Orang yang menendang salah satu pria bertubuh kekar hingga terseret jauh ke belakang adalah siapa lagi kalau bukan si pangeran kampus sekaligus ketua senat, Ravelo. Kedatangannya memang tak diharapkan Valexa, tapi Ravel berencana menyelamatkan wanita pujaan hatinya dengan gaya sok keren bak palahwan super di film-film ala Marvel.
Beberapa rekan preman lainnya juga langsung terkejut melihat kehadiran keponakan dari rektor kampus di sini. Padahal harusnya, tempat ini hanya diketahui oleh komplotannya dan Nadin saja. Jika Ravel sampai tahu, artinya Nadinlah yang sudah memberitahu lokasi tempat biasa mereka mengeksekusi orang-orang yang tidak mereka suka atau para korban bullyan Nadin.
Tempat ini tidak boleh diketahui oleh siapapun demi keamanan para preman kampus ini. Namun sepertinya, mereka sudah tak bisa merasa aman lagi. Untuk itu, para preman ini berencana melenyapkan Valexa dan juga Ravel sekaligus agar tidak ada kebocoran informasi. Bisa gawat kalau keberadaan mereka diketahui oleh pihak berwajib.
"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Ravel marah melihat Valexa diikat dan digantung seperti pare bergelantungan.
"Yah, tadinya aku baik-baik saja, tapi sekarang jadi tidak baik karena kau datang kemari." Valexa terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya pada Ravel. "Dan jangan panggil aku sayang lagi, sandiwara kita sudah selesai," cetusnya kesal.
"Perasaanku padamu bukan sandiwara, Sayang. Aku benar-benar mencintaimu," seru Ravel sambil berjalan mendekat ke arah preman lalu memberi preman tersebut sebuah bogem mentah tanpa memberi aba-aba terlebih dulu.
"Dasar buaya darat!" gumam Valexa tak termakan rayuan Ravel yang menyatakan cinta padanya ditengah suasana genting begini.
Preman berbadan besar langsung jatuh tersungkur ke tanah akibat pukulan keras dari Ravel. Tak terima temannya diserang, rekan preman yang lain ikut mengeroyok Ravel bersamaan. Mereka semua berkelahi layaknya adegan action ala film bioskop netflix.
Baik Ravel ataupun para preman-preman itu, saling melayangkan tendangan dan pukulan satu sama lain. Ravel sih bisa menghindari serangan dengan mudah karena postur tubuhnya tinggi dan lincah. Sebaliknya, para preman bengis itu tampak babak belur akibat serangan dari seorang pangeran kampus yang ternyata, jago juga berkelahi.
Sayangnya, Ravel kalah jumlah sehingga ia sedikit terdesak. Melihat hal itu,Valexa mencoba melepaskan diri dari ikatan tali yang mengikatnya. Gadis itu mengayunkan diri di bawah kayu yang menahan tubuhnya, setelah itu ia menggerakkan tubuh lenturnya memutar ke atas hingga kedua kakinya mendarat mulus di atas kayu. Tanpa perlu menunggu lama, Valexa menggigit ikatan tali yang mengikat tangannya agar bisa lepas.
Akhirnya, Valexa berhasil melepaskan semua ikatan tali yang mengikat tubuhnya, tapi gadis itu tak langsung turun dari atas kayu besar dan tetap bertengger diatasnya sambil mengamati situasi. Saat ini, kedua tangan Ravel dipiting salah satu preman ke belakang punggungnya dan preman lainnya sudah bersiap hendak memukul cowok tampan itu dengan sebuah balok kayu besar. Sudah bisa dipastikan apa yang bakal menimpa Ravel jika balok kayu tersebut sampai mengenai kepalanya.
Tak ingin berdiam diri, Valexa mengambil ancang-ancang dan iapun langsung melompat turun ke arah para preman yang sedang melayangkan tinjunya ke wajah Ravel. Tendangan kaki Valexa tepat mengenai preman tersebut sehingga Ravel selamat dari maut. Preman itu tumbang tak sadarkan diri di tempat.
"Minggir!" seru Valexa dengan lantang dan Ravel refleks memiringkan kepalanya ke samping kiri lalu dengan gerakan super duper cepat, Valexa meninju wajah orang yang memiting tangan pangeran kampus hingga tulang hidung preman tersebut retak.
"Arrgggh!" erang pria itu terhuyung mundur. Darah segar bercucuran keluar dari hidungnya.
Cekalan tangan preman itu juga terlepas sehingga Ravel bisa bebas. Tanpa memberi jeda, Valexa langsung menghujani musuhnya dengan pukulan maut bertubu-tubi. Mulai dari menendang sampai memukul tengkuk preman tersebut dengan sikunya. Dalam hitungan detik, pria kekar berkulit hitam itu langsung pingsan seketika.
Mata Ravel terbelalak tak percaya melihat Valexa ternyata bisa melumpuhkan lawannya dengan mudah. Gerakan-gerakan Valexa bukanlah gerakan pegulat pemula. Itu adalah teknik gerakan khusus profesional sekelas suhu/sensei dalam dunia persilatan/karate. Betapa senangnya ravel ternyata wanita yang ia cintai bukanlah orang sembarangan. Baru kali ini, Ravel bertemu dengan wanita luar biasa sehebat Valexa.
Berbeda dengan Ravel yang terkagum-kagum akan aksi Valexa saat melumpuhkan lawan. Gadis itu kembali berdiri tegap sambil merenggangkan seluruh otot-ototnya yang kaku setelah beberapa waktu menyembunyikan keahliannya dalam ilmu bela diri dan berpura-pura menjadi wanita lemah yang mudah ditindas dan tersakiti. Valexa hanya menatap dingin preman-preman terkapar tak berdaya disekelilingnya.
Tak berselang lama, beberapa orang berjas hitam masuk dan berbaris berjajar rapi di hadapan Valexa. Entah siapa mereka dan bagaimana bisa mereka menemukan tempat tersembunyi ini. Yang jelas, orang-orang ini sangat mengenal Valexa.
"Maaf, kami datang terlambat, Nona muda!" salah satu pria berjas hitam dan berkacamata dengan warna serupa menundukkan kepalanya dihadapan Valexa seolah siap mendapat hukuman atas keterlambatannya.
"Tidak apa-apa. Lagipula, aku baik-baik saja."
"Kau selamat berkat aku Sayang," sela Ravel dan beberapa pria berjas hitam langsung memegang erat kedua bahu Ravel. "Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" pekiknya, tapi dua pria yang tak ia kenal malah mencengkeramnya semakin kuat.
"Lepaskan dia," perintah Valexa dan dua orang tersebut langsung mematuhi perintah nona mudanya. "Singkirkan para preman ini dari hadapanku dan ikat mereka di ruang bawah tanah rumah. Cari informasi yang kubutuhkan dari mereka. Bila mereka kukuh tidak mau menjawab, bunuh saja mereka semua," ujar Valexa dengan nada suara menakutkan.
"Baik Nona!" ucap seluruh pasukan ber jas hitam itu kompak.
Valexa pun beranjak pergi tanpa peduli pada Ravel yang masih shock melihat Valexa ternyata bukanlah gadis biasa. Wanita tangguh itu adalah seorang nona muda yang memiliki banyak bodygurad profesional. Artinya, Valexa adalah anak sultan.
"Berhenti!" seru Ravel menghadang langkah wanita pujaan hatinya. "Siapa kau sebenarnya? Informasi apa yang ingin kau tahu? Beritahu aku, aku janji akan membantumu!" tawar Ravel.
Tanpa diduga, Valexa mendorong tubuh Ravel kebelakang dengan keras sampai membentur dinding. Ia menekan leher Ravel kuat-kuat sehingga pria tampan yang jauh lebih tinggi darinya ini tak bisa bergerak.
"Jangan dekati aku lagi kalau kau tidak ingin mati. Aku tak ingin melibatkan siapapun dalam urusanku. Urus saja dirimu sendiri," ancam Valexa dan mulai melepaskan tekanannya.
"Kau masih membutuhkanku. Selama informasi yang kau inginkan belum kau dapat, kau tak bisa membuka identitas aslimu dihadapan banyak orang. Jika tidak, maka kau takkan pernah menemukan apa yang kau cari. Percayalah padaku," ujar Ravel penuh keyakinan seolah ia tahu apa yang diinginkan Valexa dan alasan ia datang kemari.
"Apa maksudmu?" alis Valexa sedikit terangkat mendengar ucapan Ravel.
"Shakila, kau datang kemari demi gadis itu, kan?" tanya Ravel dan seketika tubuh Valexa menegang menatap wajah Ravel.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
hmmm...shakila...
2024-12-23
0
Hasanah Purwokerto
siapa shakila..?
2022-07-02
1
Aminah Adam
siapakah shakila??
2022-05-17
1