...༻✿༺...
"Kepribadian tuanku yang lain, menyebut dirinya dengan sebutan Lucky Ben. Kami sering memanggilnya Lucky. Dia selalu membuat ulah. Tuan Ben mulai kewalahan menanggung resiko yang diakibatkan oleh Lucky." Jimmy memberitahu panjang lebar.
"Sampai segitunya? Apa Lucky begitu berbahaya?" Bella memastikan.
"Sangat. Dia sudah... beberapa kali membunuh orang," sahut Jimmy sembari meringiskan wajah. Sementara Ben asyik memejamkan mata.
Bella menggigit bibir bawahnya. Menurutnya Lucky cukup berbahaya. Tetapi jujur saja, dia juga merasa sedikit penasaran dengan sosok Lucky.
"Apa akhir-akhir ini Lucky sering muncul?" tanya Bella.
"Itulah alasan utama Tuan datang ke sini. Pengaruh Lucky semakin parah. Jika Tuan tidak bisa mengendalikan amarah, maka dalam sekejap Lucky akan mengambil alih. Selain itu, ada beberapa hal yang akan membuat Lucky muncul. Yaitu gunting, alat pemukul bisbol, dan wanita yang bersikap kasar." Jimmy kembali menerangkan.
"Wanita?" Bella mengerutkan dahi.
Ben yang sedari tadi sibuk tersandar di sofa, segera menegakkan badan. Dia berucap, "Aku benci wanita! Dan Lucky, rasa benci yang dia miliki lebih parah dariku!"
Ben memutar bola mata jengah. Dia mendengus kasar. Sebenarnya dia sudah bosan dengan konsultasi yang sedang berlangsung.
"Dengar, Dokter Rose. Aku ingin memastikan. Apa aku bisa mempercayaimu? Bisakah aku percaya kalau ada solusi untuk masalahku sekarang? Katakan saja yang sejujurnya, karena aku tidak mau membuang-buang waktu!" pungkas Ben. Intonasi bicaranya terdengar laju. Dia seolah-olah mengomeli Bella.
Bella memaksakan diri untuk tersenyum. Jujur saja, sekarang kesabarannya sudah habis. Bella merutuki Ben dari dalam hatinya.
'Ben sialan! Padahal di sini dia yang membutuhkanku. Kenapa aku yang malah terpojok? Dia benar-benar mengalami gangguan emosional yang parah. Jangan bilang sosok Lucky akan lebih mengerikan dari dia?' batin Bella sambil berusaha menahan amarah. Dia memilih tenang dengan cara meminum teh buatan Cecil.
"Aku tidak bisa memastikan kau akan sembuh. Aku juga tidak mau memaksamu untuk berobat di sini. Jujur saja, Mr. Mayers. Di luar sana ada banyak pasien yang mengantri untuk datang ke sini. Jadi di sini bukan aku yang memutuskan. Jika kau bersungguh-sungguh ingin menjalani terapi denganku, maka persiapkanlah segalanya dari sekarang. Mengerti?" Bella membalas ucapan Ben dengan pernyataan menohok. Hingga sukses membuat Ben tercengang akan sikapnya.
Ben terlihat mengusap kasar wajahnya. Dia berdecak kesal. Berbeda dengan Jimmy yang tampak khawatir. Jimmy lantas bergegas membisikkan sesuatu ke telinga Ben. Entah apa yang dibicarakanya. Sampai berhasil merubah ekspresi Ben secara drastis. Di akhir Ben menganggukkan kepala. Seakan menyetujui sesuatu yang tengah ditawarkan oleh Jimmy.
"Mengenai hal yang Dokter bicarakan tadi. Tuan Ben memutuskan setuju untuk melakukan terapi. Tetapi bisakah Tuan saja yang memutuskan jadwal pertemuannya. Itu karena Tuan Ben memiliki jadwal pekerjaan yang cukup padat. Apalagi kami juga sedang melakukan bisnis kerjasama dengan rumah sakit Health Miracle," ujar Jimmy. Berharap Bella menyetujui usulannya.
"Rumah sakit Health Miracle?" Bella mendadak teringat dengan bisnis yang dibicarakan Justin kemarin. Kini dia tahu, bahwa kekasihnya itu tidak berbohong.
"Ya, benar. Perusahaan kami akan--"
"Cukup, Jimmy! Kita tidak perlu membicarakan perihal rahasia perusahaan di sini." Ben sengaja menyela ucapan Jimmy. Semenjak datang, wajahnya tidak pernah sedikit pun mengembangkan senyuman. Hanya ada garis-garis kasar yang terlihat jelas di antara dua keningnya.
Bella menganga tak percaya. Sikap Ben begitu arogan dan tidak tahu malu. Meskipun begitu, Bella berusaha memakluminya. Kemungkinan alasan masalah emosional Ben diakibatkan trauma masa lalu. Sebagai seorang psikiater Bella mampu menebaknya.
"Ya sudah, sepertinya kau setuju. Jimmy nanti akan mengirimkan jadwalnya kepadamu. Ayo, Jimmy! Kita pergi sekarang!" Ben beranjak begitu saja. Bahkan tanpa berpamitan dengan Bella.
Mendengar ucapan Ben, Bella langsung bangkit dari tempat duduk. "Hei! Aku tidak bilang akan setuju. Kenapa kau menyimpulkannya begitu saja?" tukasnya.
Ben otomatis berhenti melangkah. Dia berbalik badan agar bisa menatap Bella kembali. "Hehh... coba jelaskan apa alasanmu?" Ben terdiam sesaat. Dia menyempatkan diri menunjuk tubuh Bella dari bawah sampai ke atas. "Kau tidak mungkin bisa memiliki jadwal sesibuk diriku. Jadi, terima saja. Lagi pula, aku pasienmu sekarang!" sambungnya. Kemudian melangkah keluar dari apartemen.
"Tuan! Kau..." Jimmy gelagapan. Dia merasa harus bertanggung jawab atas ketidaksopanan yang dilakukan oleh Ben. Alhasil Jimmy-lah yang meminta maaf atas nama Ben. Dirinya berharap Bella mau memaafkan.
"Aku akan memikirkannya, Jimmy. Kau lebih baik menyusul tuanmu secepatnya. Nanti kau yang akan kena marah," saran Bella yang sedang menunjukkan raut wajah sebal.
"Sekali lagi, aku meminta maaf, Dokter. Sampai jumpa," pamit Jimmy. Dia lalu berlari untuk mengejar Ben.
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Jimmy akhirnya dapat mengimbangi langkah Ben. Dia hendak membicarakan sesuatu.
"Tuan, kumohon jangan begini lagi. Dokter Red satu-satunya harapan kita. Kau lihat sendiri bukan? Dia bisa menanganimu dengan baik. Tidak seperti dokter-doktermu sebelumnya," ujar Jimmy. Ia memang sudah mampu menyamakan pergerakan kaki dengan langkah Ben. Namun tetap saja Jimmy dirundung rasa lelah.
"Ini pertama kalinya kau mempertemukan aku dengan dokter wanita. Kau tahu aku sangat membenci wanita. Jika Lucky muncul saat sesi terapi bagaimana?" Ben berhenti. Dia melonggarkan dasinya agar bisa lebih tenang.
"Tetapi dia psikiater hebat, Tuan. Apa kau tahu kriminal yang bernama James William? Dia salah satu pasien dokter Red. Sekarang James bisa tenang dan menjalani kehidupan seperti orang normal," balas Jimmy. Dia berusaha keras meyakinkan Ben. "Dokter Red Rose satu-satunya harapanmu. Kau tahu akhir-akhir ini Lucky lebih sering menguasaimu. Jika itu terus terjadi, mungkin kepribadianmu sekarang akan menghilang," tambahnya.
"Aku tahu. Biarkan aku berpikir terlebih dahulu." Ben menghela nafas panjang. Dia berjalan kembali sebentar. Kemudian berhenti lagi saat merasa ada yang harus dikatakan kepada Jimmy.
"Mengenai kriminal James William. Dia sekarang menjadi gelandangan di pinggiran kota. Aku baru membaca berita tentangnya beberapa waktu lalu," ucap Ben sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajah Jimmy. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Ben dan Jimmy segera beranjak dari gedung apartemen Bella.
...***...
Selepas kepergian Ben, Brian langsung melayangkan tendangan ke pintu. Dia sangat kesal terhadap sikap Ben.
"Harusnya tadi aku tendang saja wajahnya. Kau tidak boleh menerimanya untuk menjadi pasienmu! Aku tidak setuju!" tegas Brian. Cecil yang mendengar langsung mengangguk setuju.
"Kalian lihat sikap Ben tadi kan? Dia bersikap seperti Bella yang bergantung kepadanya. Padahal dialah yang membutuhkan bantuan Bella!" seru Cecil. Mengungkapkan pendapat.
Bella tidak mendengarkan pembicaraan Brian dan Cecil. Sebab dia sedang asyik bertukar pesan dengan Justin. Kebetulan Bella baru menuliskan permintaan maaf untuk kekasihnya tersebut.
...'Aku akan memaafkanmu. Jika besok malam kau mau menghabiskan waktu denganku.'...
Begitulah bunyi pesan balasan dari Justin. Menyebabkan jantung Bella sontak berdegub kencang. Entah kenapa Bella selalu takut bila Justin mengajaknya menghabiskan waktu berduaan. Kenapa? Karena Bella takut Justin akan mengajaknya berhubungan intim.
Semenjak menjalin kasih dengan Justin, Bella hanya pernah melakukan ciuman di bibir. Tidak lebih dari itu. Kesimpulannya, Bella masih menjaga keperawanannya hingga sekarang. Dia punya alasan untuk itu. Hanya Bella seorang yang tahu alasannya.
..._____...
Catatan Kaki :
Kepribadian Ganda : Gangguan identitas disosiatif ditandai dengan adanya dua atau lebih jenis identitas kepribadian. Masing-masing identitas dapat memiliki nama, riwayat pribadi, dan karakteristik yang unik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Sulati Cus
berarti sm kyk alter ego gitu y thor apa bipolar?
2022-09-21
0
Aisy Hilyah
benar Bella, harus tetap hati-hati sama laki-laki
2022-04-28
0
Wina Yuliani
adeuh c justin nyari kesampatan dr rasa bersalahnya bella😕😕
2022-04-12
1