Entah mengapa saat melihat Elena mengigit bibirnya, Merrik ada keinginan menciumnya. Setelah ikatan tersebut terlepas dia mendekatkan diri dan menciumnya.
"Apa yang Kakak lakukan?" Elena mudur dan terduduk di lantai
"Tidak ada," ucap Merrik.
"Tadi Kakak menciumku!"
"Lalu?"
"Aku akan lapor Kepala Desa tentang apa yang Kakak lakukan! Aku juga akan lapor polisi!" Ancam Elena. Dia takut jika harus berlama-lama bersama Merrik.
"Untuk apa? Kita sudah di nikahkan! Kamu mau lapor polisi? Semua orang desa tau kita sudah menikah."
Elena mulai minitikan air matanya. "Jadi, kita akan tinggal bersama seterusnya?"
'Apa ini? Apa dia sedang melakukan lelucon? Apakah remaja mudah sekali menangis?' Gumamnya dalam hati.
"Elena, kita sudah menikah, tentu saja kita akan tinggal bersama. Kamu tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam padamu sampai kamu bersedia. Namun, kita juga harus lebih saling mengenal agar terjalin hubungan sebagimana mestinya. Sudah jangan menangis lagi!" Bujuk Merrik.
'Ada apa denganku? Kenapa aku malah membujuknya! Bukankah aku seharusnya menceraikan nya!' batin Merrik.
"Apa kita tidak bisa membatalkan pernikahan kita?" ucap Elena.
'Apa maksudnya? Apa dia minta cerai dariku? Seharusnya aku yang menceraikan nya bukan dia yang meminta.' Kesal Merrik dalam hati.
"Maksudmu, cerai?" tanya Merrik memastikan dan Elena hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita menikah belum dua puluh empat jam, apa kata orang desa jika tau kita bercerai, bisa jadi kita akan di arak keliling kampung dan kamu bisa di cap perempuan tidak benar!" Ancam Merrik.
"Tidak, aku perempuan baik-baik!" Panik Elena.
"Tapi semua orang desa taunya kita berbuat mesum. Jadi sekarang kita jalani saja dulu. Kita coba untuk saling mengenal. Aku janji tidak akan berbuat yang tidak-tidak padamu!"
"Maksud Kakak kita saling mengenal seperti orang pacaran?" tanya Elena polos, dia tidak pernah pacaran.
'Apa? Pacaran dengan gadis sepertimu? Yang benar saja!' Batin Merrik menolak kata pacaran.
"Kita penjajakan dulu saja," ucap Merrik mengganti kata pacaran. Suara batin dan suara yang ia keluarkan bertolak belakang.
Elena hanya diam membisu. "Kenapa diam?" tanya Merrik.
"Aku belum pernah pacaran, jadi tidak tau caranya?" ujar Elena.
'Benar-benar lelucon! Dengan wajah cantik seperti itu tidak pernah berpacaran? Apa kau sedang memainkan drama? Pandai sekali kau memainkan peran!' Merrik meragukan perkataan Elena.
"Tidak apa, nanti bisa sendiri secara alami, kita hanya menjalankan saja," ucap Merrik. Lagi-lagi dia hanya bisa memaki Elena dalam hati. Namun, perkataan yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan batinnya.
Elena hanya menganggukkan kepalanya, dia mendekati Merrik dan melanjutkan membuka tali di kaki Merrik. "Kemana saja dirimu? Aku tidak melihatmu dari tadi pagi!" tanya Merrik.
"Aku antar barang dagangan, sekalian mencari bahan untukku membuat aksesoris," jawab Elena. Setelah itu bangkit dari duduknya. "Kakak habis mabuk ya? Tadi aku menemukan kaleng minuman!" ujar Elena menunduk.
"Iya," jawab Merrik singkat.
"Itu haram Kak, lebih baik jangan diminum lagi." Elena masih menundukkan kepalanya.
"Ya, ini yang terakhir." Entah kenapa Merrik mendengarkan nasehat Elena.
"Aku ambilkan makan siang untuk Kakak, tunggu sebentar." Elena pergi ke dapur dan setelah beberapa saat dia membawa masakannya ke meja ruang tamu, dia tidak mempunyai meja makan, jadi meja tamu dijadikan multifungsi sekaligus menjadi meja makan.
Merrik hanya melihat hanya satu piring kosong, Elena mengisi piring tersebut dengan nasi dan menyodorkan pada Merrik. "Piringmu yang mana?" tanya Merrik.
"Aku belum lapar, Kak."
"Cepat ambil piring, kita makan bersama." Titah Merrik.
"Baik." Elena takut jika mendengar suara Merrik meninggi, dia menuruti Merrik dan ikut makan siang bersama.
Setelah makan siang, Elena kembali ke kamarnya, dia membuka kisi-kisi ujian masuk Universitas dan mulai tenggelam dalam soal-soal tersebut hingga menjelang sore.
Merrik tidak melihat Elena, Merrik mulai mencarinya, dia melihat Elena duduk di meja belajarnya. Merrik mendekat dan menyentuh pundaknya. "Sedang apa?"
Elena sedikit terkejut dengan kedatangan Merrik. "Sedang belajar, Kak."
"Bukannya sudah selesai ujian?"
"Aku lagi belajar untuk persiapan masuk Universitas."
Merrik melirik di buku Elena. "Kenapa itu banyak kosong?" tunjuk Merrik pada soal matematika yang belum di isi.
"Tidak tau caranya, Kak. Aku tidak terlalu pandai," jawab Elena jujur.
"Biar aku bantu."
"Kakak bisa?" ucap Elena melebarkan matanya.
"Kau meremehkanku." Merrik mengambil kursi yang ada di depan meja rias dan memindahkan di samping Elena. Dia seorang juara umum saat sekolah, tidak sulit baginya menyelesaikan soal tersebut. Elena memperhatikan dengan seksama saat Merrik menjelaskan. Setelah itu, dia mencoba menyelesaikan dengan apa yang Merrik ajarkan.
Merrik melihat Elena tersenyum saat mengerjakan soal, Elena sangat senang bisa mengerjakan dengan mudah, sudah mulai merasa nyaman di dekat Merrik, tidak ada ketakutan berada di samping Merrik lagi. Tangan Merrik tanpa sadar mengusap rambut Elena. Elena menoleh saat merasakan sentuhan di kepalanya. Mereka saling tatap, Merrik mendekatkan wajahnya, Elena memundurkan kepalanya, Merrik menahannya dan mulai menciumnya. Elena hanya melebarkan matanya dan mengeratkan bibirnya, tangannya menggenggam erat pensil yang dari tadi menemaninya mengerjakan soal. Tidak ada balasan dari Elena, Merrik merenggangkan bibir mereka sedikit dan berkata, "Buka mulutmu!" Seperti terhipnotis, Elena membuka sedikit mulutnya dan Merrik memulai aksinya. Merrik bebas mengekplorasi bibir yang di kecapnya.
Setelah sekian lama, Merrik menghentikan aksinya, entah mengapa dia menginginkan lebih, dia sangat bisa mengontrol dirinya saat berpacaran dengan Clara, beberapa kali berciuman dengan Clara. Namun, tidak pernah sekalipun Merrik yang memulai, Clara lah yang selalu memulai, tetapi entah kenapa berbeda dengan Elena, secara naluri ingin mendapatkan lebih dari gadis ini. Namun, dia sudah berjanji pada Elena untuk menunggunya bersedia, dia tidak ingin membuat Elena takut.
"Jangan pernah melakukan ini dengan pria lain! Mengerti?" ucap Merrik. Elena hanya menganggukkan kepalanya. Dia bingung harus berkata apa, Merrik adalah pria pertama yang dekat dengannya sekaligus langsung menjadi suaminya. Hatinya berdebar akan ciuman tadi, dia tidak tau bagaimana perasaannya sekarang.
Merrik meninggalkan kamar Elena, dia tidak bisa berlama-lama berdekatan dengan Elena, bisa-bisa dia menerkamnya, dia harus memikirkan cara agar Elena mau dengan suka rela melakukanya. Dia tidak ingin memaksa yang akan membuatnya trauma.
'Ada apa denganku? Bukannya seharusnya aku meninggalkannya?' ucap Merrik dalam hati dan mengusap kasar wajahnya.
Bersambung...
Novel on going, yang akan di up sehari sekali, karena saat ini otor sedang tahap menyelesaikan karya otor yg berjudul Samudra Nayna 😊 namun diusahakan untuk up lebih.
Bagi yang belum baca SAMUDRA NAYNA boleh diintip dulu, ceritanya oke punya loh 😁
Jangan lupa untuk like, love n komentarnya yach 😊😊😊 karena dukungan kalian sangat berarti untuk author
Salam Age Nairie 🥰😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
lanjut....
2023-03-20
1
Ara Hasyim
benih² ❤sdh mulai tumbuh🌹🌹🌹,g rugi kok dpt Alena meskipun msh remaja ,malah dpt untung bayaaakk,bs dididk sesuai yg diinginkan Alena penurut baik mandiri cantaiikk akhh mungkin msh byk yg lainnya lg...berlian yg tersembunyi di desa..klu msk kota jd rebutan tuh awas merrick jgn smpai lepas...ikat seumur hidup
2022-04-28
3
Safini Azizah
terbawa cerita 😘
2022-04-26
3