...Happy reading 🥰...
...Jangan lupa dukung Age dengan like, masukan ke daftar favorit, bintang 5, vote , gift dan komentar ya, Banyak yach ? 🤭 Tapi jika berkenan loch 🥰🥰🥰...
...Tapi ngarep sih 😁 Biar lebih semangat gitu 🤭...
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Merrik geram melihat Elena di dekati oleh seorang pria. Dia mendengar setengah percakapan mereka. Dia membuang minuman yang di pegangnya lalu menghampiri lelaki yang mengganggu istrinya.
Bugh! Ivander tersungkur. "Tutup mulut kotormu, brengsek!" Merrik langsung menarik lengan Elena tanpa menunggu Ivander bangkit. Dia kesal dengan apa yang di ucapkan lelaki itu, meskipun dia hanya menganggap Elena sebagai pemuasnya bukan berarti orang lain boleh menghinanya. Merrik tidak akan pernah membiarkan orang lain menghina Elena.
Setelah menjauh dari pria tersebut. "Kenapa kamu bisa ngobrol dengan pria tadi?" ucap Merrik marah.
"Dia tiba-tiba datang menawarkan bantuan menjapit boneka," ujar Elena gugup.
Merrik melihat boneka di tangan Elena. "Itu dia yang dapatkan?" Tunjuk Merrik pada boneka yang di pegang Elena. Elena hanya mengangguk. Merrik langsung merampas boneka tersebut dan langsung membuangnya ke tempat sampah. "Apa kamu bodoh bisa bicara dengan lelaki sampah seperti itu?"
"Lelaki sampah?" tanya Elena.
"Setelah menyebutmu ayam kampus, apa namanya kalau bukan lelaki sampah!" Kesal Merrik.
"Ayam kampus itu apa?" tanya Elena polos.
"Kamu tidak tau?" tanya Merrik terkejut karena Elena tidak tau istilah itu. Elena hanya menggeleng.
Merrik menggurai kepalanya. "Pellacur!" Elena langsung terkejut, menutup mulutnya.
Merrik mendekatinya. "Jangan pernah percaya dengan perkataan laki-laki! Semua lelaki brengsek!"
"Termasuk Kakak?" tanya Elena tanpa sadar.
"Ha?" Merrik terdiam. 'Ya,' jawab Merrik dalam hati.
"Aku tidak akan percaya dengan laki-laki lain, aku hanya akan percaya dengan Kakak. Aku yakin Kakak akan menjadi suami yang baik untukku." Elena memberi senyum yang indah di mata Merrik.
Merrik hanya diam tanpa berkata satu katapun, Elena menarik lengannya. "Ayo kita pulang." Mereka jalan menuju penitipan barang untuk mengambil barang-barang yang sudah di beli. Sudah sore hari setelah mereka sampai di apartemen. Elena membongkar barang yang di beli, terkejut dengan satu tas belanja yang berisi lingerie. "Kak, perasaan aku tidak beli ini? baju apa ini?" ucap Elena.
Merrik menghampiri dan berkata, "Aku yang beli, nanti malam pakai, yah." Wajah Elena memerah setelah mendengar perkataan Merrik.
"Tidak mau, akan akan masuk angin jika pakai ini." Elena mengangkat salah satu lingerie yang transparan.
"Tapi aku mau lihat, menyenangkan suami itu mendapat pahala loh."
Elena mengalihkan pembicaraan, tidak mau membahas tentang lingerie lagi. "Kakak mau makan malam apa biar aku buatkan."
"Terserah saja."
Elena membuka kulkas dan memilih bahan makanan lalu mulai memasak, Merrik hanya mengajarinya sekali menggunakan kompor listrik dan elektronik memasak lainnya. Elena cepat mengerti, dia mulai aktivitas masaknya. Setelah makan malam Merrik mulai melancarkan aksinya, dia sudah benar-benar menjadikan Elena sebagai pemuasnya. Dia meminta Elena memakai lingerie yang di belinya.
Elena keluar dari kamar mandi dengan malu-malu, dia memakai apa yang di minta Merrik. Merrik menatap Elena yang masuk ke dalam kamar dengan malu-malu. 'Benar-benar seorang penggoda!' batin Merrik. "Kemarilah," ucap Merrik.
Elena dengan kepala tertunduk mendekati Merrik yang sudah menunggunya di ranjang. Merrik tidak sabar, saat Elena tinggal sedikit lagi sampai ranjang, Merrik menarik tangannya dan menjatuhkan dirinya ke ranjang. Merrik mulai mencium bibir Elena, baginya Elena adalah candu, dia bebas kapanpun melepas hasratnya tanpa memikirkan Elena akan hamil. Mereka melakukan untuk yang kedua kali dan terlelap setelah olahraga malam mereka selesai.
Keesokan paginya seperti biasa Merrik akan mengingatkan Elena untuk meminum vitaminnya. "Ini harus di minum setiap hari, Kak?" tanya Elena.
"Iya," jawab Merrik.
"Huft, Apa tidak boleh seminggu sekali? Aku jarang minum obat, dulu kalau sakit hanya pakai minyak angin atau meracik sendiri dengan tanaman herbal."
"Ini untuk kebaikanmu, minum lah."
Elena mematuhi apa yang Merrik perintahkan meskipun dia tidak menyukainya. Merrik mengelus rambut Elena. "Kamu harus meminumnya setiap hari."
"Iya, Kak."
"Hari ini aku akan ke kantor."
"Boleh aku berjualan?" tanya Elena.
"Jualan?"
"Iya, jual kue. Aku mau membuat kue dan mencari warung untuk di titipkan "
Merrik mengingat kembali saat Elena di ganggu di Mall, dia tidak akan membiarkan Elena berkeliaran sendirian, di kota berbeda dengan di desanya. Terlalu beragam jenis orang yang ada di kota, tingkat kejahatan juga semakin beragam. Dia akan menyimpan Elena untuk dirinya sendiri hingga dia bosan. Meskipun tidak tau kapan rasa bosan itu akan datang. "Tidak perlu, keperluanmu biar aku yang tanggung. Kamu di rumah saja dan fokus kuliah saja. Kamu hanya boleh keluar apartemen jika kuliah saja. Kapan pendaftaran kuliah?" ujar Merrik.
"Sebenarnya sudah bisa melakukan pendaftaran dari beberapa hari lalu."
"Nanti siang aku antar kamu melakukan pendaftaran, tunggu saja di rumah."
"Kakak mau antar aku? Memangnya boleh izin?"
'Tentu saja, aku 'kan bosnya.' batin Merrik.
"Bosku baik, aku pasti dapat ijin," ucap Merrik.
"Kak, aku boleh menggunakan komputer Kakak? Aku mau buat surat lamaran pekerjaan. Siapa tau aku bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa membantu perekonomian keluarga!"
'Keluarga? Apakah kita keluarga?' ucap Merrik yang hanya bisa di ucapkan dalam hati.
"Pakailah, Kamu bisa menggunakan komputer?" tanya Merrik memastikan.
"Tentu saja bisa, aku 'kan juga sekolah. Iya, memang tidak terhubung oleh internet tetapi aku diajarkan Microsoft office di sekolah! Siapa tau ada pekerjaan untukku, data entry atau mungkin resepsionis!" ucap Elena bangga.
"Iya, iya, sebenarnya kamu itu cerdas mungkin hanya kurang fasilitas saja. Aku berangkat dulu, ya!" Merrik baru saja ingin memberikan ciuman perpisahan. Namun, dihentikan Elena.
"Oh, ya Kak, kapan kita urus peresmian pernikahan kita?" tanya Elena. Dia ingin segera mengurus dokumen pernikahan.
"Emmm." Merrik mulai memutar otak. "Begini, umurmu belum mencapai usia sembilan belas tahun, sedangkan ketetapan pemerintah menikah itu harus usia sembilan belas tahun, kamu saja belum genap delapan belas tahun, jadi kita belum bisa mendaftarkan pernikahan kita."
"Tapi di desa banyak gadis di usia ku telah menikah." ucap Elena bingung.
"Peraturannya seperti itu yang sekarang, beberapa tahun lalu memang batas usia seorang perempuan enam belas tahun. Namun, sudah di ganti menjadi sembilan belas tahun. Sebenarnya bisa minta dispensasi, tetapi harus ada alasan mendesak, seperti hamil duluan, atau memang aturan adat suatu suku. Itu pun harus persetujuan dulu dan harus menyertakan beberapa dokumen pendukung." Jelas Merrik panjang lebar.
Ada raut kebingungan di wajah Elena. "Aku masih agak bingung, Kak!"
"Sudah tidak usah bingung, kita tunggu sampai usiamu sembilan belas tahun saja! Lagi pula kita 'kan juga harus mempersiapkan pesta pernikahan dan itu tidak sedikit biayanya." Merrik menampilkan senyum kebohongannya.
"Pesta pernikahan?" Elena tersenyum, hatinya menghangat mendengar perkataan Merrik yang akan membuat pesta pernikahan buatnya. "Sebenarnya Kakak tidak usah di bebani dengan pesta, cukup meresmikan saja sudah cukup."
'Bodoh! Kenapa jadi bilang pesta pernikahan?' batin Merrik memaki dirinya.
"Tidak apa, aku hanya ingin memberi yang terbaik untukmu!"
'Hei, Merrik apalagi sekarang? kenapa membuat janji yang tidak bisa kau sanggupi.' batin Merrik meronta.
"Tapi Kak, aku masih kepikiran, jika nanti di tanya orang, hubungan kita apa? Kita tinggal bersama tapi tidak memiliki surat nikah! Bagaimana jika di grebek warga? Kita tidak bisa membuktikan apapun."
Merrik tertawa mendengar penuturan Elena. "Di sini bukan di desamu, tidak akan di grebek. Sudah aku berangkat dulu, kita bahas lain waktu." Merrik mencium bibir Elena sebelum pergi. "Jangan keluar dari apartemen sebelum aku datang." Merrik memperingati lagi Elena.
Merrik pergi meninggalkan Elena, dia duduk terdiam di mobilnya. "Kenapa aku malah memberi harapan padanya?" Merrik menarik rambutnya ke belakang. Dia bingung akan dirinya sendiri, dia sudah memutuskan hanya akan mengambil keuntungan dari Elena. Namun, jika sudah berhadapan dengan Elena, dia seperti sudah terhipnotis untuk memanjakannya.
Bersambung...
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurma sari Sari
perasaan mulai mencintai yg tanpa disadari...
2023-03-20
1
Safini Azizah
mmg suami 🤬🤬🤬
2022-04-26
2
grace
tidak sabar menunggu kelanjutannya...
up buanyakkkk donkk
2022-04-05
2