Pernyataan yang keluar dari mulut manis seorang pangeran kampus bernama Ravelo ini sukses membuat Valexa terkejut sehingga konsentrasinya mendadak buyar seketika. Ini jauh lebih mengejutkan dari apa yang ia alami selama beberapa jam berada di kampus elit ini.
Seorang Ravelo, pria idaman semua kaum hawa di universitas ternama, memintanya menjadi pacar? Itu sungguh lucu dan aneh menurut Valexa. Dan iapun tak menanggapi serius ucapan pria yang berdiri tegak disampingnya. Bagi penghuni kampus ini, gadis seperti Valexa hanyalah boneka yang mereka mainkan karena perbedaan kasta.
"Kau bilang apa tadi?" alis Valexa terangkat mendengar ucapan pria sok narsis yang berdiri disampingnya. "Apa kau sedang kerasukan setan? Untuk apa kau memintaku menjadi pacarmu? Aku sama sekali tak butuh bantuanmu! Dasar aneh. Kau pikir karena kau tampan, kau bisa nembak cewek seenak jidatmu, gitu? Aku bukan mereka! Harusnya kata-kata itu kau tujukan saja pada wanita-wanita bodoh yang jadi budak cintamu, bukan padaku!" cetus Valexa kasar.
"Tidak ada setan yang merasukiku. Aku rasa, aku pernah bertemu denganmu di suatu tempat, hanya saja aku belum ingat. Percayalah, kau jadi pacarku saja kalau kau ingin aman ada di kampus ini! Apapun tujuanmu datang kemari, kau tetap butuh perlindungan dan akulah orang yang tepat untuk melindungimu." Ravelo tersenyum manis dan senyuman itu langsung membuat heboh semua kaum hawa yang melihatnya. Meski para bucin Ravelo itu tidak tahu apa yang idolanya bicarakan dengan Velexa.
Astaga, orang ini benar-benar narsis sekali, batin Valexa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak terimakasih atas tawaranmu. Aku masih tahu diri siapa aku. Menjadi kekasihmu, artinya aku menggali lubang kematianku sendiri! Jangan dekati aku lagi setelah ini, oke. Aku tak butuh perlindungan siapapun, apalagi dari orang sepertimu." penolakan yang elegan dari seorang Valexa, walau terkesan sedikit sombong.
Gadis itu berpikir, hanya berdiri bersama dengan Ravelo saja sudah membuat Valexa dihujat habis-habisan, apalagi sampai mau menjadi kekasih pengeran kampus yang sok ngartis ini. Beban Valexa malah akan semakin bertambah berat saja. Ia tidak datang kemari untuk mencari kekasih, melainkan karena suatu hal yang tak bisa ia ungkapkan, untuk sekarang.
Mendengar penolakan Valexa, Ravelo malah tersenyum dan itu membuat Valexa semakin yakin kalau pria tampan itu memang tidak serius nembak dirinya. "Sudah kuduga, kau hanya bercanda." Velexa mengutarakan komentarnya.
"Aku serius, aku tersenyum karena untuk pertama kalinya dalam hidupku ... aku nembak cewek yang baru saja aku temui dan langsung ditolak mentah-mentah oleh cewek itu. Biasanya aku yang menolak, tapi kau ... tanpa pikir panjang langsung menolak pria tampan sepertiku. Aku harap, kau tak menyesali ucapanmu, karena aku ... adalah pangeran berkuda putihmu," terang Ravelo sok percaya diri dan untuk kesekian kalinya, ia tebar pesona pada Velexa. Namun, yang jadi histeris bukanlah gadis yang ditembak, melainkan para kaum hawa yang sejak tadi memerhatikan Ravelo dari kejauhan.
Ya ampun, ini orang narsisnya kebangetan! Pantesan saja semua wanita di sini kelepek-kelepek sama dia, lah jurus rayuan mautnya canggih gini! Mungkin dia pakai ajian semar mesem untuk memikat para wanita-wanita bodoh itu. batin Valexa agak sedikit risih juga dengan sikap sok kegantengannya si Ravelo. Walau ia akui, si pengeran kampus itu memang sangat tampan dan menawan karena Ravelo adalah blasteran Jepang Amerika.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apa alasan cowok itu memintanya jadi pacar. Itu sangat aneh dan mencurigakan. Pasti Ravelo punya motif lain untuk menghancurkan Valexa. Sebab, setelah apa yang ia alami ini, Valexa tidak bisa percaya pada semua orang yang ada di kampus ini.
Sebuah peluitpun dibunyikan sebagai tanda bahwa Valexa dan Ravelo harus segera berlari menjalani hukuman mereka. Bila diketahui ada yang curang, maka hukuman keduanya akan semakin bertambah berat. Karena itulah Mr. Morgan menghimbau agar Valexa dan Ravelo, tidak melakukan kecurangan apapun.
"Kau akan segera menjadi kekasihku! Cepat ... atau lambat! Tunggu saja," ujar Ravel sok yakin dan berlari lebih dulu meninggalkan Valexa yang lumayan sedikit terkejut juga mendengar ucapan Ravelo barusan.
"Sepertinya ada setan yang sedang merasuki tubuh pria itu!" gumam Valexa sambil bersiap-siap lari. Ia menguncir kuda rambut panjangnya dan melepas kacamata yang ia pakai lalu memasukkannya ke dalam saku jaket hitamnya.
Awalnya, Valexa berlari sangat pelan dan bahkan bisa dikatakan hanya berjalan cepat saja. Ia tertinggal sangat jauh dengan Ravelo yang sudah berlari lebih dulu darinya. Seluruh orang yang ada di sini semakin berisik meneriaki aksi Ravelo yang terlihat sangat cool ketika ia sedang berlari. Pesonanya benar-benar menyihir semua para wanita yang melihatnya.
Lain halnya dengan Valexa yang mendapat cibiran dimana-mana dan bahkan diledek bakal tak bisa menyelesaikan hukumannya untuk satu putaran saja. Cara lari Valexa itu sudah mirip seperti jalannya kura-kura, jelas tidak mungkin kalau Valexa kuat lari mengingat betapa luasnya universitas elit ini.
Uang taruhan semakin bertambah banyak begitu melihat bagaimana cara Valexa berlari melintasi orang-orang yang melihatnya. Namun, hal itu tak berlangsung lama, gerakan gadis kampungan yang dianggap sampah kampus itu berubah drastis ketika ia melewati tempat sepi. Langkah kaki Valexa yang tadinya pelan, kini semakin lama, semakin bertambah cepat. Bahkan saking cepatnya, ia sampai bisa menyusul Ravelo yang tadi sudah jauh meninggalkannya.
"Aku duluan!" seru Valexa ketika melewati Ravelo. Pria tampan itu tampak mulai kehabisan napas dan ini adalah putaran pertamanya.
"Hei! Bagaimana bisa kau menyusulku?" teriak Ravelo agak terkejut karena tadi ia yakin Valexa sudah tertinggal sangat jauh darinya dan dalam waktu cepat, gadis itu telah menyusulnya.
"Kau ingat cerita kelinci dan kura-kura? Dan kau pasti juga tahu siapa pemenangnya?" seru Valexa berbalik badan menghadap Ravelo sambil terus berlari mundur. Ia jauh lebih cepat dari sang pangeran kampus ini berlari.
Bagaikan mimpi disiang bolong, Ravelo benar-benar melihat kalau stamina tubuh gadis yang baru saja ditembaknya, ternyata sangat kuat sehingga napasnya tetap teratur dan tak terlihat ngos-ngosan seperti dirinya. Hanya atlet terlatih saja yang tahu bagaimana cara melatih napas saat berlari seperti yang dilakukan Valexa sekarang. Artinya, Valexa bukanlah gadis biasa, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya dan itu semakin membuat Ravelo semakin menyukai gadis yang berlari cepat dihadapannya.
"Aku kura-kura, dan kau kelincinya?" tebak Ravelo seenaknya. Keduanya sama-sama berlari tapi dengan teknik yang berbeda. Valexa tetap berlari mundur menghadap Ravelo, sedangkan Ravelo berlari maju mengejar Valexa.
"Bukan, kaulah kelincinya dan aku kura-kuranya karena kau tadi meninggalkanku cukup jauh. Tapi lihat sekarang, aku menyusulmu dan bahkan kau tak bisa mengejarku." Valexa tersenyum ketir. "Yang akan menyelesaikan hukuman ini duluan adalah aku. Tak perlu tiga hari 3 malam untuk lari 20 putaran mengelilingi kampus ini. Sehari saja sudah cukup. Bye!" ganti Valexa yang mengedipkan matanya dan tebar pesona pada Ravelo sehingga membuat cowok itu semakin terpesona akan wajah manis Valexa meskipun penampilannya tampak culun dan kampungan.
"Sepertinya ... aku jatuh cinta padamu, Valexa!" gumam Ravelo berhenti berlari untuk mengatur kembali napasnya. Ia tersenyum senang karena akhirnya ia benar-benar jatuh cinta pada seorang wanta dan wanita tersebut adalah Valexa. "Akhirnya ... kita bertemu lagi. Aku takkan melepaskanmu lagi, kali ini ... akan aku dapatkan kau bagaimanapun caranya," gumam Ravelo sambil melepas kemeja hitamnya dan hanya memakai kaos dalam saja yang memperlihatkan otot-otot tangan dan kaki panjangnya.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
nah ini baru seruuuuu...
2024-12-23
0
Ricka Monika
mau pamer otot ya bang🦾💪
2024-12-22
0
Risti Dani
Apakah makna dari kata "Akhirnya,kita bertemu kembali" yg diucapkan Ravelo?
2022-11-25
1