Semua orang yang mendengar teriakan Nadin langsung menutup telinga mereka masing-masing begitu juga dengan Valexa. Gadis itu berlagak sangat ketakutan melihat sikap Nadin yang bak kesetanan. Namun nyatanya, Valexa tak tampak takut sama sekali dan jelas terkesan menantang. Dua wanita saling berdiri berhadapan dengan hati dan perasaan masing-masing. Satunya memandang benci dan marah, sedangkan satunya lagi menahan amarah begitu besar seolah ingin minta segera dilepaskan.
Tak pernah terbayangkan di benak Nadin, ia dihadapkan dengan seorang wanita yang sama sekali tak takut dengan tatapan mata dan amarahnya. Apalagi wanita yang berdiri tegak didepannya ini bukan berasal dari kasta tinggi seperti dirinya, melainkan kasta rendahan yang bikin rusak mata dan pemandangan alam. Bagi seorang Nadin, orang miskin hanyalah sampah merepotkan yang bisanya hanya meminta bantuan dan belas kasih dari orang-orang kaya dikalangannya.
Sewaktu kecil, Nadin pernah diculik gelandangan dan gelandangan tersebut meminta tebusan tinggi pada keluarganya. Sejak saat itu, Nadin menganggap semua orang miskin itu menjijikkan dan perlu dimusnahkan agar tak mengganggu ketentraman hidupnya. Itulah alasan kenapa ia dan seluruh keluarganya sangat menentang kebijakan Rektor yang tak lain adalah paman Ravelo saat mengadakan perekrutan siswa tidak mampu, tapi memiliki prestasi mumpuni untuk mengenyam pendidikan di kampus elit ini. Apapun alasan Nadin, tetap saja tindakannya merendahkan orang lain terlebih hanya karena perbedaan kasta itu tidak bisa dibenarkan apapun alasannya.
Semua manusia itu hidup berdampingan dan saling membutuhkan. Apapun jenis kasta yang setiap orang punya, mereka semua memiliki hak hidup sama kerena Tuhan menciptakan manusia bukan berdasarkan dari kasta. Tak seharusnya Nadin membandingkan dirinya dengan orang miskin hanya karena ia pernah mengalami hal buruk yang disebabkan satu orang.
Karena tak kunjung mendapat jawaban yang ia minta dari Valexa, Nadin mencengkeram kuat kerah baju gadis kampungan itu hingga terdorong mundur sampai membentur dinding ruangan. "Cepat beritahu aku! Siapa kau?" teriaknya lagi dan kedua tangan Nadin menekan kuat leher Valexa seolah mencekiknya.
"Kau ... akan masuk penjara ... bila membunuhku di sini. Orang-orang yang ada disekitar sini akan menganggapmu sebagai pembunuh! Kau ... seorang pembunuh!" ujar Valexa terbata-bata karena tekanan kuat dari tangan Nadin dilehernya.
Seketika, gadis sombong itu melepaskan cengkeramannya karena semua mata memang memandangnya dengan tatapan seperti yang baru saja dikatakan Valexa. Sebaliknya, Nadin merasa seolah terintimidasi sendiri karena Valexa benar-benar terlihat tak takut sama sekali.
"Oke! Anggap saja ... kau bernasib mujur karena bisa lolos sekarang, tapi lain kali ... kau akan menangis darah dan berlutut dihadapanku untuk memohon ampun padaku," geram Nadin dengan tatapan mata merah menyala terang seolah ucapannya adalah kutukan untuk Valexa karena telah berani berhadapan dengannya.
Melihat ekspresi penuh benci Nadin, membuat Valexa ikutan emosi juga. Ia balas menatap Nadin dengan pandangan mata sama sambil berkata, "Masih terlalu dini bagimu untuk tahu siapa aku sebenarnya. Agar kau tak shock lagi seperti sekarang sehingga membuat darah tinggimu semakin naik, aku akan memberitahumu satu hal ..." Valexa sengaja menggantung kalimatnya dan membuat suasana diantara keduanya semakin tegang dan panas.
"Semakin kau berusaha keras mencelakaiku, maka aku pastikan, kau ... akan kehilangan satu persatu apa yang kau miliki selama ini. Huh, sepertinya kau belum sadar sesuatu." Valexa mendekat ke wajah Nadin dan membisikkan sesuatu ditelinga gadis sombong itu yang langsung membuat Nadin membelalakkan matanya.
Mulut Nadin bahkan sampai menganga lebar dan ia langsung pergi keluar ruangan begitu saja tanpa bicara sepatah katapun. Rekan satu geng Nadin itu juag heran, kenapa ketuanya langsung pergi setelah Valexa membisikkan sesuatu. Apa yang dikatakan Valexa pada Nadin? Itulah yang ada di benak rekan satu geng Nadin dan semua orang yang ada di dalam kelas ini. Meski tidak tahu apa-apa, Meta dan yang lainnya ikutan berlari keluar mengejar Nadin.
"Nadin! Woy! Tunggu aku! Kau mau ke mana?" teriak rekan-rekan Nadin dari kejauhan sambil terus berlari menjauhi kelas.
Valexa menatap sinis wajah-wajah bingung semua orang yang menatap aneh dirinya setelah Nadin and the gengnya pergi. Tanpa banyak bicara lagi, Valexa meletakkan semua uang taruhan di atas meja dan meminta semua orang mengambil kembali uang taruhan mereka masing-masing, lalu gadis misterius yang kampungan itu pergi begitu saja meninggalkan kelas dan tanda tanya besar di benak seluruh teman-teman sekelasnya. Yah,Valexa sengaja pergi untuk bertemu dengan seseorang.
"Sepertinya, dia bukan gadis kampungan biasa," komentar salah satu teman sekelas Valexa begitu mahasiswi baru itu menghilang dari balik pintu.
"Kau benar, Mr. Morgan bilang, Valexa menyelesaikan hukumannya tadi pagi. Ia benar-benar lari keliling kampus 20 kali putaran penuh dan Mister sendirilah yang memantaunya. Sayangnya, Ravelo belum selesai hingga detik ini. Gila! Artinya gadis itu punya kecepatan lari yang luar biasa! Percaya nggak, sih? Tapi itulah yang dikatakan Mister Morgan," cetus yang lainnya dan semakin ramailah mereka membahas siapakah sosok Valexa sebenarnya serta kemisteriusannya setelah apa yang ia lakukan pada Nadin sehingga membuat si ketua pembully itu pergi dari kelas ini.
Ketangguhan Valexa bisa dikatakan masuk rekor Muri. Tak hanya dapat menyelesaikan hukuman yang jelas tak mungkin bisa dilakukan oleh seorang mahasiswi biasa, Valexa bahkan mengalahkan sang pengeran kampus yang notabennya adalah pelari tercepat di kampus elit ini. Sosok Valexa, langsung menjadi trending topik di mana-mana karena beberapa orang mulai melontarkan komentarnya tentang betapa beraninya Valexa menghadapi segala pembullyan yang dilakukan Nadin terhadapnya.
"Dia tak tergiur uang. Dia juga sangat kuat, siapa dia? Apa ada yang tahu?" teriak teman-teman sekelasnya yang lain dan semuanya kompak menggelengkan kepala mereka masing-masing tanda tak tahu apa-apa soal Valexa.
"Masih terlalu dini untuk membahas siapakah aku sekarang," gumam Valexa dari luar kelas. Ia hanya tersenyum getir saat mendengar pembicaraan orang-orang dikelasnya yang sedang heboh membahas dirinya. Ia terus berjalan lurus menuju tempat Ravelo berada saat ini.
Yang dikatakan teman sekelas Valexa memang benar, Ravelo belum menyelesaikan putarannya dan hingga detik ini, pria tampan yang menjadi idola banyak wanita masih terus berlari menyelesaikan hukumannya. Gadis itu sengaja menunggu kedatangan sang pangeran kampus disebuah tempat kosong yang dipenuhi oleh pohon-pohon jati. Karena ini memasuki musim panas, daun-daun jati itu banyak yang berguguran memenuhi lahan kosong yang ada dibawahnya.
Begitu Ravelo datang, Valexa langsung menghadang langkah pria tampan itu. "Makan dan minumlah ini, kau masih kurang 4 putaran lagi?" Valexa menyerahkan bekal yang sengaja ia siapkan untuk pengeran kampus tampan itu.
"Wuah, ini kejutan. Kau perhatian sekali padaku. Apa kau berubah pikiran dan mau jadi pacarku?" tanya Ravelo senang dan menerima bekal dari Valexa. Ia mengusap peluh yang memenuhi seluruh wajahnya dengan handuk pemberian Valexa.
"Jangan salah paham, kau sudah menemaniku menjalani hukuman ini meskipun aku tahu bukan kau yang menaruh perhiasan itu dalam tasku. Anggap saja ini bentuk rasa terimakasihku padamu. Lain kali, jangan ikut campur apapun urusanku." Setelah berkata begitu, Valexa hendak beranjak pergi meninggalkan Ravelo. Namun, baru juga Valexa maju selangkah, satu lengannya dicekal kuat oleh sang pangeran kampus lalu menarik tubuh mungil langsing itu ke dalam pelukannya.
"Akan aku beritahu bagaimana caranya berterimakasih padaku," ucap Ravel dengan tatapan mata yang bisa melelehkan semua wanita yang melihatnya.
Tanpa permisi, pria tampan itu langsung menyapu bersih bibir Valexa sehingga gadis itu terperanjat saking terkejutnya.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
main nyosor aja ni si pangeran....huaaa..aaaa..aaaa
2024-12-23
0
Ricka Monika
aaaaaa tdk ciuman pertamaku
2024-12-22
0
Zanzan
aw.... aw... aw... babang pelo jadi maling rupay... maling ciuman😘🤣🤣🤣
2023-12-21
0