...༻✿༺...
Kini Bella dan Ben duduk bersebelahan menghadap perapian. Kebetulan Lucky seorang perokok, jadi dia tidak pernah lupa membawa alat pemantik di kantong jaket.
Bella beberapa kali mengusap tangannya. Berusaha memberikan rasa panas untuk tubuhnya sendiri. Sesekali gadis itu akan menyodorkan telapak tangan ke arah perapian.
Ben duduk dengan tenang. Dia terpaku menatap kobaran api yang ada di perapian. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria tersebut.
"Hal terakhir yang kuingat di malam itu adalah badai salju," celetuk Ben. Menyebabkan Bella otomatis menoleh.
"Malam apa?" tanya Bella. Menatap Ben dengan sudut matanya.
"Aku tidak tahu. Itulah masalahnya, Dokter. Aku melupakan beberapa hal penting di malam itu..." jelas Ben ambigu.
Bella memperhatikan Ben dari samping. Dia dapat melihat darah yang ada di kepala Ben membeku. Bella yang cemas segera menyentuh titik luka tersebut.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Bella. Tangannya sudah menempel ke kepala Ben yang berdarah. Kulit pria itu terasa sangat dingin.
"Oh my god! Kau ternyata lebih kedinginan dariku," ujar Bella yang merasa kaget.
Ben tidak bisa berkata-kata. Ia bahkan mulai kesulitan mengontrol nafas. Meskipun begitu, Ben mengambil ponsel dari saku mantel dan menyuruh Bella menghubungi Jimmy.
"Suruh Jimmy untuk menjemput!" perintah Ben. Seluruh tubuhnya menggigil hebat. Keadaan seolah terbalik. Padahal jelas kalau tadi Bella-lah yang tidak memakai mantel saat di luar. Kemungkinan selimut dan perapian-lah yang telah menyelamatkan Bella. Warna kebiruan di bibirnya juga tampak memudar.
"Bukankah sebaiknya kita menelepon 911? Mereka akan lebih mudah mencari kita dibandingkan Jimmy," usul Bella. Dia sudah mengetik angka 911 untuk dihubungi. Di Amerika sendiri, 911 merupakan panggilan yang dapat dilakukan saat mengalami masalah darurat. Ben otomatis mengangguk setuju. Lagi pula usulan Bella ada benarnya.
Bella memberitahu lokasi dimana dirinya dan Ben berada. Dia juga tidak lupa mengatakan insiden kecelakaan mobil yang sempat terjadi. Selanjutnya, Bella dan Ben hanya perlu menunggu.
Setengah jam berlalu. Hujan salju justru semakin lebat. Gundukan salju yang ada di tanah bahkan menebal sampai membuat jalanan tak terlihat. Perapian yang ada perlahan meredup. Rasa dingin kembali menusuk.
Demi menambah kehangatan, Bella menutup semua pintu dan jendela rapat-rapat. Dia mengganjalnya dengan barang-barang berat. Seperti lemari, meja, dan kursi.
Jujur saja, baik Bella maupun Ben sedang sama-sama kedinginan. Namun entah kenapa Ben merasa menggigil lebih parah dari pada Bella. Mungkin luka dikepalanya yang menjadi penyebab utama.
Akibat saking dinginnya, darah keluar dari lubang hidung Ben. Pria itu kewalahan mengatasinya. Sehingga mengharuskan Bella turun tangan.
Bella menjadikan kain kumal yang ditemukannya untuk mengelap darah Ben. Bibir Ben membiru. Ia juga kesulitan untuk bicara. Manik biru Ben terus menatap lurus ke arah Bella. Seolah ada yang ingin dia katakan.
"Ben, aku akan melakukan sesuatu untuk membuat kita berdua hangat." Bella membuka kancing kemeja Ben satu per satu. Sampai otot perut Ben yang atletis terpampang di depan mata. Namun Bella sama sekali tidak memperdulikan itu. Dia berada di keadaan genting sekarang.
Setelah melepas semua kancing kemeja Ben. Bella lantas membuka jaket dan kaos atasannya. Tampilan gadis itu sekarang hanya mengenakan bra dan celana jeans. Selanjutnya, Bella langsung memeluk Ben dengan erat. Kemudian menggunakan selimut untuk mengurung tubuhnya dan Ben.
Dada Bella dan Ben saling bersentuhan. Rasa hangat perlahan mulai menjalar ke seluruh tubuh mereka. Keduanya sama-sama mengatur nafas yang terus memburu.
Bella memejamkan mata rapat-rapat. Hal serupa juga dilakukan oleh Ben. Pelukan mereka sangat erat. Bella bahkan sudah tidak peduli dada sucinya menempel dengan dada Ben. Mereka juga dapat merasakan detak jantung satu sama lain. Tempo detak jantung keduanya memacu lebih cepat karena gejala hipotermia.
"Kapan 911 tiba ke sini?..." tanya Ben lirih.
"Entahlah, yang pasti kita harus bertahan hidup sebisa mungkin..." Bella menjawab dengan suara seadanya.
Ben semakin mengeratkan pelukan. Dia menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Bella. Menyebabkan Bella tidak kuasa menahan darah yang berdesir di sekujur badannya.
Bruk!
Suara keributan dari arah jendela terdengar. Membuat Ben dan Bella sontak kaget. Keduanya langsung menengok ke sumber suara.
Pintu jendela terlihat jebol. Desiran angin bersalju seketika masuk ke dalam. Bella yang cemas, berniat bangkit untuk memperbaiki. Akan tetapi Ben tidak membiarkan.
"Bertahanlah sebentar..." perintah Ben dengan suara pelan.
"Tidak Ben. Jika kita membiarkan jendela itu terbuka, rasa dingin akan semakin bertambah!" sahut Bella. Dia meninggalkan Ben sebentar.
Bella mengenakan jaketnya kembali. Menarik resleting jaket hingga ke leher. Kemudian melakukan sesuatu untuk menutup jendela.
Dengan susah payah Bella mendorong lemari untuk menutupi jendela. Untung saja gadis itu tidak lemah. Dia mempunyai tenaga yang memadai. Karena usahanya tersebut, kini jendela dapat tertutup.
Bella mendengus lega. Ia segera berbalik dan menghampiri posisi Ben. Betapa terkejutnya Bella, ketika menyaksikan Ben sudah meringkuk di lantai.
"Bertahanlah! Aku yakin regu penyelamat akan tiba ke sini secepatnya," ujar Bella sembari membuka jaketnya. Lalu membawa Ben masuk ke dalam pelukan.
Bella membiarkan kepala Ben menyandar ke dada. Dia berusaha memberikan kehangatan semaksimal mungkin.
Ben merasa tubuhnya terasa kaku. Meskipun begitu, dia mencoba melingkarkan tangannya ke tubuh Bella. Ben melakukannya agar dia bisa mendapatkan kehangatan yang lebih. Hingga pada akhirnya pria itu menenggelamkan wajah ke bagian belahan dada Bella.
Mata Bella membulat sempurna. Dia tentu merasa kaget terhadap sentuhan wajah Ben yang tiba-tiba. Namun Bella paham betul bahwasanya Ben hanya berusaha mencari kehangatan. Gadis itu memutuskan untuk mempercayai Ben. Bella yakin, Ben bukan tipe lelaki yang kurang ajar. Mengingat sikap dingin yang diberikannya kepada semua wanita.
Lama-kelamaan, hujan salju mulai reda. Bella dan Ben masih dalam posisi saling mendekap. Karena pemikiran cerdik Bella, Ben bisa mencegah serangan hipotermia.
Bella dan Ben akhirnya telentang di lantai. Mereka menyatu dalam gulungan selimut tebal. Keduanya tidak sengaja tertidur.
Sementara dari luar rumah, gundukan salju tampak sangat tebal. Jalur transportasi menjadi tersendat. Kemungkinan regu penyelamat akan datang terlambat.
Tidak terasa pagi telah tiba. Ben perlahan bangun dari tidur. Dia kaget saat menemukan wajahnya tenggelam di dada Bella. Gadis itu telentang ke samping. Membuat tampilan belahan dadanya semakin nampak.
Ben lekas-lekas menjauh dari Bella. Jantungnya berdebam bak gendang yang ditabuh. Dia tak tahu kenapa. Namun Ben merasa agak syok.
Sinar matahari yang cerah menembus jendela. Memberikan pendar ke arah Bella. Menyebabkan kulit gadis itu tampak mengkilap dan bercahaya. Ben sempat termangu akan hal tersebut.
Ben mengerjapkan mata dengan pelan. Dia mencoba mengingat kejadian kemarin malam. Ben ingat betul apa yang sudah dilakukan Bella. Alhasil pria itu kini menutupi tubuh Bella dengan selimut. Sementara dirinya akan berusaha mencari bantuan.
..._____...
Catatan Kaki :
Hipotermia : Penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya. Penyebab yang paling umum adalah berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Yenie Yul Rompis
begitu caranya🤣🤣🤣
2022-04-13
2
friyana
weleh weleh dada Bella udah gak suci lagi.. ga papa lah yg penting nyawa ben gak melayang gara gara hipotermia 😄😄
2022-04-12
1
Wina Yuliani
badai salju pembawa nikmat y ben😅
tau aja c ben bagian mana yg bisa bikin hangat..... semoga ben sedikit luluh dan bisa lbh terbuka lg sama bella😊😊😊😊
2022-04-12
2