...༻✿༺...
Sesosok lelaki melangkah masuk ke dalam apartemen Bella. Dia tidak lain adalah Ben Mayers. Pria yang pernah Bella temui saat berada di kantor Alfred.
"Halo, Tuan. Silahkan masuk..." Cecil yang tidak tahu tentang siapa Ben, berusaha menyambut dengan ramah.
Sementara Bella sibuk termangu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Baik mengusir atau menerima kedatangan Ben, keduanya terasa salah bagi Bella.
Tanpa sepatah kata pun, Ben melingus begitu saja melewati Cecil. Atensinya tertuju ke arah Bella. Ben sepertinya mengingat wajah Bella.
Ben memperhatikan Bella dari ujung kaki hingga kepala. Penampilan gadis itu sangat berbeda dibanding sebelumnya. Belum lagi keadaan Brian dan Cecil, yang terlihat sama lusuhnya.
Suasana terasa hening bak suasana di kuburan. Bahkan Brian yang biasanya cerewet ikut bungkam. Dia hanya saling bertukar tatapan bingung dengan Bella dan Cecil.
Ben menggeleng sambil meringiskan wajah. Dia memaklumi tindakan tiga orang di sekelilingnya. Ben menyimpulkan kalau Bella dan kawan-kawan pasti memiliki gangguan jiwa yang cukup parah.
Pikiran Ben masih bertanya-tanya mengenai keberadaan Red Rose. Kepalanya celingak-celingukan ke segala arah. Dia tidak tahu kalau orang yang dirinya cari sudah ada di depan mata.
Tidak lama kemudian, seorang lelaki tua muncul dari balik pintu. Namanya adalah Jimmy. Sekretaris pribadi Ben. Kebetulan Jimmy akan membantu Ben untuk melakukan konsultasi.
"Siapa dia? Bukankah aku menyuruhmu untuk datang sendiri?" Bella semakin tercengang. "Tunggu, tunggu. Kau Mr. X bukan? Pasien yang harusnya melakukan jadwal temu denganku sekarang?" tambahnya memastikan.
Ben dan Jimmy saling bertatapan. Ben tampak membisikkan sesuatu ke telinga Jimmy. Nampaknya dia memberitahukan perihal penting.
"Perkenalkan, aku Jimmy Crewson... dan dia adalah Tuanku yang bernama Ben Mayers. Kami ingin bertemu dengan Dokter Red Rose. Apa dia masih sibuk sekarang?" Jimmy berucap sembari mengedarkan pandangan.
"Akulah Dokter Red Rose!" ungkap Bella sambil meletakkan tangan di dada.
Ben membulatkan mata. Ekspresi wajahnya nampak terkejut. Ben merasa tidak percaya kalau dokter Red Rose adalah gadis yang dilihatnya sekarang. 'Sangat tidak pantas!' itulah komentar yang langsung muncul dalam pikiran Ben.
"Kau ternyata Dokter Red Rose. Maaf, aku dan Tuan tidak langsung mengenalimu. Kami..." Jimmy bingung harus meneruskan.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Silahkan duduk!" Bella yang dapat memahami suasana canggung, mencoba bersikap seramah mungkin. Bahkan saat Ben terus melayangkan tatapan serius.
"Terima kasih. Silahkan, Tuan..." Jimmy mempersilahkan Ben duduk lebih dulu. Selanjutnya barulah dia yang duduk.
Ben menggerakkan bola mata ke arah Jimmy. Hanya dengan tatapan, Jimmy mengerti apa yang harus dilakukan. Intinya Ben menyuruh dia untuk segera bicara.
Sementara itu di dapur. Cecil menguping sambil membuatkan minuman untuk tamu. Beberapa saat kemudian Brian ikut bergabung bersamanya.
"Kau lihat itu?" cetus Brian sembari sesekali mengintip ke ruang tengah. Tempat dimana Bella, Ben dan Jimmy berada.
"Ya, tentu saja. Bella benar! Ben Mayers sangat mengerikan. Aku harap Bella tidak bersedia melakukan terapi dengannya. Kita bisa tersiksa." Cecil berbicara dengan nada pelan. Teh buatannya telah jadi. Kini dia hanya perlu menyuguhkannya kepada Ben dan Jimmy.
...***...
Jimmy mulai menceritakan gangguan yang menimpa tuannya. Dia memberitahu kalau Ben sering mengalami hal aneh selama beberapa tahun terakhir.
"Tuanku selalu tidur di kamar apartemennya. Tetapi dia seringkali menemukan dirinya terbangun di lain tempat. Selain itu, dia juga beberapa kali mendapatkan luka dan memar tanpa alasan yang jelas. Pernah satu kali--"
"Tunggu, tunggu! Kenapa kau yang menjelaskan ini, Jimmy. Menurutku, seharusnya Ben yang harus menceritakan masalahnya sendiri. Tidak apa-apa bukan?" Bella menjeda penjelasan Jimmy. Dia memberanikan diri untuk menatap Ben. Meski tatapan Ben seperti sinar laser yang menusuk, Bella sama sekali tidak ciut. Gadis itu justru tersenyum tipis.
"Dokter, tuanku tidak akan bisa melakukannya. Itulah alasan dia mengajakku untuk ikut," terang Jimmy lembut.
"Begitukah?" Bella meragu. Dia sudah enggan menatap ke arah Ben. Bella memaklumi saja. Lagi pula berbicara dengan Jimmy memang lebih nyaman dibanding dengan Ben.
Jimmy lantas kembali melanjutkan ceritanya. Dia seakan sangat hapal dan tahu apa yang terjadi kepada tuannya.
Bella mengangguk-anggukkan kepala. Dia tenggelam dalam diam. Bella sedang berpikir untuk mencari tahu. Ia menduga Ben memiliki penyakit kepribadian ganda. Tetapi sebelum menyimpulkan, Bella mencoba memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu.
Bella kembali menatap Ben. Ia bersiap memberikan pertanyaan kepada pria tersebut. Bella mengambil buku daftar ceklist beserta pulpen.
"Ben, kali ini aku ingin kau yang menjawab. Kau bersedia bukan?" tanya Bella. Ben hanya mengangguk sambil masih memasang mimik wajah datar. Pria itu sangat irit bicara.
"Oke, apa kau pernah mendapatkan pesan misterius dari seseorang? Pesan yang terasa seperti orang asing, tapi dia sangat mengenal dirimu dengan baik." Bella menatap sembari mengerjapkan mata beberapa kali.
Ben yang tadinya tersandar, perlahan duduk tegak. Dia meletakkan kedua tangannya ke atas paha. Ben agak mencondongkan wajahnya ke arah Bella. Sekarang manik birunya dapat terlihat jelas oleh Bella.
"Bisakah kau langsung ke intinya saja? Kau pasti sudah bisa menyimpulkan penyakit yang aku derita bukan?" pungkas Ben. Tatapan matanya begitu tajam. Seakan-akan ingin memakan Bella hidup-hidup.
Bella tidak peduli. Dia tersenyum dan membalas, "Oke, sepertinya kau sudah tahu kalau dirimu menderita penyakit kepribadian ganda. Apa kau pernah melakukan terapi dengan dokter lain sebelumnya? Karena saat melihat datamu, aku tidak menemukan riwayat pengobatannya."
"Jimmy!" panggil Ben seraya menyandarkan punggung kembali. Ia menyuruh sekretarisnya untuk menjelaskan. Lagi...
"Tuan merahasiakan rapat-rapat penyakit yang dideritanya, Dokter. Itulah alasan dia ingin menemuimu." Jimmy menerangkan.
"Aku mengerti. Tetapi bukankah itu sulit untuk ditutupi? Apalagi namamu cukup dikenal banyak orang, Mr. Mayers." Bella menatap ke arah Ben lagi.
Ben memutar bola mata jengah. Dia benci dengan sikap berani yang ditunjukkan Bella. Berbeda dengan Jimmy, yang justru merasa kagum dengan Bella. Bagaimana tidak? Baru kali ini dirinya menemukan psikiater yang sabar dengan sikap Ben. Meskipun begitu, Jimmy tidak mau langsung mengambil kesimpulan terlalu cepat. Ia akan memastikan kinerja Bella terlebih dahulu.
Ben mengeratkan rahang. "Itulah alasan aku datang ke sini!!!" pekiknya lantang. Sampai berhasil membuat Bella hampir jantungan.
Bella dan yang lain terperangah. Mata mereka terbelalak bersamaan. Hanya Jimmy yang terbiasa dengan sikap Ben.
Sekarang Bella menghela nafas panjang. Dengan begitu dia bisa menenangkan diri. Selanjutnya, Bella mencoba berbicara kembali dengan baik-baik.
"Oke, aku mengerti maksudmu. Kau ingin aku membantumu menghilangkan kepribadianmu yang lain itu bukan?" ujar Bella. Membuat Ben yang tadinya kesal, perlahan kembali memandang Bella. Dia menampakkan ekspresi datarnya lagi.
"Siapa namanya, Ben? Kau juga harus beritahu bagaimana sikap kepribadianmu yang satunya itu. Oke?" Bella tahu cara menghadapi pasien pemarah. Yaitu dengan cara mengabulkan apa yang di inginkan pasien tersebut. Dan paling utama, jangan memancing orang marah dengan kemarahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Aisy Hilyah
semangat bellaaa ... jangan takut!!!!!
2022-04-23
1
Wina Yuliani
waw... keren, perjuangan d mulai, menaklukan 2 pribadi dlm satu raga💪💪
2022-04-12
1
Yenie Yul Rompis
hati2 Ben nanti bucin loh😅😅😅
2022-04-04
1