...༻✿༺...
Lucky sudah berdiri di depan pintu. Saat itulah Bella berhasil menemukan musik jazz dari daftar lagu. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung memainkan musik dengan volume nyaring.
...[Disarankan untuk mendengarkan lagu Doris Day berjudul Dream A Little Dream Of Me.]...
...🎶...
...Stars shining bright above you...
...Night breezes seem to whisper "I love you"...
...Birds singing in the sycamore tree...
...Dream a little dream of me...
...🎶...
Lucky yang hampir melangkah menghampiri Bella, mendadak berhenti saat musik terputar. Lucky mematung di tempat. Memasang tatapan kosong.
Entah apa yang ada dipikiran Lucky, tetapi musik jazz berhasil menahan amukannya. Kemungkinan musik tersebut mengingatkannya akan sesuatu hal.
Prang!
Kapak yang ada dalam genggaman Lucky terlepas. Benda tajam itu jatuh ke lantai.
Lucky tak bergeming. Tenggelam dalam alunan musik yang dilantunkan oleh mendiang Doris Day.
Sementara Bella, diam-diam mengintip dari balik tirai. Dia melihat Lucky perlahan melangkah mundur. Sampai punggungnya menabrak dinding. Lucky terduduk di lantai. Ia menselonjorkan kaki dengan rata. Matanya terbuka lebar sambil mendongakkan kepala.
"Lucky?..." Bella memberanikan diri keluar dari balik tirai. Dia berderap pelan menghampiri Lucky.
Lucky hanya terdiam. Meskipun begitu, bola matanya bergerak menatap Bella yang tengah berdiri. Gadis itu memegang ponsel untuk memberikan penerangan di malam yang gelap temaram.
Bella berjongkok dan memegangi pundak Lucky. Dia beberapa kali menanyakan keadaan pria itu. Namun tetap saja Lucky memilih membisu.
Lucky terpaku menatap Bella yang tampak mengkhawatirkannya. Dengan berlatarkan lagu berjudul Dream A Little Dream Of Me, sosok Lucky akhirnya pergi.
Ketika hendak menghilang, Lucky menundukkan kepala. Seluruh tubuhnya tampak mengeluarkan efek kejut secara tiba-tiba. Hingga Ben asli perlahan mengambil alih.
Ben mendongakkan kepala. Dia mengerjapkan mata sembari mengedarkan pandangan. Tetapi Ben tidak bisa melihat segalanya dengan jelas, karena keadaan sedang gelap gulita. Cahaya senter yang dipegang Bella tidak begitu cukup untuk memperjelas penglihatan.
Sosok Bella yang terasa tidak asing, membuat Ben memicingkan mata. Hingga dia memanggil, "Dokter Red?" nada suaranya terdengar sumbang. Seakan baru tersadar dari pingsan.
Mendengar intonasi bicara yang agak berbeda, membuat Bella sadar bahwa Ben telah kembali. "Ben! Kau Ben bukan?" tanya-nya memastikan. Ben lantas mengangguk untuk mengiyakan.
Bella segera membantu Ben berdiri. Lalu membawanya ke tempat yang lebih nyaman. Yaitu kasur yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kamar mandi.
"Beritahu aku, dimana aku bisa menemukan pengendali listrikmu?" tanya Bella.
Ben terlihat memegangi kepala. Kemudian mengarahkan jari telunjuknya untuk memberitahu. "Alat pengendali listrik ada di basemen..." ucapnya pelan.
Bella mengangguk mengerti. "Baiklah, tunggulah di sini. Dan beristirahatlah!" sarannya. Dia lantas beranjak menuju basemen dengan hanya bersinarkan senter dari ponsel. Musik terus berputar dari ponsel saat Bella melenggang.
Bella menelusuri rumah Ben dengan seksama. Dengan hanya bermodalkan insting, dia dapat menemukan lokasi basemen dengan cepat. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Bella bersembunyi tadi.
Kini Bella sudah berjalan memasuki basemen. Ia menuruni tangga dengan hati-hati. Bella langsung menutup hidungnya saat mencium bau amis dan busuk dari sana.
Jika rumah Ben tampak mengerikan, maka basemennya dua kali lipat lebih mencekam. Terdapat banyak sekali boneka berbentuk manusia bertebaran. Membuat seluruh tubuh Bella merasa bergidik ngeri. Sebelum melihat-lihat, gadis itu memutuskan untuk menyalakan listrik terlebih dahulu.
Bella hanya perlu menarik sebuah tuas ke atas. Dalam sekejap listrik langsung menyala. Di basemen sendiri, penerangnya berupa lampu pijar yang redup.
Bella yang merasa penasaran, berniat menjelajahi basemen. Namun baru bergerak beberapa langkah, sebuah tangan mencegat. Siapa lagi kalau bukan Ben. Lelaki itu dengan sigap menarik Bella ke hadapan.
Wajah Ben dan Bella hampir bersentuhan. Akan tetapi Ben malah memancarkan tatapan tajam.
"Bukankah niatmu hanya ingin menyalakan listrik?" tukas Ben. Kemudian melepaskan tangan Bella. Dia menyuruh Bella keluar lebih dulu dari basemen.
Bella terpaksa menurut. Lagi pula Ben memang berhak melindungi properti miliknya dari orang lain. Terutama dari orang yang baru dikenalnya seperti Bella.
...***...
Ben dan Bella sedang berada di meja makan. Musik telah dimatikan. Bella terlihat duduk tenang sambil memperhatikan Ben yang sibuk memasukkan air ke dalam teko.
"Apa kau tidak punya pelayan?" tanya Bella. Berusaha memulai pembicaraan. Sebab semenjak tadi, Ben terus menyepi bak seorang tuna wicara.
"Tidak." Ben menjawab singkat. Dia bahkan tidak menoleh ke arah lawan bicara. Ben lebih memilih berdiri menghadap jendela dapur. Di sana dirinya hanya dapat melihat pepohonan rindang nan gelap. Menunggu air dalam teko sampai mendidih.
Bella mendengus kasar. Dia menggaruk kepalanya dengan frustasi. Baru kali ini Bella kebingungan menghadapi pasiennya. Semua terasa serba salah.
"Emm..." Bella bergumam sembari memainkan ponsel. Baru hendak membuka, ponsel itu mendadak mati akibat kehabisan baterai. "Sial!" rutuknya sebal. Lalu meletakkan ponsel ke atas meja. Bella perlahan kembali melirik ke arah Ben. Dia tentu hanya bisa menatap punggung pria itu.
"Ben... apa di sini memang tidak ada sinyal? Sejak tadi aku tidak bisa menghubungi seseorang," tutur Bella.
"Tidak. Kau bisa gunakan telepon." Ben menjawab seraya menuangkan air panas ke dalam cangkir.
"Oke, terima kasih." Bella meringiskan wajah. Sesi pembicaraanya dan Ben selalu berlangsung singkat.
Setelah memasukkan gula dan teh, Ben mengaduk air di dalam cangkir. Lalu menyuguhkan salah satu teh kepada Bella. Selanjutnya, Ben duduk tepat di hadapan Bella.
"Jadi, bagaimana Lucky?" tanya Ben. Tangannya sibuk mengaduk teh yang padahal sudah sejak tadi larut dengan gula.
"Sangat mengerikan! Dia berbahaya, jika polisi tahu tentang ini, kau bisa--"
"Aku tahu!" Ben sengaja memotong perkataan Bella. Perhatiannya yang sedari tadi terpaku pada minuman, sekarang dialihkan ke arah Bella. "Karena itulah aku membutuhkanmu... Aku tidak bisa terus hidup seperti ini," lanjutnya.
"Jadi, kau ingin aku menjadi doktermu?" Bella memasang ekspresi serius.
"Aku tidak punya pilihan lain. Jimmy sangat yakin dengan keahlianmu. Jadi, buktikan saja kepadaku," ujar Ben. Kemudian menyesap teh dari cangkir. Hal serupa juga dilakukan Bella setelahnya.
"Tentu saja. Kau sudah melihat keahlianku bukan? Tadi aku berhasil membuat Lucky pergi." Bella tersenyum dengan percaya diri.
"Itu baru pemanasan, kau tidak akan pernah bisa menebak rencana Lucky," tanggap Ben. Sekali lagi, dia bukanlah sosok pria yang murah senyum. Senyuman Ben mahal.
"Apa kau meremehkanku? Bukankah harusnya kau meminta maaf atas kejadian tadi? Aku hampir mati ditebas dengan kapak! Kau tahu itu!" pungkas Bella mengeluh.
"Jika kau tadi mati. Kau mungkin akan aku kumpulkan dengan boneka-boneka Lucky di basemen." Ben berucap dengan santainya. Padahal apa yang dia katakan merupakan sesuatu hal mengerikan.
"Kau gila!" geram Bella.
"Itu adalah solusi, Dokter. Solusi untuk menyelamatkan hidupku." Ben memberikan penjelasan ambigu. Ia masih saja terasa misterius bagi Bella.
Bella terperangah. Dia sekarang merasa tertantang untuk menjadi dokter Ben. Gangguan mental yang dimiliki Ben terbilang cukup serius. Pria sepertinya memang harus secepatnya mendapatkan penanganan. Jika tidak, mungkin akan merugikan banyak orang. Terutama orang-orang terdekat Ben.
Menurut Bella, pengaruh Lucky perlahan mulai menguasai jalan berpikir Ben. Pantas saja ada sikap mereka yang memiliki kesamaan. Yaitu mengenai pengendalian emosi dan amarah.
"Baiklah... aku siap untuk menjadi doktermu. Tetapi, aku punya satu syarat." Bella membentuk angka satu dengan jari telunjuk. Ben lantas mengerahkan semua atensinya untuk mendengarkan.
"Jangan sampai jatuh cinta kepadaku," sambung Bella.
Ben mengerutkan dahi. "Bwahahahaha!" wajah seriusnya berubah menjadi gelak tawa. Sampai memperlihatkan gigi gerahamnya yang rapi.
"Kenapa kau tertawa? Itu sama sekali tidak lucu!" tukas Bella yang merasa tersinggung.
Ben perlahan berhenti tertawa. Dia menunjukkan paras seriusnya lagi. Lalu berkata, "Dengar Dokter. Aku membenci semua wanita di dunia ini. Mana mungkin aku jatuh cinta kepada salah satunya."
Bella terkesiap. Tatapan Ben terlihat tegas dan meyakinkan. Alhasil dia menganggukkan kepala. Pertanda kalau dirinya memutuskan untuk mempercayai Ben.
"Baiklah kalau begitu. Tapi untuk berjaga-jaga, biar aku memberitahumu akibat jika kau melanggar syarat. Bila kau melanggar, aku pastikan kita tidak akan bertemu lagi." Bella ikut memberikan penegasan. Ben otomatis mengangguk setuju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Rania Wardani
weteng tresno jalaran seko kulino 🤭katanya
2022-06-03
4
Wina Yuliani
awas ben keselek omongan sendiri ingat cinta itu datang karena kenyamanan dan kebiasaan 😍😍😍😍
2022-04-12
2
Yosirosmaya YOssi
lanjut thor
2022-04-10
1