Hukuman yang diberikan Mr. Morgan kepada Valexa dan Ravelo terbilang cukup berat. Jangankan 20 kali putaran, setengah putaran saja, sudah bisa dipastikan Valexa bakal pingsan mengingat seperti apa penampilan Valexa yang sangat biasa dan kampungan. Sama sekali tidak ada jiwa atletnya. Kalau soal Ravelo sih tidak masalah, karena ia adalah salah satu atlet olah raga yang juga jago sekali bermain basket. Ditambah lagi, Ravelo memang suka sekali lari. Makanya tubuhnya bisa tinggi setinggi tiang listrik.
Universitas Rejasa adalah salah satu universitas terluas di negara ini. Hukuman yang diberikan kepada Valexa sangatlah berat, tapi sang dosen masih mengizinkan mereka beristirahat untuk makan ataupun minum dan mengambil napas untuk melanjutkan lari mereka lagi sampai 20 kali putaran. Belum pernah seorangpun berhasil menjalani hukuman ini. Seperti yang dikatakan Nadin, baru setengah putaran saja, pasti pingsan.
Walau Nadin serasa terbakar api cemburu saat pria yang ia idolakan membela musuhnya, setelah mendengar hukuman dari sang dosen, amarah gadis sombong itupun mereda. Ia yakin Valexa takkan kuat menjalani hukuman ini dan seketika ide licik mulai keluar dari dalam otak jahatnya. Begitu Mr. Morgan keluar kelas untuk menyiapkan hukuman untuk kedua mahasiswa yang mengacau dikelasnya, Nadin mulai memprovokasi seluruh teman-teman sekelas dan mengadakan taruhan.
"Gaes, ada yang berani taruhan denganku?" seru Nadin dengan lantang.
"Apaan?" tanya salah satu teman sekelasnya mulai tertarik.
"Berapa putaran gadis kampungan itu bisa bertahan?" seru Nadin lagi sambil tersenyum licik.
"3 putaran!" teriak Danil sok kepedean sambil melempar uang ratusan ribu di atas meja, tepat dihadapan Nadin yang tersenyum sinis menatap Valexa.
"2 putaran!" teriak Meta melakukan hal sama seperti yang dilakukan Danil, tapi jumlah uang yang ia taruh jauh lebih besar.
"1 putaran! Si kudet itu bakalan pingsan, hahahaha!" teriak Lesti sengaja sambil melempar uang. Ia sengaja meledek Valexa yang berdiri diambang pintu bersama dengan Ravelo. Keduanya sedang menunggu arahan dosen Morgan.
"Bagaimana denganmu, Nad?" tanya Meta. Semua teman-temannya banyak yang bertaruh. Uang taruhan pun langsung memenuhi seisi meja karena mereka semua sangat suka taruhan.
"Setengah putaran. Si berengsek itu tidak akan bertahan lama," ujar Nadin sok Yakin. Ia mengeluarkan seluruh uang yang ia punya sebagai penutup taruhan dan semakin bisinglah ruang kelas mereka karena penuh dengan sorak sorai penghuninya. Apalagi nominal uang yang dikeluarkan Nadin tidaklah sedikit. Dasar orang kaya songongnya nggak ketulungan.
Sedangkan Ravelo, ia tak peduli pada hingar bingar teman-temannya yang memasang uang taruhan untuk Valexa. Ia fokus menatap gadis tangguh yang berdiri didepannya. Valexa tampak terlihat shock ketika hukuman yang akan ia jalani ini dijadikan taruhan olah kumpulan para orang-orang tak punya hati dan perasaan.
Valexa setengah tak percaya, jiwa sosialitas dan moral orang-orang di kelas ini benar-benar nol dan kosong. Percuma punya harta berlimpah ruah, tapi mereka tak pantas disebut sebagai manusia. Hati dan pikiran mereka hanya dibutakan oleh materi duniawi saja. Entah bagaimana pendidikan yang mereka jalani selama ini. Yang jelas sisi manusiawi mereka telah sirna, hilang entah kemana.
"Mulutmu bisa kemasukan lalat kalau kau terus menganga seperti itu?" Ravelo tersenyum sambil membantu mengatupkan dagu Valexa. Sontak saja mahasiswi baru itu menepis kasar tangan Ravelo yang menyentuhnya tanpa izin.
"Jaga sikapmu!" cetus Valexa galak dan hanya disambut senyum oleh sang idola kampus.
Meskipun penampilan mahasiswi baru itu culun dan kampungan, dimata Ravelo, Valexa adalah gadis manis apalagi kalau sedang marah.
"Kau jutek juga!" komentar sang pangeran kampus sengaja menggoda Valexa.
"Kau tak terkejut dengan apa yang mereka semua lakukan?" Valexa mengalihkan pembicaraan. "Apa kalian sudah biasa melakukan hal itu? Termasuk kau? Menjadikan hukuman orang lain sebagai taruhan? Apa ini lucu buat mereka?" Mata Valexa menatap tajam pria tampan didepannya.
"Terkejut, tapi aku harus apa? Itu hak mereka." Ravelo terlihat santai. Ucapannya sama sekali tak menunjukkan kalau ia terkejut.
Tak bisa berkata-kata lagi, Valexa memutuskan untuk pergi meninggalkan semua orang yang menurutnya gila. Namun, satu lengannya langsung dicekal kuat oleh Ravel sehingga Valexa berhenti melangkah.
"Lepaskan tanganku!" cetus Valexa marah.
"Jangan pergi! Jika tidak ... hukuman kita akan semakin bertambah. Mr. Morgan sedang menyiapkan cctv untuk memantau hukuman kita. Tunggu saja di sini, beliau akan memberikan aba-aba kapan kita harus berlari bersama keliling kampus 20 kali putaran." Ravelo tersenyum seolah hukuman tersebut sangat ringan baginya.
Yaiyalah, sebab, sang pangeran kampus ini selalu rutin lari pagi mengelilingi kampus setiap hari. Hukuman lari tidak akan menyulitkan dirinya karena ia sudah terbiasa berolahraga. Valexa menarik paksa tangannya yang dicekal kuat oleh Ravel.
Pria ini menyebalkan sekali, disaat seperti ini ia masih bisa tersenyum? Ada apa dengan kampus ini? Kenapa penghuninya pada gila dan tak berakhlak semua? batin Valexa. Namun, sekali lagi ia harus bersabar lebih banyak dari ini.
Tak berselang lama, sebuah pengumuman melalui pengeras suara terdengar menggema menghiasi seluruh kampus yang isinya memanggil nama Valexa dan Ravelo untuk segera menuju halaman utama fakultas Bahasa. Dari situlah mereka berdua harus memulai hukuman yang diberikan oleh Mr. Morgan.
Baik Valexa maupun Ravelo, sama-sama berjalan menuju lokasi hukuman mereka akan dimulai. Seluruh mata, memandang aneh pada Valexa, tapi tidak untuk Ravelo. Setiap gerak gerik sang pangeran kampus membuat para kaum hawa langsung berteriak histeris saat melihat pengeran mereka melintas. Ravelpun melambaikan tangan mereka untuk menyapa para penggemarnya dan hal itu membuat Valexa jadi keki sendiri.
"Dasar sok ngartis!" gumam Valexa pelan saat berjalan di samping Ravelo yang tebar pesona dimana-mana.
"Aku memang artis top di kampus ini? Kau baru tahu? Apa kau mau daftar jadi penggemarku? Aku akan jadikan kau fans eksklusifku," tawar Ravelo disela-sela tebar pesona pada penggemarnya.
"Tidak terimakasih," jawab Valexa cepat dan berjalan mendahului orang yang menurutnya tidak waras itu.
Kini, keduanya sudah ada di tengah lapangan gedung utama Fakultas Bahasa di mana seluruh mahasiswa di fakultas tersebut bisa melihat Ravelo dan Valexa dari segala penjuru arah. Sepertinya kabar hukuman yang akan dijalani sang idola kampus telah menyeruak sehingga mereka semua berbondong-bondong datang ke gedung utama untuk melihat aksi idola mereka berlari keliling kampus. Ravelo melakukan sedikit pemanasan untuk melemaskan otot-otot kakinya, sedangkan Valexa hanya berdiri diam saja memandang lurus ke depan.
Beberapa teriakan penyemangat terdengar kencang untuk menyemangati pangeran kampus mereka, tapi cacian dan hinaan langsung dilontarkan pada Valexa. Gadis itu hanya bisa menutup mata dan telinga sambil menahan sabar agar ia tak sampai hilang kendali. Kedua tangan gadis culun itu bahkan mengepal kuat saking emosinya. Mereka semua benar-benar keterlaluan, hukuman yang dijalani Valexa, seolah menjadi pertunjukan hiburan tersendiri bagi seluruh mahasiswa di kampus elit ini. Benar-benar tidak punya hati.
"Sebenarnya ... berapa luas area kampus ini?" tanya Valexa tanpa menoleh pada pria yang ada disampingnya.
"Kenapa? Kau takut pingsan?" tanya Ravelo sedikit meledek juga.
"Jawab saja pertanyaanku." Valexa tetap bersikap jutek pada sang idola kampus.
Tak seperti wanita lainnya yang selalu histeris bila melihat Ravelo meskipun dari jarak jauh, Valexa tetap bersikap biasa pada pria tampan ini. Padahal, dirinya berada dekat dengan sang pujaan hati semua wanita yang ada di sini.
"Kalau aku jadi kau, aku pasti akan memeluk pria tampan yang berdiri disebelahmu sekarang." Ravelo benar-benar menggoda Valexa, tapi sayangnya gadis yang digoda tidak mempan.
"Kau belum jawab pertanyaanku," cetus Valexa mulai kesal. Ia bahkan tak mau melihat orang yang mencoba merayunya.
"Tak terhingga! 20 kali putaran artinya kita harus berlari 3 hari 3 malam."
Entah apa yang dikatakan Ravelo ini benar atau tidak, yang jelas Valexa langsung terdiam. Gadis itu terus memejamkan mata dan hal itu membuat Ravelo semakin tertarik pada wanita culun yang ada disampingnya. Valexa terlihat sangat manis sekali kalau sedang mencoba berkonsentrasi meski Ravel tidak tahu apa alasan Valexa bersikap seperti itu.
Setahunya, lari tak butuh semedi. Hanya fokus pada kekuatan kaki dan menguasai teknik pengaturan napas. Yang dilakukan Valexa membuat Ravelo jadi senyam-senyum sendiri. Mereka sedang tidak pergi berperang, melainkan berlari.
"Jadilah pacarku! Dengan begitu, aku takkan membiarkanmu pingsan. Mereka yang memasang taruhan untukmu, akan kalah! Aku akan membantumu menyelesaikan hukuman ini bagaimanapun caranya. Tapi syaratnya ... kau harus jadi pacarku," tawar Ravelo tiba-tiba dan langsung membuat Valexa terkejut hingga menatapnya tajam.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
kampus gila..
heh penasaran juga dg si pangeran kampus apa tujuan nya ya..
2024-12-23
0
Ricka Monika
gak mahasiswi gak dosen sm sm gila
2024-12-22
0
Hasnah Siti
langsung tebarkan pesonanya...🙈
2022-09-02
0