Elena menuju toko obat. "Maaf, aku tadi beli vitamin di sini." Elena mengeluarkan vitamin dari dalam tasnya. "Apakah ada vitamin yang tablet-nya berwarna putih saja? Tapi dengan merk yang sama." Elena menyodorkan vitamin tersebut pada petugas toko.
Petugas toko tersebut menerima vitamin dari Elena. "Setau saya jenis ini memang tablet-nya seperti ini, berwarna kuning. Tapi tunggu sebentar, saya cek merk dagangnya dulu."
Petugas tersebut mengetik di depan komputernya mencari informasi, Elena dengan sabar menunggu. "Maaf nona, Merk ini hanya mengeluarkan saru jenis vitamin, tidak ada jenis yang lain lagi."
"Maksud Anda, hanya ada satu jenis saja? Tidak ada perubahan komposisi atau kemasan?" tanya Elena.
"Tidak ada, sepuluh tahun terakhir ini tidak ada pembaharuan," ucap petugas toko yakin.
"Terima kasih." Elena meninggalkan toko obat tersebut dengan kebingungan. Dia akan menanyakan langsung pada Merrik.
Elena kembali ketempat Michele berada. "Bagaimana? Kamu salah beli vitamin?" tanya Michele.
"Sepertinya begitu, tapi yang aku beli lebih lengkap komposisinya." Elena tidak berniat memberitahu Michele yang sebenarnya karena dia belum mengetahui dengan pasti.
"Owh, ya sudah ayo kita ketempat meet and greet."
"Ayo."
Aron ... Aron ... Aron ... Teriakan para fans menggema dikala Aron menaiki panggung. Hiruk pikuk acara meet and greet di salah satu mall terbesar membuat suasana menjadi lebih hidup. "Ayo, cepat kita ke depan." Ajak Michele.
Michele dan Elena menerobos ke bagian paling depan. "Kalau seperti ini 'kan lebih puas mandang cowok gantengnya!" Senggol Michele pada pundak Elena. Pembawa acara memulai acaranya, dari kata sambutan hingga mengulik tentang film yang sedang release.
"Ternyata aslinya lebih ganteng dari di TV yah." Elena memandang idolanya, pertama kali ini dia bertemu artis, ada rasa eforia mengisi hati Elena. "Kamu sedang apa?" tanya Elena saat melihat Michele mengangkat ponselnya.
"Aku mau live Instagram. Aku kan follow akun Aron."
"Instagram?" tanya Elena. Dia memiliki sosial media saat berteman dengan Michele namun jarang memainkan sosial media tersebut.
"Kamu belum follow IG Aron?" tanya Michele dan hanya dijawab gelengan oleh Elena.
"Mana ponselmu?" Michele menjulurkan tangannya meminta ponsel Elena. "Apa-apaan ini! Kamu hanya follow aku doang dan beberapa teman perempuan? Itupun karena aku 'kan yang download aplikasinya di ponselmu? Padahal teman sekelas yang follow kamu banyak banget loh, lebih banyak pria sih yang follow kamu, nggak mau di follback?"
"Aku nggak pernah buka aplikasinya lagipula pasti tidak diijinkan sama Kak Merrik kalau follow pria." Elena pernah minta diajarkan cara menggunakan sosial media oleh Merrik namun tetap dibatasi oleh Merrik siapa saja yang boleh menjadi temannya di Medsos, karena banyaknya aturan dari Merrik menggunakan media sosial, membuat Elena malas memainkan Media Sosial.
"Sepertinya pacarmu itu posesif akut! Kamu tidak bosan dengan hubungan seperti itu?"
"Tidak."
"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku akan segera minta putus! Aku tidak bisa seperti kamu yang setiap saat meminta ijin pada pacarmu, kamu itu bebas melakukan apa saja. Tidak perlu meminta ijin segala dan juga terlalu banyak aturan dalam hubungan kalian."
Elena hanya terdiam mendengar penuturan Michele, dia tidak pernah berpikir terlalu jauh. Dia selalu percaya dengan apa yang Merrik ucapkan. Mulai timbul kegelisahan dihatinya. Meskipun ada sesuatu yang menganjal di hati, Elena selalu menanamkan di dalam hati dan pikirannya bahwa Merrik adalah laki-laki terbaik.
"Aku follow Aron di Instagram kamu yah?" Ijin Michele.
"Jangan, aku ijin dulu dengan Kak Merrik."
"Hei, yang akan kamu follow itu artis, mana mungkin pacarmu itu cemburu! Elena apa kamu merasa nyaman dengan hubungan kalian?"
"Tentu nyaman, memang kenapa?"
"Tidak apa-apa jika kamu nyaman. Akan menjadi masalah jika kamu tidak nyaman. Tapi bukan karena pacarmu itu kaya 'kan mangkannya kamu bertahan dengannya?"
"Karena nyaman, maka dari itu kami tetap berjalan. Lagi pula Kak Merrik bukan orang kaya, tapi masih mampu membiayaiku."
"Tukang kibul!"
"Kenapa bilang aku tukang kibul?"
"Bagaimana tidak? Pakaian, aksesoris dan juga ponselmu ini bukan sesuatu yang murah."
"Sebenarnya aku juga kasian dengan Kak Merrik, sudah ku bilang beli baju di pasar tapi tetap saja dia membelikanku baju di mall, aku syok saat melihat harga enam ratus ribu satu bajunya."
"Hei, aku memang bukan konglomerat tapi kamu jangan membodohiku dengan harga bajumu yang enam ratus ribu! Semua orang juga tau, setiap kamu ke kampus pakaian yang kamu gunakan nilainya jutaan sampai puluhan juta."
"Hahaha, kamu yang coba membodohiku, jelas-jelas harga pakaianku paling mahal enam ratus ribu." Elena tetap pada pendiriannya.
"Terserah kamu saja." Michele tidak mau membahas tentang pakaian Elena lagi. "Ini ponselmu, sudah aku follow Instagram Aron. Kalau beruntung kamu akan di follback."
Elena menerima ponselnya. "Terimakasih."
Tiba saatnya Aron memberi hiburan, pembawa acara meminta Aron untuk menyanyikan lagu soundtrack film Above The Sky. Aron mulai menyanyikan lagu tersebut. Para fansnya ikut melantunkan lagu soundtrack tersebut termasuk Elena dan Michele.
Hingga di pertengahan lagu Aron menarik salah satu fansnya untuk naik ke atas panggung dan orang tersebut adalah Elena. Elena begitu excited di tarik ke atas panggung, dia ikut bernyanyi bersama. Michele yang melihat ikut mengabadikan moment tersebut menggunakan ponselnya. Aron mengakhiri lantunan lagunya dengan memandang Elena dan memberi pelukan ringan layaknya seorang idol dengan fansnya.
Elena turun dari panggung dengan senyum yang merona, tidak di sangka dia akan sedekat itu dengan idolanya. "Kamu beruntung sekali!" Sebal Michele, menyayangkan kenapa bukan dia yang di tarik oleh Aron.
"Dewi keberuntunganku sedang berpihak padaku, ketemu artis langsung artis idolaku, diajak naik ke atas panggung lagi." Ucap Elena bangga.
"Sudah nggak usah pamer lagi." Desis Michele.
"Ayo kita pulang." Ajak Elena.
"Pacarmu jemput tidak? Kalau tidak jemput aku yang antar kamu."
"Sebentar." Elena menelepon Merrik. "Hallo, Kak."
"Kamu sudah selesai?" tanya Merrik.
"Iya."
"Aku jemput kamu sekarang."
"Baik, aku tunggu di luar ya?"
"Jangan, tunggu di dalam saja. Tunggu di dalam coffee shop yang terakhir kita singgahi. Di luar tidak aman."
"Iya." Elena selalu merasa Merrik perhatian padanya. "Michele, aku akan di jemput. Kamu pulang saja tidak apa."
"Masih lama tidak di jemputnya? Atau aku tunggu kamu sampai pacar kamu tiba?"
"Tidak perlu, aku bisa menunggu sendiri, lagipula sudah di jalan, paling tidak lama lagi sampai."
"Baiklah, aku pulang dulu kalau begitu."
Elena dan Michele berpelukan sebelum berpisah, Elena pergi ke coffee shop, memesan minuman yang diinginkan, sebelum minuman datang, ada dua orang paruh baya menghampirinya. "Bisa kami duduk di sini?" ucap seorang pria paruh baya tersebut.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Jangan lupa like, love, vote, gift 😊 Biar Age tambah semangat 💪💪
Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🥰
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Kod Driyah
orang tua alena yg datang
2022-07-21
1
NandhiniAnak Babeh
baju puluhan juta.. sayang amat yak..
takut jawab pertanyaan di akhirat nya 🙈🙈🙈🙈🙈
2022-04-14
1
Heppi Meizar
apkah mereka org tua Elena?. semoga saja ya bisa secepatnya mengrtahui siapa keluarganya..lanjut thor
2022-04-13
2