...༻✿༺...
Hening menyelimuti suasana. Bella dan Ben saling membisu. Bella bahkan tidak dapat bermain ponsel. Gadis itu sedang memikirkan cara untuk pulang.
"Sebaiknya aku pulang saja," ungkap Bella sembari bangkit dari tempat duduk.
"Sekarang? Apa kau yakin? Ini hampir jam 12 malam. Lebih baik kau bermalam saja," saran Ben dengan raut wajah datarnya.
"Be-bermalam? Di sini?" Bella menunjuk dirinya sendiri sambil lekas menggeleng. Lalu mengatakan tidak. Dia tidak berani bermalam. Takut kalau-kalau Lucky kembali.
"Kenapa kau terlihat ragu, Dokter? Jangan bilang kau takut?" Ben melakukan tatapan selidik.
Kini Bella bingung harus menjawab apa. Jika menolak, dia takut Ben akan marah. Tetapi Bella juga tidak mau bermalam di rumah Ben. Selain mengerikan, Bella juga belum mempercayai Ben maupun Lucky.
"Tidak. Aku harus secepatnya pulang karena ada pekerjaan lain." Bella memberikan alasan.
"Ya sudah, aku tidak memaksa. Tetapi jangan memintaku untuk mengantarmu." Ben berdiri. Kemudian beranjak menaiki tangga.
Bella tercengang. Ben memang tidak memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Pria itu sama sekali tidak berminat memastikannya baik-baik saja.
Bella mendengus kasar. Matanya sempat mendelik ke arah tangga. Giginya menggertak kesal. Dia akhirnya pergi keluar dari rumah. Baru beranjak beberapa langkah, sosok Ben terdengar memanggil.
Pandangan Bella otomatis mengedar. Dia menemukan Ben berdiri dengan tenang di balkon. Pria itu menatap lurus ke arah Bella. Meletakkan kedua tangannya ke atas pagar pembatas.
"Kau tahu kenapa aku tinggal di sini? Karena hutan di sini lebat. Banyak psikopat seperti Lucky yang berkeliaran di sini," ujar Ben. Ia mengalihkan bola matanya ke arah langit. Sedangkan Bella masih mematung di tempat. Gadis itu lagi-lagi menghela nafas panjang.
Bella menggigit bibir bawahnya. Setelah mendengar ucapan Ben, dia mendadak dirundung perasaan gelisah. Kepalanya tertunduk sebentar. Tetapi setelah mencoba menatap Ben kembali, Bella menemukan pria itu sudah menghilang.
Dari pada menanggung resiko, Bella memutuskan tidak jadi pergi. Dia sebenarnya sempat terpikir menelepon Cecil. Namun tidak dilakukan karena merasa cemas. Lagi pula Ben ada benarnya. Malam memang sudah terlalu larut. Jalanan menuju kota sangat sepi. Bella akhirnya kembali masuk ke rumah Ben. Lalu duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
Bella memeluk tubuhnya sendiri. Suasana rumah Ben sangat mencekam. Suara angin yang berdesir membuatnya meringis ngeri.
"Ikut aku!" Ben tiba-tiba bersuara. Menyebabkan Bella sontak tersentak kaget. Gadis itu menoleh. Dia menemukan Ben sudah melangkah menaiki tangga.
"Kau menyuruhku ikut?" Bella memastikan seraya bangkit dari tempat duduk.
"Ya." Ben menjawab singkat.
Bella segera mengekori Ben. Dia di antarkan ke sebuah kamar yang letaknya tidak jauh dari tangga. Tanpa sepatah kata pun, Ben lantas pergi.
Bruk!
Bella menutup pintu kamar. Dia tidak lupa untuk menguncinya. Selanjutnya, Bella langsung telentang ke atas kasur. Gadis cantik itu mencoba tidur.
Bella hanya sempat tertidur beberapa jam. Sebab suara berisik dari luar menyebabkan dirinya harus terbangun. Ada bunyi derap langkah misterius yang terdengar. Bella merasa takut sekaligus penasaran.
"Ya ampun, rumah ini benar-benar horor!" gumam Bella. Ia berusaha untuk kembali tidur. Akan tetapi suara derap langkah justru terdengar lagi. Bella tidak bisa tidur dengan tenang. Alhasil gadis itu memeriksa keluar kamar.
Hanya ada hening yang menyambut Bella. Pemilik langkah kaki yang terdengar tadi bahkan menghilang. Tetapi saat Bella hendak kembali masuk ke kamar, bunyi derap kaki muncul dari arah utara.
'Apa itu Ben?' benak Bella bertanya-tanya. Dia berniat mencari sumber suara derap kaki.
Bella perlahan melangkah. Ia berjalan menuju bagian belakang rumah. Ketika membuka pintu belakang, Bella dikejutkan dengan Ben yang sedang bertelanjang dada.
"Sial!" Bella reflek mengalihkan pandangan. Dia tidak menyangka akan menemukan pemandangan begitu di larut malam.
"Kau pasti tidak bisa tidur." Ben menyimpulkan. Dia terlihat santai saja dengan sikap Bella. Sebab dirinya benar-benar tidak tertarik kepada wanita.
Ben sudah masuk ke dalam bath up berisikan air hangat. Letak bath up itu sendiri berada di teras belakang rumah.
"Apa kau akan terus menontoniku?" timpal Ben sembari mengangkat salah satu alisnya
Bella memutar bola mata malas. Ia akhirnya memilih kembali ke kamar. Namun sebelum itu, Bella sempat bertanya Ben mengenai suara langkah kaki tadi.
"Apa kau tadi memang berjalan bolak-balik di tangga? Itu kau bukan?" Bella memastikan.
"Ya." Ben lagi-lagi menjawab singkat. Dia sebenarnya ingin memberitahu kalau dirinya harus mengambil beberapa barang ke loteng. Tetapi Ben urung mengatakannya karena malas bicara panjang lebar.
...***...
Keesokan harinya, Bella bangun lebih dulu dibanding Ben. Setidaknya begitulah yang dia pikirkan. Tetapi ketika turun dari tangga, Bella melihat Ben sudah sibuk berada di dapur.
"Kau tidak tidur semalaman?" tanya Bella yang tiba-tiba cemas.
"Ya. Insomnia selalu menyerangku saat Lucky baru saja muncul. Tetapi tadi malam tidak separah biasanya," terang Ben. Dia terlihat sudah mengenakan setelan jas rapi. Bersiap untuk ke kantor sekaligus mengantar Bella.
"Kau tidak perlu mengantar, biar aku menyuruh Cecil atau Brian untuk menjemput." Bella sebenarnya tidak bersungguh-sungguh. Seperti perempuan pada umumnya, dia hanya bersikap jual mahal.
"Ah begitu," tanggap Ben tenang. Ia segera mengambil kunci mobil. Lalu pergi keluar dari rumah lebih dulu.
Kini Bella sudah terbiasa dengan sikap dingin Ben. Menurutnya dia harus melakukan sesuatu untuk menangani hal tersebut. Bella akan memikirkan cara sebelum sesi terapi Ben di mulai.
Wush!
Ben pergi begitu saja dengan mobilnya. Sedangkan Bella baru saja menghubungi Cecil melalui telepon rumah. Gadis itu tadi sempat melakukannya sebelum Ben pergi. Sekarang Bella duduk di teras untuk menanti kedatangan salah satu rekannya.
Selang lima belas menit berlalu, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Bella. Ternyata orang yang menjemput adalah Brian. Tanpa pikir panjang, Bella bergegas masuk ke mobil.
Kesibukan Bella terus berlanjut saat pulang ke rumah. Dia harus mengurus ayahnya serta bertanggung jawab dengan beberapa taman bunga milik tetangga.
Setelah memastikan David sarapan, Bella segera berganti baju. Ia mengenakan celana jeans selutut, lalu mengenakan kaos pendek berwarna hitam. Bella tidak lupa untuk mengenakan topi agar kepalanya bisa terlindung dari terik panas matahari.
Kebetulan Bella memulai perbaikan di taman rumah milik Mia. Dia menanam satu per satu bibit bunga. Bella sempat membelinya saat pulang bersama Brian tadi.
Perlu waktu satu jam untuk mengatur penanaman dengan rapi. Ketika segalanya sudah selesai untuk Bella. Saat itulah Mia keluar dan memeriksa.
"Kau kenapa menanam bunga mawar? Aku tidak terima! Cepat ganti bunganya. Bunga mawar berduri dan berbahaya!" ujar Mia sambil geleng-geleng kepala. Dia berlagak seperti majikan. Sementara Bella bak pelayan baginya.
Bella mendengus kasar. Meskipun begitu, dia mencoba bersabar menghadapi betapa cerewetnya Mia. Alhasil Bella melakukan apa yang disuruh oleh Mia.
..._____...
Catatan Kaki :
Insomnia : Kesulitan untuk tertidur atau tetap tertidur dan tidak merasa cukup beristirahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Rania Wardani
serem dah😱
2022-06-03
3
Wina Yuliani
bella menjadi dirimu sepertinya melelahkan,,, semangat belll💪💪💪
2022-04-12
2
friyana
momen dirumah horor paling seru.. lagi Thor...😘😘
2022-04-11
3