Karena penasaran akan siapakah sosok orang yang berhubungan dengan Shakila, Valexapun menuruti keinginan pria yang baru saja ia terima sebagai kekasihnya walaupun itu secara terpaksa. Mereka berencana pergi ke suatau tempat. Ravelo tak memberitahu apa nama tempat itu, ia hanya mengatakan kalau tempat itu sangatlah rahasia dan dijaga super duper ketat.
Itulah mengapa tak sembarang orang bisa datang ke tempat yang menjadi tujuan Valexa dan Ravelo kali ini. Gadis yang biasa dipanggil nona muda oleh para bodyguardnya itu memerintahkan semua pasukannya untuk pergi dan melaksanakan tugas mereka yang lain, yaitu menyingkirkan para preman kampus itu ke ruamg bawah tanah rumahnya dan mencari informasi dari mereka.
Sementara Valexa, mengikuti Ravel yang membawanya pergi ke suatu tempat dan lokasinya lumayan jauh dari kampus mereka berada. Selama berkendara, Valexa tak banyak bicara dan hanya diam saja begitupula dengan Ravel. Pria tampan itu terlihat sangat cool saat mengendarai mobil Buggati Chiron bernuansa hitam birunya.
Kini, mereka telah memasuki area perbukitan luas layaknya negeri ala dongeng. Valexa baru tahu kalau di negara ini, ada juga lokasi indah dan eksotis seperti ini. Pemandangannya tak kalah menakjubkan dengan negara-negara yang ada di benua Eropa lainnya. Hamparan perbukitan hijau yang luas dan udaranya yang segar, membuat rileks mata setiap orang yang memandang. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, betapa memesonanya area ini.
"Indah sekali, apalagi bisa melihat matahari tenggelam dari sini. Aku baru tahu kalau ada tempat seindah ini," gumam Valexa sedikit senang karena kerinduannya akan negaranya di Eropa, bisa terobati dengan melihat pemandangan indah disekitar bukit ini.
"Lain kali aku akan mengajakmu jalan-jalan disekitar sini." Ravel menatap lurus jalan yang mereka berdua lewati. Ia tidak kaget melihat Valexa langsung terpesona dengan keindahan panorama alam di tempat ini.
Tak berselang lama, keduanya sampai disebuah istana megah bernuansa putih tua dengan bangunan khas ala istana-istana yang dibangun di Eropa. Tentu saja Velexa terkejut dan tidak menyangka kalau di negara ini, ada juga bangunan megah dan indah begini. Istana bak negeri dongeng ini, mengingatkan kembali rumahnya yang sudah hampir sebulan lebih ia tinggalkan.
"I-Ini ... mansion siapa?" tanya Valexa.
Belum juga Ravel menjawab. Beberapa orang pelayan berpakaian rapi dan berseragam sama menyambut kedatangan Ravel sambil membungkukkan tubuh mereka dengan kompak dihadapan Ravel dan Valexa.
"Selamat datang, Tuan muda." Salah satu pelayan paruh baya mempersilahkan Ravel dengan hormat. Terjawab sudah pertanyaan Valexa tanpa harus diberitahu oleh Ravel siapakah pemilik mansion ini karena sudah jelas. "Maaf sebelumnya Tuan muda, anda dilarang membawa orang asing datang kemari ...."
"Dia bukan orang asing," sela Ravel cepat. "Dia calon istriku. Kami akan menikah begitu semua masalah ini selesai. Iya kan, Sayang?" tanya Ravel sambil mengedipkan salah satu matanya untuk mengkode Valexa aga gadis itu mengiyakan ucapannya.
"Hah?" Valexa bingung, tapi ia mulai mengerti arti kode dari kedipan mata Ravel. "E ... i-iya," jawab Valexa agak gugup juga.
Awas kau Ravel. Siapa yang mau menikah dengamu! geram Valexa dalam hati, tapi ia mencoba tersenyum manis dihadapan orang-orang yang menyambut kedatangan Ravel.
"E ... dia ...." pelayan paruh baya itu masih bingung dengan pengakuan Ravel yang tiba-tiba memberitahunya kalau wanita disampingnya itu adalah calon istri tuan mudanya.
"Ah ... Bi ... kenalkan. Dia Valexa, sekarang statusnya si masih pacarku. Tapi nanti, seperti yang aku bilang, kami akan menikah. Tapi jika kau tidak percaya, kau bisa nikahkan kami sekarang juga ... auch," erang Ravel tiba-iba karena Valexa menginjak satu kakinya.
Apa yang kau lakukan? tanya Ravel tanpa suara dan hanya bibirnya saja yang bergerak.
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau katakan barusan? Siapa yang mau menikah denganmu?" geram Valexa lirih tanpa kentara.
"Iyain aja, daripada kau disuruh kembali pulang, mereka tidak akan menikahkan kita di sini. Aku hanya basa-basi," jelas Ravel sambil tersenyum sok mesra di depan Valexa.
Valexa terdiam dan ia mencoba mengikuti permainan orang gila yang berdiri didepannya ini. Ravel senang karena Valexa akhirnya cepat paham dan bersikap kooperatif. Ia kembali menatap pelayannya dan memperkenalkan Valexa lagi.
"Bi, asal kau tahu, wanita ini adalah wanita yang kuceritakan padamu sebulan lalu. Aku sudah menemukannya, Bi. Namanya Valexa," ujar Ravel senang. Sepertinya tidak ada rahasia diantara Ravelo dan pelayan yang dipanggilnya 'Bi' ini. Padahal pelayan tersebut seorang pria.
"Oh, jadi dia orangnya. Maafkan saya Nona," Pelayan itu membungkuk di depan Valexa. "Ternyata, anda memang sangat cantik seperti yang pernah tuan muda Ravel ceritakan. Selamat datang, nona Valexa, mari silahkan masuk." akhirnya pelayan paruh baya itu paham dan mengizinkan Ravel serta Valexa masuk ke dalam istana.
"Bagaimana keadaannya, Bi?" tanya Ravel sambil berjalan di depan pelayannya.
Tak lupa, tuan muda Ravel menggandeng erat tangan Valexa agar wanita pujaan hatinya ini tak tersesat bila sudah masuk ke dalam istana luas ini. Valexa pun menurut dan mengikuti langkah Ravel. Sebenarnya, ia terkejut karena Ravel ternyata juga seorang tuan muda. Tapi ia berusaha bersikap biasa dan mencerna semua fakta mencegangkan ini.
"Baik, Tuan muda. Tapi ... tidak ada perkembangan apapun. Kadang, beliau masih suka mengamuk, dan membanting semua barang. Saat ini beliau sedang tidur karena pengaruh obat," terang pria yang dipanggil 'Bi' oleh Ravel tanpa berani mengangkat kepalanya. Begitu pula dengan para pelayan Ravel lainnya.
"Kenapa kau memanggilnya 'Bi' daritadi? Dia kan pria? Bukan perempuan? Masa Bi? Harusnya kan Paman?" bisik Valexa ditelinga Ravel.
"Namanya Abi, sejak kecil aku memang memanggilnya 'Bi'," terang ravel sambil tersenyum menikmati wajah bingung dan heran Valexa. "Rupanya kau nona muda yang amat sangat polos juga, tapi aku suka," komentarnya.
"Rupanya pengeran kampus cengeng sepertimu, adalah seorang tuan muda juga, benar-benar tak disangka," balas Valexa jutek. Ravel hanya tersenyum saja dan tidak bicara lagi kerena ia tak mau didengar oleh para pelayan yang ada dibelakangnya.
Sedangkan Valexa, lebih suka melihat desain interior bangunan istana di setiap ruang yang ia dan Ravel lewati. Desainnya tak jauh beda dengan desain istana miliknya di Eropa. Mulai dari hiasan unik, menarik dan antik, lukisan-lukisan berkelas khas gaya orang Eropa, serta pernak pernik lainnya, hiasan dinding dan lampunya, semuanya hampir sama seperti yang ada di mansion milik Valexa walau bukan Valexa yang mengaturnya, tapi keluarganya.
Apa yang ada di rumah ini membuat Valexa jadi bertanya-tanya, siapakah Ravel dan orang yang ia tanyakan tadi? Seperti apa keluarga Ravel sebenarnya? Apakah sama seperti keluarganya yang ada di Eropa?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ada dibenak Valexa saat ini. Namun, ia bertekat mencari tahu sendiri seperti apa seluk beluk keluarga Ravel nanti. Sekarang, ia akan fokus pada orang yang berhubungan dengan Shakila.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
apa pacar shakila saudaranya ravel ya dan sekarang jd gila....
2024-12-23
0
Rara_Octa
sptiny Korban ke 2 stlh Shakilla adl Sodara Ravel mungkin Kakakny 🤔🤔🤔🤔 jdi Mereka ( Ravel & Valexa) sma² punya Misi saat Masuk Kampus Elit itu unt menguak Tabir kejahatan/ pembullyan yg dialami Shakilla & Sodarany Ravel.
2023-09-21
0
Hasanah Purwokerto
ternyata sama² anak sultan.. tuan & nona muda... 😇
2022-07-02
1