Kedatangan Nadin yang tak terduga, membuat Valexa sempat berpikir apakah wanita sombong bertampang garang itu mendengar semua pembicaraannya dengan Ravelo atau tidak. Wajah Valexa sedikit menegang kalau-kalau Nadin tahu siapa dia sebenarnya. Namun, dilihat dari gelagat Nadin yang menyebutnya sebagai wanita miskin dan kampungan, sepertinya ketua geng pembully itu masih belum tahu siapa Valexa.
Hal serupa juga dirasakan Ravelo. Ia bangun berdiri dan menatap penuh waspada pada Nadin. Ravel sangat tahu siapa Nadin, sejak dulu wanita itu terang-terangan menyukainya dan sangat menginginkan ia menjadi kekasih Nadin. Namun, si pangeran kampus menolak mentah-mentah cinta Nadin dan lebih memilih tak mendekati siapapun sampai ia bertemu dengan Valexa selepas liburan di Eropa.
Pernah seorang wanita di kampus ini dekat dengan Ravel. Ujung-ujungnya, wanita tersebut menjadi korban bullyan Nadin dan berakhir keluar dari kampus. Ravel tak suka cara Nadin, tapi keluarga wanita sombong itu selalu mendukung aksi dan tindakan putrinya. Bahkan paman Ravelo yang seorang rektor saja, tak bisa berkutik menghadapi sikap diktator Nadin dan seluruh anggota keluarganya. Uang adalah segalanya dan keluarga Nadin adalah orang yang paling berkuasa. Melawan mereka, sama saja dengan setor nyawa secara cuma-cuma.
Kali ini, Ravel tidak mau tinggal diam lagi. Tindakan Nadin yang semena-mena sudah tak bisa dibiarkan begitu saja. Walau ia tidak tahu apa tujuan Valexa datang ke kampus ini dan menyamar sebagai pribadi yang jauh dari karakter aslinya, Ravel tetap akan melindungi Valexa. Sebab, ia sudah memilih mahasiswi Oxford itu menjadi kekasihnya. Diluar dugaan, Valexa malah mengatakan satu kalimat yang membuat sang pangeran kampus mengernyitkan alisnya.
"Aku sarankan padamu, urungkan saja memaksaku menjadi kekasihmu, jika tidak ... kau akan berakhir mengenaskan seperti korban bully Nadin yang lainnya," ujar Valexa tanpa mau menoleh pada Ravel. Matanya memandang lurus Nadin yang juga menatapnya penuh dengan api kebencian tak terkira.
"Huh, kau salah besar Sayang. Dia takkan pernah bisa menyakitiku. Sebaliknya, kalau kau tak ingin berakhir mengenaskan seperti orang-orang yang kau bilang tadi, maka jalan satu-satunya adalah bersedia menjadi kekasihku. Setidaknya, kita harus sok mesra didepannya," bisik Ravel ditelinga Valexa sehingga membuat Nadin semakin marah karena terbakar api cemburu. Dan itulah yang memang diinginkan Ravel, semakin Nadin marah, malah semakin bagus.
Usulan Ravel soal memancing emosi singa yang sedang lapar lumayan menantang bagi Valexa. Mungkin dengan begitu, ia bisa menemukan apa yang ia cari di kampus ini. Gadis itu ingin tahu apa yang bakal dilakukan Nadin terhadapnya setelah ia dan Ravelo menyandang gelar sebagai pasangan kekasih. Valexa bersedia bekerja sama dengan Ravel untuk kali ini dengan berpura-pura mesra di depan Nadin.
"Kenapa kau datang mengganggu kami, pergilah! Aku sedang ingin berduaan dengan pacarku, iya kan, Sayang?" tanya Ravel sok senang sambil menggandeng erat tangan Valexa.
Dasar gila, edan, nggak waras, kampreet! batin Valexa dalam hati merutuki sikap Ravel saat mulai berakting di depan Nadin. Tapi cowok itu lebih terkesan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Nadin tersenyum sinis antara percaya dan tidak percaya, tapi ia mencoba tetap menahan emosi agar tidak tumpah di sini. "Seleramu rendah sekali, banyak wanita cantik di kampus ini. Tapi kau malah pilih wanita comberan seperti dia? Apa yang dia berikan padamu? Tubuhnya? Berapa harga yang dia tawarkan? Sejuta? Dua juta?" ejek Nadin merendahkan Valexa dan menuduhnya yang bukan-bukan.
"Wanita yang aku pilih jadi pacarku ini memang tampak buruk diluar, tapi ia berkilau di dalam dan hanya aku yang bisa melihat kilauannya. Harganya sungguh tak ternilai. Orang sepertimu mana bisa lihat," ujar Ravelo ambigu seolah menampar balik ucapan Nadin sehingga wanita sombong itu semakin panas hatinya.
Wuih, keren juga nih cowok balesannya, batin Valexa dalam diam. Tadi mengumpat, sekarang memuji.
Tak ingin terbakar api cemburu lebih besar lagi, Nadinpun beralih menatap Valexa. "Heh, kau cewek murahan! Pergi dari sini karena aku ingin bicara empat mata dengan Ravel," sengal Nadin, kedua tangannya mengepal kuat. Bahkan urat nadi Nadin sampai terlihat. Namun ia berusaha keras menahan amarahnya yang meminta untuk segera diluapkan.
"Tidak ada rahasia diantara aku dan pacarku, dia tetap di sini bersamaku. Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Jika kau tidak mau, maka sebaiknya kita tak bicara apa-apa," sela Ravel lagi. Ia tak hanya menggenggam erat tangan Valexa, cowok tampan itu bahkan merangkul bahu Valexa dengan mesra.
Awalnya, Valexa marah dan tak terima, tapi ini hanya akting, mau tidak mau Valexa diam dan menurut saja apapun yang dilakukan Ravel terhadapnya.
Ini orang kurang ajar banget sih! Awas kau nanti! batin Valexa kesal. Tadi ngumpat, terus memuji, sekarang malah marah sendiri.
"Aku hanya ingin mengatakan ... kalau kau sedang dipanggil rektor," seru Nadin. Padahal bukan itu yang ingin ia katakan sebenarnya. Tapi terpaksa berbohong demi memisahkan Ravel dan Valexa. "Dia ingin tahu kenapa kau sampai mendapatkan hukuman dari Mr. Morgan. Aku rasa ... kau tak bisa membawa Valexa bersamamu. Cepat temui pamanmu. Dan biarkan Valexa di sini bersamaku." Nadin bicara sambil meniupi kuku-kuku tangannya seolah ada makna tersembunyi di balik ucapannya.
Raut wajah Ravel langsung menegang ketika Nadin menyebut-nyebut pamannya. Ia tahu wanita sombong itu punya maksud tersembunyi dan secara tidak langsung, Nadin telah mengintimidasi Ravel dengan menggunakan pamannya.
Melihat gelagat Ravel yang tak biasa, Valexa langsung memahami situasi. Ia juga tak ingin membahayakan orang lain demi bisa mencapai tujuannya. Mungkin inilah saatnya Valexa harus menghadapi maslah besar yang sudah ia perkirakan sebelum datang ke sarang para monster ini.
"Pergilah temui rektor, aku baik-baik saja. Ada peramal yang mengatakan kalau umurku masih sangat panjang. Jadi, aku tidak akan mati sekarang," bisik Valexa menenangkan Ravelo karena cowok itu sedang bingung antara meninggalkannya atau tidak untuk menemui pamannya.
"Aku janji aku akan cepat kembali begitu selesai bicara dengan pamanku. Jangan pergi kemanapun. Ravel mengambil ponselnya dan bertukar nomor dengan Valexa. "Hubungi aku kalau terjadi sesuatu padamu." Raut wajah Ravel terlihat serius dan sangat mencemaskan Valexa.
Sebelum Ravel pergi, ia memegang kedua pipi Valexa dan menatapnya mesra. Cowok itu hendak mencium lagi bibir Valexa tapi niatnya ia urungkan karena gadis cupu itu memberi ancaman keras.
"Berani menciumku, maka matilah kau!" geramnya tanpa kentara, matanya menatap tajam mata elang Ravel.
"Kita sedang berakting, apa kau lupa?" bisiknya.
"Sudah tidak ada gunanya, cepat pergi sana!" Valexa mendorong tubuh Ravel dengan paksa agar cowok menyebalkan itu segera pergi dari sini.
"Tunggu aku di sini, aku akan kembali dalam waktu kurang dari 15 menit." setelah bicara begitu Ravel berlari secepat kilat menuju ke tempat pamannya berada.
Kini, tinggal Nadin dan Valexa saja yang saling berdiri berhadapan dengan api kebencian masing-masing. Mata mereka saling beradu pandang. Valexa tetap tenang, sedangkan Nadin sudah sangat ingin membunuh wanita yang berdiri tegap dihadapannya.
"Kau apakan Thomas dan anak buahnya?" tanya Nadin tanpa basa-basi.
Valexa langsung tersenyum sinis. "Tidak aku apa-apain, kan aku sibuk lari menjalani hukuman atas jebakan yang kau buat untukku. Ah ... rasanya tubuhku jadi segar bugar sekali setelah berlari semalaman." Valexa meliuk-liukkan kembali tubuh langsingnya dan memutar-mutar kepalanya seperti orang yang sedang melakukan pemanasan.
Namun, tanpa di nyana-nyana, dari belakang tubuh Valexa muncul seseorang dengan membawa balok kayu besar dan langsung memukulkan balok kayu tersebut ke tengkuk Valexa sehingga gadis itu terkapar seketika.
Buk!
Valexa langsung tak sadarkan diri alias pingsan. Nadin sangat puas melihat kondisi Valexa yang tergeletak di tanah. Ia berjalan mendekat kearah tubuh gadis misterius itu dan mengambil ponselnya lalu membuangnya jauh-jauh. Sedangkan orang yang memukul tengkuk Valexa hingga pingsan hanya berdiri diam di samping Nadin.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah dan ikat tubuhnya di sana," perintah Nadin.
"Siap Bos," seru orang itu dan langsung mengangkat tubuh Valexa yang tak sadarkan diri lalu membawanya pergi dari sini sebelum ada orang lain, melihat aksi mereka.
"Beraninya kau merebut Ravel dariku, kau pikir kau itu siapa? Kau belum tahu saja siapa aku. Kali ini ... matilah kau!" geram Nadin dan ikut pergi meninggalkan tempat ini.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
huh dasar iblis curang...kenapa valexa kurang waspada ya...atau sengaja biar tau apa yg akan di lakukan sama nadin...hmmm..tegang juga ini
2024-12-23
0
Lea_Rouzza
yooowoooo br hari k2,,,nadin lenyap kau dr bumiiii wkwk #modePembasmiKbenarn
2025-01-03
1
Jeissi
beraninya nyerang dari belakang, satu lawan satu dong. palingan juga si nadin gak bisa apa².
2023-11-05
0