Sebelum pelajaran berlangsung, semua mahasiswa yang ada di kelas mendadak diam dan mendengarkan bimbingan serta arahan materi yang akan mereka pelajari dari dosen paling killer di jurusan ini. Jika ada salah satu mahasiswa bergerak atau melakukan hal yang bisa mengganggu konsentrasi sang dosen, maka sudah dipastikan mahasiswa tersebut bakal mendapat hukuman berat darinya dan berakhir tidak lulus dalam mata kuliahnya. Artinya, mahasiswa yang tidak lulus tersebut harus mengulang. Sebengal apapun orang yang mengikuti kuliahnya pasti bakal langsung jinak bila dosen killer yang biasa disebut Mr. Morgan ini sudah bicara.
Namun, hal itu tak berlaku untuk Nadin, masalah Valexa yang menjadi pusat perhatian Ravelo, masih belum selesai. Ia semakin merasa sangat panas kala sang pangeran kampus itu memilih duduk di samping Valexa. Kebetulan gadis cupu itu memilih bangku paling belakang. Tadinya Nadin hendak duduk di samping Ravelo tapi sudah tidak ada kursi kosong lagi untuknya.
Sebelah kiri Ravel adalah dinding ruangan yang langsung menghadap ke jendela, sedangkan Valexa ada disebelahnya. Kursi duduk yang diduduki para mahasiswa ini semakin ke belakang, posisinya semakin tinggi ke atas sehingga memudahkan proses kegiatan pembelajaran jadi lebih nyaman.
"Heh cupu, minggir ... itu kursiku!" cetus Nadin dengan kasar mencoba menggeser kursi Valexa yang duduk di sebelah Ravel. Sepertinya, ia sengaja mencari keributan ketika pelajaran sudah dimulai.
Sebelumnya, Ravel meminta jalan untuk duduk disebelah gadis culun itu dan Valexa langsung memberinya jalan tanpa mau melihat wajah tampan Ravel. Sekarang, ganti Nadin yang mencoba menggeser tempat duduknya.
Kalau dituruti, ketua geng pembully itu malah akan semakin terus menindas dan mengganggunya. Kali ini, Valexa enggan menuruti keinginan Nadin dan terkesan menantang.
"Ada banyak kursi di sana, kau bisa duduk di tempat lain," jawab Valexa cuek bebek sambil terus mencatat penjelasan dosen yang berbicara di depan tanpa mau melihat wajah judes Nadin.
"Kau berani melawanku?" pekik sang ketua pembully marah sehingga mengundang perhatian banyak orang. Mereka semua memandang ke arah Valexa dan Nadin berada. "Kau akan menyesali ini berengsek, kau belum tahu siapa aku!" geramnya mencoba mengancam Valexa.
"Nadin, kembalilah ke tempatmu? Kenapa kau suka sekali cari gara-gara?" sengal Ravel menatap marah Nadin.
"Jangan ikut campur urusanku!" bentak Nadin semakin keras dan emosi karena orang yang ia suka, bukannya membelanya, tapi malah berpihak pada gadis kampungan ini.
"Ada apa itu? Apa yang terjadi?" teriak sang dosen killer mulai naik pitam karena merasa ada yang bikin masalah dikelasnya saat jam pelajaran berlangsung. Seluruh mahasiswa yang hadir tak berani bicara ataupun berkomentar. Mereka semua memilih diam bagai patung hidup.
"Valexa mencuri perhiasan saya, Mister?" tuduh Nadin tiba-tiba dan tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut termasuk Valexa sendiri.
Namun, Valexa langsung sadar kalau Nadin sengaja cari ribut dengannya dan mulai mencemarkan nama baiknya. Ini sudah Nadin rencanakan sebelumnya. Gosip tentang betapa keji dan liciknya seorang Nadin, ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Gadis sombong itu dapat melakukan berbagai macam hal untuk menyiksa semua orang yang tidak ia suka termasuk yang dilakukan pada Valexa sekarang.
"Itu tidak benar, Mister. Saya tidak mencuri apapun!" Valexa membela diri dihadapan dosennya.
"Halaaah, orang miskin kayak kamu itu pasti pengen punya barang kinclong kayak punyaku, Mana ada maling ngaku? Kalau semua pencuri ngaku, penjara penuh," ledek Nadin di susul gemuruh sorakan teman-teman sekelasnya. Sayangnya, kehebohan itu tak berlangsung lama karena lirikan mata sang dosen killer mendiamkan semuanya saking seramnya.
"Meskipun aku miskin aku tak suka perhiasan. Untuk apa aku mencuri perhiasan dari orang sepertimu kecuali kalau kau sengaja menjebakku!" Ganti Valexa balik menuduh Nadin dan seketika ekspresi ketua geng pembully itu langsung berubah merah padam.
Dalam kurun waktu kurang dari 3 jam, Valexa telah membuat tensi darah Nadin naik drastis. Baru kali ini si putri sombong merasakan amarah begitu besar ketika melihat sikap Valexa yang tak gentar saat berhadapan dengannya. Kalau mahasiswi lain, pasti sudah menangis didepannya. Tapi tidak untuk Valexa. Sayangnya, bukan Nadin namanya kalau ia tidak bisa membuat musuhnya tersiksa dan bertekuk lutut dihadapannya.
"Oke! Kita lihat apakah kau masih bisa sok suci setelah aku menemukan buktinya!" Tantang Nadin sambil menatap tajam wajah Valexa seolah dialah yang benar.
Dengan cepat, ketua geng pembully itu mengambil tas Valexa lalu membukanya. Ia langsung mengeluarkan seluruh isi tas Valexa dengan menjatuhkan semua barang-barang yang terdapat dalam tas ransel hitam milik mahasiswi baru itu. Benda kecil berkilauanpun ikut terjatuh dan itu adalah gelang perhiasan Nadin. Artinya, tuduhan ketua geng pembully terhadap Valexa, benar. Nadin tidak berbohong. Adanya bukti gelang yang terdapat dalam tas Valexa telah menjelaskan semuanya.
Melihat hal itu, semua orang langsung meneriaki Valexa sebagai maling. Suasana kelas kembali heboh dan untuk kesekian kalinya, mister Morgan menenangkan semuanya dengan menggebrak salah satu bangku mahasiswa tepat disebelah kanannya dengan keras sehingga mengagetkan semua orang.
Brak!
Spontan semuanya terdiam dan kembali duduk di tempat mereka masing-masing. Tidak ada yang berani lagi buka suara atau nilai mereka bakal jelek dan mengulang kembali mata kuliah ini.
"Valexa, apa kau masih bisa mengelak?" tanya mister Morgan dengan suara khas menakutkan.
"Saya tidak mengelak Mister, sejujurnya saya juga tidak tahu bagaimana caranya perhiasan itu ada di dalam tas saya. Bisa jadi, Nadin sendiri yang meletakkannya disaat saya lengah tadi." Valexa tetap membela dirinya sendiri karena ia merasa tidak bersalah.
Gadis itu bahkan berani menuduh balik Nadin. Wajah Valexa juga terlihat sangat tenang. Ia sangat tahu, tidak akan ada yang percaya pada pembelaannya.
"Apapun pernyataanmu padaku, berdasarkan bukti yang ada, kau tetap pelakunya karena barang itu ditemukan di dalam tasmu. Artinya, kau harus menjalani hukuman dariku! Ikut aku!" ujar dosen killer itu dengan tatapan misterius yang menakutkan.
Tidak ada yang berani membayangkan hukuman seperti apa yang bakal didapat oleh Valexa. Kalau sang dosen sudah berkata seperti itu, tak satupun mahasiswa di kampus ini berani membantahnya. Mau tidak mau, Valexa harus mengikuti aturan dosen terkiller bernama Morgan.
Sang dosen berjalan lebih dulu disusul Valexa dari belakang. Namun, sebelum keduanya sampai diambang pintu, tiba-tiba saja Ravelo berdiri dan menyatakan satu kalimat yang langsung membuat semua orang tertegun tak percaya mendengarnya.
"Tunggu Mister!" seru Ravelo dengan lantang hingga suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan. "Sayalah yang meletakkan perhiasan Nadin ke dalam tas Valexa, jadi ... hukum saya juga!" tandas sang pangeran kampus dan sukses membuat mulut Nadin menganga lebar.
"Ravel! Apa yang kau lakukan?" teriaknya marah. Ia bahkan sampai memicingkan mata karena tak percaya bahwa pria idaman hatinya rela membela seorang gadis cupu seperti Valexa.
Seruan Nadin sama sekali tak digubris Ravel. Ia juga tak peduli pada tatapan tajam seluruh orang yang memandang aneh Ravelo. Pria tampan itu berjalan cepat mendekat ke tempat sang dosen dan ia berdiri tegap didepannya.
"Ravelo Arsenio, aku terkejut kau melakukan pelanggaran dikelasku untuk pertama kali," ujar sang dosen agak terkejut juga. "Kau sungguh mengejutkanku." Sayangnya, si dosen killer ini tak tampak terkejut sama sekali dan lebih terkesan takjub akan apa yang dilakukan Ravel demi membela mahasiswi baru ini.
Tentu saja Morgan tahu betul siapakah sosok Ravelo. Pemilik nama lengkap Ravelo Arsenio Aghasi, adalah pria tampan yang menjadi idola dikampusnya. Tak hanya memliki postur tubuh sangat tinggi, pria yang dijuluki sebagai pangeran kampus ini juga menjabat sebagai ketua Senat kampus yang artinya, Ravel bukan mahasiswa biasa. Ia punya pengaruh besar dalam kemajuan universitasnya dan banyak hal pula yang sudah Ravelo lakukan demi kampus bergengsi ini. Sangat aneh bagi Morgan bila seorang pangeran kampus melakukan hal yang seharusnya tak pantas dilakukan kecuali jika ia punya alasan tersendiri.
"Oke, baik ... aku tak paham motif dari kejadian yang terjadi di sini, tapi ... pelanggaran adalah pelanggaran. Karena kau sudah mengakui perbuatanmu, maka ... kaupun juga akan mendapat hukuman dariku." Morgan menatap mata tajam Ravelo lalu beralih menatap Valexa. "Kalian berdua ... larilah keliling kampus 20 kali putaran sekarang juga. Dan jangan harap bisa mengikuti kelasku lagi sebelum kalian berdua menyelesaikan hukuman dariku!" seru sang dosen killer itu sambil tersenyum sinis penuh makna.
Lari 20 kali putaran keliling kampus yang memiliki luas berhektar-hektar, sama saja dengan bunuh diri secara perlahan. Lebih baik mengulang mata kuliah lagi daripada harus menjalani hukuman yang lumayan berat itu. Sehari semalam, baik Valexa ataupun Ravelo, belum tentu bisa menyelesaikannya.
BERSAMBUNG
***
NB: Kisah Romantis Valexa dan Ravelo akan dimulai ketika keduanya sama-sama menjalani hukuman dari sang dosen. Seperti apa kelanjutannya? Terus simak kisah mereka ya ... up setiap hari soalnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Ricka Monika
gak masuk akal baik dosen maupun si pembulli masa dosen dengan gampang menghukum mahasiswinya tanpa bukti yg falit,tu dosen gak beres tu mihak orkay,kalau pd sikap sprt itu ngapain terima mahasiswa miskin,cocoknya ini diviralkan di sosmed
2024-12-22
2
Shinta Dewiana
bagusnya ini nadin di buat cacat....dan harus meminta maaf di depan umum...huh
2024-12-23
0
Rini Susanti
mmg Iki kampus gk ada cctv??
2024-12-26
0