Merrik dan Elena dibawa ke balai desa untuk dinikahkan. Sepanjang proses pernikahan Elena tidak hentinya menitikan air mata, dia tidak menyangka perkataannya membuat dirinya dinikahkan. Dia pikir jika mengatakan mereka saling menyukai, mereka akan dilepaskan begitu saja. Namun, kenyatannya tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Dia harus menerima nasibnya menikah dengan pria asing yang hampir menodainya. Entah mengapa dia tidak berani mengatakan yang sejujurnya bahwa pria ini memang sengaja mencoba menodainya.
Mereka hanya dinikahkan secara agama. “Karena Elena masih sekolah maka kalian menikah secara agama terlebih dahulu, setelah lulus barulah kalian pergi mendaftarkan pernikahan kalian secara resmi,” tutur Kepala Desa.
‘Apa? Jadi dia masih anak sekolah!’ batin Merrik.
“Sekarang Elena menjadi tanggungjawabmu. Jagalah dia!” lanjut Kepala Desa.
“Ya.” Merrik hanya menjawab dengan singkat.
Elena dan Merrik meninggalkan balai desa, mereka pergi ke rumah Elena, diperjalanan pulang Merrik membuka obrolan. “Hei, kenapa Kepala Desa tadi yang menjadi wali nikahmu? Kemana Ayahmu?” tanya Merrik. Dia penasaran di sepanjang mereka dinikahkan tidak ada yang memperkenalkan kerabat Elena.
“Namaku Elena, Paman. Sepertinya tadi kamu lancar menyebut namaku saat akad tadi. Aku tidak memiliki Ayah dan juga saudara, aku hanya tinggal dengan Nenekku. Namun, dia pergi meninggal dunia enam bulan lalu,” ujar Elena sedih mengingat Neneknya.
“Jadi kamu sebatang kara?” tanya Merrik.
“Iya.”
Merrik terdiam setelah mendengar penuturan gadis yang baru saja ia nikahi. Dia sempat sedikit iba. Ya, hanya sedikit. Dirinya tidak pernah menyukai gadis miskin, baginya semua gadis miskin sama saja dengan ibu tirinya, manusia-manusia yang mencari jalan pintas untuk mengejar kekayaan. Menikah dengan Elena hanyalah lelucon baginya agar terhindar dari hukum adat dan juga pihak berwajib. Ada kelegaan di hatinya setelah mendengar pernikahan mereka hanya dilakukan secara agama. Dia tidak perlu repot mengurus perceraian jika dia meninggalkan gadis itu.
“Sudah sampai.” Elena membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Merrik melihat keadaan rumah tersebut, rumah semi permanen dan kecil, tidak lebih besar dari kamar miliknya. “Selama ini kamu tinggal di sini?”
“Iya, Paman.”
Merrik terganggu dengan panggilan paman darinya. “Bisa kamu ganti panggilanmu padaku? Telingaku sakit mendengarnya!” ucap Merrik mengorek telinganya.
“Jadi aku harus panggil, apa?” tanya Elena.
“Yang penting jangan Paman!”
“Om,” ucap Elena ragu.
“Aish … panggil saja Kakak! Apa aku setua itu sampai harus dipanggil Om?” Merrik tidak ingin dipanggil Paman atau Om. Apalagi harus dipanggil suami. Dia lebih memilih dipanggil Kakak.
“Iya, Kak!”
“Kamu benar masih sekolah?”
“Sudah lulus, tinggal tunggu ijazah.”
“Apa rencanamu setelah lulus?”
“Aku akan mencari pekerjaan, setelah itu aku berencana untuk melanjutkan kuliah.”
“Selama ini, biaya hidup dapat dari mana?”
“Saat Nenek masih hidup, kami berjualan kue. Aku akan membawa ke sekolah untuk menjualnya. Tetapi sekarang aku juga membuat aksesoris dari biji-bijian untuk kujual.”
“Berapa usiamu?”
“Empat bulan lagi delapan belas tahun.”
“Kau tidak mau bertanya padaku? Dari tadi hanya aku yang bertanya padamu.”
“Emm ….” Elena bingung harus bertanya apa. “Berapa usia, Kakak?” dia bertanya seperti pertanyaan Merrik yang terakhir.
“27 tahun,” jawab Merrik singkat.
“Owh,” ucap Elena sedikit menunduk.
“Kenapa?” Merrik melihat kekecewaan pada wajah Elena, Apakah dirinya terlalu tua untuk Elena? Mereka hanya terpaut kurang dari sepuluh tahun.
“Tidak, tidak apa!” sergah Elena.
“Ada lagi yang mau kamu tanyakan?” tanya Merrik.
‘Ayo tanyalah! Tanyakan padaku, siapa diriku sebenarnya! Apa pekerjaannku? Berapa banyak kekayaaanku? Kamu pasti ingin tau bukan! Kamu pasti bisa melihat sendiri kalau aku bukan dari kalangan orang miskin!’ batin Merrik.
Elena hanya menatap Merrik dan menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak tau apa yang harus dia tanyakan.
“Kau tidak ingin bertanya apapun padaku?” ucap Merrik lagi dan menatap lekat Elena.
‘Kamu pasti sedang berpura-pura, bukan? Aku yakin, kamu pasti sudah tau dari penampilanku bahwa aku tidak sama denganmu. Semua barang-barang yang aku pakai adalah dari designer terkenal. Kamu hanya berpura-pura polos agar aku jatuh hati padamu. Mencari pria kaya untuk mendapatkan kekayaan dan kemewahan secara instan.’ Otaknya berbicara terus-menerus meyakinkan Merrik untuk tidak mudah percaya pada perempuan miskin.
Elena bingung harus bicara apa, akhirnya terpikirkan sesuatu. “Kakak lapar?”
“Ha?”
“Maaf, aku tidak menawarkan makan Kakak dari tadi. Aku akan buatkan makan malam untuk Kakak.” Elena pergi meninggalkan Merrik sendiri dan menuju dapur. Lima belas menit kemudian Elena datang dengan membawa dua mangkuk mie instan, makanan instan seperti pernikahan instan mereka.
“Maaf Kak, hanya ada ini di dapur.” Elena meletakkan dua mangkuk mie di atas meja.
Merrik menatap mie instan tersebut. ‘Pandai sekali kamu berpura-pura lugu!’ ucap Merrik dalam hati.
Mereka makan sambil sedikit berbincang, “Sedang apa tadi kamu ke hutan?” tanya Merrik.
“Aku mencari jamur dan beberapa tumbuhan untuk dimasak, lumayan mengurangi pengeluaran. Sejak kecil aku sudah akrab dengan hutan.” ucap Elena jujur.
“Orang-orang yang menangkap kita juga sama, mencari tumbuhan?”
“Tidak, mereka hanya berpatroli.”
“Patroli? Hutan pun di patroli?” tanya Merrik penasaran.
“Mencari babi hutan, akhir-akhir ini ternak warga banyak yang hilang. Kemungkinan babi hutan yang mencurinya.”
“Kamu tidak takut ke hutan sendirian?”
“Sudah terbiasa!” Elena menyeruput kuah mie.
Setelah makan malam, Elena membereskan mangkuk mie instan tersebut. Setelah itu mengantar Merrik ke kamarnya. “Mari Kak, aku tunjukan kamar Kakak.” Elena menggiring Merrik kearah kamar bekas Neneknya. “Ini bisa Kakak pakai.”
“Ini untukku tidur?”
“Ya,” jawab Elena.
“Kamu juga tidur di sini?”
“Apa!” panik Elena.
Merrik melihat ketakutan di wajah Elena, melihat wajah yang panik semakin membuat Merrik menggodanya. “Bukankah kita sudah menikah? Wajar bukan jika tidur di kamar yang sama!” Merrik melangkah mendekati Elena. Elena mudur selangkah, Merrik maju selangkah.
“Kakak, ku mohon jangan lakukan.” Air mata Elena mulai mengalir, dia sangat takut berdekatan dengan pria yang statusnya sudah menjadi suaminya. Saat makan malam tadi Elena tidak merasa takut. Namun, saat ini Merrik sangat mengerikan, dia takut kejadian di hutan terjadi kembali.
Merrik melihat air mata yang mengalir di pipi Elena, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia mengulurkan tangan dan menghapus air mata yang ada di pipi Elena. “Sudah, aku hanya bercanda. Pergilah ke kamarmu.”
Elena mendongakkan kepalanya menatap wajah Merrik, lalu pamit meninggalkan Merrik dan kembali ke kamarnya sendiri.
Bersambung…
Novel ini on going, yang akan di up sehari sekali, kalau lebih berarti otor lagi sedeng 😁
Jangan lupa untuk like, love n komentarnya yach 😊😊😊 karena dukungan kalian sangat berarti untuk author
Salam Age Nairie 🥰😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Endang Sulistia
😄😄
2025-04-02
1
Ainul Yaqin
🤣🤣🤣bisa aeeee thor
jadiii klo pembaca bc tiap hari ... samaaaa dong lgi sedeng ....😆😆
2023-09-21
2
Marini Rahman
aku kurang suka dengan nama panggilan kakak
2023-04-27
0