Ravel dan Valexa beserta rombongannya sampai di depan lift istana. Mereka semua masuk ke dalam lift dan langsung menuju tempat orang yang ditanyakan Ravel pada pelayannya. Tak lama kemudian, merekapun sampai dan kini semuanya berada di tempat tertinggi istana ini yang entah ada di lantai berapa, Valexa juga kurang begitu paham. Sepanjang jalan, ia hanya diam dan mengamati sekitar sambil terus waspada. Sebab ia yakin, Ravel dan keluarganya juga bukan orang biasa.
Seluruh gerak-gerik mereka saat ini sedang dipantau ketat karena di berbagai sudut terpasang cctv. Ravel juga tak banyak bertingkah seperti yang ia lakukan saat keduanya ada di kampus. Di istana ini, cowok narsis itu juga lebih banyak diam dan pandangan matanya hanya fokus ke depan. Satu hal yang dilakukan Ravel dari ia masuk hingga sekarang, yaitu tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Valexa.
Kini, mereka sudah sampai di depan pintu kamar utama lantai tertinggi di istana ini. Ada dua penjaga bertubuh tinggi dan besar berjaga didepannya. Mereka berdua langsung membungkukkan badan begitu melihat Ravelo dan rombongannya datang.
"Kamar siapa ini?" tanya Valexa.
"Kakakku," jawab Ravel lirih. Ada kesedihan di nada suaranya. "Namanya Ronan. Dia adalah kakak kesayanganku satu-satunya." Ravel membuka pintu kamar kakaknya secara perlahan dan masuk ke kamar luas itu pelan-pelan.
Mata cowok tampan itu terlihat sedih kala menatap kakak yang sangat Ravel sayangi ini terbaring lemah di atas tempat tidur emasnya. Suasana kamar ini sangat gelap meskipun hari masih petang. Sepertinya tirai seluruh ruangan ini sengaja ditutup sehingga terlihat mencekam.
"Apa yang terjadi pada kakakmu?" tanya Valexa semakin bingung saat mengamati betapa ironisnya pria bule yang terbaring lemah itu.
Inikah orang yang ada hubungannya dengan Shakila? batin Valexa.
"Sebelum aku menjelaskan apa yang terjadi pada kakakku, aku ingin mendengar ceritamu dulu. Kenapa kau datang ke kampus yang dipenuhi oleh sarang monster ini? Kau bahkan menyamar menjadi gadis culun dan mau saja di bully Nadin. Apa yang membuatmu melakukan semua itu?" tanya Ravel to the point tanpa basa-basi lagi. Sikapnya jadi berubah serius dari sebelumnya.
Valexa menghela napas panjang, ia tak langsung menjawab pertanyaan yang ditujukan Ravel padanya. Gadis itu malah berjalan mendekat untuk melihat seperti apa wajah kakak Ravel yang bernama Ronan ini, yang ternyata hampir mirip dengan Ravel.
Setelah tahu, Valexa menatap pria tampan yang berdiri diseberangnya. Keduanya sama-sama saling menatap dan berdiri berhadapan satu sama lain di sisi kanan dan kiri ranjang Ronan.
"Kau bilang, kau pertama kali bertemu denganku saat di bandara Inggris dan baru berpisah setelah taksi yang mengantarku kala itu menurunkanku ke tempat tujuanku." Valexa memulai penjelasannya.
"Ehm, aku menyesal karena tak meminta nomer ponselmu," aku Ravel.
"Kau mungkin tidak tahu di mana taksi itu menurunkanku. Aku turun di rumah sakit tempat di mana Shakila, dirawat dan sekarang ia masih dalam keadaan koma. Sama seperti kondisi kakakmu sekarang. Bedanya, kakakmu tak sekarat seperti temanku. Shakila tak sadarkan diri atas apa yang menimpanya." Mata Valexa mulai berkaca-kaca saat memikirkan kondisi temannya.
"Aku langsung terbang kemari begitu mendengar kabar tentang Syakila yang menjadi korban pembullyan dan penyiksaan di kampusnya. Padahal sebelumnya ia baik-baik saja dan aku berencana menemuinya begitu liburan semesterku di mulai. Tidak kusangka, Syakila mengalami kejadian mengenaskan dan hampir saja membuat nyawanya melayanag. Kini sahabatku tak berdaya dan bahkan orang-orang yang menyiksanya sampai seperti itu, tak mendapat hukuman apapun.
"Aku sudah melakukan berbagai macam cara untuk membuat orang-orang yang jahat itu dihukum seberat-beratnya, tapi karena kurangnya bukti, polisi di negara ini tak bisa melakukan apapun. Tak ada bukti yang mengungkapkan Shakila disiksa oleh orang-orang yang ada dikampusmu itu. Untuk mencari tahu kebenarannya dan apa yang terjadi sebenarnya, maka aku harus masuk ke kampusmu dan menyamar sebagai orang miskin. Aku mengikuti program beasiswa yang diadakan rektor. Beruntung aku lulus dengan nilai terbaik. Itulah caraku masuk ke dalam kampus itu dan menyembunyikan identitas asliku," terang Valexa panjang lebar.
"Menurutmu, siapa pelakunya?" tanya Ravelo langsung ke intinya.
"Nadin and the gengnya. Juga para preman dan gengster itu. Pasti merekalah orang yang sudah menghancurkan hidup sahabatku."
"Bukan Nadin," ujar Ravel menarik kesimpulan sendiri.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Valexa tidak mengerti.
"Saat kejadian, Aku dan teman-teman yang lainnya serta kelompok Nadin beserta gengnya sedang melakasanakan kegiatan study tour disebuah musium pusat kota. Kami banyak melakukan kegiatan di sana dan hanya Shakila yang tidak ikut. Saat kami kembali, kami sudah menemukan Shakila tergeletak dengan tubuh bersimbah darah tepat di samping kakakku yang juga mengalami cedera otak cukup parah akibat pukulan benda tumpul yang sangat keras. Itulah kenapa kondisi kakakku jadi seperti ini."
"Apa?" mata Valexa terbelalak mendengar penjelasan Ravel. "Jadi ... maksudmu ... Kakakmu dan Shakila ... waktu itu .... mereka bersama?" tanya Valexa untuk memperjelas fakta sebenarnya. Sepertinya, mulai ada titik terang dari masalah ini.
"Ehm, Kakakku adalah pangeran kampus sebelumnya di kampus itu, dia lulus dengan nilai tertinggi dan menjadi dosen di sana. Beberapa bulan yang lalu, dia bilang ada hal aneh dikampusnya dan ia berusaha melindungi seorang mahasiswi cantik karena sering di bully. Kakak memintaku datang kemari untuk membantunya menyelidiki kasus ini dan aku setuju. Aku sama sepertimu, aku juga mahasiswa pindahan dan langsung terpilih menjadi ketua BEM di kampus. Bahkan karena ketampananku melebihi kakakku, akupun menggantikan posisinya sebagai pangeran kampus."
"Dalam keadaan seperti ini kau masih bisa narsis?" Valexa memicingkan mata.
"Memang itulah kenyataannya. Dan kau harus bangga! Karena kau punya pacar tampan sepertiku."
"Bisa kita kembali ke topik awal, kau membuatku kesal."
"Sampai di mana kita tadi?" Ravel malah balik bertanya.
"Apa kau menemukan siapa orang yang melakukan ini pada temanku dan kakakmu? Bisa saja Nadin memerintahkan anak buahnya yang ada di luar kampus untuk mencelakai Shakila dan kakakmu."
"Awalnya, aku juga beranggapan begitu, aku bahkan diam-diam mengkuti semua anak buah Nadin yang ada di luar kampus ini, tapi ternyata mereka tak ada hubungannya dengan kasus Shakila karena pada saat kejadian, mereka semua ditangkap polisi atas tuduhan penyalahgunaan barang terlarang."
"Lalu ... siapa orang yang tega berbuat sekejam itu pada temanku? Bahkan perlakuannya pada kakakmu juga keji?"
"Aku tidak tahu, tapi aku yakin orang itu ada di dalam kampus ini dan masih bersembunyi di balik topeng. Kasus ini benar-benar rumit dan rapi. Ada beberapa mahasiswi dan para staf kampus menghilang secara misterius. Dan aku ... masih belum bisa menemukannya. Aku juga tak bisa mengorek informasi apapun dari kakakku atas peristiwa yang membuatnya jadi seperti ini.
"Setiap kali aku bertanya, kakakku pasti mengamuk dan kalap seperti orang gila dan itu mempengaruhi kesehatan fisik dan mentalnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menunggu semoga aku bisa menemukan petunjuk untuk menyelesaikan masalah ini. Dan aku ... butuh bantuanmu, Sayang." Ravel menatap penuh cinta pada Valexa.
Gadis itu tertegun, bukan karena Ravel meminta bantuan untuk memecahkan kasus ini bersama, tapi karena ucapan Ravel yang memanggilnya dengan kata 'sayang' terdengar aneh di telinga Valexa meskipun cowok itu, bukan pertama kalinya memanggilnya begitu. Hanya saja, kali ini terdengar aneh saja.
Astaga, ada apa denganku? batin Valexa.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
kalau bakan nadi n the geng....apa si dosen killer itu ya...wah misteriiiiii...
2024-12-23
0
Χιαα.
gw tkut si fara" itu🛐
2023-09-21
0
Rara_Octa
sptiny semua itu Ulah Morgan si Dosen Killer. 🤔🤔🤔🤔🤔
2023-09-21
0