Sepertinya, Ravel tidak bisa dianggap Remeh. Pria yang dijuluki sebagai pangeran kampus ini memiliki kemisteriusan tersendiri dibalik sikap cool dan charmingnya. Yang Ravel lakukan sekarang sangat berbeda dengan sikapnya saat berada di kampus. Di sini, Ravel ternyata bisa liar dan ganas juga bahkan telihat lebih garang dari preman kampus yang pernah dihadapi Valexa.
Namun, bukan Valexa namanya kalau ia jadi ciut dan takut hanya karena pria didepannya ini juga memiliki sabuk hitam sama seperti dirinya. Kini kedudukan mereka seimbang meski baik kedua belah pihak masih belum tahu seperti apa keluarga mereka masing-masing. Yang jelas, Valexa adalah nona muda kedua dikeluarganya begitu pula dengan Ravel. Pria tampan itu juga tuan muda kedua dikeluarganya.
Mereka berdua sama-sama pemegang sabuk hitam dalam ilmu bela diri tingkat tinggi. Keduanya juga diberkahi dengan paras yang rupawan. Entah mereka ini berjodoh atau apa, yang jelas mereka berdua adalah pasangan paling serasi dan sempurna.
"Pergi dari hadapanku!" hardik Valexa masih menahan sabar.
"Bagaimana kalau aku tidak mau," ujar Ravel tampak tenang dan terus menatap Valexa tepat di manik matanya.
"Kau akan mati," ancam gadis itu.
"Aku rela mati demi cintaku padamu." Ravelo malah menggombal hingga membuat Valexa jadi keki sendiri mendengar gombalan basi si tuan muda kedua.
"Aku ingin muntah mendengar rayuan gombalmu yang menggelikan itu," kritiknya.
"Bagus, artinya kau hamil anakku!" ucap Ravel seenaknya.
"Bisa nggak sih kamu nggak bicara ngelantur gitu? Hamil kepalamu!" sentak Valexa mulai emosi. Ia mencoba berontak, tapi tekanan kedua tangan Ravel terlalu kuat.
"Bukan, tapi hamil anakku! Kepalaku mana muat masuk ke dalam perut seksimu," seringainya.
Fix, Ravel memang sengaja membuat Valexa kesal dan pria itu malah menikmati momen sweet-sweet love mereka.
"Terserah kau sajalah! Aku tidak mau membuang tenagaku hanya untuk meladeni orang gilaa sepertimu. Cepat menyingkir dari atas tubuhku! Kau itu berat!"
"Berjanjilah satu hal padaku. Jika tidak, aku tak mau beranjak dari atas tubuhmu. Kita akan terus seperti ini sampai pagi. Kalau kau mau teriak silahkan, tidak akan ada yang peduli." lagi-lagi Ravel menyeringai. Ia mulai genit pada Valexa.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
"Habiskan malam ini bersamaku. Itu saja!"
"Sudah berapa wanita yang kau perlakukan seperti ini?"
"Baru satu, yaitu kau! Aku juga masih perjaka ting ting, kok. Mau coba?" tawar Ravel dengan nada bercanda.
Valexa sudah kehabisan kata-kata, ia sungguh tidak tahu apa yang harus ia ucapakan untuk merutuk pria gilaa yang ada dihadapannya ini.
"Aku buka wanita hina atau murahan seperti yang kau bayangkan, cari saja wanita lain diluaran sana yang bisa memuaskan hasrat birahimu. Jangan kau lampiaskan padaku! Aku takkan menyerahkan kesucianku padamu karena kau bukan suamiku!" Tatapan mata Valexa membuat Ravel bergidik ngeri juga.
"Kau ini bicara apa? Hasrat birahi apanya?" tanya Ravel dengan wajah sok polos.
"Lah, bukannya kau memaksaku melakukan itu ...?" Valexa jadi bingung dengan wajah sok polosnya Ravel.
"Melakukan apa? Kau jangan berpikir yang bukan-bukan tentangku. Siapa yang mau merenggut kesucianmu, bodoh! Aku hanya ingin kau terus berada di sini dan membantuku menyelesaikan lukisanku!" Ravel bangun berdiri dan membuka kanvas yang tertutup dengan kain biru.
Betapa terkejutnya Valexa saat ia melihat gambar lukisan yang ada di dalam kanvas itu. Matanya terbelalak tak percaya.
"I ... itu kan ... aku?" ujar Valexa terkejut. Ia memandangi lukisan dirinya sendiri walau itu hanya setengah jadi.
"Sepanjang waktu, aku mencoba mengingat detail wajahmu, supaya jika suatu hari kita bertemu maka aku akan langsung bisa mengenalimu. Sejak kau datang ke kampus, aku mulai melukis kembali wajahmu sedikit demi sedikit. Aku tidak punya fotomu kerena kau mengubah penampilanmu dari gadis cantik yang mempesona berubah jadi culun dan kampungan. Sekarang, berhubung kau ada di sini, aku ingin menyelesaikan lukisan ini. Karena itulah aku memintamu menghabiskan malam indah ini bersamaku. Pikiranmu kotor sekali tentangku, apa kau pikir aku sebejaat itu?" ganti Ravel yang protes.
"Kau tidak bilang kalau mau melukisku, mana aku tahu!" cetus Valexa, ia agak malu sebenarnya, karena telah salah paham pada Ravel.
"Sekarang kau sudah tahu. Kau juga tak perlu khawatir karena yang akan jadi suamimu nanti adalah aku. Jadi, jaga kesucianmu untukku, oke!"
Untuk kesekian kalinya, Ravel mengedipkan salah satu matanya untuk Valexa. Tentu saja gadis itu langsung salah tingkah.
"Kenapa setiap kali kau bicara, selalu saja membuatku kesal! Siapa juga yang mau menikah denganmu?"
"Seluruh istana ini sudah tahu kalau kau adalah calon istriku."
Ravel berdiri dan membimbing Valexa untuk duduk disebuah kursi. Pria tampan itu bermaksud menyelesaikan lukisannya sambil mengobrol dengan wanita yang kini sudah menjadi kekasihnya.
"Tapi aku belum setuju menikah denganmu, jadi kekasihmu saja karena terpaksa," sanggah Valexa.
"Tidak apa-apa kalau kau masih belum bisa menerimaku sebagai calon suamimu, nanti pasti kau bakal terima dan jatuh cinta padaku."
"Dasar narsis, kau ini sok Pe De sekali. Bagaimana kalau aku jatuh cinta pada pria lain?" tanya Valexa sengaja memancing Ravel.
Gadis itu penasaran dengan jawaban pria yang terobsesi dengannya. Kekasihnya itu langsung berhenti melukis dan menatap wajah Valexa lekat-lekat.
"Aku akan membunuhnya. Kau hanya boleh jatuh cinta padaku, bukan pada pria lain," jawabnya menakutkan dan Valexa langsung diam.
Ini orang seram juga. Apa dia psikopat? batin Valexa dan ia sudah tak mau bicara lagi. Dan tiba-tiba suasana me jadi hening. Baik Ravel ataupun Valexa sudah tidak saling bicara lagi. Valexa agak lelah karena ia terpaksa jadi model Ravel. Sedangkan Ravelo sendiri sangat fokus melukis Valexa.
"Besok hari minggu, kuliah sedang libur." Ravel memecah kesunyian. "Besok pagi ayo jalan-jalan mengelilingi tempat ini. Setelah itu, kita akan datang ke kampus sebagi pasangan kekasih."
"Apa sebaiknya kita ... menyembunyikan status kita?" Valexa kurang setuju kalau hubungannya dengan Ravel sekarang diketahui banyak orang.
"Kau tak perlu lagi menyembunyikan identitasmu. Para penjahat itu takkan pernah menampakkan batang hidungnya. Sebaliknya, kita buat saja kehebohan di kampus, siapa tahu penjahat itu mau keluar dari tempat persembunyuiannya ketika melihat wajah cantikmu."
"Aku masih belum mengerti maksud ucapanmu. Jangan bicara setengah-setengah."
"Hanya ada dua hal di kampus ini yang bisa menarik perhatian orang, siapapun itu. Yang pertama, wajah yang buruk. Kedua, wajah yang menawan. Kau dan aku adalah pasangan sempurna untuk menarik perhatian banyak orang termasuk penjahat itu. Aku rasa ... itulah yang terjadi pada kakakku dan sahabatmu," jelas Ravel sambil terus melukis wajah cantik kekasihnya.
Valexa memikirkan perkataan Ravel dan memang masuk akal untuk sikon di kampus ini. Wajah kakak Ravelo sangat tampan, begitupula dengan wajah Shakila. Katampanan dan kecantikan mereka pasti ada hubungannya dengan kasus penganiayaan yang dialami mereka berdua entah apa itu.
Ditambah lagi, orang-orang yang hilang secara misterius juga memiliki paras rupawan. Jika spekulasi Ravelo benar, maka Valexa bersedia melakukan apa saja untuk bisa menemukan siapakah pelaku yang menganiaya sahabatnya hingga sampai seperti itu.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
he..he...he....pikiran valexa udah ngeres aja padahal ravel hanya ingin melukis....
2024-12-23
0
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-07-07
0
Hasnah Siti
iyahhh aku juga jd gregetan sama raveloooo...
2022-09-02
0