Setelah mengunjungi Ronan dan melihat bagaimana keadaannya sekarang, Ravel mengajak Valexa keluar dan memasuki sebuah rungan lain yang ada di bangunan lain pula. Bangunan ini sama tingginya dengan tempat Ronan berada dan cenderung saling berhadapan. Ravel membuka pintu ruangan yang luasnya juga sama seperti luas kamar Ronan. Hanya saja, kamar ini sangatlah rapi, meski tak banyak dihiasi dengan hiasan. Di pinggir sudut ranjang, ada sebuah kanvas berukuran sedang, ditutup kain berwarna biru muda. Dilihat dari bentuknya, sepertinya itu adalah lukisan.
Setelah pintu kamar terbuka dan memastikan Valexa ikut masuk, perlahan, Ravel berjalan ke depan pintu koridor kamar. Pria tampan itu membukanya dan angin semilir langsung menerjang tubuh tingginya. Tiupan angin ini juga menerbangkan beberapa tirai yang ada di kamar. Sedangkan Valexa, hanya diam dan sibuk membenahi rambutnya karena tertiup angin. Gadis itu masih belum tahu siapa pemilik kamar ini, tapi ia menduga kalau kamar ini adalah kamar Ravel.
"Apa ini kamarmu?" tanya Valexa.
"Menurutmu?" Ravel berbalik badan dan malah balik bertanya pada Valexa.
Mata elangnya terus menatap wajah gadis yang sudah berhasil Ravel buat menjadi kekasihnya. Saat ini, matahari sudah tenggelam, tapi garis cakrawalanya masih terlihat dari koridor kamar tempat Ravel dan Valexa ini berada.
"Aku rasa ini memang kamarmu. Dilihat dari isinya, sangat cocok dengan kepribadianmu yang kalem. Aku suka tempat ini, pemandangannya sangat indah. Kau bisa melihat suasana menakjubkan dari tempat ini." Valexa berjalan dan berdiri di samping pacarnya sambil menikmati panorama alam yang sudah mulai berganti malam.
"Suatu hari nanti kamar ini juga akan jadi kamarmu." Ravel tersenyum dan beralih menatap para pelayan yang sejak tadi standby di dalam kamar. "Kalian semua, pergi dan siapkan makan malam untuk kami dan tinggalkan kami berdua di sini. Kalau kalian mendengar suara teriakan dari dalam kamar ini, kalian pura-pura saja tidak dengar," perintah Ravel terlalu ambigu pada semua pelayannya.
Para pelayan Ravel tak berkomentar apa-apa dan hanya membungkukkan badan tanda mengerti perintah tuan mudanya. Mereka semua berjalan mundur ke belakang sebelum akhirnya menghilang dari pandangan dan benar-benar meninggalkan Valexa bersama Ravel berduaan saja di dalam kamar.
"Apa maksud ucapanmu barusan?" tanya Valexa marah.
"Apalagi?" Ravel memamerkan senyuman manisnya. "Ada seorang pria dan wanita berduaan di dalam kamar, ranjang indah dan nyaman juga tersedia, malam sudah tiba dan nuansanya sangat cocok untuk beromantis ria. Menurutmu apa yang akan kita lakukan di sini selain menikmati malam indah berdua." Ravel mulai berjalan mendekat ke arah Valexa berdiri.
"Jangan mendekat dan diam disitu!" Sentak Valexa tapi Ravel terus saja melangkahkan kakinya dan terus mendekat. "Apa kau sudah sinting?" cetus Valexa lagi. Ia tahu kalau pria didepannya ini sengaja menggodanya.
"Sinting? Gilaa? Edaan? Nggak waras? Yah aku rasa aku memang mengalami gejala itu. Dan semuanya karena kau. Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau nggak suka aku?" ujar Ravel dengan tatapan mata setajam silet.
"Cepat antar aku pulang, masih banyak hal yang harus kulakukan." Valexa mencoba mengubah topik pembicaraan sebelum Ravel yang agak sarap itu ngelantur kemana-mana.
"Kau tidak asyik sekali. Kau sama sekali tidak grogi. harusnya kau gugup saat aku bilang aku sangat mencintaimu. Aku serius!"
"Sudah kubilang, aku datang kemari bukan untuk mendapat cintamu. Bagaimana bisa aku bermadu kasih denganmu sementara sahabat dekatku sedang dalam keadaan koma? Bahkan kapan ia sadarpun aku tidak tahu. Aku hanya ingin keadilan untuk sahabatku. Orang yang menyebabkan dia sekarat harus mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya."
"Kau pikir aku juga tidak demikian? Aku pun sama. Kau lihat kakakku? Dia gila! Karena luka dikepalanya. Sewaktu-waktu dia bisa mengancam keselamatan semua orang. Menurutmu aku akan berdiam diri saja di sini? Hampir sebulan aku stres memikirkan cara bagaimana menemukan orang yang sudah menyebabkan kakakku seperti ini. Tapi ... ketika melihatmu, hatiku merasa tenang, rasa benci dan dendam terasa biasa saja saat kau bersamaku.
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Valexa. Jika aku tak bertemu denganmu kala itu, mungkin aku sudah membunuh semua orang yang ada di kampus itu! Jika itu jadi kulakukan, entah apa yang terjadi sekarang. Satu-satunya hal yang bisa membuatku bersabar menemukan orang-orang jahat itu ... karena dirimu. Aku tak ingin kau malu memiliki kekasih sepertiku suatu hari nanti. Aku sangat bahagia ketika tahu kau datang ke kampus ini meski awalnya aku tak mengenalimu."
Hati Valexa langsung bergetar ketika Ravel mengatakan kalimat panjang lebar tentang ungkapan isi hatinya terhadap dirinya. Baru kali ini ada pria seaneh Ravel. Valexa hanya bisa tertegun tanpa tahu harus berkata apa.
Posisi mereka sekarang sama. Masalahnya adalah, Valexa masih belum tahu apakah ia punya perasaan sama seperti yang Ravel rasakan padanya. Gadis itu jadi galau sekarang, di sisi lain ia harus fokus balas dendam, di sisi lainnya lagi, ia tak bisa memutuskan tentang parasaannya sendiri.
Valexa butuh waktu, mungkin suatu hari nanti ia bisa mencintai Ravel, tapi tidak untuk saat ini. Yang harus mereka berdua lakukan adalah mencari dalang dibalik kasus penganiyaan kakak Ravel dan sahabat Valexa. Baru mereka bisa memikirkan perasaan mereka masing-masing.
"Setelah selesai makan malam. Antarkan aku pulang. Kalau kau tidak mau, aku akan pulang sendiri," ujarnya. Ia tak ingin terlalu larut dalam suasana.
"Sepertinya kau tidak bisa plang," ujar Ravel cepat.
"Kenapa?"
"Seperti yang aku bilang tadi ... kau harus menghabiskan malam indah ini bersamaku." Ravel menjelaskan tanpa ekspresi. Pria ini susah sekali ditebak karena suasana hatinya selalu saja berubah-ubah.
"Kau jangan gilaa! Apa kau pikir aku serendah itu! Jangan macam-macam denganku atau kau tanggung sendiri akibatnya."
"Siapa yang macam-macam, aku cuma satu macam aja, kok!" Ravel mulai mengurung tubuh Valexa di kedua lengannya.
"Jangan lupa, aku pemegang sabuk hitam." Valexa memperingatkan.
"Oh iya?"
Gadis itu hanya menatap Ravel dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Wajah tampan Ravel tampak serius dan sedikit menakutkan juga. Inilah sisi lain dari seorang Ravelo yang baru saja diperlihatkan pada Valexa.
"Ravel, dengarkan aku!"
"Oke aku dengar," ujar Ravel cepat.
"Jangan sela pembicaraanku!" bentak Valexa kesal. Lama-lama tuan muda gila ini bikin darting saja.
Valexa tak ingin buat onar di sini mengingat pengawal serta penjaga istana ini pasti sangar-sangar dan sangat kuat. Ia tak ingin menambah masalah atas aksi tuan mudanya yang gilaa ini walaupun gadis itu benar-benar ingin bikin bonyok muka tuan muda yang menurut Valexa rada sarap.
Ravel tersenyum, tapi ia malah semakin mendekatkan wajahnya ke depan wajah Valexa. Hidung mereka berdua bahkan saling bersentuhan.
"Oke, bicaralah, aku akan diam dan mendengarkan."
"Mundurlah, aku risih! Jangan sok romantis didepanku!"
"Kau mau bicara sambil rebahan di atas ranjang? Ayo!" Ravel langsung bersemangat dan menarik satu tangan Valexa tanpa izin untuk masuk ke dalam, tapi Valexa melawan dan mencoba memiting tangan Ravelo ke belakang.
Kali ini, pria tampan itu tidak mau mengalah seperti sebelumnya, ia membungkukkan badannya dan mendorong perut Valexa agar jatuh kepunggungnya lalu dengan gerakan cepat, Ravel berlari masuk ke dalam kamar sambil menggendong tubuh Valexa. Tanpa peringatan, ia merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur. Secepat kilat, Ravel menindih dan mengunci tubuh kekasihnya dengan tubuh Ravel sendiri. Tak lupa, ia juga mencengkeram kedua tangan Valexa kuat-kuat sehingga gadis itu tak bisa berkutik lagi.
"Aku lupa memberitahumu, aku juga pemegang sabuk hitam." Ravel menyeringai senang di atas tubuh wanita pujaan hatinya.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
kampret....hayu...klu ada ruang dimensi bisa sembunyi..
2024-12-23
0
Zanzan
aku pemegang kolor suamiku🤣🤣🤣🤣
2023-12-22
1
Χιαα.
aku pemegang sabuk kuning :))))
2023-09-21
0