...༻✿༺...
Perjalanan Lucky nampaknya jauh. Dia sudah menempuh jarak sekitar 100 km lebih. Sudah dua kali Lucky singgah untuk mengisi bensin.
Lucky sekarang sibuk mengemudi. Serpihan-serpihan putih kecil mendadak berjatuhan dari langit. Apalagi kalau bukan salju. Pertanda bahwa musim dingin telah tiba.
"Shi*t!" rutuk Lucky. Dia semakin melajukan mobil. Menembus hujan salju yang lama-kelamaan semakin lebat.
Keadaan malam yang gelap, tidak membuat Lucky gentar untuk meneruskan perjalanan. Dia sudah sangat jauh dari pusat kota New York.
Suara desiran angin berselimutkan partikel es yang dingin, begitu mengikat kulit putih Lucky. Pria itu mulai kedinginan. Nafas yang dikeluarkannya dari hidung bahkan menampakkan kepulan asap yang jelas.
Ponsel mendadak berdering. Memperdengarkan lantunan musik jazz kesukaan Ben. Lucky dibuat begitu kaget. Sebab sebelum berangkat, dia yakin sudah membuang ponsel Ben.
Sekali lagi Lucky hanya bisa merutuk. Dia bergegas mencari ponsel yang belum berhenti berdering. Lucky mulai kehilangan konsentrasi.
Akibat kehilangan fokus mengemudi, Lucky akhirnya tidak sengaja menabrak sebuah tiang listrik. Hujan salju membuatnya kebingungan melihat jalur beraspal. Alhasil kepala Lucky terhentak ke depan. Pria itu langsung tidak sadarkan diri. Kepalanya mengeluarkan sedikit darah karena tidak sengaja membentur setir.
Ketika Lucky baru saja pingsan, Bella justru terbangun. Dia kaget saat menemukan dirinya berada di bagasi mobil. Belum lagi tali tambang yang menjerat tangan dan kakinya.
Gadis jenius seperti Bella tidak perlu berpikir lama untuk mencari cara. Dia langsung membuka ikatan tali dengan cara menggigitnya. Setelah melakukan percobaan beberapa kali, Bella sukses melepaskan kedua tangannya dari belenggu tali tambang.
Kini Bella menggedor-gedor pintu bagasi dengan tangan. Nihil, tenaga Bella tidak mampu membuka bagasi yang sudah terkunci rapat. Gadis itu juga tidak mengetahui kalau mobil sudah ditutupi oleh gundukan salju. Jadi usaha Bella untuk keluar dari bagasi akan semakin sulit.
"Tolong! Siapapun!" pekik Bella sembari memasang kedua telinganya baik-baik. Dia berharap bisa mendengar respon dari seseorang. Akan tetapi Bella hanya dapat mendengar suara desiran angin.
Rasa dingin mulai mengikat Bella. Mulutnya gemetaran karena tengah berusaha menahan rasa dingin.
Bella terdiam sejenak. Dia bertanya-tanya kenapa dirinya belum juga dikeluarkan dari bagasi? Padahal keadaan mobil jelas sedang berhenti.
'Apa Lucky mengalami kecelakaan?' batin Bella menduga-duga. Dia kembali menggedor-gedor pintu bagasi sekuat tenaga. Berteriak dengan menggunakan suara lantang.
Mendengar keributan yang dibuat Bella, Ben terbangun. Sekarang dia telah menguasai tubuhnya kembali.
Ben sangat terkejut melihat tempat dirinya berada. Dia tentu langsung menyimpulkan bahwa semuanya merupakan ulah Lucky.
"Dia selalu saja membuat masalah dan menyuruhku untuk menyelesaikannya!" keluh Ben seraya memegangi kepalanya yang terluka.
Suara keributan yang ada di bagasi, mengharuskan Ben keluar dari mobil. Dia segera memeriksa bagasi.
Tanpa basa-basi, Ben membuka kunci bagasi mobil. Matanya langsung membulat, tatkala menyaksikan Bella ada di sana.
Bella reflek memejamkan mata saat serpihan salju menghantam wajahnya. Namun itu tidak berlangsung lama, karena dengan cepat Bella bangun. Lalu mendorong Ben hingga terjatuh. Gadis itu bergegas melepas ikatan tali di kedua kakinya.
Bella melompat keluar dari bagasi. Kemudian berlari menembus hujan salju. Dia mengira kalau orang yang membuka bagasi tadi adalah Lucky. Bella tidak tahu Ben telah mengambil alih kuasa Lucky.
"Dokter Red!" panggil Ben yang perlahan berdiri. Dia memicingkan mata untuk memastikan posisi Bella. Gadis itu terlihat berlari lurus mengikuti tiang listrik yang berjejer di pinggiran jalan.
Ben berniat mengejar Bella. Dia mencoba menyalakan mobil, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Ben yakin, bensin sudah membeku karena cuaca yang begitu dingin.
Sekarang Ben tidak punya pilihan selain mengejar Bella dengan berlari. Sebelum pergi, dia tidak lupa membawa ponsel cadangan yang disimpan di bawah kursi setir. Ben juga mengambil mantel yang kebetulan ada di kursi belakang.
...***...
Nafas Bella tersengal-sengal. Seberapa jauh dia berlari, dirinya hanya bisa menemukan pepohonan yang berjejer. Bella seolah terjebak dengan hutan dan salju.
Bibir Bella terlihat sudah membiru. Rambut panjangnya yang tergerai sudah dipenuhi salju. Alhasil Bella memilih berhenti sejenak. Lalu memindai ke sekeliling.
Ketika menengok ke belakang, Bella bisa melihat Ben berlari kian mendekat. Karena masih mengira Ben adalah Lucky, Bella lantas kembali berlari. Bahkan saat Ben menyerukan nama Red Rose berkali-kali.
Akibat dirundung rasa lelah, dingin dan takut, Bella akhirnya terjatuh. Tanpa sengaja dia tersandung gundukan salju yang tebal.
Bella jatuh dalam keadaan tengkurap. Gadis itu hanya bisa gemetaran sambil menyatukan dua tangannya ke depan dada.
"Dokter!" Ben akhirnya mampu menggapai posisi Bella. Sekali lagi, dia harus kena serangan. Kali ini Bella menyerangnya dengan sebuah tendangan.
Diserang dua kali, membuat Ben berpikir. Dia yakin Bella pasti mengiranya adalah Lucy.
"Tenanglah, Dokter! Aku Ben! Lucky sudah pergi!" ujar Ben yang sudah kembali berdiri. Ucapannya berhasil membuat Bella berhenti berlari. Kemudian menoleh ke belakang.
"Ben?" Bella memastikan.
"Ya, ini aku. Sebaiknya kita jangan berpisah. Karena hujan salju sepertinya akan berlangsung lama," ucap Ben. Dia berjalan menghampiri Bella. Ben membuka lebar mantel yang tadi sempat dibawa.
Atensi Bella langsung tertuju ke arah mantel yang dipegang Ben. Berharap secepatnya bisa dipakaikan dengan mantel tersebut. Namun pupus sudah harapannya, ketika Ben malah menggunakan mantel itu untuk dirinya sendiri.
Bella menghentakkan salah satu kakinya dengan kesal. Matanya melotot tajam ke arah Ben. Pria itu begitu tega membiarkannya kedinginan ditengah hujan salju.
Ben dengan santainya melangkah laju lebih dulu. Tekadnya sekarang adalah menemukan tempat berteduh.
Bella berusaha menahan amarah. Dia harusnya paham kalau Ben memang tidak memiliki rasa empati. Apalagi dengan gadis sepertinya. Bella lantas memilih bungkam. Menggerakkan kakinya laju dari belakang Ben.
Setelah berjalan cukup lama, Ben akhirnya menangkap keberadaan sebuah rumah. Sayangnya rumah itu terlihat kosong dan terbengkalai. Meskipun begitu, Ben tetap melenggang menuju rumah tersebut.
Krieet...
Pintu rumah dibuka oleh Ben. Dia masuk lebih dalam dan berusaha mencari tempat perapian.
Sementara Bella, dia baru saja masuk rumah saat Ben telah beranjak. Bella memeluk tubuhnya dengan erat. Kemudian masuk ke salah satu ruangan. Di sana dia berhasil menemukan selimut bekas.
Bella langsung menutupi seluruh badannya dengan selimut. Gadis itu sekarang bisa mendengus lega. Bella meringkuk di lantai sambil berupaya mengontrol nafas.
Suara derap langkah terdengar mendekat. Bella yakin pemiliknya adalah Ben. Pria itu baru saja mengambil beberapa kayu untuk digunakan di perapian.
"Jika kau ingin hangat, ikuti aku!" ujar Ben. Dia memperhatikan dari depan pintu.
Bella perlahan mendongak. "Aku tidak bisa... tubuhku rasanya sudah beku..." lirihnya dengan suara parau.
Ben berdecak kesal. Lalu segera menggendong Bella ala bridal style. Dia membawa gadis itu menuju perapian.
"Wah... Ben ternyata hanya peduli saat melihatku hampir sekarat..." gumam Bella bermaksud sarkas.
Ben membisu. Alasan dirinya membantu adalah karena Ben membutuhkan Bella untuk menjadi dokternya. Intinya, Ben hanya berniat memanfaatkan Bella. Sebab jika gadis itu meninggal, maka otomatis Ben harus mencari psikiater baru. Ben sendiri sudah lelah bergonta-ganti psikiater.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Rania Wardani
ku tunggu kebucinanmu ya ben🤭
2022-06-03
2
Andi Messe
next thor
2022-04-13
1
zeaulayya
Yaelaaahh ben sok memanfaatkan ,aku tunggu hatimu yg beku itu sampai mencair ben ,🤭😅tunggu kehangatan bella yg membuatmu suatu hari bucin ben😄
2022-04-13
5