...༻✿༺...
Ben segera menyematkan kancing kemeja. Kemudian menggunakan ponsel untuk menghubungi seseorang. Sedari tadi atensi Ben terus tertuju ke arah Bella yang masih terlelap. Dahinya mengerut dalam. Bukannya terenyuh, Ben justru membenci Bella. Menurutnya gadis itu sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Ponsel Ben tidak berfungsi. Sinyal tidak bisa ditemukan dimana-mana. Bahkan saat Ben mencoba naik ke atap sekalipun.
Bruk!
Ben membanting ponsel hingga pecah berkeping-keping. Akibat keributan tersebut, Bella terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali.
Sinar matahari menyambut penglihatan Bella. Gadis itu sempat-sempatnya menggeliatkan badan terlebih dahulu. Dia lupa kalau dirinya sedang mengenakan bra saja sekarang.
"Pakailah bajumu, Dokter. Karena aku tidak mau memelukmu jika kau kedinginan." Suara Ben membuat Bella harus membuka lebar matanya. Ia bergegas meraih kaos dan jaket.
"Apa kau bilang? Tidak mau... a-apa?" Bella tercengang terhadap kalimat yang dilontarkan Ben.
"Gara-gara kau tubuh indahku ternodai," keluh Ben sembari melangkah laju keluar dari rumah. Meninggalkan Bella yang tiba-tiba dirundung perasaan kesal.
Bella bergegas mengenakan pakaian. Rahangnya mengerat kesal akibat perkataan Ben. "Dasar! Sudah diselamatkan habis-habisan. Harusnya dia bilang terima kasih kepadaku!" gerutunya. Kemudian menyusul Ben keluar dari rumah. Bella memilih duduk di teras. Ia tidak beminat bergabung dengan Ben yang tampak berolahraga kecil.
Ben menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Sesekali dia juga akan meregangkan tulang. Hingga mengeluarkan bunyi menggertak yang khas.
Ketika menoleh ke belakang. Ben menyaksikan kehadiran Bella. Dia merasa risih dengan tatapan yang diberikan Bella.
"Dokter, sepertinya di sini bukan aku yang rawan terbawa perasaan. Tetapi kau!" Ben berjalan mendekat.
"Apa maksudmu?" Bella melebarkan kelopak mata. Hingga manik matanya yang berwarna hazel dapat terlihat jelas.
"Kau menggunakan kesempatan tadi malam untuk menyentuhku bukan? Dengar, Dokter. Aku sudah sering menemui banyak wanita yang berbuat begitu. Kumohon jangan menjadi salah satu dari mereka!" tukas Ben dengan keadaan mata yang mendelik tajam. Dia marah dan tidak tahu terima kasih.
"Kau gila! Apa kau segitu bodohnya?! Aku memelukmu karena berusaha untuk menyelamatkan nyawamu! Bukankah seharusnya aku mendapat hadiah karena berhasil membuatmu sehat lagi?" balas Bella yang tak ingin kalah. Dia berdiri dan memasang gaya berkacak pinggang.
"Sudahlah, Dokter Red. Aku akan memaklumi tindakanmu kemarin malam." Ben memiringkan sedikit kepala. Bersikap angkuh seperti biasanya.
Tidak lama kemudian, sebuah helikopter muncul dari kejauhan. Ben lantas memberikan sinyal dengan cara melambaikan tangan. Dia yakin, yang datang pasti regu penyelamat.
Berbeda dengan Bella. Gadis itu berlari masuk ke rumah. Dia mengambil cermin. Kemudian menggunakannya untuk memberikan tanda untuk regu penyelamat. Bella mengarahkan sinar matahari ke cermin. Sehingga cahaya yang mengkilap dapat terlihat jelas. Helikopter lantas mendarat di tempat Ben dan Bella berada.
Ben dan Bella disuruh duduk bersebelahan. Namun Ben tampaknya tidak terima itu. Dia sengaja bergeser untuk menjauhi Bella.
Bella menggeleng tak percaya. Ternyata Ben sudah berada ditahap sebenci itu dengan wanita. Dia bahkan tidak luluh terhadap apa yang dilakukan Bella tadi malam.
...***...
Sesampainya di kediaman pribadi, Ben langsung berlari masuk ke kamar mandi. Dia membilas bagian dada dan wajahnya dengan air. Seolah baru saja tersentuh kotoran paling menjijikan di dunia.
Kebetulan Ben mendatangi apartemen miliknya di New York. Dia sengaja mendatangi kediaman terdekat karena ingin cepat-cepat membersihkan diri.
Kala sudah mengenakan pakaian, Ben menikmati seduhan kopi. Dia memakai dasi dan setelan jas rapi. Kemudian segera pergi ke kantor.
Ben tidak seperti CEO pada umumnya. Dia sering mengemudi sendiri saat pergi ke kantor. Kesan pria itu tegas dan pemarah. Setidaknya begitulah anggapan semua karyawan perusahaan.
Ben melangkah memasuki perusahaannya. Semua pasang mata sontak tertuju ke arahnya. Seperti yang dikatakan Justin, Ben memiliki karyawan lelaki sekitar 80%. Tidak heran, karyawan wanita sangat minim terlihat di perusahaannya yang bernama Foodton tersebut.
Akibat terlalu membenci wanita, rumor yang menyatakan bahwa Ben seorang penyuka sesama jenis otomatis beredar. Namun Ben sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Kebetulan hari ini akan diadakan bazar istimewa di taman kota. Perusahaan Foodton meluncurkan produk makanan kemasan terbaru. Ben tidak hanya mendapatkan jadwal untuk pengesahan produk, tetapi juga rapat pembuatan iklan.
Salah satu karyawan Ben yang bernama Oliver sedang melakukan presentasi. Dia mencanangkan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh perusahaan Foodton. Yaitu menjadikan selebriti wanita sebagai model utama produk makanan terbaru.
Ben memilih bungkam. Dia membiarkan presentasi Oliver berakhir terlebih dahulu.
"Aku mengusulkan aktris Jennifer Wilson untuk menjadi model ambasadorr kita. Jennifer memiliki bibir tebal dan menggoda. Saat kamera menyorot bibirnya mengecap makanan, aku yakin siapapun pasti akan tergoda!" terang Oliver memberanikan diri. Dia mengamati semua rekannya satu per satu. Tidak ada satu pun yang berani menatapnya. Sebab mereka tahu, Ben pasti akan marah dengan usulan yang diberikan oleh Oliver.
Ben duduk menyandar sambil menggerakkan jari-jemarinya berurutan ke meja. Tatapannya menyorot tajam Oliver yang masih berdiri di depan layar proyektor.
Ekspresi Ben tampak datar. Suasana hati yang dirasakannya sekarang tak bisa ditebak. Sementara Oliver yang tiba-tiba terdiam, sudah gemetaran karena merasa menciut.
"Kau mengusulkan aktris wanita untuk jadi model produk makanan terbaru kita?" Ben bertanya untuk memastikan. Dia bangkit dari tempat duduk. Berjalan pelan mendekati Oliver.
"I-iya, Mr. Mayers..." Oliver menunduk takut.
"Bisakah kau jelaskan alasannya?" Ben mengerahkan semua atensinya untuk Oliver.
"Ka-karena perusahaan kita tidak pernah memakai jasa model wanita untuk iklan. Anda tahu sendiri bukan? Produk makanan sebelumnya gagal karena iklan yang..." Oliver tak mampu melanjutkan. Sebab iklan sebelumnya atas dasar saran dari Ben. Iklan tersebut menghebohkan publik karena menjadikan model lelaki berkostum tikus untuk mempromosikan produk makanan. Iklan buatan Ben itu menjadi produksi terburuk sepanjang sejarah Foodton.
"Apa kau mencoba mengejekku, hah?!" geram Ben. Dia paham kalau Oliver bermaksud menyindirnya.
"Ma-maaf, Mr. Mayers..." Oliver sudah pasrah. Dia menggenggam erat tanda pengenal yang menjadi kalung saat dirinya bekerja.
"Pulanglah sekarang, Mr. Carlson. Kau dipecat!" ujar Ben. Lalu mengambil alih posisi Oliver di depan layar proyektor.
Oliver tidak punya pilihan selain keluar dari ruangan. Dia merasa sangat kecewa dan kesal. Menurutnya Foodton merupakan perusahaan yang membatasi para karyawan untuk berkreasi.
Kini Ben menatap karyawan yang berhadir di ruang rapat. "Apa ada yang sependapat dengan Oliver? Jika iya, maka lebih baik ikutlah pulang bersamanya!" pungkasnya. Menyebabkan seluruh karyawannya membeku dan tidak berani menoleh.
Ben mendengus kasar. Kemudian segera mengusulkan idenya kepada semua karyawan. Kali ini dia ingin menggunakan model pria lagi untuk membintangi iklan produk makanan terbaru. Ben bahkan menjelaskan idenya panjang lebar.
Ketika Ben sudah keluar ruangan. Semua karyawan langsung berkumpul untuk mengobrol.
"Mr. Mayers itu bodoh atau apa? Kenapa dia tidak belajar dari pengalaman? Sudah jelas ide Oliver tadi lebih bagus!"
"Benar! Aku setuju denganmu. Andai istriku bekerja, kemungkinan aku sudah mengundurkan diri sejak dahulu. Aku tidak tahan."
"Menurutku Mr. Mayers membenci pria dan wanita. Dia hanya mencintai dirinya sendiri dan musik jazz!"
"Ah, musik jazz. Aku sudah muak mendengar musik itu dimana-mana. Di loby, cafetaria, bahkan saat jam istirahat."
Beragam keluhan dilontarkan oleh karyawan Foodton. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyukai Ben Mayers. Ternyata dia tidak hanya bersikap dingin dengan wanita, tetapi nyaris kepada semua orang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
IG : Melodye.Hua
aku mau ketawa boleh nggak😭😭
2022-05-18
1
Wina Yuliani
antara kesel sama pengen ngakaak liat kelaukuan ben ke dr Ros ,,, berasa anak gadis yg suci polos y ben😅😅😅😅
2022-04-13
1
Andi Messe
si dingin yg menyebalkan mr ben mayers 😁
2022-04-13
1