...༻✿༺...
Bella sudah selesai mengganti bunga sesuai keinginan Mia. Tetapi tugasnya tidak sampai disitu. Ada sekitar tiga taman lagi yang harus diperbaiki oleh Bella.
Sebuah mobil terlihat berhenti. Bella yang merasa mengenal mobil itu, segera berdiri. Dia yakin yang datang pasti Justin.
Benar saja, Justin tampak keluar dari mobil. Dia hendak bicara dengan Bella.
"Tunggulah di rumah. Aku akan kembali secepatnya!" ujar Bella. Justin lantas mengangguk dan masuk ke rumah.
Akibat sudah ditunggu seseorang, Bella mempercepat pergerakannya. Dia selesai dalam waktu setengah jam lebih.
Bella masuk ke rumah dengan kulit dan pakaian kotor. Sebelum bicara dengan Justin, dia berniat membersihkan diri terlebih dahulu. Namun Justin tidak membiarkan. Lelaki itu tidak mau menunggu terlalu lama.
"Aku akan pergi, Bella. Jam penerbanganku satu jam lagi. Aku harus ke London," ungkap Justin dengan tatapan sendu. Dia sebenarnya sangat mencintai Bella. Itulah alasan kenapa Justin terus berusaha mempertahankan hubungannya.
Bella memasang raut wajah sedih. Ia mendadak merasa bersalah. Apalagi ketika mengingat insiden yang terjadi di apartemen.
"Maaf... untuk yang kemarin. Aku tidak bermaksud..." Bella terdiam saat Justin meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya. Lelaki itu tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Aku ke sini, hanya ingin bertemu denganmu. Sebelum aku benar-benar pergi," tutur Justin lembut.
"Kau pergi karena tugas dinas itu bukan? Berhati-hatilah di sana, oke?" sahut Bella. Memaksakan dirinya tersenyum. Ia sejujurnya merasa berat melepas kepergian sang kekasih. Terutama setelah penolakan yang dia berikan saat di apartemen.
"Tentu saja." Justin menjawab singkat.
"A-aku belum bisa menjelaskan alasannya. Aku hanya benar-benar belum siap untuk melakukan itu. Aku tahu kau sangat mengharapkannya, tapi--"
"Sudahlah, Bella. Aku tulus mencintaimu. Aku akan menunggu sampai kau siap." Justin sengaja memotong ucapan Bella. Lalu membawa gadis itu masuk ke dalam pelukan.
"Terima kasih. Aku juga mencintaimu..." balas Bella. Dia terenyuh.
Bella segera memberikan sebuah ciuman untuk Justin. Bibir keduanya memadu kasih dengan lembut. Mata mereka memejam rapat sejenak. Hingga keributan dari arah dapur harus menghentikan ciuman mereka.
Bella bergegas memeriksa dapur. Ia menemukan ayahnya memecahkan sebuah piring. Tanpa berpikir lama, Bella langsung turun tangan untuk membersihkan.
Justin tidak tinggal diam. Ketika Bella sibuk membersihkan pecahan piring, dia berinisiatif menenangkan David. Justin sudah lumayan sering membantu Bella mengurus David. Namun setelah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan, lelaki itu sudah jarang menemui David.
Setelah selesai membersihkan pecahan kaca, Bella membersihkan diri dan mengganti pakaian. Lalu duduk bersama Justin di ruang tamu.
"Bella, jika tidak sanggup. Sebaiknya kau biarkan David tinggal di panti jompo. Aku--"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan ayahku tinggal di sana!" tegas Bella. Dia sangat benci, saat ada seseorang yang mencoba menjauhkan David darinya. Hanya David satu-satunya keluarga yang Bella punya.
Justin mengangguk lemah. Kemudian pamit untuk pergi. Dia kembali mendekap Bella.
"Kau mau aku mengantarkanmu ke bandara?" tawar Bella. Dia mengedipkan mata dengan pelan.
"Tidak perlu. Kau harus menjaga David. Dia lebih membutuhkanmu dari pada aku." Justin mengukir senyuman simpul. Selanjutnya, dia beranjak dengan menggunakan mobil.
Justin tidak bisa melepaskan atensi dari sosok Bella. Bahkan ketika keberadaan Bella tertangkap kaca spion mobilnya. Meskipun begitu, Justin tetap menjalankan mobil dengan tenang, dan berhenti di sebuah hotel.
Corine terlihat sudah menunggu di loby. Gadis itu langsung berdiri kala melihat kedatangan Justin.
"Aku menunggumu hampir satu jam. Kau tahu itu?!" omel Corine. Dia membuang muka dengan perasaan sebal.
"Maaf. Kau tahu aku harus menemui pacarku terlebih dahulu, lagi pula kita tidak punya hubungan apapun." Justin mendengus kasar.
Corine mengalihkan pandangannya ke arah Justin. Kemudian menarik lelaki itu untuk ikut dengannya. Mereka pergi ke salah satu kamar yang sudah dipesan.
Justin dan Corine melakukan hubungan intim di kamar. Hubungan yang terjadi di antara keduanya hanya sebagai pelampiasan belaka. Setidaknya begitulah anggapan Justin.
Tetapi tidak untuk Corine. Dia benar-benar mencintai Justin. Corine memanfaatkan hasrat tak terwujud Justin untuk menjadi bahan pendekatan.
Kasur bergerak senada dengan pergerakan Justin. Suara lenguhan yang melambat, menandakan aktifitas intim sebentar lagi akan berakhir.
Justin langsung telentang dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal. Baik dia maupun Corine, sama-sama sedang telanjang bulat. Badan mereka tertutupi selimut tebal yang sudah tersedia di kamar hotel.
"Kenapa kau tidak kunjung memutuskan hubungan dengan Bella? Andai aku jadi kau, aku pasti sudah putuskan dia?..." tanya Corine sembari mengatur nafas yang masih memburu.
"Aku masih mencintainya. Dia satu-satunya perempuan yang membuatku tergila-gila. Kau tidak akan mengerti, Corine..." jelas Justin. Menyebabkan Corine meringis jijik. Dia sangat heran kenapa banyak lelaki yang menyukai Bella. Corine selalu iri dengan hal itu.
Jika Justin tergila-gila dengan Bella. Maka Corine justru tergila-gila dengan Justin. Kisah cinta mereka cukup rumit. Penuh gairah dan ke-egoisan.
"Ya, aku tidak mengerti!" balas Corine seraya merubah posisi menjadi duduk. Namun Justin langsung memeluk dari belakang. Tidak membiarkan Corine beranjak dari kasur.
"Aku belum selesai, Corine. Kau masih sanggup untuk melakukannya lagi bukan?" bisik Justin. Tangan nakalnya menjelajah liar setiap jengkal tubuh molek Corine.
"Tentu saja. Aku berharap penerbanganmu besok akan lancar," tanggap Corine. Dia dan Justin kembali bermain di atas ranjang.
Salah satu alasan Justin jarang menghubungi Bella, karena lelaki itu kadang terbuai dengan gairahnya bersama Corine. Hati Justin memang untuk Bella, namun tidak untuk tubuhnya.
Jika ditanya, mungkin Justin akan menyalahkan Bella. Sebab Bella-lah yang membuatnya harus berbuat begitu. Justin bahkan membohongi Bella mengenai jadwal penerbangan.
Keberangkatan pesawat Justin yang sebenarnya dijadwalkan besok pagi. Tetapi dia berbohong karena ingin menghabiskan waktu dengan Corine di hotel.
...***...
Di malam hari, Bella menyusuri jalanan sepi. Dia baru kembali dari toko roti. Bella memikirkan Justin. Dirinya merasa bersalah dengan sang kekasih.
Dari kejauhan, sebuah mobil tampak melaju ke arah Bella. Perasaan gugup sontak dirasakan Bella, karena mobil itu melaju sangat cepat.
Mata Bella terbelalak, tatkala mobil yang dilihatnya berhenti di hadapan. Sosok yang tidak asing keluar dari mobil. Yaitu Ben dengan pakaian yang dibalut jaket kulit hitam. Jelas dia adalah Lucky.
"Sial!" rutuk Bella. Dia mencoba melarikan diri. Akan tetapi Lucky sudah lebih dulu membekap mulut Bella dengan seutas kain.
Indera penciuman Bella dapat menghirup bau obat bius dengan jelas. Secara perlahan dia mulai kehilangan kesadaran. Saat itulah Lucky memasukkan Bella ke bagasi mobil. Lalu mengikatnya dengan tali tambang.
Lucky kembali melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Membawa Bella memasuki jalanan di daerah hutan yang lebat. Lucky kali ini tidak membawa Bella ke rumah sebelumnya, namun sebuah tempat yang lebih jauh.
Cuaca kebetulan sedang sangat dingin. Sebenarnya sebentar lagi musim dingin akan tiba. Mungkin akan terjadi dalam beberapa jam ke depan. Apalagi awan hitam putih tampak sudah mengepul menutupi bulan dan bintang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Juan Sastra
hah justin justin,,kw akan menangisi dan menyesali perbuatanmu jika di ketahui bella,, itu yg kw bilang cinta mu tulus...
2023-02-20
1
Elly Watty
apa q bilang, pria klw dah ON tp g bsa tersalurkan dia akan mncari pelampiasan dg cewek lain termasuk justin
2022-11-10
0
Anonymous
deg deg an
2022-07-16
0