Rasa terkejut menyerang Valexa ketika pria tampan didepannya ini menyebut nama 'Shakila'. Nama itu jelas tidak asing lagi ditelinga Valexa. Sebab, nama itulah alasan utama Valexa datang ke kampus ini demi mencapai tujuannya. Harusnya, tak ada yang boleh tahu kalau nama yang disebutkan Ravel ada sangkut pautnya dengan Valexa. Namun jika Ravel mengetahui hubungan antara dia dan Shakila, pasti Ravel juga bukan orang biasa. Dia patut diperhitungkan juga.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Ravel yang berdiri tegap menatapnya. Ekspresi sang pangeran kampus tampak tenang dan mata elangnya juga terus menatap lembut Valexa. Sementara para bodyguard gadis itu juga tatap berdiri mengelilingi mereka berdua untuk berjaga-jaga dan mengantisipasi segala kemungkin yang terjadi, apapun itu.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Valexa saat ia berdiri tepat dihadapan Ravel.
"Berjanjilah kau bersedia pacaran denganku, maka aku akan memberitahumu, bagaiaman aku bisa tahu kau ada hubungannya dengan Shakila."
"Aku datang kemari bukan untuk mencari pacar atau menjadi pacar siapapun, aku datang untuk membalas dendam atas perbuatan para penjahat yang sudah membuat sahabatku sekarat!" cetus Valexa menahan geram. Sepertinya, ia sudah tak perlu menutupi apapun dari pria tampan ini. Dadanay sersa mendidih ketika nama Shakila, sahabat Valexa, disebutkan di kampus ini
"Akupun juga melakukan hal sama!" Ravel bicara tak kalah geram dari Valexa dan untuk keseksian kalinya, gadis itu kembali terkejut.
"Apa hubungan Shakila denganmu? Apa ... kau kekasihnya?" tanya Valexa penasaran.
Ravel tersenyum. "Kenapa? Kau cemburu?"
"Huh, sebaliknya, aku ingin sekali mematahkan tulangmu! Pacar macam apa kau? Membiarkan wanitamu diperlakukan buruk seperti itu? Sedangkan kau ..."
"Bukan ... aku bukan pacarnya! Sungguh!" Ravel memotong kata-kata Valexa sebelum gadis itu lebih emosi lagi padanya sambil mengangkat satu tangannya dengan jari membentuk huruf V. "KAku akan memeritau segalanya supaya bisa kau jadikan petunjuk, tapi dengan syarat kau harsu pacaran dulu denganku. Percayalah, ini demi kebaikanmu juga!"
"Apa?" Valexa berdecak kesal. Pria menyebalkan ini benar-benar membuatnya darah tinggi.
"Aku sungguh jatuh cinta padamu," aku Ravel untuk meyakinkan Valexa. "Bukan karena kau ternyata adalah seorang nona muda yang menyamar sebagai wanita culun dan kampungan, tapi karena aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu di bandara kala itu. Entah ini kebetulan atau tidak, kita punya misi sama demi orang yang berbeda. Kau tahu kenapa? Karena Shakila, ada hubungannya dengan ... orang yang aku kenal." nada suara Ravel bergetar seolah ada yang ia tahan. Entah penglihatan Valexa ini benar atau tidak, Ravel seolah terlihat berkaca-kaca.
"Kau menangis?" tanya Valexa. Seorang Ravelo yang terkenal cool dan charming, rupanya bisa cengeng juga.
"Tidak, aku hanya kelilipan," sanggah Ravel sambil mengusap bulir air matanya sebelum sempat jatuh membasahi pipi. Suasana yang tadinya tegang, kini sudah mencair. Valexa jadi merasa lucu melihat Ravel bertingkah seperti itu.
Terang saja Valexa tidak percaya dengan sanggahan Ravel dan terus menatap wajah si pangeran kampus. Pria itupun membelakangi tatapan wanita pujaannya agar tak bisa melihat wajahnya lagi. Namun Valexa tak ingin melewatkan kesempatan ini, ia mengikuti kemanapun Ravel mencoba berpaling darinya. Kapan lagi bisa melihat pria yang dijuluki sebagai pangeran kampus ini menangis. Itu merupakan hiburan tersendiri bagi Valexa ditengah masalah yang sedang ia hadapi sekarang.
"Berhenti menatapku!" seru Ravel karena Valexa terus saja menatapnya.
"Aku penasaran, siapa orang yang bisa membuatmu menangis begitu."
"Sudah kubilang aku tidak menangis," sanggahnya.
"Beritahu aku siapa orang itu? Pacarmu?" tebak Valexa.
"Kaulah pacarku satu-satunya," ujar Ravel cepat.
"Aku belum setuju jadi pacarmu."
"Makanya kau harus menyetujuinya. Kalu kau ingin tahu, jadilah pacarku sekarang dan untuk selamanya sampai nanti kita menikah," tandas Ravel seperti anak kecil yang minta dibelikan permen dan wajib dituruti."
"Astaga aku bisa gila melihat orang ini," gumam Valexa agak lucu juga melihat Ravel ngambek. Gadis itu menghela napas panjang menahan sabar. "Kenapa harus jadi pacarmu untuk tahu siapa orang yang berhubungan dengan Shakila? Apa tidak ada syarat lain?"
"Tidak ada, cuma itu syaratnya. Kalau kau bersikukuh tidak mau jadi pacarku maka jangan harap kau tahu siapa orang yang ada hubungannya dengan Shakila serta misteri siapa yang sudah membuat temanmu itu menderita." mulut Ravel manyun dan cemberut akut dengan Valexa yang tak kunjung menerima cintanya.
"Jangankan mencintaimu, aku sama sekali tidak menyukaimu. Kau bukan tipe pria idamanku meskipun kau tampan dan tinggi dan jadi idola seluruh wanita di kampus ini. Bagaimana bisa kau memaksaku menjadi pacarmu? Dasar gilaa!"
"Aku tidak peduli, oke anggap saja aku tergila-gila padamu. Aku tahu kau jomblo dan belum punya pacar. Karena itulah aku memaksamu menjadi pacarku. Cinta bisa dipupuk dan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, aku yakin kau pasti jatuh cinta padaku," tandas Ravel dengan keyakinan penuh.
"Dasar sok kepedean."
"Aku optimis kau akan mencintaiku suatu hari nanti. Sebab aku merasa, kaulah tulang rusukku." Ravel malah ngelantur kemana-mana.
"Haaa sudahlah, kau semakin membuatku pusing saja. Terserah apa katamulah, sekarang beritahu aku siapa orang yang ada hubungannya dengan Syakila, di mana orang itu sekarang?" tanya Valexa sudah tidak sabar.
"Benarkah?" Ravel malah balik bertanya dan ia terlihat sangat senang. "Kau mau jadi pacarku? Sungguh? Kita beneran pacaran sekarang?" pekik pria tampan itu antara percaya dan tidak percaya. Akhirnya, Valexa bersedia juga jadi pacarnya.
"Iya," jawab Valexa ketus tanpa ekspresi.
Ravel sangat senang dan ia hendak memeluk Valexa, tapi tubuhnya langsung didorong kuat oleh gadis yang baru saja berhasil dipaksa jadi pacarnya.
"Eits, mau apa kau! Jangan coba-coba menyentuhku!" ancam Valexa memberi peringatakan keras.
"Aku hanya ingin memelukmu, aku terlalu bahagia. Masa tidak boleh." wajah Ravel manyun lagi.
"Enak saja, meski aku bersedia jadi pacarmu bukan berarti kau bisa menyentuhku tanpa izin! Aku tidak punya banyak waktu di sini, cepat beritahu aku siapa orang itu?" desak Valexa.
"Ya sudahlah kalau begitu, ayo ikut aku," ajak Ravel pasrah. Setidaknya, ia sudah berhasil mendapatkan Valexa. Tinggal membuat gadis itu jatuh cinta padanya.
"Ke mana?" tanya Valexa.
"Menemui orang yang membuatmu penasaran sekaligus orang yang membuatku punya misi sama sepertimu. Tapi ... hanya kita berdua saja, pasukanmu, tidak boleh ikut," jelas Ravel.
"Kenapa?"
"Nanti kau bakal tahu sendiri," ujarnya.
"Kau tahu siapa aku sebenarnya? Latar belakang keluargaku dan sebagainya?"
"Tidak, aku hanya tahu kau adalah mahasiswi Oxford karena aku sempat melihat kartu identitasmu waktu itu. Selebihnya, aku tidak tahu apapun. Aku bahkan terkejut kau punya banyak sekali bodyguard dan ternyata kau adala seorang nona muda entah dari keluarga yang mana. Yang jelas, keluargamu pasti bukan orang sembarangan. Dan hilangnya Thomas serta anak buahnya, pasti karena ulah para pasukanmu ini. Cuma itu yang aku tahu tentangmu sekarang. Aku tidak tahu lebih dari ini dan juga tak ingin tahu. Bagiku, asal bisa bersamamu itu sudah lebih dari cukup." Mata elang Ravel kembali emnatap Valexa sehingga gadis itu jadi merasa aneh sendiri.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
pinisirin ini...
2024-12-23
0
Rara_Octa
sptiny Morgan SiDosen Killer pelakunya,,dibantu oleh Antek² Nadin and the Gank sbgai saranany 🤔🤔🤔
2023-09-21
0
Hasanah Purwokerto
val & vel lucu,, karakternya kebalik... 😂😂😂😂
2022-07-02
0