Mata Ravelo terus menatap tajam wajah culun Valexa yang tak bisa berkutik di bawah tubuhnya. Ia hendak mencium bibir manis gadis itu dan Valexa hanya diam saja. Diam, bukan berarti Valexa mau menerima ciuman dari pangeran kampus yang menurutnya sudah gila. Gadis itu terdiam karena ia menunggu kesempatan yang tepat. Dan disaat bibir keduanya hendak bertemu, dengan cepat, Valexa membenturkan keningnya ke hidung Ravelo sangat keras sehingga pria itu mengerang kesakitan.
Kurungan tangan Ravelo merenggang dan pria tersebut langsung bangun untuk memegangi hidungnya yang mimisan akibat benturan keras dari Valexa. Refleks, Valexa juga ikutan bangun berdiri menjauh dari pria tampan yang berhasil ia bikin hidungnya berdarah.
"Rasakan, siapa suruh kau kurang ajar padaku!" sengal Valexa, tapi Ravel sama sekali tidak marah. Ia mengusap hidungnya yang bercucuran darah sambil tersenyum senang.
Secepat Kilat, Ravel malah berlari mendekat ke arah Valexa, tapi gadis itu bisa membaca gerakan pria didepannya. Otomatis, Valexa mencoba menghindar, namun sayang, salah satu tangannya berhasil ditarik oleh Ravel sehingga untuk kesekian kalinya, gadis itu terjatuh dalam pelukan sang pangeran kampus lagi. Karena tak bisa mengimbangi tarikan Ravel, tubuh Valexa oleng dan hampir saja jatuh ke tanah kalau saja pria tampan itu tak segera menangkap tubuh wanita yang berhasil merebut hatinya sebulan lalu.
Yah, sebulan yang lalu, Ravelo pertama kali bertemu dengan Valexa di bandara Inggris, Heathrow. Awalnya, mereka tidak saling kenal satu sama lain, bahkan mereka berdua duduk dalam satu kabin yang sama.
Jodoh memang nggak akan lari kemana. Pepatah itu sepertinya pas banget untuk Valexa dan Ravelo. Ternyata, pertemuan mereka tak berhenti sampai di situ, kebersamaan keduanya tetap berlangsung lama akibat sesuatu hal dan membuat Ravelo, takkan pernah melupakan kejadian itu hingga detik ini. Berbeda dengan Valexa, gadis itu benar-benar lupa pertemuannya dengan Ravelo kala itu. Mungkin karena setibanya di Indonesia, ia sudah langsung dihadapkan dengan banyak hal sehingga Valexa harus mengubah penampilannya, dan menyamar sebagai mahasiswi baru di universitas elit ini.
"Aku takkan membiarkanmu jatuh," ujar Ravelo mulai tebar pesona lagi.
"Lepaskan aku?" geram Valexa marah sambil menengadah memerhatikan wajah tampan pria yang menatapnya.
"Kau yakin?" tanya Ravel, setengah tubuhnya membungkuk dihadapan Valexa yang sedikit melayang di udara dan tertahan oleh lengan Ravel.
"Cepat, lepaskan aku!" bentaknya.
"Baik!" Ravel mengangkat kedua tangannya di udara dan sontak tubuh Valexa langsung jatuh ke tanah dalam posisi terlentang.
"Auccchhh!" erang Valexa karena punggungnya dengan keras membentur tanah. "Kenapa kau melepaskanku tiba-tiba?" sengal Valexa semakin marah.
"Kau sendiri yang minta!" Ravelo membela diri dan memang benar sih. Salah Valexa sendiri karena memintanya melepaskan pegangannya. Namun, Ravelo langsung berjongkok di depan Valexa yang sibuk mengelus-elus punggungnya.
"Kau sungguh tak ingat aku?" tanya Ravelo sekali lagi.
"Nggak!" jawab Valexa ketus, "Aku sudah sering bertemu banyak orang sepertimu."
Wajar sih kalau Valexa bilang begitu, sebab di luar negeri apalagi di Inggris, ada banyak sekali pria tampan model Ravelo berkeliaran di mana-mana. Pantesan saja ia cuek bebek saat melihat ada pria tampan didekatnya dan tak terlalu terpesona seperti para wanita-wanita lainnya. Melihat bule adalah pemandangan Valexa sehari-hari sebelum ia datang kemari.
"Mengakuimu sebagai istriku, koper yang tertukar dan berebut taksi. Itu semua kita lalui bersama. Coba ingat lagi," ujar Ravel mengingatkan. Namun Valexa malah bengong karena bingung. Kejadiannya sudah sebulan, wajarlah dia lupa.
Karena gadis didepannya tak kunjung bereaksi, akhirnya Ravel mengalah dan mulai menjelaskan agar Valexa ingat kembali. "Kita pertama kali bertemu di bandara Heathrow, kebetulan kita duduk bersama dalam satu pesawat. Karena aku risih dengan banyaknya pramugari yang terus saja menggodaku, aku terpaksa mengakuimu sebagai istriku. Aku kira kau tak tahu bahasaku karena kau datang dari London, tapi ternyata kau mengerti kata-kata yang kuucapkan pada para pramugari itu. Begitu kita turun dari pesawat, kau marah dan menamparku karena aku pura-pura terus mengikutimu dan berakting seolah aku suamimu untuk menunjukkan kepada para pramugari bahwa ucapanku benar." Ravelo berhenti untuk tertawa kala mengingat tamparan keras Valexa.
"Kau mengumpatiku. Dan kita terpisah saat itu. Namun takdir berkata lain," lanjut Ravel. "Kau salah mengambil koperku yang kebetulan bentuk dan ukurannya sama persis, hanya isinya berbeda. Kopermu penuh dengan bikini dan baju minim lainnya, bahkan braa dan juga CiDi pun ada, warna dan bentuknya malah bermacam-macam ... ada motif bunga, desain yang unik, beren ..." terang Ravelo blak-blakan mengingatkan kejadian saat ia membuka koper milik Valexa yang tertukar dengan kopernya, tapi mulut pria itu langsung dibekap Valexa karena gadis itu merasa malu sendiri mendengarnya sehingga Ravel tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Stop! Jangan diteruskan? Apa kau tidak malu mengatakan semua itu?" mata Valexa memelototi Ravel yang menyebutkan seluruh isi kopernya kala itu.
"Nggak, kan cuma ada kita berdua di sini, lagipula kalau kita nanti menikah ya aku harus tahu semua hal tentang kamu termasuk pakaian daalam yang kau kenakan!"
"Siapa bilang aku mau menikah denganmu! Dasar dodoooll!" pekik Valexa sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya.
Ravelo tersenyum mendengar Valexa kembali mengucapkan logat umpatan asli warga negara Indonesia. "Jadi, kau sudah ingat aku sekarang?" Ravelo mengubah topik pembicaraan.
Valexa agak sedikit terkejut. Ia akui dirinya mulai mengingat cowok resek yang mengaku-ngaku sebagai suaminya. Sungguh, kejadian itu memang sangat konyol, setelah memarahi Ravelo atas pengakuan nggak jelasnya kala itu. Ia juga sangat terkejut ternyata kopernya malah tertukar dengan milik orang lain yang ternyata milik Ravel, pria yang ia tampar dan ia maki habis-habisan. Hal itu harus membuat Valexa kembali lagi ke bandara untuk mengembalikan koper itu dan mengambil kopernya sendiri. Bertepatan dengan itu, keduanya bertemu dan saling menukar kembali koper mereka masing-masing.
Sampai di luar bandara, Valexa berebut taksi dengan Ravel dan mereka saling adu mulut. Sang sopir taksi pun menengahi karena keduanya tak ada yang mau mengalah untuk memanggil taksi lain dan bersedia mengantar mereka berdua ke tempat tujuan masing-masing. Ditengah jalan, Valexa yang duduk bersebelahan dengan Ravel tiba-tiba saja bersandar di bahu Ravel karena tertidur.
Awalnya Ravel terkejut, tapi melihat wajah letih si cantik Valexa, ia tak tega membangunkannya. Ada perasaan senang saat Valexa menyandarkan kepalanya di pundak Ravel meski ia tak tahu siapa gadis cantik ini sebenarnya. Mereka berdua juga baru saja bertemu walau secara tidak langsung, Valexa telah menemani perjalanan liburannya dari London hingga sampai kembali ke Indonesia meski pertemuan mereka diwarnai dengan banyak masalah.
Ravel tak sengaja melihat kartu identitas Valexa yang ada di dalam tas kecilnya. Kartu itu hampir jatuh dan ia mencoba mengembalikan kartu tersebut ke dalam tas tanpa sepengetahuan Valexa. Dari situlah Ravel tahu nama dan identitas asli wanita yang tercatat sebagai mahasiswi Oxford university. Sayangnya, Ravel pun ikut tertidur dan begitu bangun, ia sudah tak menemukan Valexa dimana-mana sampai akhirnya gadis itu datang ke kampus ini dengan penampilan yang berbeda.
"Kau datang kemari setelah sebulan berlalu. Sedetikpun, aku tak pernah melupakanmu meski awalnya aku tak mengenalimu. Namamu, sama seperti yang tertera dalam kartu identitasmu walau sekarang kau mengubah penampilanmu. Kau adalah gadis itu, gadis yang aku akui sebagai istriku dan menemani perjalanan pulangku dari London hingga kemari. Aku senang, akhirnya bisa bertemu lagi denganmu, Valexa ... pacarku ... calon istriku." Ituah kata-kata yang diucapkan Ravel setelah Valexa mengingat semua momen pertemuan pertama mereka.
"Apa aku tidak salah dengar?" teriak seseorang dan suara orang itu, siapa lagi kalau bukan Nadin. "Kau bilang apa tadi? Dia ... si kampungan itu ... calon istrimu?" pekik Nadin yang kini berjalan semakin mendekat ke arah Valexa dan Ravelo ketika keduanya masih terduduk saling berhadapan.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
ha...ha...ha....ada yang kebakaran jenggot....
2024-12-23
0
Hasanah Purwokerto
jantungan ga tuh nadin..
2022-07-02
1
Aminah Adam
😂😂😂😂😂aku suka nadin mendengar ucapan ravelo
2022-05-17
0