Valexa tidak memerhatikan darimana pria tampan ini datang. Tiba-tiba saja kedua tangan mereka bersentuhan dan dengan cepat gadis manis itu menarik kembali uluran tangannya sebelum menyentuh gagang pintu masuk kelas. Pria dengan tinggi 190 cm dengan wajah bule khas Jepang Amerika hanya menatap nanar wajah culun Valexa.
"Aku dulu yang masuk," ujar pria tampan itu cuek bebek.
"Silahkan!" Valexapun mempersilahkan dengan senang hati. Ia mundur selangkah agar pria tampan itu masuk lebih dulu.
Diluar dugaan, begitu pintu kelas terbuka, sebuah tali yang tertaut di atas pintu saat dibuka, mulai bergerak. Sebuah sapu melayang terbang dengan kecepatan luar biasa dari atas plafon menuju pemuda yang berdiri di depan Valexa. Seakan tahu kalau jebakan itu sengaja dipasang untuk Valexa, ia dengan sigap mendorong keras pemuda yang berdiri didepannya tadi hingga pria itu jatuh tertelungkup ke lantai. Sapu yang melayang kencang itu akhirnya tepat mengenai perut Valexa sehingga gadis itu terpental mundur kebelakang.
Buk!
Valexa menabrak dinding luar koridor dan jatuh terduduk di lantai sambil mengerang kesakitan. Sapu itu memang tidak berat, tapi jika terlempar dengan kecepatan tinggi seperti itu, lumayan bikin sakit juga. Mahasiswa tampan yang tadi terjatuh juga mengalami keseleo akibat dorongan kuat tangan Valexa. Pria tersebut hampir saja marah tapi, begitu tahu alasannya, ia hanya menatap Valexa dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Ravel!" seru Nadin sok cemas menghampiri pemuda yang menatap tajam Valexa. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lagi.
Namun yang ditanya hanya berdiri diam ditempatnya dan hanya menatap tajam Valexa. Pria yang dipanggil Ravel itu menangkap sapu yang masih berayun kesana-kemari lalu membuangnya ke segala arah dengan kemarahan yang sengaja ia tahan karena tahu siapakah pelaku pembuat jebakan ini.
Beberapa teman sekelas lain juga mulai mengelilingi pria yang menjadi idola di kampus mereka. Tak hanya wajahnya yang tampan, mahasiswa yang bernama Ravelo itu juga sangat pintar dan merupakan keponakan rektor kampus. Wajar kalau Nadin dan juga yang lainnya mengidolakan Ravelo yang memang cool dan juga charming. Ia bahkan dijuluki sebagai 'Pangeran Kampus'.
"Tidak apa-apa!" jawab Ravel menyingkirkan tangan-tangan yang mencoba menyentuhnya tanpa beralih pada Valexa. Gadis yang Ravel lihat itu juga langsung berdiri sambil memegangi perutnya.
Si tampan Ravel kembali terdiam dan tidak melakukan apa-apa seolah ia pernah melihat wanita berkacamata, berpenampilan cupu yang baru saja menolongnya meski pada akhirnya, Ravel terluka juga karena tangannya keseleo. Ravelo mengamati tubuh Valexa dari atas hingga bawah sambil mengingat-ingat sesuatu.
Aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana? batinnya tanpa memedulikan yang lain.
Merasa diabaikan oleh sang idola, Nadin tidak terima. Ia mengikuti arah pandang Ravel yang ternyata menatap lurus Valexa. Tentu saja Nadin langsung naik pitam, hanya karena wanita rendahan itu, seorang Ravelo mengacuhkannya. Gadis sombong itu berjalan cepat menuju Valexa dan langsung melabraknya.
"Ini semua gara-gara kau! Beraninya kau menyentuh pangeranku!" Nadin mendorong tubuh Valexa dengan kuat hingga mahasiswi baru itu mundur selangkah ke belakang padahal Valexa baru saja bangun berdiri. "Kau pikir kau itu siapa, ha!" tangan Nadin mendorong tubuh Valexa lagi. Dan untuk kedua kalinya, Valexa mundur selangkah lagi ke belakang.
"Apa maksudmu? Kau sendiri yang membuat jebakan itu! Kenapa menyalahkanku?" tanya Valexa dan untuk kesekian kalinya, tubuhnya terus saja didorong lagi dan lagi, sampai akhirnya tubuh gadis cupu itu kembali terbentur dinding.
"Kau sengaja, kan? Kau cari perhatian pangeranku dengan cara sok jadi pahlawan kesiangan! Beraninya kau! Akan aku beri pelajaran supaya kau tak lagi mendekatinya apalagi sampai menatapnya! Ravelo hanya milikku! Dia pangeranku! Kau dengar itu!" Nadin menjambak rambut Valexa tanpa ampun dan semua teman-teman sekelasnya menyorakinya senang. Tidak ada satupun orang yang mau melerai perkelahian Nadin dan Valexa. Mereka benar-benar saling jambak menjambak rambut.
Adegan ini adalah hal yang paling ditunggu teman-teman Nadin, mereka paling suka kalau gadis sombong itu menyiksa orang seperti yang ia lakukan sekarang. Bagi mereka, pembullyan yang dilakukan Nadin adalah hiburan tersendiri untuk melepas penat ditengah-tengah padatnya jadwal mata kuliah yang mereka ambil selama menempuh pendidikan di kampus ini. Tapi nggak harus gitu juga kali. Ini kampus memang elit dengan segudang fasilitas lengkap mewahnya, tapi untuk penghuninya sama
"Kalian semua! Hentikan!" Teriak Ravelo dengan lantang sehingga membuat semua orang langsung terdiam. Namun tidak dengan Nadin yang terus saja menyerang Valexa tanpa belas kasih sama sekali. "Kau juga Nadin! Hentikan!" Ravelo menarik paksa tangan gadis sombong itu dari rambut Valexa lalu menepis tangan itu dengan kasar.
Sontak, Nadin terkejut melihat sikap Ravelo yang dinilai terlalu kasar padanya hanya demi membela si gadis cupu Valexa. "A-apa yang kau lakukan barusan? Kau kasar padaku!" Teriak Nadin tidak percaya. Matanya melotot menatap Ravel dan Valexa yang mulai membenahi rambutnya.
"Aku sudah menyuruhmu berhenti, tapi kau tidak mau mendengarkanku!" Ravelo menjelaskan alasannya.
"Kau kasar padaku demi sampah itu?" Nadin tetap tidak bisa terima.
"Bukan seperti itu ...." cetus Ravel.
"Permisi!" ujar Valexa memotong kata-kata Ravelo di tengah-tengah ketegangan yang terjadi antara Nadin dan pria tampan didepannya.
Dengan santai, Valexa berjalan maju melewati dua orang berbeda jenis kelamin tanpa peduli pada ketegangan yang menyelimuti mereka semua. Gadis cupu itu menerobos kerumunan orang dengan kasar dan langsung masuk ke dalam kelas lalu memilih tempat duduk paling belakang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Valexa bahkan mengeluarkan buku-bukunya dan siap mengikuti mata kuliah selanjutnya.
Semua mata memandang heran sikap acuh Valexa. Baru kali ini ada seorang wanita di bully, tapi tidak menangis ataupun sakit hati. Malah sebaliknya, Valexa terlihat sangat tenang dan santai. Ia terlalu fokus pada buku-bukunya sambil senyam-senyum sendiri. Benar-benar wanita aneh.
"Dia sangat menyebalkan, dasar sampah yang tidak tahu diri!" geram Nadin dan hendak cari gara-gara dengan Valexa lagi, tapi lengannya tiba-tiba dicekal kuat oleh Ravel.
"Sudah! Hentikan semua ini! Sampai kapan kau membully orang-orang yang tidak kau suka? Mereka semua juga manusia sama seperti kita. Apa masalahmu sebenarnya?" tanya Ravel marah.
"Ini semua salah pamanmu! Kenapa dia ambil kebijakan dan memasukkan orang-orang rendahan seperti mereka ke kampus ini? Aku dan keluargaku tidak bisa terima keputusan ini dan akan terus buat perhitungan dengan mereka semua supaya orang-orang miskin itu tahu diri, seperti apa kasta mereka yang jelas tidak akan pernah sepadan dengan kita!" bentak Nadin kesal dan hendak pergi melanjutkan niat buruknya. Tapi salah satu dosen terkiller di kampus ini sudah datang sehingga Nadin mengurungkan kembali niatnya.
Awas kau gadis jelek, akan kupastikan kau akan berakhir tragis di sini dalam kurun waktu sehari, batin Nadin memandang benci Valexa yang malah mengunyah perman karet sambil memerhatikan arahan dosen killernya. Aksi Valexa itu benar-benar membuat Nadin seperti kebakaran jenggot, baru kali ini ia membully orang tapi yang di bully malah tenang-tenang saja tanpa menunjukkan rasa takut sedikitpun padanya.
Hal serupa juga dirasakan oleh seluruh teman-teman Nadin. Mereka semua jadi bertanya-tanya, siapakah Valexa sebenarnya. Darimana asalnya dan kenapa gadis cupu itu malah memilih jurusan tempat para sarang monster pembully ini berada. Informasi yang mereka dapat hanyalah, Valexa adalah gadis desa yang berasal dari keluarga sederhana. Berkat kecerdasannya ia diterima di kampus ini melalui beasiswa. Selebihnya, tidak ada yang tahu seperti apa sosok gadis aneh itu sebenarnya.
BERSAMBUNG
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Zanzan
siapa valexa ya... penasaran aku thor...
2023-12-21
0
Jeissi
gaya elit kelakuan minus
2023-11-05
0
маяшан
sekolah elit tp akhlak sebagian mahasiswa tidak elit, malah minus
2022-12-15
0