...༻✿༺...
Bella membekap mulutnya saat tidak sengaja mendorong Justin. Kekasihnya itu tampak kesakitan karena menabrak perkakas barang.
"Ada apa denganmu, Bella? Aku pikir kau sudah setuju untuk melakukannya!" cetus Justin sembari berdiri.
"Aku belum siap untuk..." Bella menjawab dengan nada bicara sumbang. Apalagi ketika Justin melangkah kian mendekat.
"Mau sampai kapan kau belum siap, hah?! Kau tahu? Aku sudah terlalu lama menunggu sampai kau bisa siap! Bayangkan, Bella! Dua tahun!" Justin membentuk angka dua dengan jarinya. Mengarahkannya tepat ke wajah Bella. Matanya menyalang hebat akibat amarah yang memuncak. "Dua tahun aku bersabar untukmu!!!" tambahnya. Memekik lantang.
"Aku punya alasan, oke?! Kau tidak bisa memaksaku jika aku tidak mau. Itu sama saja dengan tindak pelecehan!" balas Bella. Berusaha membela diri.
Justin memutar bola mata sebal. Dia menyeret Bella masuk lebih dalam ke apartemennya. Namun Bella menolak dan mengerahkan semua tenaga untuk lepas dari Justin.
"Bella! Apa-apaan kau!" tegur Justin yang masih mencengkeram erat lengan Bella. Dia kini beralih memegangi pundak Bella.
"Aku mencintaimu, Bella! Kau tahu itu bukan? Karena itulah aku berusaha bersabar untuk menunggumu! Jika kau punya alasan, tolong katakan kepadaku apa itu!" pungkas Justin. Sedikit mengguncang tubuh Bella.
"Aku tidak tahu. Aku hanya takut... mungkin hanya itu..." lirih Bella seraya menundukkan kepala.
"Takut? Kalau begitu, bagaimana kalau--"
Ponsel Bella tiba-tiba berdering. Bella lantas menggunakan kesempatan itu untuk lari dari pertanyaan Justin. Dia belum bisa menjelaskan alasan yang pasti.
Tanpa melihat nama yang ada di layar ponsel, Bella mengangkat panggilan telepon. Dia menyapa dengan ramah. Tetapi sosok yang menelepon justru menyambut dengan omelan mengerikan.
"Kemana kau, Dokter Red? Apa kau tahu berapa lama aku menunggumu?!!!" timpal lelaki yang menelepon. Dia tidak lain adalah Ben. Kebetulan Bella memilih tidak mendatangi rumah Ben. Karena gadis itu lebih memilih menghabiskan waktu dengan Justin.
Bella gelagapan. Apalagi kini Justin sibuk memperhatikannya. Bella otomatis tidak punya pilihan selain pergi meninggalkan apartemen Justin.
"Bella! Kau mau kemana?! What the..." Justin kaget saat menyaksikan Bella beranjak keluar dari apartemen. Dia berusaha mengejar, tetapi Bella sudah terlanjur jauh berlari.
Bella masih memposisikan ponsel di salah satu telinga. Jujur saja, Ben terdengar masih memarahi.
"Demi bicara denganmu, aku bahkan melewatkan pertemuan penting hari ini! Tapi kau mengabaikanku begitu saja... Aku tidak terima! Aaargghh!!!" Ben terdengar marah besar. Suara geramannya sukses memekak di telinga Bella. Hingga gadis itu harus menjauhkan ponsel dari kupingnya.
Bruk! Prang!
Terdengar suara barang-barang berjatuhan. Bella sontak merasa khawatir. 'Apakah Lucky akan muncul?' itulah dugaan yang terlintas dalam benak Bella.
"Ben, kumohon tenanglah... Aku akan secepatnya pergi ke sana. Oke? Jangan biarkan Lucky menguasai--"
"Halo, Dokter Red. Senang bisa bicara denganmu," ucap Ben. Nada bicaranya berubah drastis. Terdengar lebih ramah dan bersemangat dibanding dengan Ben yang asli.
Bella berhenti melangkah. Matanya terbelalak. Ucapannya harus terpotong. Meskipun begitu, Bella mencoba tetap tenang.
"Be-ben... kau kah itu?" Bella memastikan.
"Aku menunggumu, Dokter. Aku yakin kau lebih tertarik bertemu denganku dibandingkan dengan Ben. Bukankah begitu?..." Jelas kalau yang bicara adalah kepribadian lain Ben. Seperti yang diketahui, namanya adalah Lucky. Dia menambahkan tawa ambigu di akhir kalimat.
"I'm on my way!" Bella memutuskan pergi ke rumah Ben sendirian. Lagi pula menurut dugaannya, Lucky terdengar ramah dan baik. Bella merasa apa yang dikatakan Jimmy dan Ben, tidak sesuai dengan kenyataan. Setidaknya begitulah penilaian yang Bella berikan saat mendengar suara Lucky.
...***...
Bella pergi ke rumah Ben dengan menggunakan taksi. Setibanya di tempat tujuan, Bella tidak lupa membayar jasa taksi yang dinaikinya.
"Miss, apa kau yakin tempat tujuanmu ini?" tanya sopir taksi yang memiliki nama Tyler itu. Dia heran dengan rumah yang didatangi Bella sekarang. Tempatnya agak terpencil.
Rumah Ben memang tidak jauh dari kota. Namun lokasinya sendiri berada di dekat hutan yang cukup lebat. Membuat Tyler khawatir dengan penumpangnya.
"Emm..." Bella memastikan alamat yang dikirimkan Ben. Menurut Bella tidak ada yang salah. Kebetulan Bella sama sekali tidak merasa takut. Setidaknya itulah yang dirasakannya sekarang.
"Lihat! Ini alamat yang dikirimkan oleh temanku." Bella memperlihatkan alamat yang dikirimkan Ben kepada Tyler.
"Baiklah, Miss." Tyler mengangguk setuju. Alamat yang diberikan Ben memang tidak salah.
"Be careful..." ucap Tyler. Sebelum Bella sempat keluar dari taksi. Bella lantas membalas dengan ucapan terima kasih.
Kini Bella berderap ke depan pintu rumah Ben. Kemudian menekan bel beberapa kali.
Wush!
Taksi telah pergi. Entah kenapa suasana tiba-tiba terasa begitu mencekam. Apalagi waktu sekarang sudah menunjukkan jam 09.50 malam.
Suara binatang malam tak terdengar. Belum lagi keadaan rumah Ben yang kebetulan di apit hutan. Bella merasa aneh. Kenapa orang sekaya Ben mau tinggal di rumah yang sepi seperti itu?
Sudah lebih dari sepuluh kali Bella memencet bel. Akan tetapi Ben tidak kunjung membukakan pintu.
Bella celingak-celingukan ke jendela. Berharap bisa menyaksikan sosok Ben dari sana. Nihil, dia tidak menemukan siapa-siapa.
"Halo? Ben? Atau Lucky?" Bella mencoba memanggil. Namun tetap saja tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya. Entah kenapa Bella merasakan firasat tidak enak. Kemungkinan suasana sepi-lah yang membuat Bella agak menciut.
Untuk berjaga-jaga, Bella segera menghubungi Brian dan Cecil. Sayang seribu sayang, tidak ada sinyal sama sekali. Bella tidak bisa menghubungi kedua rekan kepercayaannya.
Bella memeluk tubuhnya sendiri. Kini dia paham kenapa sopir taksi tadi mencemaskannya. Setelah menilik lebih jauh, keadaan rumah Ben memang terlihat mengerikan. Rumahnya mewah dan besar, tetapi seakan tidak terawat. Persis seperti di film-film horor pada umumnya.
Perlahan Bella memutar tubuhnya menghadap jalan. Dia membatalkan niat untuk menemui Lucky. Bella tidak bisa menanggung resiko. Ia tidak bisa menerobos masuk begitu saja ke properti milik orang lain. Di Amerika, hal tersebut merupakan kejahatan besar. Hukum bahkan memperbolehkan pemilik rumah untuk menembak siapapun orang yang menyusup ke rumahnya.
Baru satu langkah, atensi Bella dialihkan oleh suara pintu yang berdecit. Dia berhenti melangkah. Lalu menoleh pelan ke belakang.
Bella melihat pintu sudah terbuka. Akan tetapi gadis itu tidak menemukan tuan rumah dimana-mana. Hanya ada suara semilir angin malam yang berdesir di telinga.
Dengan Berani, Bella berjalan ke depan pintu. Di sana dia dapat memperhatikan keadaan rumah Ben. Bella dapat menyimpulkan, tidak ada siapapun di rumah.
Bella mematung di dekat pintu. Dia enggan masuk lebih dalam karena merasakan suasana yang terasa aneh.
Saat Bella hendak berbalik. Barulah dia mendengar suara seseorang. Bella terkesiap.
"Masuklah, Dokter!" suruh pemilik suara tersebut. Bella yakin dia adalah Lucky. Sebab perbedaan intonasi bicaranya sangat mudah dibedakan dengan sosok Ben yang asli.
"Lucky? Kau dimana?" tanya Bella sembari menelan salivanya sendiri. Dia akhirnya melenggang memasuki rumah Ben. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Arien Nurmawati
dr rose terlalu pd atau bodoh sih? tahu suasana berbahaya tetap aja di datangi...
2022-11-30
0
Elly Watty
karena justin tdak mnyalurkan hasratnya pd bella maka dia akan lari ke corrine
2022-11-10
1
Aisy Hilyah
tegang
2022-04-29
1