...༻✿༺...
Bella berhenti tepat di ruang tengah. Ia mendongakkan kepala. Menperhatikan tangga yang menuju lantai dua. Bella terpaku untuk terus melangkah maju. Hingga gadis itu tidak menengok lagi ke belakang.
Suara derap langkah kian mendekat dari arah belakang. Ternyata Lucky sengaja lewat jalan lain menuju pintu depan. Dia langsung menutup pintu yang kebetulan masih terbuka.
Bella sontak berbalik saat mendengar pintu tertutup. Matanya membulat sempurna. Ben tampak mengenakan pakaian yang berbeda dari biasanya. Jelas kepribadian yang Bella lihat sekarang bukanlah Ben. Melainkan Lucky. Dia mengenakan kaos putih serta celana jeans. Dibalut jaket kulit hitam merek ternama.
"Lucky? Kita akan bicara baik-baik bukan?" Bella bertanya dengan tenang. Sedangkan Lucky terus berjalan menuju ke arahnya.
"Apa yang kau inginkan, Dokter? Katakan kepadaku. Apakah kau ingin menyetujui keinginan Ben?" Lucky sekarang berdiri tepat di hadapan Bella.
"Keinginan apa?" Bella bersikap seolah tidak tahu.
Lucky tersenyum ramah Lalu mencondongkan wajah ke arah Bella. Auranya terasa lebih bersahabat dibanding Ben. Setidaknya itulah yang dirasakan Bella saat menatap mata Lucky.
"Keinginan Ben yang ingin menghilangkan aku. Apa kau setuju?" Lucky mengangkat kedua alisnya secara bersamaan. Penasaran akan jawaban Bella.
"Aku sebenarnya belum membuat keputusan. Mungkin itulah alasan utama Ben menyuruhku datang ke sini. Dan ternyata... aku justru bertemu denganmu," jawab Bella.
Lucky berjalan menjauh dari Bella. Dia membentuk bogem di salah satu tangannya. Lucky berhenti tepat di depan sebuah cermin.
Prang!
Lucky tiba-tiba meninju cermin. Dalam sekejap cermin itu pecah menjadi serpihan-serpihan tajam. Lucky mengambil salah satu pecahan kaca. Kemudian perlahan menatap Bella. Tatapannya berubah drastis.
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuhku, Dokter!" Lucky tersenyum jahat dan meneruskan, "jadi, biarkan aku yang lebih dulu membunuhmu..."
Bella reflek melangkah mundur. Lalu berlari menghindari Lucky. Dia berusaha mencari jalan keluar dari rumah. Namun sayang, entah sudah direncanakan Lucky atau tidak, semua pintu sudah terkunci rapat. Bahkan jendela sekali pun.
"Hahaha! Kau pikir aku akan membiarkan pintu terbuka untukmu? Aku sudah mempersiapkan segalanya sebelum kau datang ke sini," ujar Lucky. Ia mulai menggerakkan kakinya. Lucky sama sekali tidak takut Bella akan pergi. Karena dirinya yakin, Bella pasti tidak akan berhasil.
Bella berlari tak tentu arah. Keringat mulai mengalir deras di beberapa titik tubuhnya. Dia harus memikirkan rencana untuk menghadapi Lucky. Bella benar-benar tidak menyangka kalau Lucky akan separah ini.
Bella akhirnya memilih bersembunyi. Dia memutuskan berlindung di bawah tangga. Lalu berusaha sekali lagi menelepon seseorang melalui ponsel. Sayangnya, Bella tetap tidak dapat melakukan panggilan.
"Dokter? Kau tahu kenapa aku berjalan sangat pelan? Karena aku sangat menyukai permainan hide & seek. Aku lebih menikmatinya, jika yang bersembunyi adalah sasaran untuk dibunuh!" seru Lucky. Langkah kakinya semakin dekat dengan lokasi Bella bersembunyi.
Bella membekap mulut rapat-rapat. Dia berusaha membekukan tubuhnya agar tidak mengeluarkan suara.
Degub jantung Bella tambah kencang ketika kaki Lucky sudah terlihat di depan mata. Jujur saja, nafas Bella terasa sulit dikontrol akibat merasa panik. Belum lagi saat dirinya menyaksikan tangan Lucky yang menggenggam pecahan kaca.
Tangan Lucky terlihat merembeskan darah. Sebab dia menggenggam kaca terlalu erat. Hingga telapak tangannya terluka. Namun dilihat dari gelagatnya, Lucky sama sekali tidak terganggu dengan luka yang ada di tangannya.
Mata Bella bergetar ketika Lucky berhenti tepat di tempat persembunyiannya. Tanpa diduga, Lucky berjongkok dan menengok tepat ke arah Bella.
"Booo!" Lucky sukses membuat Bella tersentak kaget. Dia tersenyum puas saat berhasil menemukan Bella.
Tanpa pikir panjang, Lucky menyeret Bella keluar dari bawah tangga. Ia menarik kaki gadis itu dengan kasar. Sampai benar-benar keluar dari tempat persembunyian.
Bella tidak terima. Dengan cepat dia berpegangan ke tangga. Lalu meliarkan pergerakan kakinya agar pegangan Lucky bisa terlepas.
Buk!
Bella sukses menendang betis Lucky. Apa yang dilakukannya tentu membuat Lucky marah besar. Bella sepertinya lupa poin penting saat menghadapi Lucky.
"Arrghh!" akibat amarah yang memuncak. Lucky melayangkan serangan. Ia mencoba menghujamkan pecahan kaca ke tubuh Bella.
Untung saja Bella dapat menghindar dengan baik. Dia segera berlari masuk ke sebuah kamar terdekat. Bella tidak lupa mengunci pintu agar Lucky tidak bisa masuk.
Bella memegangi dadanya. Setidaknya sekarang dia merasa aman. Tetapi Bella yakin rasa amannya tidak akan bertahan cukup lama. Oleh sebab itu, dia berusaha mencari cara untuk melakukan perlawanan. Namun karena informasi yang masih minim, Bella tidak bisa menghadapi amukan Lucky.
Atensi Bella tertuju ke sebuah telepon rumah. Dia mencoba menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan salah satu rekan kepercayaannya Cecil.
Telepon rumah berguna sangat baik. Membuat harapan Bella seketika melambung tinggi. Dia akhirnya bisa bicara dengan Cecil.
"Ada apa, Bella? Apa kau sudah menghabiskan waktu dengan--"
"Cecil! Kau dan Brian harus menjemputku. Aku ada di--"
Dub!
Listrik mendadak mati. Telepon Bella otomatis terputus. Tepat sebelum Bella sempat memberitahu alamat Ben kepada Cecil.
"Shi*t!" umpat Bella sembari menghempaskan gagang telepon dengan kesal. Dia berkacak pinggang. Lalu mengedarkan penglihatan ke berbagai sudut ruangan. Berharap menemukan petunjuk untuk menghadapi Lucky.
Bella duduk sejenak di ujung kasur. Ia menjadikan ponsel sebagai sumber penerangan. Setelah berpikir betul-betul, melarikan diri sepertinya adalah jalan terburuk untuk menghadapi Lucky. Bella yakin Lucky pasti tidak akan melepaskannya. Gadis itu dapat melihat seberapa besar ambisi Lucky.
Bruk!
Suara berisik dari pintu membuat Bella terperanjat. Gadis itu langsung berdiri. Dia mengarahkan senter ke arah pintu.
Betapa terkejutnya Bella, saat menyaksikan Lucky mencoba membuka pintu dengan sebuah kapak. Bella menelan salivanya sendiri. Kini dia bersembunyi ke dalam kamar mandi.
'Berpikir, Bella... berpikir...' Bella mendesak dirinya untuk menemukan jalan keluar. Hingga terlintas sesuatu dalam benaknya. Yaitu tentang pandangan Ben dan Lucky terhadap wanita.
Bella ingat betul, kalau salah satu sinyal untuk memunculkan Lucky adalah wanita yang bersikap kasar. Bella sekarang mengerti kenapa Lucky sangat marah kepadanya. Ternyata semua karena perlawanan yang Bella lakukan.
Sekali lagi Bella mencoba berpikir. Waktunya tidak banyak, karena Lucky terdengar sudah berhasil menerobos pintu.
Bella segera bersembunyi ke balik tirai. Di sana dia memejamkan rapat matanya. Berusaha mengingat sesuatu hal penting tentang Ben.
Mata Bella terbuka lebar. Tepat ketika Lucky mulai menghancurkan pintu kamar mandi dengan kapak.
"Benar! Musik Jazz! Ben menyukai musik jazz!" Bella ingat topik pembicaraannya dengan Justin beberapa jam lalu. Alhasil dia berupaya mencari lagu jazz dari ponsel.
Jari-jemari Bella gemetaran. Bagaimana tidak? Suara kapak yang dihantam Lucky terdengar sangat mengerikan.
"Sial! Kenapa aku tidak bisa menemukannya!" gerutu Bella yang tak kunjung menemukan lagu jazz dari daftar lagu. "Seingatku, aku punya satu musik jazz," gumamnya lagi.
Bella menggigit bibir bawahnya. Bersamaan dengan itu, pintu terdengar berdebam keras. Pertanda Lucky sudah sepenuhnya masuk ke kamar mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Yatima Mauluddin
terasa ikut ngumpet ma Bella,tegaaaang
2022-06-16
2
Wina Yuliani
ya ampun ben ... berasa jantung aku d ajak maraton nich
Ben untung kamu d amerika, jd yg d panggil psikiater coba kalau d sini bisa2 yg d panggil org pinter krn d sangka kesurupan😅😅😅
2022-04-12
1
zeaulayya
Aduuhh lucky mengerikan betul dah🤭😅 awas yah km ampe bucin ma bella , tak sumpain cintanya gak di terima 😛🤣 lanjutt thor penasaraan sangat 😁
maacih thor🌹
2022-04-09
3