bagaimana dengan kedua anakmu? Kau bisa meyakinkan mereka bukan?" Bella memastikan.
"Aku sudah menceritakan semuanya kepada mereka. Anak-anakku justru sangat mendukung keputusanku. Mereka tidak ingin melihatku pura-pura bahagia lagi," jelas Emerald. Menyebabkan Bella mengembangkan senyuman. Sekali lagi, apa yang dilakukannya sukses besar. Sekarang hanya perlu melihat perkembangan Emerald di proses terapi berikutnya. Jika semakin membaik, maka Emerald bisa dinyatakan sembuh.
Setelah berpisah dengan Emerald, Bella mendapatkan telepon dari Ben. Lelaki itu meminta Bella datang ke rumahnya besok hari. Bella tentu menolak, karena dia sudah terlanjur berjanji dengan Justin.
"Dokter Red, kau harus datang besok. Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu." Ben mengatakan dari seberang telepon.
"Tapi aku--" Bella menjeda ucapannya karena Ben sudah lebih dulu mematikan telepon. Alhasil Bella mencoba menelepon balik. Sayangnya, puluhan panggilan yang dia lakukan, tidak ada satu pun yang diangkat oleh Ben.
"Ben sialan!" geram Bella sambil menghentakkan salah satu kakinya.
"Siapa?" tanya Cecil yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Bella.
"Ben Mayers!" jawab Bella. Membuat Cecil menghela nafas kasar.
"Sudahlah tolak saja dia! Ben adalah pasien paling aneh yang pernah kita temui. Saranku, jangan berurusan lagi dengannya," cetus Cecil.
"Kau benar. Sebaiknya aku tidak perlu mengurus pasien seperti Ben," tanggap Bella. Cecil lantas menyetujui dengan anggukan kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Aisy Hilyah
apa yang dilakukan emerald? entahlah, yang penting meluapkan emosi itu akan membuat hati lega
2022-04-28
1
Wina Yuliani
penasaran apa yg d lakukan emerald y d dlm????
2022-04-12
4
zeaulayya
Bener kata cecil pasien paling aneh ,dan bel Gak ush temuin justin 🤭😅 pokok utamanya buat ben bucinn ke km🤣🤣
2022-04-06
1