...Setelah baca jangan lupa like-nya yach 🥰...
...Jika berkenan berikan 🌹 dan juga komentarnya, Age butuh banyak saran dan kritik nya nih 😊...
...❤️❤️❤️...
Pagi hari Merrik bangun terlebih dahulu, masih ada dua jam bersantai sebelum berangkat ke kantor. Namun, waktu tersebut dipakai oleh Merrik untuk memandangi wajah Elena yang terlelap, dia tidak menyangka gadis kecil ini bisa membuatnya candu. Satu jam sudah dia memandang Elena, Merrik melepaskan secara perlahan lengannya yang dijadikan Elena sebagai bantal. Dia menginginkan Elena lagi, tetapi melihat wajahnya yang tertidur pulas karena kelelahan, mengurungkan niatnya untuk membangunkan Elena untuk melayaninya. Merrik mencium keningnya lalu menuju kamar mandi, mempersiapkan diri untuk berangkat ke peresmian cabang baru, sebelum berangkat dia mencatat sebuah pesan di selembar kertas dan di letakan di samping tempat tidur.
Elena membuka matanya, tidak ada Merrik di sampingnya. Dia melihat ada selembar kertas di atas meja, dia membaca isi kertas tersebut, ‘Jangan keluar dari kamar hotel, akan ada pelayan yang mengantar makananmu dan melayanimu, nanti sore aku akan kembali, pakai baju yang sudah ku siapkan untuk nanti sore. Jangan lupa meminum vitamin’. Elena tersenyum bahagia membaca pesan dari Merrik, tidak menyangka pria yang pernah mencoba memperrkosanya begitu perhatian padanya. Elena berjalan menuju ruang tamu, sudah ada sebuah gaun cantik tergantung di sana. Gaun yang cukup terbuka. "Apa aku harus pakai ini?" gumam Elena.
Sesaat kemudian bel kamar berbunyi, ada satu orang perempuan datang ke kamarnya. "Selamat pagi Nona, Saya Maria yang akan melayanimu hari ini."
"Melayaniku?" tanya Elena bingung.
"Iya, Tuan Merrik yang memerintahkan aku. Bisa kita mulai?"
"Oh, Iya."
Merrik sudah memerintahkan orang untuk melayani Elena. Mulai dari sarapan, selanjutnya Elena melakukan serangkaian perawatan head to toe. Selama proses perawatan Elena hanya menampakan wajah yang bahagia. Sangat bahagia memiliki Merrik menjadi suaminya.
...***************...
Merrik menghadiri peresmian cabang baru, Dion setia menemaninya. Menunggu waktunya memberi pidato, jiwanya di perusahaan namun pikirannya tertuju pada kelinci kecilnya yang sedang melakukan perawatan di hotel. Setelah menunggu MC sambutan, akhirnya Merrik di panggil, dia menaiki podium. Tidak masalah baginya bicara di depan umum, Merrik berpidato dengan lancar, dia hanya ingin acara cepat selesai dan kembali ke hotel untuk menikmati surga dunia. Ya, Merrik bagaikan pengantin baru yang tidak ingin jauh dari pasangannya.
Akhirnya acara selesai. "Apa aku ada jadwal lagi?" tanya Merrik pada Dion.
"Tidak ada. Apa perlu ku siapkan penerbangan sore ini untuk pulang?" tanya Dion.
"Tidak perlu, besok pagi saja."
"Baik," ucap Dion.
"Aku akan pergi dari sini lebih dulu, kamu selesaikan yang ada di sini."
"Bos mau kemana?"
"Bukan urusanmu!" Merrik pergi meninggalkan Dion dan menuju mangsanya berada.
"Kenapa dia? Biasanya selalu cepat pulang jika urusan pekerjaan selesai! Kenapa sekarang menunda penerbangan!" gumam Dion.
Merrik tiba di hotel sore hari, dia memasuki kamar hotel, sudah ada Elena di dalam dengan menggunakan gaun silver yang dia siapkan dengan tatanan rambut terurai dengan hiasan kecil di kepalanya. Riasan wajah yang menambah kecantikan nya. Merrik menatapnya intens, mengagumi kecantikan di depan matanya.
"Kak Merrik, sudah pulang?" tanya Elena yang membuyarkan lamunannya.
"Iya, acara sudah selesai."
"Kak, aku tidak nyaman memakai gaun ini. Cantik gaunnya tapi terlalu terbuka, kalau pergi dengan pakaian seperti ini, aku malu!" Elena sangat tidak nyaman menggunakan gaun yang dia pakai, bagian dada yang sangat rendah hampir memperlihatkan sebagian dari isinya dan juga punggung yang terbuka, pundak yang hanya ada satu tali tipis sebagai penopang gaunnya. Belum lagi belahan gaun yang jika berjalan maka pahanya akan terpampang nyata.
"Kata siapa kita akan pergi?" ujar Merrik.
"Lalu untuk apa aku pakai ini?" tanya Elena bingung.
"Aku hanya ingin kamu memakainya, tidak mungkin aku membiarkan pria lain melihatmu seperti ini. Kita hanya akan makan malam di kamar hotel."
"Oh. Aku kira kita akan pergi ke suatu tempat."
Merrik lebih mendekat pada Elena, dia sudah tidak sabar menerkamnya. "Kita akan pergi kamanapun kamu mau tapi tidak hari ini." Merrik menarik pinggang Elena, dia mulai dengan bagian kesukaannya, mulai mencium Elena dan menggiringnya ke ranjang. Elena ingin protes, gaun yang di gunakan sudah tidak tau bentuknya karena sudah di lepas paksa oleh Merrik. Merrik sudah tidak bisa menunggu, yang rencananya ingin makan malam terlebih dahulu, tidak terlaksana. Dia memilih memakan Elena terlebih dulu.
Elena duduk di atas ranjang dengan menggunakan bathrobe, di depannya sudah tersedia beberapa makanan, makan malam mereka harus di ulur menjadi jam sembilan malam karena Merrik baru menyelesaikan pergumulan mereka, bibir Elena di manyunkan karena kesal.
"Masih kesal?" tanya Merrik.
"Iya, gaunnya jadi rusak. Kenapa minta aku pakai kalau tidak sampai sepuluh menit sudah di lepas! 'Kan jadi mubazir."
Merrik lucu melihat Elena ngambek, gadisnya sudah berani merajuk. "Nanti aku belikan gaun baru jika pergi ke suatu tempat, tapi tidak gaun seperti tadi, yang tadi khusus di kamar saja." Merrik menyuapi sesendok makanan ke mulut Elena, dia tidak akan membiarkan Elena kelaparan karena Merrik berencana melakukannya lagi setelah makan malam. Mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar saja selama di dalam hotel.
...************...
Keesok harinya, mereka kembali ke apartemen, menjalani rutinitas seperti biasa, Elena hanya berada di rumah karena belum mulai kuliah dan Merrik pergi ke kantor.
Merrik masuk ke dalam ruangannya, tidak berapa lama Dion masuk. “Bos, Ayahmu ingin menemuimu.”
“Bilang aku sibuk!” ucap Merrik. Dia tidak ingin bertemu Ayahnya.
“Baik, aku akan bilang Tuan Besar kalau kamu sedang sibuk.” Dion melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan Merrik, menarik handle pintu, di depannya sudah ada Ricci menunggu di depan ruangan Merrik. “Biarkan aku masuk,” ucap Ricci.
Ricci langsung menerobos masuk, Dion sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya melirik sedikit pada Merrik lalu menutup pintu dan pergi.
“Kapan kamu mau pulang?” tanya Ricci yang duduk di depan meja kerja Merrik.
“Tidak akan pulang selama ada wanita iblis di sana!” ujar Merrik sarkas.
“Tidak ada wanita iblis, Rose adalah ibumu.”
“Hanya Melan ibuku!” ucap Merrik meninggi.
“Sampai kapan kamu begini? Kamu di besarkan olehnya, seharusnya kamu tau seperti apa kepribadian Rose!”
“Ya, karena dia yang merawatku sejak kecil, dia pandai berpura-pura baik agar tertipu oleh muslihatnya. Orang rendahan yang memanjat untuk menjadi orang kaya!”
“Tutup mulutmu Merrik! Jaga ucapanmu!” ujar Ricci tersulut emosi.
“Kamu yang sudah dibutakan, Yah! Kamu lebih memilih menceraikan Ibu dan lari ke pelukan wanita ular itu!”
Ricci menghela nafasnya, begitu sulit untuk melunakkan Merrik untuk bersedia menerima Rose menjadi Ibunya. "Ku dengar kamu putus dengan Clara? Karena dia selingkuh bukan!"
"Bukan urusan Ayah!"
"Clara yang status sosial-nya sama denganmu menyelingkuhimu, seharusnya kamu sadar Merrik, miskin atau kaya tidak ada hubungannya dengan kebaikan seseorang."
"Tapi tidak ada perempuan baik-baik yang merusak rumah tangga orang lain!" ujar Merrik sarkas.
...❤️❤️❤️...
Terimakasih telah membaca kisah Merrik dan Elena 🙏🙏🙏
Salam Age Nairie 🥰🥰 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
NandhiniAnak Babeh
owalah Ricci tuh baba nya babang merrik toh yooooo
suruh anak mu pulang mang Ricci.. kasian bocah kecil di kerjain trs tuh sama anak nye 😄😄😄😄
2022-04-07
2
reza
crazy up thor
2022-04-07
2
grace
next
2022-04-07
1