...༻✿༺...
"Justin!" panggil Bella. Justin sontak menoleh ke arahnya. Hal serupa tentu juga dilakukan oleh Corine.
Justin terpaku sejenak. Dia segera berdiri. Memperhatikan penampilan Bella yang sangat berbeda dibanding biasanya. Justin tidak tahu kenapa pacarnya itu mendadak berdandan. Yang pasti, Justin sudah masuk ke dalam pesona Bella.
"Bella!" Justin bergegas menghampiri. "Kenapa kau di sini?" tanya-nya lembut. Namun Bella justru menanggapi dengan ekspresi cemberut.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?!" pungkas Bella sembari mengangkat dagunya sekali.
Justin mengerutkan dahi. Awalnya dia tidak mengerti apa yang dimaksud Bella. Tetapi setelah Justin berhasil memergoki Bella menatap Corine, barulah dirinya mengerti.
"Bella, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan! Aku dan Corine hanya mendiskusikan masalah pekerjaan. Perusahaanku dan rumah sakit tempat Corine bekerja sedang mencanangkan kerjasama!" jelas Justin gelagapan.
Corine yang sedari tadi menyaksikan, akhirnya mendekat. Dia membenarkan penjelasan Justin. Corine sebenarnya sangat kesal dengan kehadiran Bella.
"Jika kau tidak percaya, tanyakanlah kepada bosku di perusahaan. Mungkin dia sibuk sekarang, tetapi aku akan melakukannya untukmu," imbuh Justin. Dia sudah mencari-cari nama bosnya dari kontak telepon.
"Lupakan, kau bisa melakukannya nanti." Bella menghentikan Justin.
"Sepertinya aku harus pergi. Semoga hari kalian menyenangkan," ujar Corine sembari memasang senyuman yang dipaksakan.
"Kau juga. Corine, sebaiknya mulai sekarang kita tidak perlu membicarakan bisnis berduaan lagi. Oke?" balas Justin menegaskan.
Corine menampakkan mimik wajah masam. Dia terpaksa mengangguk. Rencananya untuk merebut Justin dari Bella gagal total. Kini Corine hanya bisa menghentakkan kaki beberapa kali. Sia-sia sudah semua rencana yang dilakukannya.
Saat Corine telah pergi, mata Bella mendelik ke arah Justin. Gadis itu membuka lebar telapak tangan. Seakan menuntut Justin untuk memberikan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Justin yang tak mengerti.
"Berikan aku nomor telepon bosmu. Biar aku yang bertanya kepadanya," desak Bella. Justin lantas tersenyum dan langsung memberikan apa yang Bella mau.
"Bosku itu pemarah. Dia juga sangat membenci wanita," ujar Justin memberitahu.
"Apa kau mencoba menakut-nakutiku?" Bella memancarkan tatapan selidik.
"Tidak! Aku hanya mengatakan kebenaran. Ben Mayers memang terkenal tidak pernah dekat dengan wanita. 90% karyawannya hanya di isi oleh lelaki. Dia bahkan lebih memilih sekretaris lelaki tua dibanding wanita cantik yang seksi. Aneh bukan?" Justin menerangkan panjang lebar.
"Mayers?" kening Bella mengernyit. Ia tidak asing dengan nama yang disebut oleh Justin.
"Apa kau mengenalnya?" Justin mendadak jadi serius.
"Tidak. Aku hanya pernah mendengar namanya saja," jawab Bella sembari beranjak pergi meninggalkan Justin. Namun Justin dengan sigap memegangi lengannya. Lalu membawa Bella lebih dekat.
"Kau hari ini sangat cantik, Babe..." puji Justin dengan nada berbisik. Setelah sekian lama, dia akhirnya tampak peduli lagi kepada Bella. Mungkin karena Justin baru sadar kalau dirinya memiliki kekasih yang cantiknya luar biasa.
Bella memutar bola mata malas. Kemudian menjaga jarak dari Justin. "Aku tidak akan memaafkanmu, sebelum menemukan bukti bahwa kau dan Corine hanya rekan bisnis. Jadi untuk sementara jangan menyentuhku dulu!" tegas Bella sambil menjauhkan tangan Justin darinya. Gadis itu segera pergi.
Justin tersenyum simpul. Dia mengejar Bella sampai tiba di mobil. Justin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Bella.
"Bella, jika aku terbukti tidak bersalah. Kau harus menuruti apapun keinginanku. Oke?" cetus Justin seraya berjalan mengiringi dari belakang. Tetapi Bella sama sekali tidak hirau. Gadis itu belum bisa memaklumi kedekatan Justin dan Corine.
"Tenanglah, Justin. Biarkan Bella menenangkan diri terlebih dahulu." Brian baru saja datang. Dia sengaja menghalangi jalan Justin.
"Oke, oke..." Justin memilih mengalah. Dia membiarkan Bella pergi bersama Brian dan Cecil. Sekarang Justin hanya bisa mengusap kasar wajahnya.
Di mobil Bella menceritakan segalanya kepada Brian dan Cecil. Dia berhasil mempengaruhi dua rekannya itu untuk ikut mencurigai sikap Justin.
"Itu sangat aneh, Bella. Jika aku menjadi kau, aku pasti melakukan hal sama. Justru aku akan memukuli Justin habis-habisan!" geram Cecil sembari membentuk bogem di salah satu tangannya.
"Apa kau benar-benar akan menghubungi pimpinan Justin? Bila kau tidak mampu, mungkin aku bisa membantumu untuk menemuinya." Brian mengajukan diri untuk membantu.
"Tidak perlu. Aku akan menghubunginya lewat telepon saja. Itu sudah cukup. Lagi pula sosok asli Ben Mayers agak mengerikan." Bella bergidik ngeri. Apalagi ketika mengingat tatapan dingin dari Ben. Lelaki yang tidak lain merupakan CEO perusahaan dimana Justin bekerja.
"Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Cecil.
"Ya, dan aku bersumpah tidak akan pernah mau bertemu dengan orang sepertinya lagi!" kata Bella dengan penuh keyakinan.
Sesampainya di apartemen, Bella, Brian dan Cecil segera beristirahat. Mereka akan bersiap menyusun rencana selanjutnya untuk menangani urusan Emerald.
Tiga jam terlewati. Brian dan Cecil terlihat tertidur pulas di tempat yang berbeda. Sedangkan Bella sendiri sibuk berkutat menjelajah internet.
Sebuah pesan email baru saja masuk. Bella segera memeriksa isi pesan tersebut. Ternyata setelah membaca pesan kesuluruhan, Bella dapat menyimpulkan bahwa dirinya telah mendapat permohonan seorang pasien.
Bella mendapatkan pasien yang cukup misterius. Kebetulan pasiennya itu tidak mau menyebutkan nama asli sebelum benar-benar bertemu.
Aneh memang. Meskipun begitu, Bella yang menyukai tantangan merasa tertarik dengan masalah yang diderita pasien misteriusnya itu. Dari mulai berpindah tempat secara tiba-tiba, sampai luka tanpa alasan yang jelas.
"Wah... ini sangat menarik! Aku tidak pernah menemukan pasien dengan masalah seperti ini sebelumnya." Bella menggigit bibir bawahnya. Dia merasa bersemangat. Alhasil Bella segera menyusun jadwal pertemuan dengan pasien yang menyebut dirinya Mr. X tersebut. Pertemuan akan dilakukan besok hari. Tepat sebelum Bella beraksi untuk menyelesaikan masalah Emerald.
...***...
Satu malam berlalu. Bella menjadi orang yang bangun paling akhir. Sebab dia satu-satunya orang yang bergadang tadi malam.
"Kau membuat jadwal pertemuan dengan pasien baru?" Cecil memastikan.
"Ya... huaahhh..." Bella mengiyakan sambil menguap lebar.
"Kenapa kau tidak menyuruhku untuk membuatnya?" Cecil memanyunkan mulut kecewa.
"Aku tidak mau membangunkanmu tadi malam. Lagi pula, aku cukup bersemangat untuk bertemu pasien itu. Jam sepuluh nanti kita akan bertemu dengannya." Bella kini merenggangkan tubuhnya beberapa kali.
"Bagaimana dengan masalah Emerald? Kita akan apakan Alfred?" Brian baru keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
"Hubungi Luna! Kita akan membutuhkan bantuannya," titah Bella.
Brian tersenyum dan mengangguk. Dia paham betul dengan rencana yang akan dibuat oleh Bella.
Tanpa terasa, tibalah waktunya pertemuan Bella dengan Mr. X. Seperti biasa, Bella kembali dengan gaya sehari-harinya. Yaitu jaket hodie dan celana jeans. Dia siap menghadapi pasien barunya.
Bel pintu berbunyi, Cecil segera membukakan pintu. Muncullah sosok lelaki yang membuat mata Bella langsung membulat sempurna. Saking terkejutnya, gadis itu reflek bangkit dari tempat duduk.
"Sial!" rutuk Bella tak percaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Juan Sastra
been mayeer
2023-02-20
0
Anonymous
jodoh takkan kemana bella
2022-07-16
0
Aisy Hilyah
waw siapa ya... suami emerald mungkin hahaha
2022-04-23
1