Merrik memilih mengalihkan pembicaraan. "Sudah jangan di pikirkan biaya. Aku laki-laki, jadi aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Sekarang kita bayar semua ini." Merrik mengangkat kantung belanja yang penuh dengan pakaian Elena. Mata Elena membulat setelah melihat yanga ada di tangan Merrik. Dia lupa dengan bahasan meresmikan pernikahan. "Sebanyak ini, Kak? Ini terlalu banyak, aku hanya butuh empat atau lima potong saja."
"Sudah tidak apa!" Merrik menggiring Elena ke kasir tanpa melepas pakaian baby doll yang melekat pada tubuh Elena. Setelah keluar dari toko pakaian Elena pergi ke toilet untuk mengganti pakaian dalamnya karena tidak merasa nyaman dengan pakaian yang bekas kemarin. Tangan Merrik sudah membawa empat jinjingan pakaian Elena, mulai dari luaran hingga pakaian dalam. Merrik melihat ke sepatu kets Elena, bersih namun usang. Dia membawa Elena ke toko sepatu. "Pilih yang kamu suka," ujar Merrik.
"Tidak usah, nanti beli sandal saja di warung. Beli sepatunya bulan depan lagi saja, pas Kakak gajian."
"Sudah cepat pilih saja, memang pas nanti kuliah mau pakai sepatu itu?" ucap Merrik menunjuk sepatu yang dikenakan Elena.
"Apa? Kuliah?" tanya Elena.
"Bukannya kamu mau kuliah?"
"Iya, tapi nanti. Aku mau cari kerja dulu, jika sudah terkumpul uangnya aku akan daftar kuliah."
Merrik menatap sendu pada Elena, apakah benar gadis ini begitu polos? Apa benar dia tidak seperti yang di bayangkan? Merrik menggelengkan kepalanya sedikit, mengusir pikiran baik tentang Elena.
'Pasti dia hanya berpura-pura.' Gumam Merrik dalam hati.
"Aku yang akan mencari dana untukmu kuliah."
"Kakak serius?" ucap Elena sumringah.
"Ya." Merrik suka melihat Elena tersenyum. Namun, senyum Elena hanya sebentar setelah itu dia menundukkan kepalanya. "Tidak usah Kak, aku akan cari uang sendiri buat kuliah. Kakak sudah banyak cicilan, aku tidak mau menambah beban Kakak lagi."
"Kamu bisa kerja sambil kuliah jadi aku tidak terlalu terbebani."
'Kerja sebagai pemuasku!' tambah Merrik dalam hati.
"Baik, aku akan berusaha sekuat tenagaku!" ucap Elena bersemangat.
"Berusahalah!" ucap Merrik penuh makna.
Merrik membawa Elena berbelanja, tidak hanya sepatu dan sandal, dia juga membeli banyak keperluan perempuan, make-up dan juga aksesoris. Dia sendiri yang memilih setiap barang yang akan di pakai Elena. Memilih sesuai dengan fantasinya.
"Kak, sudah, ini terlalu banyak. Tidak usah belanja lagi." Elena mengangkat tangannya yang penuh kantong belanjaan, begitu pula tangan Merrik. "Ya sudah, kita bisa beli lagi esok hari."
Hati Elena berbunga, gadis remaja yang baru mengenal cinta terbuai dengan perilaku Merrik yang sangat perhatian dan royal.
Mereka berjalan keliling Mall, melewati area bermain. Elena berhenti di tempat, menatap area bermain tersebut. "Kenapa berhenti?" tanya Merrik setelah menyadari tidak ada pergerakan di sampingnya. Mata Merrik melihat Elena yang menatap area bermain. "Kamu mau main?"
"Apa boleh?" tanya Elena.
"Umurmu berapa masih main seperti itu?" ucap Merrik tertawa.
"Aku tidak pernah ke Mall, juga belum pernah main seperti itu. Boleh aku sebentar saja melihatnya?"
Rasa iba menghampiri Merrik. "Boleh, kita main bersama. Kamu tunggu di sini, aku beli kartunya dulu." Merrik pergi meninggalkan Elena dan mengantri beli kartu permainan.
Merrik kembali dengan membawa dua kartu. "Ayo kita main. Barang belanjaan nya kita titipkan saja dulu di penitipan barang!" ucap Merrik lalu menuju ke penitipan barang.
Mereka ke arah permainan film 4 Dimensi, masuk dalam sebuah ruangan tertutup dan naik keatas alat permainan seperti mobil, Mereka memakai sabuk pengaman dan memakai kacamata empat dimensi. Lampu mulai gelap, layar di depan mata mulai menampilkan gambaran suatu desa yang mencengkam. "Kak, apa harus gelap seperti ini? Kenapa jadi seram begini?" tanya Elena.
"Memang seperti ini permainannya, kamu pegangan yang kuat, kita akan bergerak. Seolah-olah kita sedang dalam perjalanan menemukan sebuah misi." Jelas Merrik.
Mesin mulai bergerak, Elena mulai panik karena seolah-oleh dia sedang berada di sebuah mobil yang melaju kencang dan sedang di buru oleh makhluk-makhluk aneh. Elena mulai menjerit karena getaran dan juga suasana mencengkam. Merrik hanya tertawa melihat tingkah Elena.
"Kepalaku pusing, aku tidak mau main itu lagi!" ucap Elena setelah keluar dari area permainan.
"Aku beli minuman dulu, kamu tunggu di sini. Mau ku belikan apa?"
"Terserah Kakak saja."
"Baik, jangan kemana-mana. Kamu tidak punya ponsel kalau kamu pergi aku susah carinya. Main saja dulu disini. Tau kan cara mainnya, tinggal kamu gesekan saja kartunya lalu mulai permainan."
"Iya."
Merrik pergi meninggalkan Elena untuk membelikan minum. Elena melanjutkan permainan, dia mencoba memainkan japit boneka, beberapa kali gagal mendapatkan boneka. Entah darimana ada seorang lelaki di samping Elena. "Hei, bukan seperti itu mainnya, biar ku tunjukan!" ujar lelaki itu.
Dengan raut bingung, Elena menggeser tubuhnya. Lelaki itu mulai mengarahkan target yang diincar. "Kamu harus mencari boneka yang agak menonjol dan tidak terhalang boneka lain, setelah itu baru lepas jepitnya." Lelaki itu mempraktekkan di depan Elena dan benar saja dia mendapatkan bonekanya. Lelaki itu mengambil bonekanya. "Ini untukmu." Lelaki itu menyodorkan boneka pada Elena.
"Tidak, perlu! Kamu yang sudah berusaha mendapatkannya, jadi boneka ini punyamu." Elena menolak pemberiannya.
"Apa kamu pernah melihat lelaki sejati main boneka?" Lelaki itu memberikan boneka secara paksa pada Elena.
"Tapi ...."
"Sudah kamu ambil saja. Ngomong-ngomong namaku Ivander, siapa namamu?" tanya Ivander menyodorkan tangannya. Elena menerima uluran tangan tersebut. "Elena."
"Masih sekolah, yah?" tanya Ivander.
"Sudah lulus tahun ini."
"Benarkah? Ada rencana kuliah?"
"Ada."
"Mau kuliah dimana? Siapa tau nanti aku jadi seniormu di kampus."
"Belum terpikirkan kuliah dimana!" ucap Elena.
"Boleh aku minta nomor telepon mu? Kita bisa bertukar informasi."
"Maaf, aku tidak punya handphone."
"Yang benar saja, jaman sekarang tidak punya handphone! Bilang saja kamu tidak mau memberikan nomor telepon mu!" ucap Ivander kesal. Dia melihat penampilan Elena dari atas hingga bawah, hanya kata cantik dalam pikirannya.
"Bukan seperti itu, aku memang tidak punya handphone."
"Sudahlah jangan buat alasan, sok jual mahal! Kamu datang ke sini sendirian karena berjualan 'kan?" ejek Ivander.
"Jualan?" tanya Elena bingung. "Aku tidak lagi jualan hari ini." Dalam bayangan Elena, Ivander menanyakan jualan kue, dia tidak mengerti arti jualan dari omongan Ivander adalah menjajakan diri di Mall.
"Ternyata kamu mengakuinya! Berapa tarifmu? Aku akan membayarnya."
"Tarif?" ucap Elena semakin bingung dengan perkataan Ivander.
"Jangan berlagak sok polos! Dasar ayam kampus! Cepat katakan berapa tarifmu, pasti akan ku bayar ...." Belum sempat Ivander menyelesaikan kalimatnya, dia sudah terjatuh ke lantai karena tiba-tiba ada yang memukul wajahnya.
"Tutup mulut kotormu!" ucap Merrik geram.
Bersambung .....
Jangan lupa untuk Tap like love vote n gift. Jika kalian suka novel ini boleh rekomendasi ke teman kalian agar cerita ini tidak hanya ada di rak buku kalian. 😊🥰
Di tunggu juga saran dan kritik nya agar Age bisa berkarya lebih baik lagi 🙏🙏🙏
Yang belum baca SAMUDRA NAYNA boleh di baca selagi menunggu up KAMUFLASE CINTA SANG CEO, Sudah tamat dan juga seru loh ceritanya 😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
kasihan Elena, disikut kanan kiri, maju mundur kena, selalu orang berprasangka buruk padanya, bahkan laki2 yg sdh menjadi suaminya pun masih beranggapan buruk pada elena....
2023-03-20
1
Ara Hasyim
tidak slh klu Alena digoda pria lain bang merrick,,karna Alena blom mendptkn status yg sebenarnya hy secr agama saj..awas lo ntar klo Alena kuliah uhhh pasti bakal byk yg naksir...
2022-04-29
2
Aie
next Thor semangat
2022-04-04
2