Mata Valexa terbelalak melihat aksi nekat si pria sok narsis ini. Bisa-bisanya Ravelo menciumnya tanpa izin. Secepat kilat Valexa mendorong kuat tubuh sang pangeran kampus tapi sayangnya, usaha keras gadis itu gagal total. Ravelo sangat kuat dan tubuh tingginya benar-benar mengunci tubuh Valexa sehingga gadis itu tidak bisa bergerak. Kedua tangan Valexa juga digenggam erat oleh Ravel.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Valexa marah setelah Ravelo selesai menciumnya dan melepaskan cekalannya. Gadis itu mengusap bibirnya sendiri untuk menghapus bekas kecupan mesra pria yang berdiri senang didepannya.
"Memberitahumu cara berterimakasih padaku. Kau milikku, mulai sekarang kau adalah pacarku," Ravelo lagi-lagi tersenyum dengan penuh percaya diri padahal Valexa tak pernah mengatakan bersedia menjadi kekasihnya.
"Apa kau sudah gila?" teriak Valexa dengan api kemarahan tak terkira. Baru kali ini ia bertemu dengan pria tampan, tapi nggak waras seperti Ravel.
"Iya, aku tergila-gila padamu. Kita sudah berciuman, artinya kau milikku dan aku milikmu, oke."
"Sejak kapan ciuman bisa menjadikan seseorang itu pacarmu, ha?"
"Oh, salah ya? Bagaimana kalau istriku? Dua sejoli yang sedang berciuman itu merupakan simbol pasangan yang sudah resmi menikah. Seperti kau dan aku barusan."
Valexa membuang napasnya dalam-dalam untuk menahan sabar menghadapi kegilaan si pangeran kampus edan ini. "Ternyata lari telah membuat otakmu kongslet!" geram Valexa mencoba tak meladeni ucapan ngelantur Ravelo.
Si pangeran kampus itu terus memamerkan senyuman mautnya dan berjalan mendekati Valexa, tapi gadis itu menjulurkan satu tangannya mencegah Ravel untuk tidak mendekatinya lagi.
"Berhenti disitu atau aku tidak akan pernah mau memaafkanmu atas sikap kurangajarmu!" geram Valexa marah. "Jangan pernah dekati aku lagi. Pergi jauh-jauh dariku!" bentak gadis itu.
"Tidak mau, mana ada pacar menjauhi pacarnya sendiri?" Ravel terus maju mendekat dan Valexa juga terus melangkah mundur.
"Siapa yang mau jadi pacarmu!" sengal Valexa. Rasa kesalnya sudah tidak terdefinisi.
"Kau, siapa lagi. Di tempat ini hanya ada kau dan aku saja."
"Aku rasa, kau benar-benar ketempelan setan!"
"Ehm, kau benar." Ravel mengangguk mengiyakan ucapan Valexa. "Apa kau ingin tahu siapa nama setan itu? Namanya adalah 'Setan Cinta'." Ravelo asal jeplak untuk meredakan amarah Valexa. Namun bukannya reda, mahasiswi baru itu malah semakin emosi melihat tingkah aneh si Ravelo.
"Aku bisa gila bila terus-terusan ada di sini!" Valexa balik badan dan berjalan maju meninggalkan Ravelo. Namun untuk kesekian kalinya, Ravel berlari dan langsung memeluk tubuh Valexa dari belakang.
"Jangan pergi. Temani aku di sini. Aku tak ingin kau pergi meninggalkanku sendiri dalam keadaan sepi dan sunyi ini." Ravelo mengatakan kalimat sok puitis dan semakin mengeratkan pelukannya sehingga Valexa sampai sesak napas.
Astaga, ini orang beneran gila, jerit Valexa dalam hati.
"Lepaskan aku! Kau memelukku terlalu kuat!" Valexa berusaha memberontak, tapi Ravel tetap tak mau melepas pelukannya. "Apa motifmu sebenarnya?" tanya Valexa to the poin.
Sangat tidak mungkin seorang Ravelo yang menjadi idola kampus menginginkan dirinya menjadi kekasihnya. Masih banyak wanita cantik yang mengantri di belakang seorang Ravel. Tidak mungkin seorang gadis seperti dirinya merebut hati sang pangeran kampus begitu mudah. Pasti ada udang dibalik rempeyek dan Valexa sangat penasaran, apa yang Ravel inginkan darinya.
"Tuan putri Valexa Aileen Aldevano dari universitas Oxford. Kau harus jadi pacarku! Jika tidak ... semua orang akan mengetahui siapa kau sebenarnya. Artinya, kau takkan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan di sini jika mereka tahu siapa kau sebenarnya. Bersamaku, kau akan aman. Aku akan melindungimu dan juga identitas yang kau sembunyikan dari semua orang yang ada di sini," terang Ravelo tenang dan tandas. Seolah menskakmat Valexa. Mata elangnya menatap wajah tegang gadis yang ia peluk erat ini.
Tentu saja Valexa sangat terkejut karena Ravelo telah mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Kata-kata Ravelo adalah ancaman yang berupa bantuan. Jika menolak, usahanya selama ini bisa gagal total, tapi jika menerima, ia juga yang kerepotan. Namun Valexa tidak boleh mundur hanya karena seorang Ravelo mengetahui identitas asli Valexa.
"Huh, kau salah orang ..." Valexa mencoba mengelak meskipun ia shock karena Ravelo tahu dari mana asalnya.
"Tidak, aku yakin aku pernah bertemu denganmu dibandara Heathrow. Kejadian saat itu ... takkan pernah kulupakan. Sudah lama aku mencarimu, tak kusangka ... kau malah datang sendiri kemari."
Deg!
Jantung Valexa semakin berdetak kencang mendengar pernyataan pria yang sedang memeluknya dari belakang. Gadis itu sama sekali tidak ingat kalau pernah bertemu dengan Ravel, meski memaksa mengingatnya, Valexa tetap tidak bisa mengingat apapun. Apalagi ia merasa tak pernah melihat orang ini sebelumnya. Mungkin karena ada begitu banyak hal yang meliputi pikiran Valexa sehingga ia tak bisa mengingat kalau pernah bertemu Ravel sebelumnya.
Siapa pria ini? Kapan aku pernah bertemu dengannya? Kenapa aku idak ingat? batin Valexa. Ia kesal dan sebenarnya, gadis itu tak punya waktu berurusan dengan orang seperti Ravel.
"Kau tak harus mengingatku sekarang," bisik Ravel pelan ditelinga Valexa. "Kita jalani saja hubungan kita yang baru resmi ini. Tetaplah bersamaku selama kau berada di kampus yang dipenuhi para sarang monster, maka kau akan aman bersamaku. Aku serius, percayalah padaku."
"Huh." Valexa tersenyum ketir. "Kau bicara seolah kau tahu segalanya tentangku. Kau tak tahu apa-apa. Kalau kau tahu, kau takkan bicara seperti ini seolah kau pun tak termasuk dari para monster-monster itu!"
Selepas bicara seperti itu, Valexa bergerak cepat dan menekan lengan Ravelo lalu memutar tubuh cowok itu kebelakang dan langsung memiting satu tangan si pengeran kampus dengan kuat sehingga pria itu berteriak kesakitan. Sementara tangan Valexa yang lain menekan keras Bahu Ravel agar tangannya tak bisa bergerak juga.
"Aaaaah! Sakit Sayang ... baru juga jadian, kenapa kau malah memiting pacarmu sendiri!" erangnya, tapi si Ravel ini licik juga, ia berteriak seolah kesakitan tapi ekspresinya sama sekali tak menunjukkan kalau ia merasa sakit. Malahan ia senyam-senyum sendiri.
"Jangan macam-macam denganku. Kau pikir kau siapa, ha? Jangan pernah kau menampakkan wajahmu lagi dihadapankau atau aku akan membunuhmu!" Valexa semakin menekan kuat pitingannya hingga Ravelo terduduk dihadapannya sambil merintih.
Namun, ada senyum simpul dibalik erangan Ravelo. Seketika, ia menarik paksa tangan yang dipiting Valexa hingga gadis itu terjungkal kedepan melewati tubuh Ravelo yang terduduk dan gadis itu jatuh terlentang tepat dihadapan Ravel. Dengan cepat, si pangeran kampus mengunci kedua kaki Valexa dengan kakinya dan menindih tubuh gadis itu dengan tubuh Ravel sendiri. Karena Ravel memiliki postur tubuh tinggi dan kuat, Valexa tak bisa berkutik dibawahnya.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir dariku!" bentak Valexa marah. Kedua tangan Valexa ditekan kuat oleh kedua tangan Ravel.
"Aku suka, wanita tangguh sepertimu. Apapun tujuanmu datang kemari, aku sama sekali tidak peduli. Yang penting, kau jadi pacarku sekarang. Jawab iya, atau kita terpaksa melakukan hubungan suami istri di sini. Aku juga tidak keberatan jika harus menikahimu besok. Semoga saja ada orang yang memergoki kita seperti ini," ancam Ravel dengan kilatan mata tajam tapi penuh dengan cinta.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
penasaran dg si thomas ya...apa udah patah tangannya
2024-12-23
0
Shinta Dewiana
waduh masih kalah kuat rupanya....hmmm
2024-12-23
0
Zanzan
qiu... qiu... qiu... lanjut thor... suka wanita tangguh
2023-12-21
1