Hari pertama masuk sudah dihadapkan dengan situasi yang membuat Valexa darah tinggi. Namun, yang dikatakan gadis malang yang ditolong Valexa memang benar. Ia tidak dalam posisi bisa melawan sekarang. Kampus ini memang kampus terbaik yang ada di negara ini, tapi sayang, jiwa sosialisasi dan moralitas jadi tersingkir karena uang dan kekuasaan.
Siapakah yang paling kaya, maka dialah yang berkuasa. Itu biasa terjadi dikampus-kampus elit seperti yang ada di kampus ini meskipun tidak semua universitas seperti itu.
"Maaf, ini salahku." Valexa jadi merasa bersalah pada gadis disebelahnya, tapi mahasiswi cantik ini hanya mengangguk pelan tanda menerima permintaan maaf Valexa.
Semua orang yang ada di sini bukannya membantu ataupun minta maaf atas apa yang telah mereka lakukan terhadap dua mahasiswi berbeda penampilan ini, mereka malah bersorak ramai sehingga mengundang perhatian beberapa dosen dan juga satpam mendekat ke arah mereka untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya satpam kampus menghentikan suara teriakan kelompok pembully tak punya hati itu. Melihat beberapa satpam dan dosen datang mendekat, para kelompok pembully itu terdiam dan saling pandang seolah sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik.
"Si mahasiswi baru itu menyiksa Fara sampai seperti itu, Pak! Lihat saja, darahnya bercucuran di mana-mana. Ck ck ck ck ... kasihan Fara. Sebaiknya dia cepat di bawa ke rumah sakit kampus dan hukum saja pelaku yang membuat Fara seperti itu, Pak. Baru datang sudah bikin onar!" lapor si wanita sombong mulai memfitnah Valexa. Padahal nyatanya tidak seperti itu.
"Itu tidak benar, Pak. Merekalah yang menyiksa gadis ini. Saya hanya membantunya dan tiba-tiba ...." Valexa membela diri karena tidak terima dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang tidak ia buat.
"Halah ... ngeles aja kau! Ngaku aja deh, kita semua saksinya loh di sini," sela rekan wanita sombong itu sebelum Valexa buka suara lebih banyak.
"Aku nggak ngeles, kalianlah yang memang menyiksa dia!" sentak Valexa tetap kukuh dengan pembelaannya.
"Gaes!" teriak wanita sombong itu pada gengnya. "Apa kalian rela dituduh oleh si kampungan culun itu menyiksa Fara?" tanyanya sambil melipat tangan di dada.
"Iya nggaklah, orang dia yang nyiksa, kita yang dituduh! Dasar muka dua!" rekan wanita sombong itu mencoba memutar balikkan fakta. Padahal kata-kata itu jelas lebih pantas ditujukan untuk dirinya sendiri dan teman-temannya ketimbang pada Valexa .
"Huuu ...." seru kelompok geng pembully mengolok-olok Valexa dan berlagak sok marah karena tidak terima atas tuduhan yang dilontarkan mahasiswi baru itu. Mereka langsung menunjukkan aksi protes dihadapan satpam dan para dosen agar Valexa dihukum berat karena menyiksa teman dan menuduh kelompok mereka yang bukan-bukan.
"Kalian semua! Diamlah!" sentak salah satu dosen paling disegani di kampus ini. Seketika semua orangpun diam. "Fara!" ujar dosen tersebut pada gadis cantik yang ternyata bernama Fara. "Apa benar yang dikatakan Nadin? Yang melukaimu sampai seperti itu adalah mahasiswi baru itu?" tanyanya.
Fara diam dan menunduk karena takut, tapi wanita sombong yang bernama Nadin itu mencoba memprovokasi Fara agar ia mau berbohong demi dirinya. "Fara, katakan yang sebenarnya, jangan takut. Kami akan mendukungmu," ucap Nadin ambigu. Maksudnya, jika Fara tidak mau berbohong, maka ia harus bersiap-siap hancur ditangannya.
"Be-benar, Pak!" ujar Fara lirih sambil terus menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada Valexa.
Fara tidak punya pilihan lain, jika ingin selamat maka ia harus menuruti semua keinginan Nadin. Nadin tersenyum kecut mendengar jawaban Fara karena sesuai keinginannya. Tidak ada yang berani melawan Nadin karena ia adalah putri dari salah satu pendiri kampus ini. Senyum licikpun menghiasi sudut bibir pemimpin geng pembully ini.
"Katakan sekali lagi Fara! Benar mahasiswi baru itu yang melukaimu?" tanya dosen itu lagi.
"Be-benar, Pak!" jawab Fara agak takut dan semakin bersalahlah ia pada Valexa.
Dalam hati, Fara menjerit tak berdaya. Mahasiswi cupu itu mencoba membantu Fara, tapi ia terpaksa memfitnahnya. Hal itu Fara lakukan karena ia berada dibawah tekanan kelompok pembully ini. Sungguh, Fara tak bisa melawan Nadin terlepas statusnya sebagai gadis rendahan di kampus ini. Fara masih ingin belajar di sini sampai lulus agar mendapatkan pekerjaan layak suatu hari nanti. Karena itulah ia rela melakukan apa saja termasuk memfitnah orang yang sudah membantunya.
Valexa terperangah tak percaya, ini sih namanya tulung mentung. Sudah ditolong eh malah di pentung. Gadis itu hanya bisa tertawa sinis melihat pemandangan lucu yang terjadi di kampus ini, tapi Valexa mencoba memahami situasi yang menimpa gadis malang itu. Jika posisinya dibalik, mungkin ia juga akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan Fara.
Orang-orang yang ada di depan Valexa ini, benar-benar kelompok pembully berbahaya. Tidak ada yang berani melawan mereka apalagi bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga tak punya. Valexa terdiam dan menatap wajah Nadin serta kelompoknya satu persatu dengan tatapan yang tak bakal bisa dijelaskan. Mahasiswi baru itu merekam setiap wajah mereka dalam ingatannya untuk ia ingat sepanjang hidupnya.
Melihat pandangan mata Valexa penuh dengan dendam dan api kebencian begitu besar, membuat Nadin semakin tersenyum senang dan sangat puas. Sepertinya, ia telah menemukan mainan baru untuk ia jadikan bonekanya. Kehadiran Valexa seakan sebuah permainan lain yang akan dimainkan Nadin selama ia menguasai kampus ini karena Valexa bukan berasal dari keluarga kaya seperti dirinya. Jadi, ia bisa bertindak seenaknya.
"Siapa namamu?" tanya dosen itu pada Valexa.
"Valexa," jawab Valexa dengan nada gemetar bukan karena takut, tapi karena emosi.
"Kau ikut denganku!" perintah dosen itu dan dalam diam, Valexa mengikuti sang dosen dari belakang.
Dari kejauhan, mahasiswi baru itu melihat Nadin sedang membisikkan sesuatu kepada Fara sehingga gadis malang itu langsung menangis di tempat. Dengan gaya khas sombongnya, kelompok pembully itu pergi meninggalkan Fara sendirian. Dan Valexa sendiri terpaksa menerima hukuman atas apa yang tidak ia buat.
***
Satu jam kemudian, Valexa kembali ke ruang kelasnya untuk mengikuti mata kuliah yang sudah ia ambil selama mendaftar di kampus ini. Sebuah tato alami akibat hukuman yang ia dapat, terukir jelas di kedua kaki Valexa. Namun gadis cupu itu tetap berjalan tegap seolah tak merasakan sakit sedikitpun. Ini adalah hukuman pertama di hari pertama ia masuk kuliah. Tak menuntut kemungkinan ia bakal mendapatkan hukuman-hukuman lain yang jauh lebih berat dari ini.
Valexa berjalan pelan menuju ruang kelasnya. Jurusan yang ia ambil selama menempuh pendidikan di sini adalah Sastra Asing. Kini, gadis cupu itu sudah ada di depan pintu kelasnya. Awalnya, Valexa ragu apakah ia harus masuk ke kelas atau tidak. Sebab ia punya firasat buruk di sana. Namun ia tak punya pilihan lain selain menghadapi semua hal yang menghadang jalannya. Valexa sudah siap masuk ke kampus ini, artinya ia juga harus siap menghadapi semua hal yang menimpa dirinya ... baik ataupun buruk.
"Oke, hari-hari buruk segera dimulai!" gumamnya meyakinkan diri sendiri dan mantap untuk ready to war.
Valexa hendak meraih gagang pintu, tapi sebuah tangan besar ternyata meraih gagang pintu tersebut lebih dulu. Tentu saja gadis itu terkejut dan melihat siapa pemilik tangan besar yang mendahuluinya. Valexa mendongak dan ia agak terkejut ada mahasiswa tampan sedang melihatnya.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
hedeh fara...
2024-12-22
0
Fahmi Fahmi
fara ngak tau terima kasih
2024-06-02
0
cigarettesncakes
faraaa fara... dikasih hati malah minta jantung wkwk
2023-05-07
0