Merrik memesan makanan melalui layanan delivery, dia hanya memesan dua porsi ayam bakar. Merrik mulai memerankan peran, dia tidak ingin Elena mengetahui identitas aslinya. Bukan karena ingin menguji istrinya layak atau tidak mendampinginya, Tidak! Dia melakukan ini hanya sebatas karena tidak ingin memberikan Elena kemewahan. Dia tidak sudi jika harus memberikan kemewahan kepada seorang golden digger. Ya, Merrik masih menganggap Elena sebagai golden digger seperti ibu tirinya. Kebencian terhadap Rose sudah mendarah daging hingga menyamaratakan semua perempuan miskin adalah pengejar kemewahan. Dia tidak akan membiarkan Elena terlena dengan kekayaan yang ia punya, tidak akan pernah memberikannya kemewahan dan yang utama, dia tidak akan memberikan hatinya pada Elena.
Mereka makan malam dengan diam, sesekali Merrik melirik pada Elena, mengamati wajah yang sangat polos. Namun, dia tidak akan tertipu dengan kecantikan Elena. Setelah makan malam, Merrik baru memulai obrolan. “Kau beristirahatlah, ini sudah malam,” ucap Merrik.
“Bolehkah aku pergi mandi dulu? Badanku lengket semua.” Ucap Elena.
“Tentu, mandilah.” Merrik menunjuk letak kamar mandi.
“Kak, tapi aku tidak punya baju ganti.”
“Kamu bisa pakai pakaianku dulu, besok kita beli pakaian, yah.” Merrik menuju ke kamar dan mengambil satu kaos di lemarinya. Elena masih menunggu di ruang tamu. Hanya ada satu kamar di apartemen Merrik dan satu kamar mandi. Ruang tamu dan dan juga dapur yang minimalis. Tipe apartemen standart namun mewah bagi Elena.
Elena langsung menerima pakaian yang diberikan Merrik, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi, menggantungkan pakaian tersebut ke penyangkut di dinding kamar mandi. Elena mengamati isi kamar mandi, tidak ada gayung dan juga bak air. Tipe kamar mandi Merrik memiliki standart kamar mandi pada umumnya, dengan shower, wastafel dan toilet di sampingnya, tidak ada bath tub. Merrik memang memilih hidup sederhana saat kuliah, Merrik pecinta gunung walaupun tidak sering mendaki karena kesibukan, hingga dia sudah terbiasa hidup dengan alam dan juga kesederhanaan, karena itu dia tidak mengeluh saat berada di rumah Elena.
Elena tidak pernah mandi dengan shower, dia mencoba mencari tau cara pakainya. Meraih kran dan menggesernya, tiba-tiba air dingin keluar dari shower dan membasahi tubuhnya. “Ah, mengapa begini?” gumam Elena. Dia mencoba menggeser ke arah lain bukan berhenti, air menjadi panas, sebelum semakin panas dia terus mencoba menggeserkan ke atas dan ke bawah hingga akhirnya air dari shower tersebut berhenti. Elena sekarang mengerti cara menggunakan shower walaupun harus melalui proses percobaan terlebih dahulu. Baju seragamnya basah hingga ke pakaian dalam, Elena melepaskannya dan mulai menggantungkan pakaiannya, berharap esok pagi akan kering. Elena memulai aktivitas mandinya, dia menikmati air hangat yang keluar dari shower yang keluar secara cepat dan kencang. Elena merasa seperti di pijat, merasa sangat nyaman, tidak pernah dia merasakan seperti ini. Dia selalu mandi dengan air dingin di desanya.
Setelah selesai dia menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuh dan memulai pakaiannya. Elena menyeringitkan dahinya. ‘Pakaian dalamku basah.’ Gumam Elena. Tidak mungkin dia memakai pakaian dalam yang basah. Dia meraih kaos yang diberikan Merrik, kaos berwarna putih, di pakai olehnya hingga batas setengah paha. Elena mulai membuka pintu kamar mandi, dia tidak mungkin tidak memakai dalaman. Dia memanggil Merrik dari sela pintu kamar mandi yang di buka sedikit. “Kak …” belum ada tanggapan apapun. Elena memanggilnya lagi. “Kak Merrik …” masih tidak ada sahutan dari Merrik. Elena keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan kaos, dia mulai mencari Merrik, ruang tamu dan dapur kosong, dia beralih ke kamar, tidak ada Merrik di dalam. Elena keluar lagi dari kamar.
Merrik sedang berada di balkon, menghabiskan satu puntung rokok. Memikirkan kenapa dia sampai membawa Elena. Dia bangkit, menutup pintu balkon dan masuk, matanya bertemu dengan Elena yang baru saja keluar dari kamar tidur. Merrik tidak dapat mengedipkan matanya setelah melihat Elena yang sedang berdiri di depannya. Gadis muda yang hanya menggunakan kaos putih sebatas setengah paha, kaki jenjang yang putih dan tanpa noda, sisa tetesan air dari rambutnya setelah mandi bagaikan embun di pagi hari. Bagian atas yang sangat tercetak karena tidak ada lapisan lain. ‘Apa dia sedang menggodaku? Apa begini cara gadis miskin mengejar kekayaan?’ batin Merrik mengejek.
“Kak …” Panggil Elena.
“Ada apa?” tanya Merrik yang sulit menelan salivanya.
Elena mengigit bibirnya, dia bingung mengatakannya pada Merrik bahwa dia butuh pakaian dalam. “Aku … Aku butuh pakaian, Kak.”
“Bukannya kamu sudah memakai kaos-ku?” Tunjuk Merrik pada Elena, menatapnya sangat intens.
Elena menundukkan kepalanya dia malu mengatakannya. “Aku tidak tau cara menggunakan shower jadi tidak sengaja membasahi semua pakaianku, aku butuh pakaian da—lam.”
Merrik masih mengamati Elena, dia tergoda dengan gadis di depannya, Clara yang memakai bikini saat mereka berlibur di pantai saja tidak membangkitkan gairahnya. Namun, berbeda dengan gadis di depannya. Merrik mulai sesak dan panas, dia mendekati Elena. “Besok kita beli yah!” Merrik mendorong Elena ke dinding dan mulai menciumnya, Elena sudah mulai terbiasa dengan ciuman mendadak dari Merrik. Tangan Merrik mulai bergerak dari luar pakaian dan menyentuh sesuatu yang lembut di bagian atas. Elena tersadar dan mendorong Merrik. Dia tidak bicara dan hanya menatap Merrik dengan mimik wajah yang panik. Elena masih sedikit takut berhadapan dengan Merrik, terkadang merasa nyaman, terkadang rasa takut menghampirinya. Merrik menyadari ketakutan dan kepanikan Elena, dia mencium kening Elena dan membisikan. “Jangan tolak aku! Sekarang kita adalah suami istri dan aku yakin kamu tau tugas seorang istri.” Elena memang belum genap delapan belas tahun, tetapi Merrik yakin dia mengerti apa yang di ucapkan olehnya.
Elena belum menjawab perkataan Merrik. Namun, Merrik mulai mencium Elena kembali, memegang handle pintu kamar dan menggiring Elena masuk ke dalam. Merrik tidak melepas ciuman mereka, dia takut akan keluar kata-kata penolakan dari mulut Elena, hingga tanpa sadar menjatuhkan diri mereka di atas ranjang. Merrik memulai aksinya, mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Dia adalah pria dewasa, meskipun tidak pernah melakukan sebelumnya, naluri lelaki dapat menuntunnya melakukan dengan alami.
Hingga dua garis cairan bening keluar dari sudut mata Elena karena menahan sakit. Merrik mencium air mata Elena untuk menenangkan gadis itu. Gadis remaja yang belum mengerti cinta harus masuk ke dalam lingkaran kepalsuan cinta Merrik.
Bersambung…
Terima kasih yang bersedia mengikuti kisah Merrik dan Elena. 🙏🙏🙏
Info sedikit nih, Samudra Nayna sudah tamat, Bab nya juga tidak banyak, cus selagi menunggu up Kamuflase Cinta Sang CEO bisa baca dulu SAMUDRA NAYNA ceritanya seru loh. 🥰
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
kasihan Helena, mudah2n Merrick dapat karma, karena sdh memperdaya Helena dengan kepalsuan hatinya, Merrick mendapatkan karmanya menjadi Bucin terhadap Helena.
2023-03-20
1
Kiηg__ᴰ
sad banget ya, jadi semoga merrik sadar kalau alena benar² gadis polos. Hanya karena satu wanita berlaku buruk, bukan berarti merrik harus menyamaratakan bukan?
2022-06-12
3
Pipit Fitri Noerdiana
munafik si merrik ,hatinya busuk bgt pikirannya ke elena tp pengen di embat juga😒
2022-05-30
2