...༻✿༺...
Setelah mengetahui masalah yang harus diselesaikan, Bella segera bergerak. Dia tentu saja tidak sendiri. Cecil dan Brian selalu menemani.
"Aku sudah mencari tahu nama suami Emerald lewat data pribadi. Namanya adalah Alfred Winston. Aku dulu kagum dengannya. Tetapi setelah melihat kedoknya seperti apa, sudah tidak lagi." Brian memberitahu sembari berjalan kian mendekat.
"Jadi, apa rencana kita?" tanya Cecil. Dia menaikkan kacamatanya yang tidak sengaja merunduk ke bawah.
"Aku akan menemuinya secara pribadi. Kita ajak dia bicara baik-baik terlebih dahulu. Jika tidak bisa, barulah kita membuat rencana ekstrem." Bella melangkah memasuki kamar.
"Kenapa kita tidak langsung pakai rencana ekstrem saja. Orang jahat seperti Alfred tidak pantas dikasihani," ucap Brian. Dia menyilangkan tangan di depan dada. Memasang ekspresi wajah sinis.
"Bersabarlah, Brian. Bila kau ingin main hakim terus, lebih baik kau bergabung saja dengan komplotan penjahat di luar sana!" sahut Cecil. Dia memang sering melakukan adu mulut dengan Brian. Keduanya masih duduk di ruang tengah. Menunggu Bella yang tak kunjung keluar dari kamar.
"Kenapa kau selalu saja sinis, Cecil." Brian tidak habis pikir dengan perkataan Cecil.
Tidak lama kemudian, barulah Bella muncul dari kamar. Penampilannya membuat Brian dan Cecil terpana. Bagaimana tidak? Bella kali ini berdandan. Ia mengenakan kemeja cokelat dan rok ketat hitam selutut. Sementara rambut brunette-nya tergerai rapi melewati beberapa senti bagian pundak. Intinya Bella sangat cantik.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau tidak berdandan saat bekerja. Kecantikanmu itu pasti akan membuat para pasienmu tidak fokus. Honestly, kini aku mengkhawatirkan Alfred!" Brian dapat menggambarkan apa yang dilihatnya dengan kata-kata. Sebenarnya itu salah satu bakat terpendam Brian.
Plak!
Bella menepuk belakang kepala Brian. "Jangan berlebihan!" geramnya yang sama sekali tidak menganggap serius pujian Brian.
"Ouch!" Brian hanya bisa mengaduh sambil meringiskan wajah.
"Kali ini aku sependapat dengan Brian, Bella. Kecantikanmu memang tambah luar biasa saat berdandan," ujar Cecil. Senyuman tulus merekah diwajahnya.
"Oh my god, Cecil. Kau juga?" Pipi Bella memerah karena mendapat pujian dari dua rekannya.
"Kau jahat sekali, Bella. Kenapa pujian singkat Cecil diterima, sedangkan aku tidak?" protes Brian yang terdengar seakan merajuk.
"Brian, bisakah kita fokus? Kita harus secepatnya menyelesaikan masalah Emerald," tanggap Bella. Kedua tangannya mengulur ke depan.
"Oke, oke." Brian terpaksa setuju. Dia dan Cecil segera bersiap.
Membantu secara maksimal. Itulah alasan kenapa Red Rose dikenal sebagai psikiater hebat. Bella memang selalu bertindak berani. Tidak heran dia berusaha memilih pasien tertentu saja. Kebetulan Bella hanya menerima pasien yang memiliki masalah terberat. Jika masalah pasien cenderung ringan, Bella biasanya menyuruh pasien itu untuk berobat ke dokter lain. Hal tersebut juga sebagai tindak kepeduliannya terhadap rekan sesama dokter. Meskipun sukses, Bella tetap rendah hati.
Salah satu alasan dibalik keberanian Bella, itu karena dia menyukai yang namanya tantangan. Bella sangat suka pengalaman baru. Dia bahkan pernah beberapa kali menerima pasien yang berasal dari kalangan kriminal. Dari mulai penguntit sampai pembunuh.
Bella tidak pernah lupa mendokumentasikan proses terapi yang dia berikan. Itulah alasan kenapa dirinya harus memiliki Cecil dan Brian untuk menemani. Brian bertugas sebagai orang yang memantau rekaman tersembunyi, sedangkan Cecil mendapat bagian mencatat permasalahan pasien di buku jurnal.
...***...
Bella, Cecil dan Brian sedang dalam perjalanan menuju perusahaan Alfred. Kebetulan Emerald memberitahukan kalau suaminya akan memiliki istirahat saat tengah hari dan jam tujuh malam.
"Emerald memberitahu salah satu nama selingkuhan Alfred. Namanya adalah Helena Brown." Cecil berucap setelah membaca pesan dari Emerald.
"Baiklah." Bella merapikan rambut serta pakaian.
"Kau siap?" Brian memastikan.
"Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?" tanya Cecil yang cemas. Matanya mengedip pelan.
"Kalian selalu saja begini jika aku beraksi sendirian. Tenanglah, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kalian tahu aku juga jago berkelahi. Jika terjadi apa-apa, aku tinggal melemparkan tendanganku saja." Bella menatap Cecil dan Brian secara bergantian.
Brian dan Cecil lantas mengangguk setuju. Keduanya mempersilahkan Bella untuk beraksi. Gadis itu segera keluar dari mobil dan melenggang menuju perusahaan.
Sosok Bella langsung menarik banyak pasang mata. Kini Bella menyesal karena sudah berdandan. Mengenakan hodie dan celana jeans memang yang terbaik. Tetapi demi mengkondisikan tempat, Bella tentu tahu bagaimana pakaian yang pantas dan tidak. Dia tidak akan diperbolehkan masuk ke perusahaan jika hanya memakai pakaian sehari-hari.
Bella berhenti tepat di meja resepsionis. Dia meminta untuk bertemu dengan Alfred.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan Tuan Winston?" tanya resepsionis dengan nada ramah.
"Tentu saja. Bilang kepadanya kalau Helena Brown datang menemui," ujar Bella. Sang resepsionis mengangguk dan segera memberitahukan Alfred mengenai kedatangan Bella.
Benar saja, Alfred setuju untuk bertemu. Bella di suruh menunggu di ruang tunggu yang ada di depan kantor Alfred.
Tanpa pikir panjang, Bella langsung masuk ke dalam lift. Sesampainya di tempat tujuan, dia duduk di sofa ruang tunggu. Di sana Bella melihat ada seorang pria yang juga menunggu. Pria itu tampak sibuk membaca majalah. Kebetulan Bella sama sekali tidak tertarik untuk berinteraksi dengan pria tersebut.
Bella lebih memilih melihat-lihat keadaan sekitar. Dia memperhatikan perabotan yang ada. Sesekali Bella akan mengaitkan anak rambut ke daun telinga. Dia duduk dengan santai.
Akibat lama menunggu, Bella mulai menggedik-gedikkan salah satu kakinya. Mungkin itu salah satu cara dia untuk menghilangkan rasa bosan.
Kaki Bella memperdengarkan bunyi detak sepatu. Membuat pria yang duduk di depannya sontak menggerakkan bola mata. Pria itu menatap tajam ke arah Bella. Ia menurunkan majalahnya secara perlahan.
"So-sorry..." Bella yang mengerti segera menghentikan gedikan kakinya. Dia menunduk dan tersenyum kecut. Bella masih saja tidak memperhatikan sosok pria di hadapannya itu. Dirinya justru memilih memeriksa ponsel.
"Mr. Mayers!" Sekretaris Alfred berseru. Ia memanggil pria yang duduk menunggu bersama Bella. Saat itulah Bella memusatkan atensinya kepada pria tersebut. Mereka saling bertukar pandang tidak sampai satu detik.
Bella termangu. Dia merasa tidak asing dengan mata pria tadi. Bella yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Ia sangat ingat betul bentuk mata itu. Biru, tajam dan berkharisma. Bagaikan tatapan elang yang pasti akan mampu membuat banyak orang bertekuk lutut. Meskipun begitu, Bella juga bisa melihat adanya kerapuhan dan kesedihan. Setidaknya itulah yang dirasakan Bella ketika menatap mata pria tersebut.
"Tunggu!" tanpa sadar, Bella mencegat pergerakan pria yang dia ketahui memiliki nama belakang Mayers itu.
Mr. Mayers berbalik badan. Dahinya berkerut dalam. Ia tentu heran kenapa Bella tiba-tiba memanggil. Padahal sedari tadi gadis itu sama sekali tidak tertarik dengannya.
Bella reflek membulatkan mata. Dia tidak tahu harus berkata apa. Bella hanya ingin memastikan wajah pria yang membuatnya penasaran.
"Ti-tidak apa-apa. Aku melakukan kesalahan. Maaf!" Bella sedikit membungkukkan badan. Pernyataannya malah membuat Mr. Mayers tambah cemberut.
"Kau hanya membuang-buang waktuku!" ketus Mr. Mayers dingin. Mengharuskan Bella tercengang.
"Ternyata sikap pria itu tidak serupawan wajahnya," komentar Bella sambil geleng-geleng kepala. Dia lantas kembali duduk ke sofa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Anonymous
hnm...sambilan belajar cara kerja psikiiater
2022-07-15
0
Aisy Hilyah
tidak semua yang rupawan elok perangainya
2022-04-19
1
Wina Yuliani
kayaknya bella ketemu calon jodoh nich 😊
2022-04-12
1