Hati Ravel sama sekali tidak tenang saat meninggalkan Valexa sendirian bersama Nadin. Setiap kali, ia menatap layar ponselnya sambil berlari cepat menuju ruang rektor. Pria tampan itu berharap Valexa segera menghubunginya bila ada sesuatu yang tidak beres. Sayangnya ia tak mendapat kabar apapun dari Valexa hingga detik ini. Meski begitu, Ravelo merasa was-was sendiri.
Sesampainya di ruang rektor, Ravel melihat pamannya itu sedang duduk di depan meja kerjanya dan agak terkejut ketika keponakannya secara tiba-tiba datang menemuinya. Yang lebih mengejutkan lagi, wajah Ravel tampak cemas dan tegang.
"Ada apa dengan wajahmu, Ravel? Kenapa kau kemari tanpa memberitahuku?" tanya paman Ravel yang bernama Ricson Aghasi, adik kandung dari ayah Ravelo.
"Nadin bilang, Paman mencariku dan ingin bertemu denganku," terang Ravel setengah terkejut karena pamannya tak tampak ingin bertemu dengannya. Pikiran cowok itu sudah kemana-mana dan ia punya firasat buruk soal ini.
"Nadin?" Ricson bingung sambil berpikir. Ia merasa tak mengatakan apapun pada Nadin soal Ravel. Apalagi memintanya menyampaikan pesan pada Ravel untuk datang kemari. " Sepertinya, ada yang salah di sini. Kalau aku ingin menemuimu, aku bisa menghubungimu sendiri, kenapa harus melalui Nadin?" tanya Ricson.
Mata Ravelo terpejam dan kedua tangannya mengepal kuat. "Sial!" geram Ravel langsung balik badan berlari pergi meninggalkan ruangan rektor tanpa pamit.
Tentu saja paman Ravel jadi bingung sendiri, ia sungguh tak tahu apa-apa. Sebagai rektor, Ricson tak ingin ikut campur urusan keponakannya kecuali jika Ravel memang meminta bantuannya. Sejauh ini, setiap kali Ravel sedang dalam masalah, ia selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa perlu bantuan dari siapapun. Ricson memang sengaja membiarkan Ravel berkembang sendiri tanpa harus bergantung pada nama besar keluarganya.
Di kampus, Ravel adalah mahasiswanya yang terpilih sebagai salah satu mahasiswa teladan berkat kemampuannya sendiri. Tapi di rumah, Ricson adalah paman Ravel yang selalu mendukung Ravel dalam hal apapun. Tanpa menaruh curiga, sang rektor hanya menggelengkan kepalanya dan menganggap apa yang dialami Ravel sekarang hanya persolaan anak muda zaman now.
"Anak muda zaman sekarang memang bikin puyeng kepala," gumam Ricson setelah Ravelo menghilang dari hadapannya. Ia pun kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
"Ini jebakan," geram Ravel sambil terus berlari sekencang-kencangnya menuju tempat ia meninggalkan Valexa.
Pria itu mencoba menghubungi wanita yang baru saja dipacarinya lewat panggilan telepon tapi hasilnya nihil. Hal itu karena ponsel Valexa telah hilang entah ke mana begitupula dengan pemiliknya. Ravel jadi semakin mencemaskan keadaan Valexa saat ini.
Kecemasan Ravel semakin memuncak kala melihat area yang ia tinggalkan sebelumnya telah kosong dan tak ada seorangpun disekitar sini. Cowok itu mencoba berkeliling sambil memanggil-manggil nama Valexa, tapi ia tak juga menemukannya. Ravel tidak ingin menyerah begitu saja, ia terus menghubungi Valexa melalui sambungan telepon sampai ia mendengar suara yang berasal dari nada dering ponsel Valexa. Rupanya, ponsel tersebut ada di sebuah tepian danau tak jauh dari lokasi Ravel berada sekarang.
Mendengar nada dering ponsel Valexa saat menerima panggilan, membuat Ravelo dengan cepat menemukan ponsel itu. Ia langsung memungutnya dan semakin buruklah suasana hati Ravel melihat ponsel itu tiba-tiba ada di tempat ini. Pasti sesuatu yang buruk telah terjadi pada Valexa dan ini semua adalah ulah si ketua geng pembully. Ravel mencoba mengotak atik ponsel kekasihnya, tapi ia tak menemukan petunjuk apapun dari ponsel tersebut.
"Naaadinnn, apa yang kau lakukan pada Valexaku!" geram Ravel dan iapun bergegas kembali ke gedung utama untuk mencari Nadin and the gengnya.
***
Di ruang kelas, Nadin membaur dengan semua teman-temannya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Mereka semua sedang menunggu kedatangan dosen untuk mata kuliah selanjutnya. Namun, Ravel tiba-tiba saja datang dan berteriak marah pada Nadin.
Kilatan mata Ravel terlihat sangat menakutkan sehingga orang-orang di dalam kelas ikutan takut juga saat Ravel melintasi mereka. Baru kali ini mereka melihat Ravel semarah ini apalagi pada seorang Nadin. Sebelumnya, Ravel dikenal sebagai pribadi yang kalem dan bikin adem kala melihat pesonanya, tapi tidak untuk kali ini.
"Naadinnn!" teriak Ravelo menggelegar. Suaranya sampai terdengar menggema memenuhi ruang kelas. Derap langkah kakinya berjalan cepat menuju tempat Nadin duduk bersama dengan teman-temanya yang lain.
Brak!
Ravel menggebrak meja tepat dihadapan Nadin dan seluruh gengnya sehingga mereka semua kaget dan terkejut bukan kepalang. Untung mereka tidak jantungan. Ternyata, Ravel kalau marah benar-benar menyeramkan.
"Di mana Valexa?" tanyanya to the poin tanpa basa-basi lagi. Kilatan api kemarahannya terpancar jelas di wajah Ravel. Meski begitu, katampanan Ravel sama sekali tidak berkurang.
"Mana aku tahu? Memang aku babysitternya apa?" cetus Nadin bersikap sok biasa, padahal ia juga ciut kalau Ravel marah seperti itu.
"Jangan bikin aku semakin marah padamu! Kau sengaja kan? Menjauhkanku dari Valexa supaya kau bisa mencelakainya?" tuduhan Ravel memang sangat tepat. Itu memang sudah jadi akal bulus si ketua geng pembully ini. "Katakan padaku di mana dia sekarang!" bentak Ravel sudah tidak bisa menahan sabar lagi.
"Kau jangan menuduhku yang bukan-bukan!" Nadin masih sok membela diri. Ia bahkan tak merasa bersalah sedikitpun. Jelas-jelas dia sendiri yang mencelakai Valexa, tapi tetap tidak mau mengaku juga.
"Siapa lagi yang bisa berbuat jahat di tempat ini kalau bukan kau! Semua orang tahu itu? Kau adalah manusia berwujud nenek sihir! Katakan padaku selagi aku masih bersikap baik! Kau sembunyikan dimana Valexaku?" tanya Ravel sedikit mengancam. Namun, yang diancam malah tenang-tenang saja dan sama sekali tak terlihat takut pada ancaman Ravel.
"Kalau kau ingin Valexa kembali, kau harus bersedia jadi pacarku, dan putuskan hubunganmu dengan Valexa. Baru kulepaskan dia," tawar Nadin dengan gaya khas sombongnya.
Untuk sesaat, Ravel terdiam dan ia langsung tertawa terbahak-bahak seolah tawaran Nadin adalah sebuah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar.
"Buahahaha ...." Ravel tertawa sangat keras dan semakin membuat takut yang lainnya. Sebab tawa pria tampan itu terdengar lebih menakutkan ketimbang amarahnya. "Kau bilang apa? Kau baru mau melepaskan Valexa bila aku mau menjadikanmu pacarku dan putus dengannya?" Ravel mengulangi kata-kata Nadin seolah meledeknya.
"Iya!" jawab Nadin singkat, tapi sebenarnya ia sangat shock melihat perubahan sikap Ravel yang tadinya charming, menjadi berandal.
"Oke." Ravel manggut-manggut dan ia langsung menjulurkan satu tangannya ke arah Meta. Tanpa peringatan, Ravel sengaja mencekik leher teman dekat Nadin dengan sangat kuat.
Sontak semua orang sangat terkejut melihat hal tak terduga, bisa juga dilakukan oleh seorang Ravelo kalau ia sedang marah. Meta sendiri juga mulai kesakitan dan tak bisa bicara bahkan ia tak bisa bernapas.
"Ini adalah cara yang kau inginkan, aku sudah memperingatkanmu tadi. Beritahu aku di mana Valexa berada saat ini. Jika tidak, kau dan seluruh teman-temanmu yang ada di sini akan mati!" Ravelo balas memberikan ancaman yang jauh lebih menakutkan dari ancaman Nadin.
Beberapa teman Ravel datang dan langsung mengunci ruang kelas rapat-rapat. Pandangan mata Ravel benar-benar tajam seolah ia tak main-main dengan ucapannya.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
hayuu...basmi tu nenek sihir and the geng..
2024-12-23
0
Hasanah Purwokerto
tak kasih tau vel ,,,val ada dikurung diruang bawah tanah,,cpt tlngin dia
2022-07-02
2
naning
thor hampir kepleset aku tiap kali baca namnya Ravel jd refald🤭🤭
2022-05-26
0