...༻✿༺...
Byur!
Semburan air langsung mengguyur setengah badan Corine. Gadis itu langsung mengusap kasar wajahnya. Dia tentu kesal dengan perlakuan Bella terhadapnya.
"Aku mengetahui satu hal setelah datang ke sini! Ternyata bukan ayahmu yang gila, tetapi kau!" pungkas Corine sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajah Bella. Selanjutnya, dia beranjak dalam keadaan tergopoh-gopoh.
Saat Corine hampir tiba di pintu, sosok lelaki tampan mendadak muncul. Dia tidak lain adalah Justin. Kekasih Bella semenjak kuliah. Justin kebetulan baru pulang bekerja.
"Ju-justin..." mata Corine berbinar-binar saat melihat sosok Justine. Ia memang sudah lama memendam rasa kepada lelaki itu. Mungkin karena itulah juga Corine sangat membenci Bella.
"Corine! Sedang apa kau di sini?" sapa Justin seraya melonggarkan dasinya.
"Hanya berkunjung saja. Aku tidak tahu kalau bar ini ternyata milik Bella," terang Corine yang berkilah.
"Dia bohong! Kedatangannya ke sini hanya karena ingin menghinaku!" imbuh Bella tak peduli.
Corine lantas cemberut. Lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia terlalu malu berhadapan dengan Justin. Terutama dengan penampilan yang berantakan.
Bella berjalan mendekati Justin. Kedua tangannya bertautan dari balik punggung. Dia sedikit memajukan bibir ke depan. Sedangkan matanya tampak menutup rapat. Bella berharap mendapat ciuman dari Justin.
"Sebaiknya kau tampar saja dia, Justin!" tegur Brian. Dia terlihat sibuk mengelap gelas. Brian memang ditugaskan sebagai bartender di bar milik Bella.
"Aku tahu kau iri, Brian? Kenapa kau tidak memacari Cecil saja. Akhir-akhir ini aku merasa kau sangat kesepian," komentar Bella. Dia menoleh ke arah Brian.
"Aku? Kenapa kau melibatkan aku? Brian bukan tipeku!" Cecil menyahut dari belakang. Ia tampak sibuk berkutat dengan meja kasir.
Mendengar pertengkaran kecil Brian dan Cecil, Bella tergelak kecil. Hal serupa juga dilakukan Justin. Lelaki itu mengajak Bella untuk bicara empat mata.
Bella mengangguk setuju. Dia dan Justin pergi ke balkon untuk membicarakan sesuatu. Entah kenapa Bella merasa Justin tampak sangat serius dari biasanya.
"Ada apa? Apa kau mau mengajakku putus?" tebak Bella. Sebagai seorang psikiater, dia tentu sangat mudah membaca ekspresi dan sikap orang-orang. Terutama orang-orang terdekat.
"Tebakanmu salah. Ini mengenai masalah pekerjaan. Aku mendapatkan tawaran dinas ke luar negeri. Jika menerimanya, maka aku akan mendapatkan promosi," tutur Justin. Dia memasang mimik wajah serius.
"Ke luar negeri? Kemana?" Bella mencoba menyelidik terlebih dahulu.
"London." Justin menjawab singkat.
"Promosi? Itu terdengar kabar bagus untukku." Bella memaksakan diri untuk tersenyum. Sebenarnya akhir-akhir ini dia merasa sikap Justin agak berbeda. Kekasihnya tersebut lebih pendiam dan tidak ceria lagi seperti dulu. Bella menganggap semua perubahan yang terjadi kepada Justin adalah karena pekerjaan.
"Justin, hal terbaik yang bisa aku sarankan adalah istirahat. Kau terlalu bekerja keras. Seharusnya kau perhatikan tubuh dan pikiranmu," ujar Bella. Namun hanya direspon Justin dengan senyuman tipis.
"Berbanding terbalik denganmu, Bella. Kumohon kembalilah seperti dulu. Cari pekerjaan dan hidup dengan normal. Kau tidak bisa menyerahkan seluruh hidupmu untuk David," balas Justin. Tak ingin kalah.
Kebetulan Bella belum memberitahu Justin mengenai pekerjaan utamanya. Hal itu karena Justin yang terlalu sibuk bekerja. Bella hanya tidak mau Justin tambah pusing.
Sebenarnya Bella selalu berusaha mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Justin. Akan tetapi selalu saja ada halangan. Alam seolah melarang Bella untuk memberitahu tentang jati dirinya yang lain.
Bella terdiam sejenak. Dia tidak langsung merespon ucapan Justin. Bella malah terpikir untuk mengungkapkan tentang jati dirinya sebagai orang dibalik nama Red Rose. Belum sempat bicara, Justin lebih dulu mengangkat panggilan telepon. Sekali lagi Bella gagal memberitahu.
Tidak lama kemudian, ponsel Bella ikut berdering. Dia segera mengangkat panggilan yang tidak lain dari Mia.
"Bella! Ayahmu kembali membuat ulah. Dia menghancurkan taman bunga yang ada di halaman rumah semua orang! Cepat hentikan dia! Aku pikir David semakin menggila!" ucap Mia dari seberang telepon.
"Baiklah! Aku akan segera ke sana!" Bella bergegas pergi. Sebelum beranjak dia tidak lupa berpamitan kepada Justin dengan memberikan ciuman di pipi.
Justin hanya melambaikan tangan. Dia masih sibuk berbicara di telepon. Seperti biasa, Justin selalu terbuai dengan pekerjaan.
...***...
Bella melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia sedang dalam keadaan terdesak sekarang. Bella tidak mau David semakin membuat keributan lebih banyak.
Sesampainya di rumah, Bella langsung disambut dengan kerumunan para tetangga. Dia juga melihat taman bunga milik tetangganya berantakan. Seakan baru saja diterpa oleh angin topan.
"Bella, kau harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki halaman rumah kami! Sekarang semuanya berantakan karena ayahmu!" timpal Darwin. Seorang lelaki paruh baya berperut buncit. Dia selalu bersikap sinis kepada keluarga Peters.
"Maafkan aku, semuanya." Bella mengatupkan dua tangan ke depan dada. Meminta maaf atas nama ayahnya. "Aku berjanji akan bertanggung jawab. Oke? Tapi izinkan aku untuk menemui David terlebih dahulu," lanjutnya.
"Cepatlah, Bella! Kulihat ayahmu sudah kembali masuk ke rumah," kata Mia dengan semburat wajah masam.
Bella mengangguk dan bergegas masuk ke rumah. Dia tidak perlu memeriksa semua ruangan satu per satu. Bella dapat menebak dimana David berada. Ayahnya itu selalu menghabiskan waktu di teras belakang.
Langkah Bella terhenti, saat melihat ayahnya duduk menangis sambil memeluk bunga forget me not. Bella yakin, David pasti teringat dengan istrinya lagi. Padahal jelas-jelas istrinya pergi meninggalkan David karena selingkuh.
"Ayah!" panggil Bella seraya duduk di samping David. Dia langsung memberikan pelukan hangat. Bella berupaya menenangkan David.
"Jane... aku ingat bunga ini adalah kesukaannya..." ungkap David sambil menangis tersedu-sedu. Dia adalah lelaki yang sudah berusia 58 tahun. David kebetulan menderita penyakit jiwa demensia. Alias kepikunan dini.
David terkejut ketika menerima pelukan Bella. Ia langsung menjaga jarak dari Bella. "Siapa kau?! Menjauhlah!" hardik David. Tidak jarang dia melupakan wajah dan nama anaknya sendiri.
"Ini aku Bella. Anak bungsumu," tutur Bella lembut.
"Bella?" David mengernyitkan kening. Dia berusaha keras untuk mengingat.
"Siapa itu Bella? Aku tidak pernah mengenalnya." David semakin menjauhi Bella. Dia berdiri dan kembali berkata, "Pergilah! Aku tidak mengenalmu!"
Bella hanya terdiam seribu bahasa. Dia memutuskan diam di tempat. Lalu termenung menatap matahari yang setengah tenggelam di ufuk barat. Bella selalu merasa sedih saat melihat David melupakan dirinya. Padahal Bella adalah satu-satunya orang yang selalu berada di sisi David. Tidak seperti dua kakaknya yang sama sekali tidak tahu menahu. Mereka bahkan tidak peduli dengan keadaan David dan Bella.
Kedua kakak Bella lebih memilih hidup bersama Patricia, yang tidak lain adalah ibu kandungnya Bella sendiri. Keadaan keluarga Bella memang cukup rumit. Mungkin begitulah cara menggambarkan bagaimana kehidupan keluarga broken home.
Perlahan air mata Bella berjatuhan dipipi. Dia menangis dalam diam. Sebagai orang yang tahu bagaimana cara menenangkan jiwa, Bella tahu salah satu caranya adalah dengan menangis.
Ketika telah puas menangis, Bella selalu merasa lebih lega. Lukanya seakan terobati. Selanjutnya, dia merekahkan senyuman ceria. Lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
..._____...
Catatan Kaki :
Demensia : Istilah psikologi tentang penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya. Jenis demensia yang paling sering terjadi adalah penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Sering disebut sebagai penyakit pikun. Kebanyakan penderitanya adalah orang-orang yang sudah memiliki usia tua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Sulati Cus
itu lah mengapa ak lbh memilih hdp sm nenek
2022-09-21
0
Vanessa Vina
mmpir boleh ka
2022-06-12
0
Aisy Hilyah
haallo, kakak aku mampir lagi baca lagi
2022-04-19
1