...༻✿༺...
Bella sedang berkutat di depan cermin. Kebetulan dia mempersiapkan diri untuk berkencan bersama Justin. Bella mengenakan dress motif bunga berwarna merah maroon. Dia sengaja menggerai rambutnya agar terlihat semakin cantik.
"Tidak biasanya kau berdandan," tegur Cecil yang tengah mengamati dari depan pintu.
"Ini adalah salah satu syarat Justin. Dia ingin melihatku berdandan hari ini," jawab Bella yang telah selesai merias diri di depan cermin. Ia segera menyampirkan tas selempang. Lalu mengenakan sepatu.
"Bella, apa kau yakin Justin tidak memiliki hubungan apapun dengan Corine? Sebab aku sangat meragukannya. Bukankah akhir-akhir ini sikapnya dingin? Dia tiba-tiba perhatian denganmu lagi, karena melihat kau berdandan." Cecil berucap panjang lebar.
"Sudahlah, Corine. Ini adalah pilihanku. Aku akan mencoba mempercayai Justin," ujar Bella. Kemudian benar-benar pergi melewati pintu.
Bella pergi seorang diri. Di perjalanan dia menyempatkan waktu untuk menelepon Emilia. Emilia sendiri merupakan orang yang dibayar Bella untuk menjaga ayahnya.
"Bella, semua orang di sini marah kepadamu. Mereka menyebutmu tidak bertanggung jawab. Karena kau belum juga memperbaiki taman bunga milik para tetanggamu!" kata Emilia dari seberang telepon.
Bella menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa untuk memperbaiki taman bunga para tetangganya akibat terlalu sibuk.
"Sampaikan kepada Mia dan yang lain, kalau aku akan segera memperbaiki taman bunga mereka. Kemungkinan aku bisa melakukannya besok. Karena hari ini aku masih ada janji," ungkap Bella. Dia menatap ke kaca jendela. Kebetulan Bella sedang menaiki taksi. Gadis itu akan bertemu Justin di jalan trotoar.
"Cepatlah! Berhentilah bersikap seolah sedang sibuk. Semua orang tahu, bar milikmu sepi dari pelanggan." Emilia langsung mematikan panggilan telepon. Tanpa sempat mendengarkan penjelasan Bella seterusnya.
Bella menghela nafas panjang. Dia pasrah dengan anggapan semua orang terhadapnya. Bella juga mencoba untuk tidak peduli.
Selang sekian menit, tibalah Bella di tempat tujuan. Dia menyaksikan Justin sudah menunggu. Pria itu tampak menawan dalam balutan kemeja dan celana jeans.
Lambaian tangan dari Justin Bella terima. Ketika telah tiba di hadapan Justin, dia langsung mendapatkan sebuah kecupan singkat di bibir.
Bella terkesiap. Sebab biasanya dia yang meminta ciuman lebih dulu. Sekarang sepertinya Justin sudah mulai berubah. Jujur saja, Bella merasa senang bisa mendapat perhatian Justin kembali.
"Apa kegiatan pertama kita hari ini, Babe?" tanya Bella sembari melingkarkan tangan ke lengan Justin.
"Entahlah... aku hanya ingin jalan kaki di trotoar bersamamu. Persis seperti saat kuliah dahulu. Kau ingat bukan?" balas Justin. Senyuman merekah diwajahnya. Membuat Bella kian mengeratkan pegangan.
Bella dan Justin berjalan menyusuri jalanan trotoar bersama. Mereka menghabiskan waktu yang cukup menyenangkan. Apalagi saat mereka tiba di taman. Di sana keduanya menimkmati es krim bersama.
"Setelah sekian lama, baru kali ini aku merasa mempunyai seorang pacar," celetuk Bella.
Justin tergelak kecil. Lalu mencolek pipi Bella dengan es krim. Pipi Bella otomatis menjadi belepotan. Meskipun begitu, Bella justru tertawa dengan candaan kecil Justin.
Hingga tibalah momen Bella dan Justin bertukar pandang. Waktu seakan berhenti. Bella sangat suka mata Justin yang berwarna kecokelatan. Baginya tatapan Justin selalu meneduhkan.
Perlahan Justin mendekat karena berniat memberikan ciuman. Akan tetapi Bella langsung membuang muka. Dia terlalu malu melakukannya saat di depan umum.
"Aku belum menghabiskan es krimku." Bella memberikan alasan.
Justin lantas menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Lelaki itu melonggarkan kerah bajunya seolah kepanasan. Bola matanya terus melirik gerak-gerik Bella yang sudah asyik menikmati es krim.
"Bella, aku sudah terbukti tidak memiliki hubungan dengan Corine bukan? Kau harus penuhi janjimu." Justin menatap Bella dengan sudut matanya.
"Tentu saja. Bukankah aku sudah melakukan apa yang kau mau sekarang?" sahut Bella dengan ekspresi wajah cerianya.
Justin kembali terkekeh dan menyebut kata no. Dia memberitahu Bella bahwa apa yang dilakukannya sekarang bukanlah keinginan sebenarnya.
"Lalu?" Bella masih mengerutkan dahi. Benaknya bertanya-tanya. Namun Justin hanya tersenyum dan mengajak Bella untuk mengunjungi sebuah restoran.
"Aku akan mengatakannya setelah makan malam," ucap Justin seraya menggenggam erat jari-jemari Bella.
Di perjalanan, Justin singgah sebentar di toko perhiasan. Dia hendak membelikan sesuatu yang spesial untuk Bella.
"Apa kau akan melamarku?" goda Bella. Dia tidak berhenti tersenyum. Terutama saat harus bertukar pandang dengan kekasihnya.
Justin membelikan Bella sebuah kalung berbentuk mawar. Permata yang menghiasi mawar tersebut terlihat berwarna merah. Tanpa pikir panjang, Justin segera memasangkan kalung itu ke leher Bella.
"Kau menyukai mawar merah. Menurutku itu sangat cocok dengan dirimu, Babe. Cantik, berani, dan penuh cinta..." ungkap Justin. Dia baru selesai memasangkan kalung untuk Bella.
Sekali lagi perasaan Bella terasa melambung tinggi. Dia terus saja memperhatian kalung pemberian Justin. Akibat saking senangnya, sebuah pelukan langsung Bella berikan kepada Justin.
...***...
Kini Bella dan Justin tengah berada di restoran. Kebetulan Justin memilih restoran yang super mewah. Tempatnya bernama Foodton. Merupakan salah satu cabang restoran milik Ben Mayers. Perusahaan Ben sendiri merupakan bisnis yang bergelut dibidang produk makanan.
"Kau pasti menghabsikan banyak uang untuk datang ke sini," komentar Bella.
"Kau benar. Tetapi itu tidak masalah jika aku lakukan untukmu." Justin menjawab dengan tenang. Obrolan santai dilanjutkan sambil sesekali menyantap hidangan yang ada.
Pemusik terlihat baru saja datang. Musik jazz segera menggema memenuhi ruangan. Seorang wanita keturunan negro tampak sudah bernyanyi.
"Apa kau tahu? Kalau Ben Mayers menyuguhkan musik jazz di semua restoran miliknya?" imbuh Justin. Mata Bella sontak melebar penuh akan ketertarikan.
"Benarkah? Apa dia punya alasan tertentu?" tanya Bella.
"Entahlah. Tidak ada yang tahu. Jika ada pegawai yang mencoba merubah musik di restorannya, maka dia akan langsung memecat orang itu." Justin menjelaskan.
Bella tenggelam dalam pikiran. Dia mendadak tertarik untuk menanyakan sifat Ben lebih dalam kepada Justin.
"Bagaimana saat di perusahaan? Apa Ben pernah bersikap aneh?" Bella bertanya lagi.
"Sangat sering. Dia pernah marah besar saat rapat, lalu pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Terkadang Ben sangat perhatian dengan karyawannya, tetapi di suatu waktu dia berubah pikiran secara tiba-tiba." Justin bercerita panjang lebar. Dia memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Kau sudah selesai?" tanya-nya sembari memastikan Bella sudah menghabiskan makanan.
"Ya, ayo kita pulang." Bella yang mengerti langsung mengenakan tas. Dia dan Justin pulang bersama menggunakan kereta bawah tanah.
"Sekarang, aku akan mengatakan keinginanku yang sebenarnya." Justin menatap dalam manik biru milik Bella.
"Cepat beritahu aku!" desak Bella. Justin lalu berbisik ke telinganya. Senyuman yang tadi mengembang diwajah Bella perlahan memudar.
Justin mengajak Bella untuk menghabiskan waktu di apartemennya. Bella tidak punya pilihan selain setuju. Toh dia sudah terlanjur berjanji.
Sesampainya di apartemen, Justin langsung memojokkan Bella ke dinding. Perlakuannya membuat Bella kaget bukan kepalang. Gadis itu tidak menyangka Justin akan langsung memulai saat baru saja tiba di apartemen.
Perlahan Justin mulai mencumbu. Sedangkan Bella justru dirundung rasa tidak karuan. Apa lagi kekasihnya tidak mengawali sentuhan dengan lembut. Justin meliar, dan itu justru membuat Bella gemetar ketakutan.
Bella benar-benar tidak nyaman. Entah kenapa dia merasa seperti dilecehkan oleh kekasihnya sendiri. Di sisi lain, Bella juga sudah terlanjur setuju untuk melakukan.
"Justin, hentikan..." Bella mencoba menghentikan. Namun Justin masih saja sibuk menjamah setiap jengkal tubuhnya. Bahkan ketika Bella berusaha menghindar.
Peluh mulai menetes di beberapa titik tubuh Bella. Bukan karena terangsang, melainkan karena Bella merasa sangat ketakutan.
"Justin, hentikan!" Bella akhirnya menghentikan dengan kasar. Dia reflek mendorong Justin hingga jatuh menabrak perkakas barang yang menumpuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Juan Sastra
kayaknya justin sering main sama corine..maka ebsesinya sama bella sangat besar..iyakah thorr
2023-02-20
2
Aisy Hilyah
pemaksaan, lawan bellaaa kau pasti bisa
2022-04-29
0
Wina Yuliani
noooo bellla..... ayo kabur, kayaknya justin juga punya penyimpangan nih😱😱😱
2022-04-12
2