"Maaf, dompet Anda jatuh," ucap Elena.
Wanita paruh baya tersebut menoleh saat ada yang memanggilnya. Dia berbalik dan menatap Elena tanpa suara. Menatap secara penuh bagai sedang meneliti sesuatu.
Elena menyodorkan dompet tersebut "Bibi, ini dompet Anda."
Amel menerima dompet tersebut dengan masih menatap Elena, mata hijau itu menjadi perhatiannya. Mata yang sangat mirip dengan mata suaminya. Masih dalam keterkejutannya. Elena mendengar Merrik memanggilnya dari kejauhan. "Elena."
Elena menoleh ke sumber suara, dia tersenyum melihat Merrik memegang es krim di tangannya. "Maaf, Bi. Aku pergi dulu." Elena dengan cepat meninggalkan Amel, dia tidak ingin Merrik menunggunya lama.
"Hei, tunggu!" Amel memanggil Elena. Namun, yang di panggil sudah berlari masuk dalam kerumunan orang berlalu lalang.
Merrik langsung menggiring Elena untuk menjauh dari kerumunan, mencari tempat yang agak sepi, agar keluar dari sesaknya padat manusia. Mata Elena tertuju pada tangan Merrik yang membawa satu es krim. "Maaf ya, Kak", ucap Elena.
"Kenapa minta maaf?" tanya Merrik bingung.
"Maaf, karena harga es krim-nya pasti mahal." Pikir Elena harga es krim mahal karena mereka sedang ada di tempat wisata. "Saat kita ke Mall aku liat stun es krim, pas lihat harga satu scoop-nya hampir lima puluh ribu, aku urungkan untuk minta beli. Aku pikir karena ini tempat wisata di jalan pasti harganya lebih murah dari di Mall. Ternyata mahal ya, Kak? Jadi Kakak hanya beli satu."
Merrik diam mendengar Elena yang membeli es krim saja harus begitu banyak pertimbangan. "Hei, Kenapa bilang seperti itu? Aku masih sanggup untuk beli sepuluh es krim. Aku tidak membeli karena tidak terlalu suka es krim."
"'Jadi bukan karena harganya mahal?"
"Bukan, Mulai sekarang apa yang kau inginkan bilang saja. Aku akan membelikan apa yang kamu mau."
Elena langsung memeluk Merrik. Merrik terkejut karena perlakuan Elena, ini pertama kalinya Elena memeluknya terlebih dahulu. "Sudah, makan dulu es krimnya," ujar Merrik. Ada sesuatu yang hangat di hatinya saat Elena memeluknya.
Elena memakan Es krim-nya, mereka berjalan sepanjang jalan alun-alun dengan bergandengan tangan. "Tempat apa yang mau kamu kunjungi?" tanya Merrik.
"Tempat?" tanya Elena.
"Iya, tempat wisata misalkan."
"Aku mau ke taman hiburan! Saat kemarin di area bermain di Mall sudah sangat seru, jadi ingin coba taman hiburan yang di alam terbuka, aku ingin coba naik kincir-kincir dan kuda putar." Elena mengigit es krim-nya. Ada sisa es krim di sudut bibirnya.
"Kamu belum pernah?"
"Belum, di desa mana ada."
Merrik berhenti di trotoar, Elena ikut berhenti setelah melihat Merrik tidak berjalan. "Kita akan pergi ke tempat yang ingin kamu kunjungi?" ucap Merrik penuh keyakinan.
"Kakak, serius?"
Merrik melihat sisa es krim d bibir Elena. Dia mendekatinya. "Tentu saja." Setelah berkata dua kata dia membersihkan sisa es krim di bibir Elena menggunakan bibirnya.
Elena refleks mendorong Merrik. "Apa yang Kakak lakukan? Ini di tengah jalan!"
Merrik hanya tersenyum, dia suka melihat wajah Elena yang panik. "Ayo kita kembali ke hotel." Merrik kembali tersulut gairahnya, membawa Elena kembali ke hotel. Seperti biasa, Merrik memperlakukan Elena dengan baik. Namun, selalu menuntut Elena melakukan apapun yang Merrik katakan.
"Kak, kenapa aku harus pakai baju seperti ini terus?" Elena tidak nyaman dengan pakaian yang di kenakan. Malam ini Merrik meminta Elena memakai lingerie putih dengan rambut di kuncir ke atas.
"Kamu cantik pakai itu, ayo sini!" Merrik tidak bohong, dia selalu mengakui kecantikan Elena.
Elena berjalan mendekati Merrik, dinas malam Elena telah di mulai. Merrik mengajarkan dia berbagai hal di atas ranjang. Itu dia lakukan untuk kesenangannya semata. Elena bagai kelinci kecil yang sudah masuk dalam perangkap Merrik. Namun, Merrik tidak sadar bahwa dia lah yang sudah masuk ke dalam jerat cinta si kelinci kecil.
Mereka telah selesai, Elena masih lemah, tidur dengan membelakangi Merrik dengan tangan Merrik di pinggang nya, dengan sisa tenaga dia bertanya pada Merrik. "Kak, apa setiap orang menikah akan seperti kita? Tadi siang kita sudah melakukannya sampai sore, malam juga harus melakukan nya? Aku lelah, Kakak tidak lelah?"
"Tidak, kita hanya harus rutin melakukannya agar tidak mudah lelah."
Merrik hanya asal bicara, dia tidak tau harus menjelaskan apa pada Elena. Dia sadar Elena hanyalah gadis remaja yang sedang tumbuh menuju kedewasaan. Banyak hal yang belum di ketahuinya, biar saja dia belajar secara alami.
Merrik mempererat pelukannya pada tubuh mungil Elena yang membelakanginya, menghirup aroma di rambut Elena, sesekali mencium tengkuk Elena yang masih tercium aroma sisa bercinta mereka. Entah sudah berapa kali mereka memadu kasih hari ini. Perbedaan tubuh mereka membuat Merrik ingin memasukannya ke tubuhnya, dia ingin mengantongi Elena ke sakunya agar bisa di bawa kemana-mana. Merrik memang sudah merencanakan satu hari penuh di habiskan dengan bercumbu. Ya, Elena sudah menjadi candunya.
Merrik semakin mempererat pelukan, bagai takut akan kehilangannya. Elena merasakan pelukan Merrik yang semakin erat. "Kak, sakit! Terlalu kencang!"
Merrik tersadar telah memeluknya terlalu erat, dia membalikkan tubuh Elena hingga berhadapan dengannya. Kini wajah cantik Elena sejajar dengan dada bidang Merrik, Dia meletakan tangan Elena di pinggangnya, postur tubuh Elena yang menurutnya mungil sangat berbanding terbalik dengan tubuh Merrik yang kekar. Tetapi perbedaan itu yang membuat Merrik gemas terhadap Elena.
"Kak, terima kasih," ucap Elena.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Merrik.
"Terima kasih telah memperlakukan aku dengan baik. Aku bahagia memiliki Kakak sebagai suamiku." Elena mengangkat kepalanya, memberanikan dirinya mencium sekilas bibir Merrik.
"Aku juga terimakasih padamu dan juga maaf."
"Maaf kenapa?" tanya Elena bingung.
Merrik hanya merapikan rambut yang ada di wajah Elena, menarik dagunya dan memberikan ciuman mesra. Ya, Merrik tidak pernah bosan dengan bibir mungil Elena. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan maaf dari Elena.
'Terima kasih telah menjadi pemuasku dan maaf, entah sampai kapan aku akan bosan denganmu. Disaat itu, aku akan meninggalkan mu.' Batin Merrik menjawab pertanyaan Elena.
...*************...
"Sayang, kamu kenapa? tanya Steven.
"Aku melihat seorang gadis hari ini. Aku merasakan bahwa dia lah Eleanor kita. Dia memiliki matamu Steven."
"Dimana dia sekarang?"
"Aku sudah berusaha memanggilnya. Namun, dia terlalu cepat pergi. Aku sudah coba mengejarnya tapi tidak kutemukan."
"Baik, aku akan terus mencari putri kita!" Steven yakin suatu saat keluarga mereka akan berkumpul.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Jangan lupa untuk like, love, vote , gift dan komentar nya 🙏🙏🙏
Di tunggu saran dan kritik nya yach agar othor recehan ini bisa berkarya lebih baik lagi 😊
Salam Age Nairie.🥰🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
MJ
Ketemu emak kamu ElenA
2022-10-06
1
Kod Driyah
kasihan elina cm di jdkan pemuas nafsu sj
2022-07-20
1
Pipit Fitri Noerdiana
bagus ceritanya,alurnya ga terlalu bertele2,tidak terlalu cepat atau lambat,,good job thor...sejauh ini aku suka,ceritanya jg cukup unik,ga sprti novel Ceo pada umumnya.
2022-05-30
3