Bila Valexa tak bisa berkutik dihadapan Ravelo yang ternyata mengetahui rahasia besarnya dan menawarkan bantuan atas nama cinta, maka lain halnya dengan Nadin yang kelabakan sendiri karena kehilangan sebagian besar anak buahnya. Kembali ke tempat Nadin yang langsung bergegas menghubungi Thomas begitu Valexa selesai membisikkan sesuatu padanya.
Hingga detik ini, orang suruhan Nadin tak kunjung mengangkat panggilannya. Gadis sombong itu mulai panik karena Valexa bilang, para preman suruhan mereka telah ia singkirkan dan takkan pernah kembali lagi ke kampus ini. Itulah kenapa Nadin langsung berlari keluar untuk memastikan apakah ucapan Valexa itu benar atau hanya bualan semata. Namun, semua anak buah Thomas dan Thomas sendiri tak ada yang berhasil ia hubungi.
Artinya, Valexa tidak main-main dengan ucapannya. Mahasiswi baru itu benar-benar membuat orang-orang Nadin menghilang tanpa jejak. Ada yang aneh dengan Valexa terlepas tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya kecuali Ravelo.
Pertama, si kampungan itu bisa menyelesaikan hukuman Mr. Morgan dalam kurun waktu relatif singkat dan pastinya itu tidak akan pernah bisa dilakukan kecuali kalau Valexa adalah manusia super. Kedua, para preman paling ditakuti di kampus ini berhasil diringkus Valexa tanpa meninggalkan bekas atau jejak apapun, Bahkan tanda-tanda keberadaan anak buah Nadin tak bisa terdeteksi sama sekali. Tidak ada seorangpun yang tahu di mana keberadaan Thomas dan lainnya. Mereka semua raib bak ditelan bumi.
"Nad, ada apa? Kenapa kau panik begitu?" tanya Meta yang akhirnya berhasil menyusul Nadin. Ia membuyarkan lamunan ketua gengnya yang berdiri diam di koridor gedung tepat di depan jendela lantai paling atas.
"Akan kubunuh gadis itu sekarang juga!" geram Nadin penuh amarah. Meta dan yang lainnya sampai bingung karena baru kali ini mereka semua melihat Nadin semarah itu pada seseorang.
"Nad, kau tak apa-apa?" tanya Meta agak sedikit takut juga, biasanya kalau si ketua geng ini marah, yang lainnya kena imbas juga.
"Cepat hubungi semua gengster kenalan Thomas yang tersisa dan culik si Valexa, bawa gadis kampungan itu ke gudang kosong belakang gedung fakultas kita! Pastikan tidak ada yang tahu!" geram Nadin saking emosinya.
Mata Nadin menatap lurus ke depan dan tiba-tiba saja, ia sangat terkejut sampai matanya melotot hampir keluar. Bukan tanpa alasan kenapa Nadin langsung shock begitu. Dari kejauhan, ia melihat Valexa berdiri berhadapan dengan Ravelo di tempat mereka menjalani hukuman lari yang diberikan Mr. Morgan.
"Tunggu! Jangan culik dia hari ini." Nadin berubah pikiran, untung Meta belum sempat menghubungi rekan gengster Thomas karena ia sendiri masih bingung dengan printah Nadin barusan.
Menculik Valexa? Yang benar saja? batin Meta bingung antara takut dan juga heran. Meta sama sekali belum mengerti situasi yang sedang dialami Nadin karena ia tidak tahu kalau Thomas and the gengnya menghilang tiba-tiba dan belum kembali hingga detik ini.
"Kau lihat apa?" tanya Meta mengikuti arah pandang mata Nadin. Iapun juga langsung terkejut ketika tahu Ravelo sedang bicara berduaan dengan Valexa. "Gadis kampungan itu benar-benar tidak tahu diri. Dia pikir dia itu cantik apa? Culun dan bloon gitu sok mengharapkan seorang pengeran seperti Ravelo. Pasti itu cewek nembak Ravel tapi ditolak mentah-mentah oleh dia. Dasar nggak punya harga diri!" Meta asal tebak. Padahal yang terjadi malah sebaliknya, Ravel lah yang nembak Valexa.
Sementara Nadin, hanya menatap lurus dua orang yang saling berdiri itu dengan tatapan aneh seolah ia tak yakin bahwa yang dikatakan Meta itu benar. Soalnya, gerak-gerik Valexa, tak seperti wanita yang mengatakan cinta pada pria. Justru sebaliknya, Valexa terkesan sedang marah pada Ravel. Mereka berdua lebih terkesan seperti sedang bertengkar. Nadin dan seluruh gengnya, hanya mengamati mereka berdua dari kejauhan tanpa bisa mendengar apa yang Valexa dan Ravelo bicarakan.
Adegan berikutnya malah semakin membuat mulut Nadin dan seluruh anggota gengnya menganga lebar. Dugaan Meta yang menyatakan kalau Valexa nembak Ravel telah terpatahkan karena si pangeran kampus langsung berlari memeluk Valexa dari belakang ketika gadis itu hendak pergi meninggalkannya.
"Gila! Ini benar-benar gila! Kau lihat itu? Serorang Ravel memeluk si cewek culun itu! Kalian percaya nggak sih? Pasti si Ravel sedang kerasukan, atau kalau nggak dia diguna-guna oleh cewek norak itu!" seru Meta heboh sendiri. Matanya menggambarkan kalau ia sangat panik dan juga shock antara percaya dan tidak percaya tapi yang mereka lihat itu memang sangat nyata.
Di depan mata kepala para kelompok pembully, Ravelo beneran memeluk Valexa dengan sangat erat seolah enggan melepasnya. Karena posisi mereka sangat jauh dari gedung, ekspresi Valexa sama sekali tak terlihat. Kebetulan, Nadin and the gengnya ini sedang ada di lantai paling atas gedung. Jadi, hanya mereka saja yang bisa melihat Valexa dan Ravelo dimana keduanya malah saling pelukan dan bukannya menyelesaikan hukuman terutama Ravelo, karena ia masih kurang 4 putaran lagi.
"Pantas saja, si Ravel belain Valexa, ternyata mereka ...," seru yang lainnya ikutan shock juga.
"Nad, kok kamu diem aja sih? Lakuin sesuatu dong ... si breengsek Valexa itu mencoba ngrebut Ravel darimu! Kau tidak lihat apa?" sengal Meta heran melihat sikap Nadin yang hanya diam berdiri saja menatap dua sejoli sedang berpelukan erat dari kejauhan.
Mereka tidak tahu adegan selanjutnya setelah Ravel memeluk Valexa. Sebab, posisi sang pangeran kampus yang menindih tubuh mahasiswi baru itu tak terlihat dengan jelas karena tertutupi pohon-pohon rindang. Kalau mereka tahu, pasti bakalan heboh dan kebakaran jenggot.
Tak menggubris ocehan Meta dan teman-teman satu gengnya, Nadin terus menatap benci tempat di mana Valexa dan Ravelo berada. Ia sendiri sebenarnya masih tidak percaya, gadis rendahan seperti Valexa berhasil membuat darahnya mendidih sampai pada titik didik tertinggi. Napasnya naik turun seakan ada bom atom siap meledak kapan saja.
Namun, Nadin tak bisa bertindak gegabah hanya karena ia sedang marah besar sekarang. Sebab, ada banyak sekali pertanyan yang timbul dipikiran Nadin saat ini.
Siapakah Valexa sebenarnya dan bagaimaan bisa ia menyingkirkan seorang Thomas beserta kelompoknya yang terkenal bengis dan kejam di kampus ini. Jika gadis itu bisa mengalahkan Thomas dengan mudah, maka Valexa bukanlah gadis kampungan biasa. Dan Ravelo, pasti tahu siapa Valexa, karena itulah pria tampan itu membela Valexa saat Nadin membullynya.
Kali ini, Nadin tidak mau terkecoh dan masuk ke dalam lubang sumur yang ia gali sendiri. Siapapun Valexa, ia akan menyingkirkannya bagaimanapun caranya. Dan hal pertama yang harus wanita sombong itu lakukan adalah ia harus tahu siapa Valexa dan apa hubungannya dengan Ravel. Baru setelah itu, ia akan balas dendam atas hilangnya Thomas dan gengnya yang tidak ada kabar hingga detik ini.
"Kalian semua, dengarkan aku baik-baik." Akhirnya Nadin buka suara juga. "Begitu Ravel terpisah dengan Valexa, segera ringkus cewek culun itu dan bawa ke ruang bawah tanah. Jangan sampai ada yang tahu," perintah Nadin tanpa ragu sedikitpun. Matanya menatap lurus ke depan dan semua anggota gengnya mengiyakan perintah Nadin tanpa ada yang berani berkomentar apapun.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
ada ruang bawah tanah pula tu....huh sungguh miris....kampus apaan tu
2024-12-23
0
Ricka Monika
kebalik tu neng 🤭😜
2024-12-22
0
маяшан
ngeri ya klo ada lingkungan kampus seperti itu
2022-12-16
0