Semua orang langsung heboh ketika melihat Valexa datang lebih dulu melintasi tempat orang-orang berkumpul di area pertama kali Valexa dan Ravelo mengambil start lari. Artinya, ini sudah putaran pertama dan Valexa telah lebih dulu menyelesaikannya. Padahal mereka kira, gadis kampungan yang mereka benci itu sudah pingsan disuatu tempat. Nyatanya, dugaan mereka salah besar.
Meski Valexa berhasil menang telak dan mematahkan taruhan semua orang yang menganggap remeh seorang Valexa, gadis itu tetap tidak menyombongkan dirinya dihadapan para pembullynya. Langkah kaki Valexa yang tadinya secepat angin, langsung berlagak kembali pelan seperti sebelumnya.
Gadis itu hanya berjalan cepat saja agar teman-teman yang membencinya tak terlalu terkejut mengetahui fakta baru tentang Valexa yang ternyata bukanlah gadis kampungan biasa. Semakin penasaranlah semua orang akan siapa sosok Valexa sebenarnya.
"Ti-tidak mungkin ... si-si ... si berengsek itu ... bisa sampai satu putaran?" ujar Meta yang berdiri di samping Nadin.
Tak hanya Meta saja, seluruh orang yang standby di tempat ini menatap Valexa tak percaya. Rekan satu geng Nadin itu sangat terkejut karena Valexa bisa menyelesaikan satu putaran hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 jam. Yang lebih bikin shock lagi adalah, jangankan pingsan, Valexa malah terlihat semakin sehat dan segar bugar, tak ada tanda-tanda ia kelelahan meskipun langkah larinya sangat pelan.
"Pasti ada yang salah di sini! Tidak mungkin gadis itu bisa mengelilingi kampus secepat itu. Aku takkan pernah membiarkan dia menyelesaikan hukumannya bagaimanapun caranya." geram Nadin sambil mengepalkan kedua tangan menatap marah Valexa yang sekilas seolah terlihat meledek Nadin dengan senyum sinisnya.
Semakin marahlah Nadin dan iapun membisikkan sesuatu di telinga salah satu teman geng pembullynya. Pria suruhan Nadin langsung pergi menuruti perintah yang dibisikkan Nadin barusan, entah apapun itu. Yang jelas pasti bukan sesuatu yang baik.
"Apa yang akan kau lakukan? Pergi ke mana si Thomas?" tanya Meta penasaran.
"Huh, kau lihat saja, putaran berikutnya, gadis kampungan itu tidak akan pernah bisa menampakkan batang hidungnya di sini lagi." Nadin melipat kedua tangannya di depan dada seolah merasa menang dan senang jika rencananya untuk mencelakai Valexa berhasil terlaksana.
Semua orang tahu siapa Thomas, dia adalah preman kampus yang paling ditakuti semua orang. Berurusan dengannya, sama saja memperpendek usia. Sebab, si Thomas ini berteman dekat dengan sekelompok gengster yang tidak ada tandingannya di kota ini. Kalau Nadin, sudah menyuruh si preman itu melakukan sesuatu, sudah bisa ditebak apa yang bakal terjadi dan targetnya siapa lagi kalau bukan Valexa. Tamatlah riwayat mahasiswi baru itu, baru saja masuk universitas elit, ia harus terancam tinggal nama alias koabs.
"By the way, di mana si pangeran kampus? Kok belum nongol juga?" Meta celingukan mencari-cari sosok Ravelo yang harusnya larinya jauh lebih cepat dari Valexa, tapi yang dicari-cari tak kunjung datang juga.
"Kenapa kau tanya aku? Kau pikir aku dukun yang tahu segalanya tentang Ravelo?" cetus Nadin kesal. Suasana hatinya sedang sangat buruk dan itu semua gara-gara seorang wanita bernama Valexa.
Meta tak berani bersuara lagi dari pada kena sengal Nadin. Tabiat wanita sombong itu benar-benar jelek. Katanya cinta mati sama si pangeran kampus, tapi nyatanya ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Ravel yang hingga detik ini tak kunjung terlihat juga. Setelah Valexa menghilang dari pandangan mata semua orang, barulah Ravelo muncul dengan stay coolnya dan terus berlari cepat mencoba menyusul Valexa yang sudah jauh meninggalkannya.
"Sial! gadis itu cepat sekali larinya!" gumam Ravelo mencoba mempercepat kecepatan berlarinya. Sebagai laki-laki, mana boleh ia kalah dari perempuan.
Karena hanya memakai kaus dalam dan celana pendek olahraga, Ravelo jadi semakin terlihat keren dan mempesona dimata semua para kaum hawa. Lagi-lagi, teriakan histeris menggema di seluruh area fakultas bahasa begitu Ravelo melintasi mereka semua. Namun, kali ini Ravelo tak menggubris teriakan itu seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia lebih fokus berlari agar bisa secepatnya menyusul wanita yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Eh, Nad. Kok kayaknya ada yang aneh dengan si Ravel? Dia nggak tebar pesona lagi sama semua wanita yang ada di sini? Aneh kan? Dia kenapa, ya?" komentar Meta yang juga membuat Nadin heran.
"Entahlah, mungkin dia kesal karena si kampungan itu lari lebih dulu darinya. Pasti ada sesuatu diantara mereka selagi kita ada di sini dan aku akan segera cari tahu apa itu. Ayo kita pergi dari sini karena jam kuliah kita sudah selesai. Si brengsek itu benar-benar membuang waktuku, gara-gara mereka, aku jadi tidak mengikuti 2 mata kuliah."
"Lah kau nggak nungguin Ravel dulu?" tanya Meta.
"Dia baru bisa menyelesaikan hukuman ini 3 hari lagi, jadi aku bakal samperin dia setelah 3 hari. Masa iya aku nungguin dia di sini? Terus bermalam juga gitu? Ih, nggak bangetlah. Salah sendiri, siapa suruh dia belain cewek kampungan itu, tanggung sendiri akibatnya!"
"Terus si Valexa itu gimana?"
"Dia bakal jadi hantu gentayangan setelah ini, udahlah jangan bahas mereka lagi. Bikin spaneng aja. Kau tahu sendiri tak ada seorangpun yang bisa lolos dari hukuman ini kecuali Ravel. Terakhir, ada gadis yang pingsan dan tak kembali setelah dia mendapatkan hukuman seperti ini. Hal serupa juga bakal terjadi pada Valexa. Hahahaha ... rupanya aku tak perlu susah payah menyingkirkannya. Haaaaaaah .... akhirnya besok suasana kampus sudah kembali seperti semula dengan musnahnya si sampah Valexa." Nadin tersenyum senang. Ia pergi meninggalkan tempatnya dengan gaya khas sombongnya diikuti oleh rekan-rekan satu gengnya.
***
Keesokan paginya, Nadin and the gengnya menikmati suasana kampus yang terlihat tampak cerah dan menyegarkan. Mereka semua terlihat senang karena sebentar lagi bakal mendengar kabar mundurnya Valexa dari kampus ini karena tak kuat menjalani hukuman yang diberikan. Yah, paling tidak, kabar pertama yang wajib mereka dengar adalah si Valexa pasti sudah masuk rumah sakit dan sedang terbaring lemah di sana. Ditambah lagi, Nadin sangat yakin kalau preman suruhannya kemarin, sudah membereskan Valexa dengan sangat baik.
Sayangnya, hal yang dipikirkan wanita sombong itu nyatanya tak sesuai ekspektasi. Begitu memasuki ruang kelas, ia sangat terkejut melihat Valexa, tengah duduk di atas bangku sambil memegang semua uang taruhan yang orang-orang kampus ini pertaruhkan saat Valexa menjalani hukuman. Saking terkejutnya, Nadin sampai terhuyung mundur ke belakang dan hampir oleng kalau saja, rekan satu gengnya yang ada dibelakangnya tidak sigap menangkap tubuh Nadin.
"Ka-kau!" teriak Nadin seketika dan Valexa langsung menoleh padanya.
"Hai!" sapa Valexa senang sambil melambaikan tangannya sok akrab. Ia langsung turun dari atas bangku kuliahnya. Seluruh teman-teman Valexa yang tadinya mengelilinya juga langsung diam seribu bahasa tanpa berani berkutik sedikitpun. "Karena tak satupun dari kalian memenangkan taruhan, maka uang ini aku ambil. Terimakasih, ya? Buanyak sekali loh uangnya. Sekarang aku bukan orang miskin lagi dan ini semua berkat kau." Valexa mengibas-kibaskan uang taruhan yang ia pegang tepat di depan Nadin yang sudah kebakaran jenggot saking emosinya. Kedua tangannya bahkan mengepal kuat menahan geram.
"Oh ... satu lagi," tambah Valexa sengaja mengompri hati wanita yang ada dihadapannya supaya semakin panas. "Karena aku menang, aku bakal traktir kalian semua menggunakan uang taruhan ini begitu jam istirahat nanti. Kalian semua bisa beli apapun di kantin kampus! Setujuuu!" teriak Valexa sambil bertepuk tangan.
Awalnya, beberapa penghuni kelas spontan berdiri senang dan hampir berteriak setuju, tapi niat itu mereka urungkan karena tatapan mata Nadin benar-benar menakutkan. Tidak ada yang berani melawan Nadin atau mereka bakal mati detik ini juga.
"Loh, kok muka kalian pucat pasi gitu? Kalian takut sama si penyihir ini?" ledek Valexa dan semakin marahlah Nadin karena seumur hidupnya, baru kali ini ia dikatain 'penyihir' oleh orang miskin pula. Benar-benar penghinaan besar bagi seorang Nadin.
"Bagaimanaaaa bisaaa ... kau ada di sini?" tanya Nadin dengan tempo nada pelan, tapi menakutkan. Suaranya bahkan terdengar ngebas. "Siiapa ... kau sebenarnya, ha?" Matanya menatap penuh amarah wajah sumringah Valexa. "Jawab pertanyaankuuuu!" tiba-tiba Nadin berteriak menggelegar hingga serasa membuat dinding ruangan dan kaca jendela bergetar.
BERSAMBUNG
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
kereeennnnn....giru dong...
buat pingsan tu ai nadin lebih seruuuu
2024-12-23
0
маяшан
hukuman dr dosennya sungguh terlalu
2022-12-16
0
Hasanah Purwokerto
👏👏👏👏👏,,valexa...
2022-07-02
1